My Chocostrawberry Biscuit #7

image

Saya baca buku ini gara-gara tahun 2006 dapat sms dari teman di Karawang. Saat itu saya sedang di Cikarang, teman STM Inu kasih pesan singkat bahwa ada Penulis Solo bagus yang menulis sederhana tentang cinta, makanan dan gendut! Well, sms yang membuat penasaran itu terwujud saya tuntaskan Juli 2007 saat saya berkunjung ke Tangerang di sebuah toko buku. Setelah menonton kekalahan Indonesia 1-2 dari Arab di GBK saya bermalam ke kos Teguh WW. Minggunya saya menemukan buku ini, bersama buku yang lain namun buku ini begitu membekas dan langsung kulahap hanya dalam semalam. Ternyata lezat!
Ternyata bukan Penulis Solo, terlahir di Pontianak namun sedang kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo – saat itu. Tentang Ocha, cewek gendut yang menyukai cokelat. Makan, makan, dan makan. Cuma itu yang ada di kepalanya. Di pembuka sudah secara gamblang bilang: Hhh! Padahal aku baru aja ngebayangin kalo sepupunya dari Swiss ngasih cokelat segede bantal buat hadiah tahun baru. Yah emang sih itu nggak mungkin bisa ngebuat Ciput sebahagia ini. Tapi bagiku, nggak ada yang bisa ngebuatku lebih bahagia daripada makan cokelat. – halaman 9. Ya, buku sepanjang 150 halaman ini akan berkutat tentang makan, pacaran dan problematika remaja.
Dengan pola semacam diari, karena tiap kejadian ada tanggal dan tempatnya. Berawal di tahun baru 2006 lalu bergulir terus ke depan sampai pertengahan bulan ketika sang tokoh utama ulang tahun. Di hari kedua saat mereka, empat sekawan – Ocha, Erin, Sisil, Ciput – pulang sekolah ngerumpi sambil makan bakso. Muncullah sebuah ide, untuk ulang tahun Ciput akan dirayakan saat valentine nanti bareng-bareng. Namun apa yang dipikiran Ocha tak sejalan dengan rencana. Ketiga temannya akan jalan sama pacarnya masing-masing, hanya dia yang kini menjomblo. Dan patahlah hatinya, ide teman-temannya mau ngejodohin dia membuatnya gusar. Emang cewek gendut ga bisa cari cowok sendiri apa? Dan dimulailah pencarian.
Pemburuan menuju valentine dimulai dengan percobaan teman-temannya mengenalkan beberapa cowok. Ocha berusaha diet, meninggalkan cokelat favoritnya, berdandan, memakai lipgloos dan mencoa feminim. Benar-benar sebuah siksaan. Berjalannya waktu, Benny cowok kelima yang dikenalkannya gagal. Cowok kedelapan, Alex yang rasanya oke. Sayang anak mami, tiap ketemuan selalu ditelpon mamanya. Cowok berikutnya adalah cowok kaya, tajir yang punya peternakan kuda dan hobi pelihara biawak. Sereeeem. Gatot lagi deh.
Di hari kesepuluh setelah belasan cowok coba dikenalkan padanya, Ocha yang sedang menyetir mobil dapat panggilan telepon. Nah, sebuah kesalahan. Sudah mau nyetir sambil teleponan, ini masih sekolah sudah berkendara, hasilnya ia tabrakan. Saat di rumah sakit tahulah Ocha dkk, sang korban adalah lelaki kini kakinya pakai gips. Sebagai pertanggungjawaban lelaki itu, Ervan meminta Ocha setiap saat ada latihan basket mengantarnya. Karena kaki kirinya sakit sehingga tak bisa bergabung main basket, Ervan hanya memandang teman-temannya berlatih. Ocha mulai bosan, mengantar dan menungguinya. Namun karena takut dilaporin mamanya, dan karena kelalaian ia berkendara Ervan jadi begini ia pun terpaksa melakukannya.
Si Ocha makin dekat dengannya. Tahu Ervan yang bercita-cita jadi pilot namun gagal. Tahu dia dari keluarga broken. Nantinya ia malah dekat sama ayahnya, sosok yang diidamkan Ocha karena yatim. Ervan juga akhirnya tahu lebih dekat Ocha yang suka biscuit cokelat, tahu kebiasaannya nonton kartun dan kedekatannya dengan teman-teman. Kita pasti bisa menebak ke arah mana kisah ini. Walau ada CS nya Jabrik dan teman dekat yang mungkin bisa membuat cabang cinta si Rangga namun tetap saja cerita kembali ke dua sejoli ini. Ceritanya  renyah dan asyik diikuti sehingga walau klise tetap worth it.
Gambar di sampul itu sangat pas dan cukup mewakili isi. Dengan mengenakan kruk menghadap seorang wanita tambun dengan background mobil merah. Sebuah ironi?
My Chocostrawberry Biscuit | oleh Desty Rinjayanti | Penerbit Kata Kita | Cetakan pertama, Maret 2006 | Penyunting Wikan Satriati | Penata letak Cyprianus Jaya Napiun | Perancang sampul Iksaka Banu | ISBN 979-3778-26-1 | Skor: 3/5
Diketik di ruang HR di closing audit Indofood 2016 sambil dengar lagu-lagu Sherina Munaf. Puasa hari kedua, mulai lapar di jam 10:30 dan kangen aroma kopi di meja kerja.
Karawang, 070616 – Nikita willy – Maafkan
#7 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s