The Brave New World #4

image

Dari banyak ulasan yang mencantumkan buku-buku terbaik sepanjang masa, buku ini selalu masuk daftar. The Brave New World selalu kujumpai ada dalam deretan buku berpengaruh, bersanding dengan fiksi hebat sepanjang zaman. Tak heran masuk buruanku. Di covernya kalian akan menemukan sebuah nukilan review Margaret Atwood dari The Guardian yang berbunyi, “Dua buku visioner pada paruh kedua abad 20 yang membayangi masa depan kita: 1984 (George Orwell) dan The Brave New World.”
Saya sudah baca 1984 dan sangaaaat suka. Mudah-mudahan bisa masuk review buku bulan ini. Jadi wajar dong saya berekspektasi tinggi. Namun ternyata The Brave dalam nyata sangat sulit dituntaskan. Entah otak saya yang tak sampai atau memang terjemahannya kualitas rumit nan njelimet sehingga saya harus berulang-ulang membaca beberapa bagian untuk sekedar paham maksud satu-dua-kalimat. Butuh berbulan-bulan untuk selesai, setiap sampai di penghujung bab, tak ada banyak tanya sehingga ada rasa malas melanjutkan. Lalu tertimbun oleh bacaan lain yang lebih fresh dan easy going. Baru awal tahun 2016 akhirnya saya paksa rampung, padahal saya beli buku ini bulan Oktober 2015. Hufh…, hasilnya? Benar, buku ini memang rumit. Idenya terlalu revolusioner dan menatap terlalu jauh ke masa depan yang imajinatif dan frustasi.
Kebenaran itu hebat, tetapi lebih hebat lagi dari sudut pandangan praktis, adalah diam tentang kebenaran. Bayangkan saja, manusia bisa dikloning. Dicipta sedemikian rupa sehingga tak membutuhkan hubungan badan, bercinta hanyalah main-main. Rasa cinta dicerabut, setiap makhluk hanya sedekar hidup. Era baru itu direset Ford, seorang yang sangat berpengaruh. Jadi segala kejadian sebelumnya ditulis Before Ford – BF, era kita ini termasuk tentunya dan setelahnya adalah After Ford – AF. Kisah ini bersetting di Inggris Raya AF 600an artinya 600 tahunan setelah ‘nabi’ Ford muncul.
Rumit? Saya sendiri juga bingung mau memulai ulasan dari mana. Segalanya absurb dan beberapa aturan manusia tak baku. The Brave adalah sebuah buku tentang masa depan adapun kualitas filosofis atau artistiknya hanya akan menarik bagi kita jika ramalannya terlihat seakan mungkin dibayang-bayangkan memang akan terjadi. Dari sudut pandangan kita yang sekarang, lima belas tahun lebih bawah bidang kemiringan sejarah modern.
Di bab satu kita diajak berkenalan dengan dunia Huxley yang tak lazim. Manusia ditetaskan oleh mesin ovarium. “Predestinator mengirimkan angka-angka mereka kepada Pemupuk, dan botol-botol masuk ke sini untuk ditetapkan takdirnya secara terperinci. Setelah itu mereka dikirim ke Gudang embrio.” Pak Direktur mencoba menerangkan pada para junior, menerangkan pada para pembaca. Saya sendiri tak terlalu ambil pusing ketika pemaparan angka-angka, logika membuahan, asal usul sperma dan sel telur. Intinya manusia bisa dicipta oleh mesin. Pengetahuan bisa diinjeksi, namun tak selalu tepat. Kau tidak bisa mempelajari satu ilmu, kecuali kau tahu ilmu itu tentang apa.
Lalu kita diajak berkenalan dengan beberapa karakter yang akan menemani kita menjelajah masa ke depan. Lelina Crowne dan Fany, dua gadis yang bekerja dalam ruang-ruang pembentukan manusia tadi. Lelina punya jadwal kencan dengan Henry Foster. Keluarga, monogami, romansa. Eksklusivitas di mana-mana, satu penyaluran sempit hasrat dan energi. Lelina bertanya kepada Fanny, “Kau kenal Bernard Marx?” Seorang alfa-plus yang mengajaknya ke revervasi liar. Seorang anomali karena berfikiran out of the box. Entah kalian nantinya berpihak pada siapa, Marx ini memang dicipta lebih banyak berlogika sehingga akan membentuk simpati pembaca.
Tangisan: Bayiku, ibuku, satu-satunya cintaku mengerang. Dosaku, Tuhanku yang mengerikan, menjerit kesakitan, menggumam karena demam, meratap karena tua dan miskin – bagaimana mereka bisa menjaga roda-roda itu? Dan, jika mereka tidak bisa menjaga roda-roda itu, mayat seribu ribu ribu lelaki dan perempuan akan sulit dikubur dan dibakar. – halaman 42
Kunjungan ke reservasi liar itu membekas dan mengubah banyak pemikiran. Reservasi liar adalah dunia luar yang masih seperti zaman kita. Manusia masih hidup berkelompok dan menikah dan berkembang satu sama lain. Mereka dianggap kuno. Lalu seorang bernama John membalikkan fakta yang selama ini dianggap masyarakat tabu. Ketika muncul teriakan “Oh dunia baru yang berani. Dunia baru yang berani yang punya orang-orang seperti itu. Mari kita langsung memulai,” itu membuatku begidik. Ngeri. Di masa yang antah itu manusia seperti makhluk asing di mata kita. Berhasilkah kehidupan baru itu dijalani? Well, setiap adaptasi memang membawa banyak konsekuensi. Sebuah pertaruhan, bisa kita menyesuaikan maka selamat. Gagal berarti mati.
Saya setuju buku ini sangaaat revolusioner. Diterbitkan di era Indonesia belum merdeka, pemikiran bahwa suatu hari akan ada kloning manusia yang benar-benar ada ruh begitu menakutkan. Buku ini jelas banyak mempengaruhi Penulis generasi berikutnya. Tapi jika boleh membandingkan dengan 1984, masih bagusan karya Orwell. Endingnya mungkin mirip, namun saya begitu menikmati tiap lembar dunia penuh kamera. Dunia melawan Kiri yang dibumihanguskan itu lebih masuk logika dan membumi. The Brave terlalu berat, butuh dua-tiga kali baca dengan khusuk untuk paham. Mungkin suatu saat saya akan menikmatinya lagi untuk mencari detail yang terlewat, namun setidaknya saat ini saya cukup tahu garis besarnya saja.
Penerbit Bentang harus lebih teliti dan hati-hati memilih diksi dalam terjemahan. Kurasa alih bahasanya kurang pas dan tak sepenuh hati. 1984 sendiri sebelas-duabelas dan sama-sama di bawah Bentang. Masak kalah sama Penerbit Indi yang baru macam OAK atau Indi Book Corner yang kualitas terjemahannya jauh lebih renyah dan bagus. Ke depannya untuk terjemahan buku berkualitas harus lebih baik lagi.
Berikut beberapa kutipan yang layak dibagi:
“Pernahkah kau merasa seakan kau punya sesuatu di dalam dirimu yang hanya menunggumu dapat kesempatan untuk keluar? Semacam kekuatan ekstra yang tidak sedang kau pakai – kau tahu, seperti semua air yang jadi air terjun dan tidak melalui turbin?” – 65
“Aku senang aku bukan seorang Epsilon.” Kata Lelina dengan yakin | “Dan, jika kau seoarng Epsilon, pengkondisianmu sudah tentu membuatmu juga bersyukur bahwa kau buka seorang Beta atau seorang Alfa.” – 71
“Tapi Bernard kau mengatakan hal-hal paling aneh.” | “Apa kau tak berharap kau bebas Lelina? | “Aku tidak paham maksudmu. Aku ini bebas. Bebas untuk menikmati waktu yang luar biasa. Setiap orang bahagia sekarang.” | Bernard tertawa, “Ya, ‘setiap orang bahagia.’ Kita mulai memberi itu kepada anak-anak pada usia lima tahun. Tapi, apa kau tidak ingin bebas untuk merasa bahagia dalam cara yang lain. Dalam caramu sendiri. Misalnya; tidak dalam cara setiap orang lain.” – 87
Ada begitu banyak yang orang tidak ketahui; bukan urusanku untuk mengetahuinya. Maksudku, kalau seorang anak bertanya bagaimana cara kerja sebuah helikopter atau siapa yang menciptakan dunia – ya, siapa kau sampai bisa menjawab jika kau seorang Beta dan selalu bekerja dalam ruangan Fertilisasi? Mau menjawab apa? – 120
Dia sudah menemukan Waktu dan Kematian dan Tuhan. – 135
“Sebut itu kesalahan peradaban, Tuhan tidak sesuai dengan mesin dan obat ilmiah serta kebahagian universal. Orang harus membuat pilihan. Peradaban kita sudah memilih mesin dan obat serta kebahagian. Itu sebabnya aku harus menyimpan buku-buku itu dalam lemari besi. Itu cabul. Orang akan shock… “ | Si Liar menyela, “Tapi, bukankah wajar kalau merasa bahwa Tuhan itu ada?” | “Kamu  boleh bertanya apa wajar orang menaikkan celana dengan resleting,” kata sang Kontrolir dengan sinis. “Kau mengingatkan aku pada Bradley. Dia menjabarkan filsafat sebagai penemuan alasan buruk untuk apa pun secara insting! Orang percaya pada sesuatu karena dia sudah dikondisikan untuk mempercayainya. Menemukan alasan yang buruk untuk apa yang dipercaya seseorang untuk alasan buruk lainnya – filsafat. Orang percaya pada Tuhan karena mereka sudah dikondisi untuk percaya Tuahn.” – 239
Hani! Sons eso tse-nai! – 255
Dengan pelan, amat pelan, seperti dua jarum kompas yang tidak tergesa-gesa, kaki itu bergerak ke arah kanan, utara, timur-laut, timur, tenggara, selatan, selatan, barat-daya, lalu berhenti. Dan setelah beberapa detik, bergerak sama pelannya kembali ke arah kiri. Selatan, barat-daya, selatan, tenggara, timur… – 265
The Brave New World | by Aldous Huxley | Penerjemah Nini Bakdi Soemanto | Perancang sampul Andreas Kusumahadi | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, Juli 2015 | xvi + 268 hlm; 20,8 cm | ISBN 978-602-291-087-9 | Skor: 4/5
Karawang, 040616 – Maddi Jane – Barricade
#4 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s