Lazio: Review of the Season 2015/2016 – L’onore e Nostro, Non Ti Dimenticheremo Mai

image

Catatan ini ditulis 17 Mei 2016, lalu terbengkalai lupa ga diposting. Ketemu saat Minggu pagi santai sambil baca-baca segala draft blog, sehingga harus saya tuntaskan untuk segera share.
Berakhir sudah musim 2015-2016. Musim yang buruk ditutup dengan kekalahan 2-4 di perpisahan #KloseDay dari Fiorentina. Entah kenapa hasrat memenangi gelar seakan hilang dari skuat, bahkan sedari musim belum separuh jalan. Setelah dibentangkan seantero Olimpico tulisan, “Libera La Lazio” sedari musim lalu, Lazio sebenarnya mulai membaik. Terutama di akhir kompetisi 2015. Sayang, tiket play-off Champions itu dilepas sia-sia. Sehingga, lagi-lagi kita main di kasta kedua Eropa. Kalau hanya EL ya mending itu kompetisi dilepas sedini mungkin lalu fokus ke Serie A. Dengan tiga kompetisi, kita tangan hampa, luluh lantak semuanya.
Musim ini mencatat, kita bisa mematahkan kutukan Genoah. Bagiku, itu satu-satunya kebanggaan yang ditorehkan Stefano Pioli. Setelah bermusim-musim kalah, memutus 9 kekalahan beruntun sejak tahun 2011. Lazio dengan hati-hati menumbangkan Il Grifone. Pertandingannya berjalan buruk, kalau mau jujur laga itu tak pantas kita menangkan. Wasit seperti berpihak kepada kita. Kartu merah, tendangan bebas beberapa kali diberi di dekat garis gawang, kartu merah lagi, dan strategi kacau balau.
Catatan lain yang perlu ditulis, betapa vital peran Stefan. Cidera saat membela Holland, Stefan mengubah persaingan Liga. Lazio langsung drop. Memang dia di-plot sebagai bek tengah bersama Wesley Hoedt, sehingga saat absen, Pioli seperti tak punya rencana B. Di tengah musim mendatangkan Bisevac yang ternyata so so. Mantan bek Lyon yang membuat kesalahan fatal di laga krusial lawan Praha. Kalau saya diminta membuat daftar pemain yang WAJIB bertahan untuk musim depan, nomor satu tak ragu lagi itu pasti Stefan.
Derby musim ini berjalan buruk. Tak ada pola yang jelas dalam serangan, ketika leg satu kita tumbang 0-2. Di leg dua lebih seram lagi, diberondong empat gol. Seakan tanpa perlawanan. Dari laga derby itu saya bisa tarik kesimpulan, saya muak Machetti. Salah satu kesalahan bodohnya adalah ketika tendangan Gervinho yang lemah itu gagal diantisipasi. Kesalahan di derby = tak bisa dimaafkan! Kiper tanggung, memang awalnya dia bisa menggantikan sosok Fernando Muslera. Namun pasca menikah, performanya anjlok. Juve butuh pelapis Buffon? Kasih! Milan minat? Beri gratis kalau perlu. Bahkan kabarnya Conte menginginkannya ke Chelsea, well Pergilah kau Frederico. Kita tak butuh kiper pecicilan. Kaulah orang pertama yang ada di daftar Pemain yang harus pergi.
Musim ini juga menandai penurunan performa si wonder kid, Felipe Anderson. Setelah gilang gemilang musim lalu, Felipe berkenan memakai jersey keramat nomor 10. Seakan jadi beban, nomor itu mengutuknya tampil di bawah standar tinggi Biancoceleste. Bahkan pasca ganti pelatih, dia tersingkir dari starter! Masihkan harganya setara Bale?
Rumor kepindahan Biglia, Candreva dan Keita merusak mental bertanding. Kalau hati kalian sudah tak di Formelo kalian boleh pergi. Demi penyegaran skuat, silakan angkat koper. Biglia menangis saat peluit panjang terdengar dalam salah satu pertandingan buruk. Saya percaya hati Lucas masih ingin di sini, namun kalau uang yang kau cari, bukan Lazio tempatnya. Candreva memang ber-skill mumpuni, namun sifat kemaruknya adalah mental dasar jadi tak kan bisa dirubah. Saya akan selalu ingat, saat laga lawan Bologna dirinya dikepung bek lawan, Klose mencari ruang dan meminta bola. Bukannya dioper malah melakukan shoot melambung. Sedari primavera saya sudah menandai Keita Balde akan jadi pemain besar suatu saat, namun komentarnya yang selalu kontroversi kurasa tak bagus untuk tim. Impiannya yang berkostum Barcelona, keinginan naik gaji, tuntutannya selalu jadi starter, sampai ancam pergi kalau tak dilatih Simone Inzaghi musim depan. Well, kamu masih sangat muda. Berpetualanglah kalau itu yang kau inginkan. Pergilah keluar Italia, suatu hari ketika rindu kau boleh pulang. Saya tak pernah meragukan kecintaanmu dengan kostum biru ini.
Catatan yang paling penting musim ini adalah kepergian Klose. Setelah lima musim yang menakjubkan, 2011 – 2016. Legenda besar dunia sepak bola. Selalu bermain dengan hati, penuh semangat, mengajarkan pemain muda untuk terus berjuang. Terlalu sering dicadangkan Pioli, terlambat pergantian pelatih sehingga ketika pekan menyisakan tujuh baru dia terlihat luar biasa. Sebenarnya Klose ingin bertahan, sayang manajemen tak kunjung memberinya kepastian kontrak sampai pasca laga lawan Carpi, akhirnya ditemukan jawab dia meninggalkan kita. Miro masih sangat berhasrat main bola, kemungkinan akan ke MLS namun kuberharap dirinya pensiun sehingga sejarah mencatat Lazio-lah tim terakhir sang pencetak 16 gol Piala Dunia.
Menutup musim dengan 54 poin tentulah buruk untuk tim sarat bintang. Di peringkat 8, bahkan kalah sama Sassuolo. Di Coppa disingkirkan Juventus. Dan di EL kalah menyakitkan dari Praha di 16 Besar. Ok, saya akan buat rekap hasil seluruh laga resmi Lazio musim ini. Semoga bermanfaat sebagai catatan Laziale.
Pekan 1 – 23 August 2015: Lazio 2-1 Bologna ( Biglia 17, Kishna 23)
Pekan 2 – 30 August 2015: Chievo 4-0 Lazio
Pekan 3 -13 September 2015: Lazio 2-0 Udinese (Matri 64, 73)
Pekan 4 – 20 September 2015: Napoli 5-0 Lazio
Pekan 5 – 23 September 2015: Lazio 2-0 Genoa (Djordjevic 35, Anderson 62)
Pekan 6 – 27 September 2015: Hellas Verona 1-2 Lazio (Biglia 63 – pen, Parolo 86)
Pekan 7 – 4 Oktober 2015: Lazio 2-0 Frosinone (Keita 80, Djordjevic 90)
Pekan 8 – 18 Oktober 2015: Sassuolo 2-1 Lazio (Anderson 67)
Pekan 9 – 25 Oktober 2015: Lazio 3-0 Torino (Lulic 40, Klose 60, Anderson 70, 90)
Pekan 10 – 28 Oktober 2015: Atlanta 2-1 Lazio (Biglia 17)
Pekan 11 – 1 November 2015: Lazio 1-3 Milan (Kishna 85)
Pekan 12 – 8 November 2015: Roma 2-0 Lazio
Pekan 13 – 22 November 2015: Lazio 1-1 Palermo (Candreva 70 – pen)
Pekan 14 – 29 November 2015: Empoli 1-0 Lazio
Pekan 15 – 4 Desember 2015: Lazio 0-2 Juventus
Pekan 16 – 14 Desember 2015: Lazio 1-1 Samdoria (Matri 78)
Pekan 17 – 20 Desember 2015: Inter 1-2 Lazio (Candreva 5, 87)
Pekan 18 – 6 Januari 2016: Lazio 0-0 Carpi
Pekan 19 – 9 Januari 2016: Fiorentina 1-3 Lazio (Keita 45, Savic 90, Anderson 90)
Pekan 20 – 17 Januari 2016: Bologna 2-2 Lazio (Candreva 71 – pen, Lulic 77)
Pekan 21 – 24 Januari 2016 Lazio 4-1 Chievo (Candreva 66 – pen, 81, Cataldi 72, Keita 90)
Pekan 22 – 31 Januari 2016 Udinese 0-0 Lazio
Pekan 23 – 3 Februari 2016: Lazio 0-2 Napoli
Pekan 24 – 6 Februari 2016: Genoa 0-0 Lazio
Pekan 25 – 11 Februari 2016: Lazio 5-2 Hellas Verona (Matri 45, Mauri 50, Anderson 69, Keita 82, Candreva 90 – pen)
Pekan 26 – 21 Februari 2016: Frosinone 0-0 Lazio
Pekan 27 – 29 Februari 2016: Lazio 0-2 Sassuolo
Pekan 28 – 6 Maret 2016: Torino 1-1 Lazio (Biglia 78 – pen)
Pekan 29 – 13 Maret 2016: Lazio 2-0 Atlanta (Klose 67, 900)
Pekan 30 – 20 Maret 2016: Milan 1-1 Lazio (Parolo 9)
Pekan 31 – 3 April 2016: Lazio 1-4 Roma (Parolo 75)
Pekan 32 – 10 April 2016: Palermo 0-3 Lazio (Klose 10, 15, Anderson 75)
Pekan 33 – 17 April 2016: Lazio 2-0 Empoli (Candreva 6 – pen, Onazi 44)
Pekan 34 – 20 April 2016: Juventus 3-0 Lazio
Pekan 35 – 24 April 2016: Samdoria 1-2 Lazio (Djordjevic3)
Pekan 36 – 1 Mei 2016: Lazio 2-0 Inter (Klose 8, Candreva 84 – pen)
Pekan 37 – 8 Mei 2016: Carpi 1-3 Lazio (Bisevac 23, Candreva 32, Klose 73)
Pekan 38 – 15 Mei 2016: Lazio 2-4 Fiorentina (Lulic 2, Klose 74 – pen)
Coppa Italia:
16 besar: 17 Desember 2015: Lazio 2-1 Udinese (Matri 70, Cataldi 79)
8 besar: 20 Januari 2016: Lazio 0-1 Juventus
Play off Liga Champion:
Leg 1 – 18 Agustus 2015: Lazio 1-0 Leverkusen (Keita 77)
Leg 2 – 26 Agustus 2015: Leverkusen 3-0 Lazio
Societa Sportiva Lazio seasone 2015/2016 | allenatore Stafeno Pioli & Simone Inzgahi | Asst. Alenatore Giancomo Murelli | Goal keeper coach: Adalberto Grigioni | Player in: Morrison (West Ham), Heodt (AZ), Patric (Barcelona), Serpieri (Cosenza), Lombardi (Trapani), Berardi (Messina), Kishna (Ajax), Savic (Genk), Matri (Milan) | Player out: Novaretti (Leon), Ledesma (Santos), Sculli (free transfer), Cavanda (Trabzonspor), Pereirinha (Atletico Paranaense), Tounkara (Crotone), Ciani (Espanyol), Strakosha (Salernitana), Ederson (Flamengo), Perea (Troyes), Cana (Nantes) | Serie A: 38 partita | Coppa Italia: 2 partita | Play-off UEFA Champion League: 2 partita | EUFA Europa League: 8 partita | Top skorer: Antonio Candreva – 12 gol | Best match: Vs. Hellas Verona 5-2 | Worst match: Vs Bayern Leverkusen 3-0 | Best moment: Pinalti Klose | Skor: 5/5
Karawang, 170516 – #Nikita Willy – Ku Tetap Menanti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s