Lewat Tengah Malam #5

image

Novel lama. Saya nonton filmnya bersama seorang Inairfa Behrami, teman lama dari Jakarta yang mau menyempatkan diri ke Cikarang. Zaman muda yang hura-hura. Filmnya kuanggap bagus walau kejutannya tak sampai membuat shock, tapi di era itu lumayanlah ada film lokal horor yang sedikit lebih berkualitas ketimbang genre sejenis. Idenya bukan barang baru, mungkin spoiler – kalau kalian sudah menonton The Sixth Sense – nah cerita ini intinya sama. Tapi dibuat lebih nge-pop untuk remaja sehingga tensi kengerian masih level beginner.
Bukunya sama saja, tapi detailnya lebih mengena. Dan yah, saya bisa menikmatinya. Beberapa tanya bisa ditemukan di buku. Seperti apa yang ada di benak sang tokoh saat di lift, kita jadi tahu lebih jelas. Seperti nama Alice, karakter utama. Di film yang kudengar adalah Elis – kebetulan punya teman kuliah saat itu bernama Elis jadi rada salah tangkap.
Saya sudah baca beberapa cerpen Gola Gong yang wara-wiri di koran Nasional di hari Minggu. Kalau Ery Sofid tahu dari grup facebook, Dikusi Novel Cendol. Tapi ya sekedar tahu, tak seperti teman-teman Keluarga Cendol Bekasi (KCB) yang lebih dekat karena teritori.
Bukunya tipis, tak sampai 200 halaman. Tak sampai semalam juga selesai baca. Dibagi dalam 6 bab yang unik. Bab pembuka ‘Mayat Di Tempat Sampah’. Tentang penemuan mayat manusia oleh seekor anjing. Mayat yang sepertinya korban pembunuhan karena penuh luka bacok dan bajunya berlumpuran darah. Mayat yang masih membuka matanya. Mayat yang mengisyaratkan arwahnya tak tenang. Benar saja, bab dua kita dikenalkan karakter utama Alice gadis yang paranoid. Arwah itu terbawa hembusan ke apartemennya. Di sana Alice seperti diikuti hantu. “Apartemen ini ada hantunya!” tapi mama Tara, tak percaya. Ini era modern jadi jangan banyak tahayul. Tara adalah seorang editor buku, saat ini ia sedang membaca draft buku tebal, buku genre horror.
Di kamar, Alice mamasang bawang putih sebagai penangkal. Mamanya tentu saja tak setuju, udah gede kok penakut. Tara dan Alice pindah ke apartemen itu untuk bisa lebih dekat dan tenang. Pasca bercerai dengan Yuga, hak asuhnya ada pada Tara. Dia sendiri terlihat depresi dengan mengkonsumsi obat-obat penenang, walau dalam sebuah adegan obat itu lalu dibuang ke kloset. Sementara untuk menjernihkan pikiran Alice jalan-jalan dan bertemu temannya Ramon. Dari situlah Alice tahu, Ramon sudah jadian dengan cewek lain, Melvi. Sudah seminggu ini Alice tak masuk sekolah dan menghilang dari peredaran pasca pindah ke apartemen.
Di bab tiga kita disuguhkan sebuah kasus baru, Yuga masuk rumah sakit jiwa (RSJ). “Maaf kami terpaksa ikat dia. Dia berusaha memotong telinganya dengan pisau makan. Maaf, kami tidak dapat menyelamatkan matanya karena sudah tercecer waktu kami temukan dia tidak sadarkan diri di lantai.” Yuga berhalusinasi melihat arwah sehingga dicekam ketakutan.
Berjalannya waktu, Alice dan Ramon malah kembali dekat. Melvi dan Alice yang dulunya sahabat baik merenggang, kini Melvi lebih banyak curhat ke sahabatnya Triska. Dan Alice yang alpa tak masuk sekolah berlanjut. Akhirnya kebiasan bolos itu diketahui Tara, Alice yang ketakutan dihukum dimasukkan ke gudang. Gudang gelap yang menantangnya untuk lebih berani.
Bab empat tentang hukuman di gudang, Alice menemukan darah kering yang berasal dari kulkas. Darah siapa? Berjalannya waktu, Alice tetap tak masuk sekolah. Malah jalan sama Ramon, curhat apa saja yang membuatnya nyaman. Suatu kali di sebuah mal saat makan, Alice menemukan banyak keganjilan. Pelayan yang tak sopan membersihkan kursi yang ditempatinya, seekor anjing yang nyalak hanya ke arahnya. Dan keinginan selalu yang dingin, “saya mau es krim.” Bagaimana akhir kisah kelam ini? Bisakah Alice (dan Tara) mengusir hantu di apatemennya? Bagaimana nasib Yuga yang gila itu di RSJ yang suatu hari berhasil kabur? Apakah Ramon memilih Alice ataukah Melvi? Selepas tengah malam, banyak hantu bergentayangan. Bagaimana kalau hantu itu ternyata malah akrab dan jadi bagian dari kita? Semua tersaji dalam kisah yang runut dan asyik diikuti.
“Jika keajaiban mengantar kapal ini kembali ke tempat dia diberangkatkan, semoga dia membawa cinta untukku.” – halaman 29
“Aku emang sayang Alice, tapi hanya ada satu cinta dan harapan di hati aku, yang nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dan orang itu sekarang… ada di hadapan aku…” – 159
“Papa kamu itu bajingan, mama ga tahan hidup sama dia.” teriaknya | “Tapi cerai bukan solusi,” Alice menanggapi masih dengan suara ketakutan. | “Dengar Alice, jangan kamu kuliahi mama! Lebih baik keluarga ini hancur daripada nggak ada kedamaian di dalamnya.” – 151
Hantu itu semakin mendekat. Langkahnya teramat berat, jalan terhuyung bagaikan hendak rubuh. Sekilas tampak persendian hantu yang kaku. Setelah dekat di depan Alice, hantu perempuan itu berhenti. Alice hanya bisa berusaha bertahan dengan nafas yang hampir habis. Sementara hantu itu hanya diam saja. Baru kemudian hantu itu menjerit nyaring dan panjang. Urat leher yang tadinya tidak kelihatan, saat menjerit bermunculan. Dari balik kulit wajah yang pucat muncul garis-garis urat berwarna biru. – 131
Lewat Tengah Malam | oleh Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena | Design sampul Maxima | Penulis script Ery Sofid | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, 2007 | iii + 170 hlm; 11,5 x 19 cm | ISBN 979-780-095-4 | Apa kabarmu Inarfa di Priok? | Skor: 3/5
Karawang, 030616 – Train – If It’s Love
#5 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s