Filosofi Kopi #1

image

Welcome Juni 2016. Seperti sebelum-sebelumnya Juni adalah bulan #30HariMenulis #Review Buku. Dalam 30 hari ke depan saya akan mereview 15 buku lokal 15 buku terjemahan. Momen tahunan yang selalu kutunggu karena, seakan saya dipaksa melawan kemalasan saya menulis ulasan koleksi buku yang ada di rak. Tak ada target muluk-muluk, yang penting bisa jalan saja sudah syukur. Di tengah rutinitas kerja dan keluarga, menyempatkan waktu buat nulis blog adalah sebuah keseruan. Tahun ini Juni bertemu Ramadhan, jadi makin sempit waktu di depan komputernya. Bisa? Kalau slogan NICI saja Bisa, saya juga harus teriak Bisa! Juga dong. Oke, tahun ini saya mulai dengan bukunya Dee yang menyabet Karya Sastra terbaik 2006 versi majalah Tempo: Filosofi Kopi.
Sebuah kumpulan cerita dan prosa satu dekade 1995-2005 ini salah satu cerpennya sudah difilmkan. Saya sendiri belum nonton jadi mari kita bicara bukunya. Berisi 18 kisah yang pendek-pendek yang bahkan mungkin bisa ditulis semalam salah satu-duanya. Dibuka prakata oleh Goenawan Mohamad yang bilang Dee adalah tangkisan, katanya Cerkas yang diartikan dari English, Wit. Lalu dilanjut dengan cuap-cuap Penulis, yang well menurutku mulai membosankan setiap bukunya ada aja cuapnya. Lalu dimulailah perjalanan kisahnya.
Pertama adalah cerita yang dijadikan judul buku: Filosofi Kopi [1996]. Tentang pasangan Ben dan Jody yang membuka kedai kopi. Setelah melalangbuana dunia dan belajar dari para ahlinya mereka memutuskan usaha kopi di Jakarta. Tempat yang sederhana namun setiap inci dipersiapkan dengan intensitas. Kurasa banyak bagian yang lebai dan tak menarik. Kejutan yang disimpan di sebuah kota kecil di Jawa Tengah pun terasa hambar, tak pahit seperti kopi tanpa gula.
Kedua Mencari Herman [2004]. Nah ini adalah cerpen terbaik di buku ini. Endingnya shock, berani mengeksekusi karakter penting dengan kepahitan. “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.” Pepatah bijak ini punya andil besar dalam kisah. Hera mencari Herman. Nama sakral yang bikin gemes. Budi banyak, Ahmad banyak, bahkan Ludwig juga ada. Pencarian Herman ini berjalan dengan lucu, sayangnya ini cerpen-li alias cerita pendek sekali.
Ketiga Surat Yang Tak Pernah Sampai [2004]. Kata-katanya jelas dipilih dengan hati-hati. Penunjukan diksi yang tak lazim namun tetap runut sehingga masih bisa dinikmati. Contoh yang paling kusuka: Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta dagangan kalkulatif dua pihak. – halaman 43
Keempat Salju Gurun [1998]. Hanya dua halaman lima paragraf, bahkan dalam sebuah paragraf ada yang hanya dua kalimat. Anak SMP kelas satu juga bisa bikin. Sebuah ironi yang pernah dinyayikan oleh Anggun C Sasmi. Seterusnya ketika saya temui prosa dengan selembar dua lembar, komentar saya sama. Semalam dibuat dengan ngelamun juga jadi.
Kelima Kunci Hati [1998]. Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pemberian dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil ini kau anggap pemberian paling berharga. – 51
Keenam Selagi Kau Lelap [2000]. Ini yang paling jelek menurutku. Wagu, pengen ketawa sinis saat di bagian perkalian 4.354.560.000. sungguh konyol.
Ketujuh Sikat Gigi [1999]. Menangkap bayang kegiatan seseorang itu seperti merangkai imaji yang tak berlogika. Egi yang ditangkap rekaman kegiatan gosok giginya oleh Tio. Terkenang sayang. Namun yah, disampaikan dengan sangat datar.
Kedelapan Jembatan Zaman [1998]. Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. Ini juga tulisan yang buruk. Boys always be boys adalah bentuk nyata usia hanya angka.
Kesembilan Kuda Liar [1998]. Analogi bebas dengan kuda liar yang berlari riang nan tanpa beban. Malambangakn mutu dalam hidup yang cuma satu.
Kesepuluh Sepotong Kue Kuning [1999]. Tentang Lei pria berkulit putih, yang risih dan mengeluh laki-laki kok putih. Indi pasangannya tak keberatan. Indi yang sakit, namun diagnosa dokter selalu sama, “hanya stress”. Ada Ari sahabatnya. Lalu kisah dirajut tentang sepotong kue kuning dan kegemaran berdiri di ambang jendela. Sayangnya tak ada kejutan dan sangaaaat klise.
Kesebelas Diam [2000]. Kau dan aku menghembuskan nafas. Tak lagi pengap. Tidak ada yang bergerak. Namun, diam itu telah runtuh oleh diam.
Kedua belas Cuaca [1998]. “Bagaimana cuacamu?” | “Aku biru” | “Aku kelabu” | “Aku cerah, sama sekali tidak berawan. Kalau kamu?” | “Bersih. Terang tidak ada awan.” Well, coba baca Tell Me Your Dreams-nya Sidney Sheldon. Bicara warna akan jauh lebih terkesan ketimbang tulisan dua halaman sederhana ini.
Ketiga belas Lara Lana [2005]. Kisah klise lagi. Cinta beda kelas sosial, selepas sekolah mereka pisah. Yang elit kuliah di L.A yang jelata kuliah di L.A-nya Indonesia. Lana mencoba menghubungi ‘seseorang’ dengan mengetik nomor-demi-nomor. Timbul keraguan di hatinya setelah lama tak bersua. Lalu kita dibanting ke adegan di sebuah pesawat dengan kursi roda, dan sebuah nama yang sebenarnya akan dijadikan kejutan. Sayangnya saya tak terkejut. Membangun cerita seperti ini sudah sangaaaaat banyak kujumpai jadi ya jatuhnya bosan.
Keempat belas Lilin Merah [1998]. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari.
Kelima belas Spasi [1998]. Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia mengerti jika tak ada spasi? – 98
Keenam belas Cetak Biru [1998]. Setiap kepala memiliki rancangan bermacam-macam. Pilihan bahan yang berbeda. Ada yang bahagia dengan gubuk sederhananya, ada yang baru terpuaskan dengan julangan menara. – 100
Ketujuh belas Buddha Bar [2005]. Tentang lima pemuda: Nelly, Probo, Omen, Jack, Bejo. Bersahabat, lajang, dan yang paling penting bahagia. Raja-raja dunia. Segalanya melebur harmonis di sudut itu. Selama ada lima, dan bukan empat atau tiga apalagi dua. Selama Nelly menerima tanpa perlu memilih. Tanpa dirinya mereka hanya meja berkaki empat tanpa pengagum.
Kedelapan belas sekaligus terakhir Rico de Corro [1995]. Tentang seekor kecoa yang jatuh hati sama anak manusia. Lha kok bisa? Ya bisa ini kan cerita. Namun ternyata ini cerpen yang bagus. Imaji coro yang berani bermimpi besar melawan kodrat ini sangat gila. Berhasilkah bersatu?
Secara keseluruhan mengecewakan. Entah kenapa buku-buku Dee bisa laris manis dan mengantre diadaptasi gambar gerak. Padahal kalau pengen yang jauh lebih berkualitas banyak. Fira Basuki yang punya Biru belum tersentuh. Asma Nadia punya Derai Sunyi yang sangat puitis dan menyentuh hati. Clara NG punya Indiana Chronicle dan Utukku yang bagus banget. Remy Sylado punya Agonia Cinta Monyet yang sangat panjang dan menggugah. Dan masih banyak lagi. Harusnya buku-buku berkualitas seperti ini yang diadaptasi. Filosofii Kopi tak ubahnya karya selintas yang tak ada apa-apanya. Entah kenapa Tempo menganugerahi Sastra terbaik. Minim pilihan atau keterpaksaan? Karena saya pernah langganan koran Kompas dan Republika dimana setiap hari Minggu ada kolom sastra, cerpen dan prosa di sini kebanting. Di koran Minggu itu banyaaaak sekali kisah hebat yang jauh lebih layak dibukukan. Wit? Nope! Dalam bahasa Inggris ada kata “boring” dan itu mewakili?
Filosofi Kopi | Dee/Dewi Lestari | Penyunting Dhewiberta | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | 2012, Dee/Dewi Lestari | Penerbit Bentang Pustaka | Cetakan kesepuluh, Desember 2014 | xiv + 142 hlm; 20 cm | ISBN 978-602-8811-61-3 | Untuk Mama, Pembaca pertamayang selalu percaya bakat itu ada | Skor: 2/5
Karawang, 010616 – Anggun C Sasmi – Snow on Sahara
#1 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

One thought on “Filosofi Kopi #1

  1. Saya juga ntah kenapa feeling aja klo ke toko buku ga berminat sama karya nya Dee. Bahkan baru ini tau reviewnya…
    Masi byk buku2 yg lbh bagus.
    Dtunggu review2 selanjutnya yaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s