The Secret Garden #2

image

“Jangan pernah berhenti mempercayai Hal mahabaik dan mahaagung dan meyakini bahwa dunia dipenuhi dengan hal itu.”
Seri klasik yang merupakan jaminan mutu. Dan sekali lagi saya setuju. Dengan embel-embel ‘salah satu novel anak terbaik sepanjang masa’, The Secret Garden jelas merupakan sebuah kisah inspiratif yang abadi. Perjalanan panjang seorang anak menemukan sahabat sejati. Ada 27 bab yang sangat melelahkan, namun setimpal dan sangat rekomendasi untuk dinikmati.
Frances Hodgson Burnett walau sebelumnya sudah merilis buku-buku cerita anak, tapi benar-benar menunai sukses dan terkenal lewat buku ini yang pertama terbit tahun 1909. Cara berceritanya banyak menginspirasi Penulis, perubahan karakter utama dari kekanakan yang menyebalkan menjadi bijak sungguh menggugah. Tranformasinya runut dan wajar sehingga pembaca ikut terhanyut.
Adalah Mary Lennox, putri seorang pejabat Pemerintah yang kesepian karena sombong dan selalu bikin ulah. Ia dikirim ke Misselthwaite Manor untuk tinggal bersama pamannya. Dengan setting Inggris era awal abad 20 di mana India masih dibawah mereka, Mary tumbuh dengan manja dibawah asuhan pelayan. Namun suatu hari segalanya berubah. Wabah kolera yang mematikan membuatnya yatim piatu. Bahkan dirinya ditinggal sendirian dalam rumah karena para pelayan kabur. Maka ketika ada dua orang memasuki rumah dan menemukan Mary mereka kaget, anak terlantar yang dilupakan ini lalu terpaksa dikirim ke Inggris untuk diasuh paman Mr. Archibald Craven.
Dengan naik kereta diantar oleh Mrs. Medlock, Mary memasuki dunia baru. “Tempat itu besar, megah dan suram. Dan Mr. Craven bangga dengan caranya sendiri – dan itu sudah cukup suram. Rumah itu berusia enam ratus tahun, terletak di padang kerangas. Di dalamnya terdapat hampir seratus kamar meskipun sebagian besar ditutup dan dikunci. Lalu lukisan-lukisan dan perabot tua berseni yang sudah berabad-abad di sana, dan ada taman besar di sekitarnya dan kebun-kebun dan pohon-pohon dengan cabang menjuntai ke tanah – sebagian di antaranya. Tapi tak ada hal lain.” – halaman 30-31
Sebuah gambaran tempat baru yang menantang. Pamannya adalah seorang penyendiri yang dirundung duka berkelanjutan, sering bepergian dan sekali-dua kali pulang ke Misselthwaite Manor untuk merenung hidup. Dalam perjalanan itu Mary melewati sebuah padang kerangas, sebuah tanah belantara bermil-mil dan tak ditumbuhi apa-apa kecuali semak heater, gorse dan broom serta tak dihuni apapun kecuali kuda liar dan biri-biri. – 39. Gambaran Inggris zaman dulu yang masih asri.
Lalu satu demi satu adaptasi dilakukan. Pertama perbedaan pelayan di India yang selalu menunduk dan mengikuti semua perintah majikan, nah di tempat baru Martha pelayan Mrs. Medlock terlihat sangat berbeda, mereka diperlakukan layaknya sahabat, lebih manusiawi. Fakta bahwa Mary tak bisa memakai baju membuat Martha terkejut. “Seumur hidupku aku tak pernah memakai baju sendiri. Ayah-ku memakaikan bajuku, tentu saja.” Mary diminta tak manja dan pakai baju tanpa bantuan siapapun. Dengan logat Yorkshire yang asing di telinga Mary. Dari Martha-lah akhirnya ia tahu bahwa ada kebun rahasia yang ditutup dan dikelilingi pagar tinggi. Kebun yang tak boleh siapapun masuk, kebun rahasia yang ditutup Mr. Craven setelah istrinya meninggal. Esoknya Mary melihat dari luar dan melihat burung robin berkicau dengan riangnya. Sebuah pengalaman baru nan asri itu membuatnya takjub sekaligus penasaran, ada apakah di balik dinding? Bertemu dengan tukang kebun Ben Weatherstaff yang menjelaskan ‘aturan’ di sana.
Adaptasi itu ternyata berjalan menyenangkan. Mary akhirnya tahu apa itu rasa lapar. Apa itu teman bicara dan berbagi. Apa itu menghargai seseorang. Suatu hari ia mendengar suara di kamar yang tak boleh dikunjungi. Tangis yang menyeramkan itu membuatnya tanya, ilusi ataukah benar suara? Tapi ia yakin tak halusinasi, “Ada orang menangis – sungguh – sungguh!” Nantinya, suara tangis itu akan menjadi kejutan yang seru.
Lalu seekor burung robin menjadi teman yang seru menyambut hari, muncullah karakter baru bernama Dickon. Seorang anak lelaki yang bisa berkomunikasi dengan binatang. Dengan seruling dia bisa mengundang banyak hewan. “Aku berdiri perlahan karena jika kau membuat gerakan cepat mereka akan terkejut. Orang harus bergerak lembut dan bersuara pelan di sekitar makhluk-makhluk liar.” – 154
Perkenalan yang unik itu membuka petualangan dan berbagi rahasia. “Aku tahu kau menganggap aku anak lelaki yang aneh, tapi aku kira kau adalah gadis kecil yang paling aneh yang pernah kutemuai.” – 173
“Aku telah mencuri sebuah kebun. Kebun itu bukan milikku. Bukan milik siapa-siapa. Tak seorang-pun menginginkannya, tak ada yang merawatnya, tak seorang –pun masuk ke sana. Mungkin semuanya sudah mati sekarang. Aku tidak tahu.” – 159.
Selanjutnya mereka berdua mencoba menyibak kenyataan kebun rahasia itu. Berhasilkah mereka mengungkapnya? Suara tangis di ruang isolasi itu siapakah sebenarnya? Lalu bagaimana respon Mr. Craven ketika akhirnya pulang dan bertemu keponakannya? Di cover ada tiga karakter anak, Mary, Dickon dan seorang lagi mengenakan kursi roda. Jelas itu bukan sembarangan ilustrasi. Semuanya ditulis dengan sangat indah bak dongeng. Beginilah sebuah buku harusnya ditulis. Beginilah sebuah cerita anak harusnya disajikan. Panjang nan memikat membuat pembaca terpaku, benar-benar terpaku penasaran apa yang akan terjadi berikutnya. Masterpiece di ¼ akhir. Sangat bagus untuk direnungkan.
Seperti yang saya bilang, buku ini menginspirasi banyak cerita sesudahnya. Gone With The Wind, cerita epik Amerika itu menuturkan perubahan karakter dari gadis manja menjadi seorang yang kuat dan teguh. Toto-Chan, cerita dari Negeri Matahari Terbit jelas ber-plot mirip di awal. Walau itu kisah nyata, fakta bahwa runutannya mirip membuatku membandingkannya. Dan masih banyak lagi. Kisah abadi yang layak dituturkan kepada anak-cucu.
“Kau wangi seperti bunga dan – benda-benda segar. Wangi apa itu? Rasanya sejuk, hangat, dan manis sekaligus pada saat yang sama.” – 289
“Waktu aku masih sekolah, guru geografiku mengatakan bahwa dunia berbentuk seperti jeruk. Lalu sebelum umurku sepuluh tahun, aku menemukan bahwa seluruh jeruk itu bukanlah milik siapa-siapa. Tak seorang-pun memiliki lebih dari secuil dari seperempat saja tidak cukup untuk dibagi-bagi. Tapi janganlah kalian –satupun dari kalian – berfikir bahwa kau memiliki seluruh jeruk itu. Kau akan mendapati bahwa dirimu salah. Dan kau pun akan menyadari tanpa pengalaman yang pahit. Apa yang dipelajari anak-anak dari anak-anak adalah tak ada gunanya merampas seluruh jeruk itu – kulit dan isinya. Jika kau melakukannya kemungkinan besar kau bahkan tak mendapatkan bijinya. Bijipun terlalu pahit untuk dimakan.” – 303
“Banyak orang tolol dan dunia penuh dengan orang tolol yang banyak omong dan mereka tak bicara apa-apa selain kebohongan. Untuk apa kau mengurung diri seperti itu?” – 351
“Tentu saja, pasti ada banyak sihir di dunia ini. Tapi orang tidak tahu seperti apa sihir itu atau bagaimana cara menggunakannya. Mungkin awalnya adalah sekedar mengatakan hal-hal baik akan terjadi sampai kau mewujudkannya. Aku akan mencoba dan bereksperimen.” – 365
Burung robin tak seperti manusia. Otot mereka selalu dilatih dari awal sekali dan karena itu mereka berkembang secara wajar. Jika kau harus terbang ke sana kemari setiap kali mencari makan, otot-ototmu tak akan mengalami atrofi – melemah karena tak digunakan. – 407
“Aku akan hidup selamanya dan selamanya dan selamanya. Aku akan menemukan ribuan dan ribuan benda. Aku akan mencari tahu tentang orang dan makhluk dan segala sesuatu yang tumbuh, dan aku tak akan berhenti menggunakan sihir.” – 418
Awalnya orang-orang menolak untuk percaya bahwa sebuah hal baru yang aneh bisa dilakukan, lalu mereka mulai berharap hal itu bisa dilakukan, kemudian mereka melihat hal itu dilakukan – lalu hal itu dilakukan dan seluruh dunia bertanya-tanya mengapa hal itu tidak dilakukan berabad-abad silam? – 431
“Lihat ke sini! Jika kau penasaran. Lihat apa yang datang melintasi rumput.” – 455
The Secret Garden: Persahabatan Sejati Di Tengah Taman Rahasia | by Frances Hodgson Burnett | diterjemahkan dari The Secret Garden | Copyright 1909 | Penerjemah Rien Chaerani |Desain sampul Windu Tampan | Diterbitkan oleh Penerbit Mizan | Cetakan II, Oktober 2009 | 460 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-8579-10-0 | Skor: 5/5
Karawang, 020616 – Neo – Mad
#2 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s