Ilmu Yakin – Kisah Inspiratif

image

Kisah Kisah Inspirasi dan Motivasi
Kumpulan Kisah Kisah Inspirasi yang terbaik, penuh hikmah dan motivasi. Kami kumpulkan kisah yang terserak untuk jadi inspirasi dan motivasi Anda.

Sabtu, 23 Januari 2016
Ilmu Yakin – Kisah Inspiratif
Oleh Saptuari Sugiharto
Minggu lalu saya dapat rejeki, waktu pulang dari satu tempat saya melihat seorang simbah-simbah berkain jarik membawa tenggok bambu sedang berjalan di pinggir jalan aspal yang ramai, langsung motor saya pepetkan di depan simbah itu..

“Ajeng ten pundi mbah? Monggo sareng leh kulo..” Saya mengajak simbah itu untuk saya boncengkan.

“Inggih mas, matur nuwun..” Tanpa ragu simbah itu naik ke boncengan, siuuutt! PW.. Posisi wuenak!

Motor saya gas pelan, ternyata siang itu saya akan dapat ilmu baru..

Namanya mbah Muji, sehari-hari jualan toge di sebuah pasar di Jogja. Kalau pagi mbah Muji diantar oleh cucunya naik motor sejauh 6 kilometer, cucunya lanjut kerja sampai sore sehingga tidak bisa menjemput mbah Muji ke pasar. Bubaran pasar jam 11 siang, mbah Muji pulang dengan naik bis, turun di perempatan jalan besar, lalu harus berjalan kaki 3 kilo sampai ke rumah di siang hari yang panas itu..

Whottt! Jalan kaki pulangnya?

Begini terjemahannya dari bahasa Jawa,

“Simbah dulu naik sepada mas tiap ke pasar, cuman sudah 5 tahun ini simbah diantar, pulangnya ngebis, sudah nggak kuat naik sepeda pulang-pergi..”

“Lho bukannya kalau pulang juga jalannya jauh mbah, 3 kilo lho sampai dusun nya simbah..”

“Mboten mas, selama 5 tahun ini hanya 3-4 kali simbah jalan sampai rumah, selalu tiap hari ada saja yang memboncengkan simbah, gonti-ganti orangnya, simbah diantar sampai depan rumah..

Simbah juga gak kenal mereka, ada yang tentara, ada yang cah kuliah, bergantian mereka memboncengkan simbah, padahal simbah juga tidak mengenal mereka..

Simbah yakin saja, pasti Allah yang akan memilihkan dari ratusan orang yang lewat di jalan itu untuk mengantar simbah setiap hari.. Biar jadi pahala mereka semua, simbah tidak bisa membalasnya…”

Wow.. Ilmu yakin Mbah Muji ini mengalahkan teknologi gojek, yang harus pakai gadged untuk memanggil jemputannya.

Seperti siang ini, ilmu yakin mbah Muji yang menarik motor saya dapat giliran mendekat dan merapat di depan langkahnya..

Besok pasti ada orang lain yang akan merapat lagi, mengantarkan simbah untuk pulang ke rumah.. Yakin deh! Dengan perbandingan 5 tahun hanya sesekali jalan kaki, simbah membuktikan Allah hadir setiap hari..

Bagaimana dengan kita?

Ketika “ilmu yakin” belum nancep di dada, kita sering ragu ketika berhadapan dengan masalah, yang dicari selalu solusi, bukan Allah.. Padahal Allah lah pemilik segala solusi.

Jadinya Allah dilupakan, solusi malah gak datang-datang..

Ketika masalah-masalah tak kunjung selesai, kita bersandar pada manusia yang juga lemah, curhat kesana sini, malah seperti mengumbar aib sendiri..

Padahal pesan Allah sangat jelas,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”
[QS. Ath Tholaq: 2-3]

Hutang belum selesai, sabarrr.. Bersandar terus pada Allah biar dikasih jalan keluar..
Ibadahnya makin digenjot habis, habissss sehabis-habisnya!

Masalah-masalah seperti buntu, gak ada jalan keluar, sabarr.. Minta ke Allah langsung semua solusinya, yakin pasti ada jalannya..

Ilmu yakin, “Aku ini diciptakan oleh Zat Yang Maha Kaya, kenapa aku harus takut menjadi miskin..”

Simbah sudah sampai di depan rumah, saya pamitan langsung, sambil menyalaminya, simbah mengguyuri saya dengan doa-doa yang membuat saya merinding mendengarnya..

Jogja yang panas siang ini, entah mengapa jadi terasa sejuk tembus ke hati.
Salam,
@Saptuari
— redaksi ambil dari fanpage beliau

Dibacakan oleh Widada
Di briefing pagi Motivasi dan Inspirasi
Hari Senin 16 Mei 2016
NICI Bisa!

Silent Love – Dien Ilmi

image

WTF! Kembali saya membaca sampah. Bagaimana bisa buku sejelek ini dicetak? Dunia remaja boleh saja dipenuhi cinta-cintaan dan ke-klise-annya, namun tak senorak ini juga kali. Kisah yang sangat tak menginspirasi. Tentang anak kuliahan dengan problematika pacaran yang benar-benar aduh, tak bagus ditiru. Kutemukan banyak typo, kurasa lebih dari 50 kata, sesuatu yang mengerikan karena buku ini tipis 140 halaman. Entah bagaimana bisa lolos edit, kulihat tak ada proofreader-nya. Kutemukan banyak kata tak baku yang tak pada tempatnya. Kutemukan banyak keganjilan logika. Ini buku ketiga dari terbitan Euthenia, ketiganya kukasih rating busuk.

Dengan embel-embel Romance Story buku ini bahkan tak terdengar romantis, menurut saya. Lebih ke norak. Seperti yang tercantum di judul – Silent Love, kisah ini tentang seorang pemuda yang mencintai teman kuliahnya diam-diam. Cinta buta, cinta bodoh. Sampai heran ada pemuda sebodoh itu, bahkan di dunia fiksi sekalipun tetap tak masuk akal. Semua sudah buruk sedari prolog, kenapa? Sebuah prolog mengungkap akhir kisah! Entah apa yang ada di benak Penulis mencantumkan eksekusi ending di depan.

Prolog itu berisi sepasang muda-mudi di pantai Sanur di kala matahari terbit. Mereka mengikatkan diri dalam cinta – secara harfiah dengan pelukan, setelah lama tak bertemu. Well, Dirga – si cowok bodoh itu dan Yisha – si cewek ga jelas itu diungkapkan bersatu ketika bahkan saya belum membuka bab satu-pun. Gila!

Terdiri dari lima belas bab yang pendek-pendek, diceritakan Yisha, seorang mahasiswi di kota Surabaya jadian dengan cowok playboy, Romi. Dalam cerita ini jangan berharap bertemu dengan seorang kere, anak kos dengan kebingungan makan di akhir bulan, tak ada keakraban dengan mie instan. Romi jelas digambarkan anak orang kaya, punya mobil dan di otaknya hanya masalah pacaran. Tak beda dengan Yisha, cewek berpunya tentunya, karena digambarkan tinggal di Perumahan elit. Sampai di sini tentu saja, cerita ini SANGAT Sinetron. Saya tetap melanjutkan baca ya karena saya sudah memulai, dan harus dituntaskan.

Yisha punya teman sejati, Andin tempat curhatnya. Dan Dirga, cowok pendiam yang jadi tokoh utama buku ini. Ada cinta dalam persahabatan. Sayang, Yisha keburu ditembak Romi sehingga Dirga patah hati. Entah logikanya di mana. Dirga beberapa kali memergoki Romi jalan sama cewek lain, diberitahukan kepada Yisha, namun dia tak percaya. Hello, kalian kan berteman masak tak percaya? Setidaknya cek and ricek dulu baru ambil keputusan. Andin juga sudah berusaha kasih tahu. Namun yah, Yisha kan emang cewek ga jelas padahal dia tahu sejarah Romi. Sampai akhirnya dengan mata sendiri memergoki Romi jalan sama Ayunda.

Kebodohan tidak sampai di sini. Ayunda juga karakter dungu, tahu Romi playboy jalan sama Yisha eh saat diputus malah dendam. Laki-laki, dunia seakan hanya terdiri hitungan jari. Kisah makin tak jelas ketika Dirga yang hatinya hancur drop out kuliah, dirinya tak kuat melihat pujaan hatinya jalan dengan orang lain, bahagia dengan orang lain. Seperti yang kubilang, jelas ini bukan cerita inspirasi yang baik. Kuliah cabut gara-gara cewek? Cemen sekali! Di dunia sana, banyak orang untuk sekolah saja harus banting tulang. Harus sambil kerja, peras keringat demi pendidikan. Ini dengan entengnya malah melepas. Dunia ini keras bung. Walau setting-nya dunia kampus, kalian tak akan menemukan satu kata-pun yang menyebut mata kuliah. Tak ada kepanikan untuk sidang, tak ada pemikiran bagaimana pemecahan masalah belajar.

Dirga kabur ke Bali, tanah impian! Membantu kerja usaha pamannya usaha katering. Dalam pelarian itu, dirinya berkenalan dengan Luna, karakter bodoh lainnya. Berjalannya waktu Luna meng-klaim Dirga adalah tunangannya. Setelah diputus pacarnya dia menginginkan seorang yang lebih serius. Katanya, Luna adalah cewek cantik yang ibaratnya tinggal tunjuk cowok untuk jadi kekasih, nyatanya malah terjebak dengan keklisean. Bayangkan! Seorang cewek penuh gaya, mencoba mencium cowok yang bahkan terang-terangan menolaknya. Karena ini kisah antara Dirga dan Yisha, tentu saja cinta Luna bertepuk sebelah tangan. Dirga juga dikisahkan sudah sukses dengan usahanya, sudah membuka cabang di empat kota. Hebat! Sukses itu seperti membalik telapak tangan. Tak lulus kuliah, jadi buruh ketering pamannya dan ta-daaa! Beruang.

Sementara, Yisha mulai menemukan kenalan baru bernama Hilal. Ini mungkin satu-satunya karakter yang agak benar. Walau memberi harap kepada cewek tetap saja tak benar. Mereka dekat, sampai mulai ada rasa dalam diri Yisha. Sayangnya dalam sebuah adegan yang tak romantis, saat Hilal memintanya menemani ke toko emas untuk beli cincin kawin. Yisha yang mulai salting, karena akan dikira akan ditembak eh ternyata Hilal sudah punya kekasih bernama Leonita. Sehingga Yisha tetap jomblo.

Meski berjuta waktu terlampaui tanpamu, aku tak pernah jemu menunggumu. Penat akan hidup, Yisha berlibur. Coba tebak berlibur ke mana? Betul! Bali. Dan epilog pun dituturkan, sebagian adalah prolog-nya sehingga jelas ketebak ke mana cerita ini ditutup. Bah! Cerita apaan ini! Sampah. Tak ada konflik yang kuta, tak ada alur penuh tanya, tak ada sesuatu yang bagus untuk dipetik, tak ada logika. Selesai baca, buang! Buku ini berbahaya untuk generasi muda, bahkan Raam Punjabi-pun akan takut karena sinetron noraknya kalah norak. Yang mengejutkanku, bagaimana bisa cerita seburuk ini bisa dicetak? Please Penulis muda buatlah karya yang sedikit lebih berguna. Pikirkan ketika menulis dari sudut pandang pembaca. Kalian juga bertanggung jawab untuk Generasi Indonesia yang lebih baik.

Selamat Hari Buku Nasional. Satu hari ini saya akan baca buku lokal. Karena saya cuti, pulang lagi pagi tadi setelah kejebak macet di Cidomba, Karawang. Sayang sekali buku pembukanya tak bagus. Buku tipis yang hanya butuh sejam kubaca, dan muntah. Silent Love, Death Silent!

Silent Love | oleh Dien Ilmi | Editor: Geulis | Design sampul Usman | Penata letak Kuraki | Cetakan 1, 2015 | Penerbit Euthenia | IV, 148 hlm | 13 x 19 cm | ISBN 978-602-1010-29-7 | Skor: 0,5/5

Karawang, 170516 #Delon feat Irene – Indah Pada Waktunya #Selamat Hari Buku Nasional

I Am Malala – Malala Yousafzai & Chistina Lamb

image

Beginilah seharusnya sebuah biografi dibuat. Seru, menegangkan, dan sangat inspiratif. Tak banyak buku biografi saya baca – Sir Alex Ferguson, Muhammad Al Fatih, Soe Hok Gie, Valentino Rossi, Merry Riana, JK Rowling, Chris Gardner. Semua tak semenarik buku ini, The Other Side of Me –nya Sidney Sheldon tetap biografi terbaik yang pernah kubaca. Lalu Hugo Chavez baru I Am Malala.
Kisahnya runut, enaaaak sekali dibaca. Buku setebal 383 halaman ini memang tebal dan melelahkan, saya butuh seminggu dan waktu khusus sampai begadang untuk menyelesaikannya. Dengan ekspektasi tinggi, yang untungnya terpenuhi. Saya memang rada awam sejarah Timur Tengah, jadi bagiku buku ini sangat bervitamin. Saya jadi tahu sejarah Pakistan, yang ternyata pecahan India merdeka tahun 1947. Pecah karena dipisah perbedaan agama, Muslim dan Hindu. Sebagai negara Muslim pertama yang didirikan oleh Muhammad Ali Jinnah, yang setahun kemudian meninggal. Sejarah berdirinya Bangladesh. Bagaimana Alexander yang Agung sampai di sana. Kudeta-kudeta yang terjadi, perang tiada henti, sampai bagaimana detail Osama Bin Laden tewas. Segalanya disajikan dengan sangat indah, seakan kisah fiksi ratusan tahun lalu. Padahal sejarah itu tak lebih dari sedekade yang lalu. Betapa dunia berputar sekelebat.
Sebelumnya saya sudah dengar, bahwa remaja ini mendapatkan nominasi Nobel Perdamaian. Wanita termuda yang pernah mendapatkannya. Betapa dunia terkejut akan kematian mantan perdana menteri wanita Pertama Pakistan, Benazir Bhuto yang kembali dari pengasingan dibunuh oleh serangan teroris. Saya saat itu masih di Cikarang dan seluruh koran nasional memberitakannya sebagai headline. Betapa Taliban berjuang di Afganistan – setelah baca buku ini saya tahu Taliban juga menguasai Pakistan – untuk mererapkan sistem Pemerintahan Islam. Di buku Kite Runner perang Afgan lawan Uni Sovyet yang panjang, tentu saja disinggung. Dan karena saya Muslim, setidaknya sedikit tahu masalah syariat yang coba disampaikan di buku ini. Semua dikemas dengan sangat mendebarkan.
Kisah dipecah dalam lima bagian, pertama: Sebelum Taliban yang menceritakan sejarah Pakistan. Kedua: Lembah Kematian tentang Taliban yang mencoba membuat Pakistan menerapkan syariat. Ketiga: Tiga Anak Perempuan, Tiga Anak Peluru yang mengkisahkan perjuangan Malala dalam bersekolah sampai akhirnya terjadi upaya pembunuhan. Keempat: Antara Hidup Dan Mati tentang upaya bertahan hidup sampai diterbangkan ke Inggris dan yang terakhir: Kehidupan Kedua tentang upayanya memperjuangan pendidikan bagi kaum perempuan. Dibagian pembuka ada peta Swat, Pakistan dan area sekitar yang sangat membantu untuk mengimajinasikan kejadian yang dituturkan. Dibagian tengah ada foto-foto Malala untuk menunjang cerita.
Dari pembuka, buku ini sudah terbaca hebat, jelas ditulis oleh seorang pengalaman yang saya yakini Christina Lamb lebih dominan menulisnya. Seorang jurnalis Sunday Times, wartawan kawakan yang sudah mendapat banyak penghargaan. Prolog-nya mengguncang dan suatu saat saat difilmkan, adegan penembakan itu pastinya sangat dramatis dengan musik skore yang menghentak. Kenapa? Judul ‘I Am Malala’ bukanlah sembarangan pilihan. Ternyata itu adalah jawaban yang tak terucapnya terhadap sang penembak. Saat itu di siang hari sepulang sekolah, Malala naik bus sekolah Khushal yang disopiri Usman Bhai Jan. Bus itu dijejali dua puluh anak perempuan dan tiga guru. Malala duduk di antara temannya Shazia Ramzan dan Moniba. Setelah melewati pos pemeriksaan Bus mereka dihentikan sebuah truk, sang sopir ditanyai. Lalu pemuda dengan topi pet dan sapu tangan menutupi hidung dan mulutnya masuk. Memeriksa beberapa saat dan berujar, “Yang mana Malala?” Tak seorang-pun bicara, namun beberapa anak perempuan memandang Malala, dialah satu-satunya anak perempuan yang wajahnya tak tertutupi. Saat itulah pemuda itu mengangkat pistol Colt .45. saat itu Selasa, 9 Oktober 2012, prolog ditutup dengan kalimat: Yang mana Malala? Aku Malala dan inilah kisahku. []
Malala adalah anak kedua dari seorang ayah yang cerdas Ziauddin dan seorang ibu yang cantik namun buta huruf. Mereka dari klan Dalokhel Yousafzai. Anak pertama meninggal, Malala mempunyai dua adik laki-laki: Atal dan Khushal. Dinamai mengikuti nama Malalai dari Maiwand, pahlawan wanita terbesar Afganistan. Ayahnya adalah seorang pendiri sekolah, penceramah yang hebat dan berpengaruh, turunan kakeknya yang lulusan India. Dari dasarnya saja, kita tahu Malala mirip ayahnya. Menyukai bacaan dari Twilight, Sherlock Holmes, The Alchemist, buku-buku Charles Dickens. Romeo-Juliet sampai The Wonderful Wizard of Oz. Sebuah akar yang bagus.
Terlahir dan besar di lembah Swat, sebuah wilayah yang awalnya berdikari namun saat Pakistan merdeka wilayah ini bergabung. Dari jejak sejarah, lembah Swat pernah dihuni umat Budha karena adanya patung-patung Budha di sana. Di Pakistan, hidup terasa tidak adil bagi kaum perempuan, seakan mereka terlahir hanya untuk mengurus suami dan anak. Nah poin utamanya adalah ini, kesetaraan gender. Hak pendidikan yang sama. Ternyata Pemerintahan di sana tak jauh beda dengan di Indonesia saat ini. Korupsi merajalela, pemerintahan terpusat di ibu kota dan kota besar lainnya. Wilayah terpencil, semacam Swat jarang didengar. Para politisi akan berkunjung hanya jelang Pemilu. Bedanya, di sana terjadi kudeta berulang kali. Perebutan kekuasaan lebih sadis, teroris di mana-mana. Tembakan dan dentuman peluru adalah musik yang menghiasi malam. Sungguh mencekam. Melihat detail mengerikan itu membuatku syukur tinggal di Indonesia. Yah, walaupun di Negeri ini disiplin rendah, pejabat yang tak bisa diandalkan, atau egoistis yang tinggi. Setidaknya, di Negeri ini tak terjadi perang.
Dari buku ini saya juga akhirnya tahu. Di Timur Tengah sana, sedikit yang bisa bahasa Arab. Di Pakistan, yang bahasa utamanya Urdu ternyata penafsir Al Quran-pun dianggap sangat agamis, dan dipuja saat orang ngomong Arab. Peristiwa 9/11 yang mengguncang dunia itu, di sana ditanggapi beragam pula. Seperti yang kita tahu, Osama Bin Laden tewas di kota Abottabad, Pakistan. saya hanya selintas nonton Zero Dark Thirty, di buku ini dijelaskan kronologi sesungguhnya dari sudut pandang Pakistan. Betapa bobroknya militer di sana.
Malala menangkapnya dengan jitu melalui pemikiran seorang remaja perempuan. Perempuan dilarang sekolah, harus memakai burqa – menutup wajah sehingga hanya kelihatan matanya. Harus ditemani saudara laki-laki saat keluar rumah. Hukuman cambuk bagi seorang lajang yang zina, dan rajam bagi seorang yang sudah menikah. Tak boleh ada patung, tak boleh ada lukisan. Kaset, CD, DVD dibakar. Televisi dibumihanguskan. Dan seterusnya dan seterusnya.
Saya jadi tahu, sejarah Taliban di Pakistan yang didirikan Fazrullah yang slogannya terkenal: Shariat Ya Shahadat – Syariat atau Syahid. Menyebarkan Islam lewat Mullah FM. Berperang melawan pemerintahan yang sah, melakukan bom bunuh diri di tempat-tempat strategis, sekolah-sekolah perempuan diledakkan. Yang paling terkenal dari kisah Taliban adalah pengepungan Masjid Merah tanggal 3 Juli 2007.
Salah satu kutipan yang layak saya bagikan adalah ini. Ayah Malala yang juga diburu Taliban selalu membawa kertas bertuliskan sajak karya Martin Niemoller seorang Jerman yang hidup di bawah tekanan Nazi. Sajak yang menginspirasi bahwa jika semua orang diam maka tidak akan ada yang berubah. Sajak itu berbunyi: Pertama-tama mereka datang memburu komunis dan aku tidak bersuara karena aku bukan komunis | Lalu mereka datang memburu sosialis dan aku tidak bersuara karena aku bukan sosialis | Lalu mereka datang memburu serikat buruh dan aku tidak bersuara karena aku bukan serikat buruh | Lalu mereka datang memburu orang Yahudi dan aku tidak bersuara karena aku bukan Yahudi | lalu mereka datang memburu orang Katolik dan aku tidak bersuara karena aku bukan Katolik | Lalu mereka datang memburuku, dan tak seorang pun tersisa untuk membelaku.
Malala juga rajin menulis kisahnya dengan nama samaran Gul Makai. Tulisannya lebih banyak mengkritisi kebijakan Pemerintah tentang pendidikan. Sebenarnya kehebatan Malala adalah buah kerja keras ayahnya yang teguh akan pentingnya menyuntik ilmu sedari kecil kepada anak. Ayah yang hebat selalu mendukung apa yang bagus buat putrinya.
Keluarga ini memang luar biasa, melawan ketidakadilan dengan aksi nyata. Walaupun tak semua saya setuju, seperti tak mau memanjangkan janggut karena Taliban. Well, alasan yang kurang bijak karena ada hadist yang bilang ‘peliharalah janggut.’ Lalu bagian yang menjelang akhir ada kalimat, “Jika Malala meninggal berarti aku membunuh Ibu Teresa-nya Pakistan.” Menurutku terlalu berlebihan. Ingat buku ini ditulis bersama, sehingga kalau sampai ada kalimat bombastis yang tak wajar seharusnya tak dicantumkan.
Terakhir, bagi kalian yang menginginkan buku penuh vitamin saya rekomendarikan untuk membacanya. Buku ini saya pinjam dari Sekar Ayu, sehingga pekan ini setelah saya selesai baca dan review akan segera saya kembalikan. Namun suatu saat pasti akan nangkring di Perpus Keluarga-ku. Layak koleksi, layak diajarkan kepada anak-cucu sebuah perjuangan yang menginspirasi. Siapa tahu suatu hari kelak putriku berujar, “Saya Hermione dan ini kisah tentangku…”
I Am Malala: Menantang Maut Di Perbatasan Pakistan-Afganistan | diterjemahkan dari: I Am Malala: The Girl Who Stood Up For Education And Was Shot By The Taliban | Karya Malala Yousafzai & Chistina Lamb | copyright 2013 by Salarzai Limited | Penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno | Penyunting Esti A Budihabsari | Proofreader Ine Ufiyatiputri dan Yunni Y.M. | Cetakan 1, Mei 2014 | Diterbitkan oleh Penerbit Mizan | Design sampul Mario J. Pulice dan Ploy Siripant | Fotografer sampul Antonio Olmos | Sampil 2013 Hachette Book Group, Inc | ISBN 978-979-433-840-7 | Untuk anak-anak perempuan yang menghadapi ketidakadilan dan dibungkam. Bersama-sama kita akan didengar | Skor: 4/5
Karawang, 160516 #Linkin Park – My Suffering

#KloseDay #KloseDay #KloseDay

image

Kuis reguler the Great dibuka. Lawan Fiorentina bakal jadi #KloseDay. Analisis min tiga kalimat. Analisis terbaik dapat reward 5 ribu. Skor saya 3-0. Ditutup Minggu dini hari jam 03:00.

LBP 3-0
Klose adalah legenda besar sepak bola. Klose adalah pemain hebat yang luar biasa. Klose adalah bagian dari Lazio. Danke Klose. #KloseDay

Jj
Lajio 2-1 skorer Klose
Akhir musim tak menyenangkan. Puasa bola sebab yuro bukanlah bola. Hanyalah politik intrik fifa demi meraup uang para proletar.

Aditya
Lazio vs Fiorentina : 2-1 skorer: Klose
Card : Mauricio
Klose was the evertime Germany’s top scorer of World Cup (15 goals). Klose was great & have excellent finishing. At last, Klose was superb. Thanks for everything Der National Bomber!

Arif
Lazio 1-0. Klose.
Match perpisahan sang legenda, klose. Klose tentu ingin cetak gol. Danke, klose👍

Gentong
1-3, skorer Klose
klose sdh hebat sebelum ke lajio.tp sayangnya salah pilih klub pensiun.ya sudahlah.semoga ga kayak tare.

Mads
Lazio 3 – 0 fiorentina skorer Klose
Kepakan sayap elang ibukota terasa beda di sore itu.terasa bertenaga,sangat cepat,sangat liar.terlihat bagaikan penguasa angkasa yang sedang dilanda kemarahan,marah karna ditinggal sang pujaan.walau mulanya tak terkendali,sehingga sulit mencabik2 lawan,tapi tenaga yg terus bertambah demi memperlihatkan ke kuatan pada sang pujaan,akhirnya cakar elang mampu menerkam sang lawan,paruhny mencabik2 sang musuh..
Sang elang terbang tinggi,bukan untuk pergi,tetapi untuk kembali mencengkeram musuhnya.terong ungu lemas.terong ungu tak bernafas.

Sapin
Lazio 1-2 Fiorentina skorer Klose
Klose sisa sisa gemerlap dunia sepak bola. Lazio dengan atau tanpa Klose juga sama saja. Klose sudah klosed.

Dc
Lazio 1-0 Fio skorer Klose
Main kandang lagi. Menang lagi. Simone layak melatih dalam jangka panjang.

Deni
Lazio 2-1Fio, skorer Klose
Lajio main kandang..klose mencetak gol kemenangan..akhirnya semua fans lajio merasa senang 👍🏻..thank klose

Panji
Lazio 0-,1 skorer Klose
Fio udah gerah tercecer sementara lazio lebih tanpa beban.

Huang
Lazio 4-3 fio, skorer klose
Analisa: klose termenung dalam kloset ketika seseorang tiba2 menggedor-gedor pintu. ”Pak, maaf, kita sudah mau klosed, apa bapak baik2 saja?”
Klose terdiam sejenak. Sesaat tadi pikirannya melayang jauh di indonesia. Ia teringat ketika masih bekerja di pelabuhan, ia tinggal di rumah klost-klostan,,, atau yang mirip dengan itu namanya, ia lupa, dimana hanya ada kloso untuk alas tidurnya. Ia teringat betapa tempat itu penuh dengan kenangan yang membuatnya senang.
”Maaf pak, perut saya sakit jadi agak lama tadi” klose memberi alasan sekenanya agar tak kena marah.
”Oh begitu, ya sudah, biayanya 10 baht pak”
”Apa?” Klose bertanya setengah terkejut. ”Bukankah seharusnya 2 baht biayanya?”
”Benar, tapi bapak memakai kamar mandinya terlalu lama, jadi kena charge”
Klose tak bisa berbuat apa2, dia pergi dari toilet umum itu sambil menggerutu, ” keterlaluan, gak di indonesia gak di thailand sama saja.

Karawang,  150516 #KloseDay

Fortunately, Milk – Neil Gaiman

image

“Aku membeli susu,” kata Ayah. “Aku keluar dari toko pojok, dan mendengar suara aneh seperti: dhuum… dhuumm… aku mendongak, dan kulihat piringan perak besar menggantung di atas jalan Marshall.”
Ini adalah buku ketiga Neil yang saya baca. Setelah The Good Omens – duet dengan Terry Pratchett – yang superb sekali dan Interworld yang rumit karena terbagi-bagi banyak tempat dan karakter namun tetap menawan. Nah, Fortunely, Milk seakan adalah anomali-nya. Buku ini ringan, banyak ilustrasi yang digarap dengan indah oleh Skottie Young. Bertolak dengan namanya yang sering bertutur cerita berat, buku ini buku anak-anak dengan konflik yang sederhana. Tentang sebotol susu yang berpetualangan menjelajah waktu.
Dikisahkan sebuah keluarga, tanpa nama karakter. Sang ibu sedang mengikuti sebuah konferensi, presentasi tentang kadal. Sebelum pergi ia memperingatkan suaminya, apa yang harus dilakukannya saat dia tak ada di rumah. Sudah menyiapkan makanan beku ditandai, sehingga tinggal menghangatkan. Ayah yang terlihat cuek, mendengarkannya dengan santai. Aku – karakter utama dalam cerita ini adalah si sulung mempunyai seorang adik yang suka main biola. Tepat setelah segala pesan itu disampaikan kepada Ayah, ibu menambahkan, “Oh, susu kita hampir habis. Kau harus membelinya.”
Hari pertama berjalan buruk. Kami menghabiskan malam dengan makan di restoran India. Hari kedua di pagi hari, cerita sesungguhnya dimulai. Untuk sarapan sereal mereka memerlukan susu. “Susu habis,” kataku. | “Susu habis,” kata adikku.  | “Kasihan kalian. Aku akan pergi ke toko pojok. Aku akan membeli susu.” Kata Ayah. Dan kita menunggu.
Lama sekali Ayah tak kembali. Si aku sampai mencoba makan Toastio kering, si adik bosan sehinnga membunuh waktu dengan memainkan biolanya. Setelah jeda yang panjang itu, akhirnya Ayah datang dengan sebotol susu. Tentu saja wajar kita bertanya, “Ayah ke mana saja sih, kok lama.”
Dan dikisahkanlah alasannya. Ayah diculik alien, kabur. Terperangkap di lautan, dibawa bajak laut. Sang ibu bajak laut menawarkan bergabung atau mati. Ayah bersikeras pulang, anak-anaknya menunggu. Di atas papan hukuman, muncullah tangga tali dengan ujung atasnya sebuah balon udara. Ayah kabur diselamatkan profesor Steg. Mereka mendarat di sebuah bukit landasan penuh orang aneh. Desa mereka sedang gagal panen, dan sebuah ramalan menyebutkan suatu saat ada bola apung yang turun dari udara. Lalu menunjukkan susu, mereka harus dibawa ke gunung api dan diberi permata hijau Mata Splod.
Mereka berselisih dengar. Kabur lagi. Ditangkap, melewati kegelapan pekat di langit. Ditangkap lagi. Dan penjelajahan ini diakhir dengan happy ending. Kenapa? Karena sang Ayah berhasil kembali ke rumah, bersama susunya.
Tentu saja Aku protes, ada piranha di laut lepas. Oke, Ayah tetap tampak tenang melanjutkan cerita. Adikku meminta ada kuda poni dalam dongengnya, oke Ayah mencipta sekumpulan kuda poni warna pink dan biru di lembah. “Meskinya ada vumvir yang baik dan tampan.” Kali ini Ayah bilang, “Tak ada!”
Petualangan yang unik itu tentu saja sebuah alibi. “Ayah tahu, kami tidak percaya,” kata adikku. | “Sama sekali tidak percaya,” kataku. | “Terserah, tapi semua benar. Ada buktinya.” Kata Ayahku. | “Apa?” | “ Ya, apa?” tanya adikku. | “Hhmm…,” kata Ayah, meletakkannya di atas meja dapur. “Ini susunya.”
Dan ia kembali membaca koran. Hahaha… kisah yang hebat. Cocok sekali untuk dibacakan kepada anak balita. Nanti pasti kubacakan kepada Hermione kisah ini. Petualangan yang tak biasa. Kekuatan utama buku ini ada di ilustrasi yang memanjakan mata. Gambar coret yang tak biasa. Detailnya indah. Digambar dengan hati. Terima kasih Neil, Ayah yang pendongeng. Terima kasih Skottie, ilstrator hebat.
Untunglah, Susu | diterjemahkan dari Fortunately, Milk | by Neil Gaiman | copyright @2013 | ilustrations by Skottie Young | published by arrangement with Writers House, LLC & Maxima Creative Agency | GM 40201140122 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Djokolelono | cetakan 2014 | ISBN 978-602-03-1225-5 | 128 hlm; 20 cm | untuk Ayahku, si pendongeng dan pembuat ketawa. Aku rindu banget. – S.Y. | Skor 4/5
Karawang, 140516 #Coldplay – Spies

Relentless – Dean Koontz

image

Buku kedua Dean Ray Koontz yang saya baca setelah Intensity yang memukau itu. Sah, saya masukkan beliau sebagai salah satu Penulis favorit yang buku-bukunya akan saya buru dan santap saat ada kesempatan. Sebenarnya aneh juga sih, karena saya lebih suka genre fantasi-imajinasi, novel Dean lebih ke thriller dengan penjelasan pembantaian secara gamblang. Dari sekedar iseng mencari bacaan diluar batas, akhirnya saya menemukan seorang pencerita ulung. Dari dua buku yang sudah kulahap saya bisa tarik ciri utama Dean adalah di detail karakter, tempat dan humor sadis. Keberanian bertutur kekejaman manusia yang hebatnya sangat indah disampaikan. Seorang Penulis yang tak kenal ampun membantai tokohnya.
Di Relentless, penyampainnya lebih sabar. Tidak seperti Intensity yang langsung ke puncak pembunuhan, di sini dia memakai pola standar di mana kejutan di simpan di akhir. Tak heran detail panjang itu membutuhkan lebih dari 500 halaman, tepatnya 548. Panjang sekali bukan. Di pecah dalam tiga bagian dalam 62 bab yang melelahkan. Butuh waktu seminggu untuk menuntaskannya. Kesabaran yang tak sia-sia karena memang ini buku yang sangat bagus. Tanpa daftar isi kita diajak membuka cerita dengan tiga kutipan Penulis legendaris Charles Dickens yang saling silang dengan GK Chesterton. Sebuah saling silang yang pas dengan isi cerita itu berbunyi: “Hal-hal kecillah yang menyusun jumlah kehidupan” dari buku David Copperfield lalu: “Masalahnya jelas. Ini antara cahaya dan kegelapan, dan setiap orang harus memilih pihaknya” dari GK Chesterton yang dilanjut, “Semua manusia itu tragis.. semua manusia itu lucu… setiap leki-laki itu penting jika dia kehilangan kehidupannya. Dan setiap laki-laki lucu jika dia kehilangan topinya.” Terdengar biasa? Silakan dibaca sampai tuntas buku ini biar tahu rasa.
Dibuka dengan perkenalan lembut nan aneh tentang keluarga Cullen Greenwich (dilafalkan dengan Grenitch). Beristri Penny Boom yang cerdas. Punya anak berusia 6 tahun yang jenius, Milo. Punya mertua yang tak kalah nyentrik, Clotilda dan Grimbald. Memiliki anjing gembala Australia yang memiliki warna mata berbeda, satu biru satunya abu-abu bernama Lassie. Cara penuturannya mungkin terbaca tak seru karena dijabarkan dengan satu pihak seakan tak ada jeda untuk menyela. Namun ternyata ketika selesai baca, detail itu masih sangat bagus dibaca ulang dan ulang. Cullen – dengan nama panggilan Cubby adalah Penulis buku best seller. Penny juga Penulis sekaligus ilustrator, namun lebih ke buku anak-anak. Tinggal di rumah indah di Kalifornia Selatan. Keluarga ini seakan dinaungi suka cita sepanjang waktu, sampai akhirnya Cullen merilis buku keenamnya, One O’Clock Jump. Malapetaka yang tak disangka-sangka.
Review dari USA Today dan Washington Post positif, review yang ketiga mengerikan. Review dari seorang kritikus ini ternyata berdampak panjang. Kritikus bernama Shearman Waxx yang memaksa keluarga ini berjibaku bertahan hidup. Sesuai judul bagian pertama, Penny Boom Bilang Lupakan Saja, review buruk akan membuatnya marah. Namun hasilnya bukan sekedar marah, lebih ke kengerian. Pasalnya suatu hari Cubby berkesempatan bertemu Waxx di restoran langganan. Lelaki berdasi kupu-kupu berwarna merah. Kesempatan untuk melihat sang kritikus langsung itu berakhir buruk, “Doom – malapetaka.”
Suatu sore saat Cubby membaca cerita favoritnya, A Good Man Is Hard To Find karya Frannery O’Connor sesuatu yang menakutkan membayanginya. Waxx muncul di rumahnya, hunian yang dipenuhi pengaman itu bisa diterobos tanpa ketahuan. Seperti bayangan, Waxx berjalan seakan tak melihat sekeliling, Cubby ragu akankah itu nyata atau imaji-nya. Setelah dikejar dalam ruang-ruang rumah, ia menghilang. Dari sinilah keseruan cerita ini benar-benar dimulai. Waxx ternyata asli, dia adalah pembunuh berdarah dingin. Cubby tahu itu setelah dihubungi sesama Penulis yang pernah di-review buruk olehnya. John Clitherow bercerita keluarganya dibantai Waxx satu per satu, namun polisi gagal melacaknya. Penulis lain  juga mengalami nasib serupa. Tom Landuff lebih tragis lagi setelah diulas dengan kejam Waxx. Yang paling biadap adalah mutilasi Henry Casas. Membiarkannya hidup dalam penderitaan. Mengingat pola itu, Cubby pantas waspada. Nah suatu hari setelah detail-detail mengerikan itu. Dengan penuturan cerita ala film suspence, rumah keluarga ini diledakkan. Untungnya Cubby dan keluarga berhasil kabur tepat waktu. Dengan barang seadanya, mereka berkendara menjauh dari Kalifornia.
Di bagian kedua dengan judul, Aku Adalah Pembantai Saudaraku. Adalah kisah pelarian dari kejaran Waxx, mereka tinggal di rumah tenang tepi pantai. Tak bisa lega lebih lama, rumah itu diberondong peluru. Cubby berhasil kabur lagi. Kini mereka meminta bantuan orang tua Penny. Setiap tempat yang disinggahinya selalu terdeteksi. Padahal kartu kreditnya tak digunakan. Telepon dan kartu sekali pakai, percobaan hindar yang nyatanya kecium terus seakan Waxx adalah bayangan itu sendiri. Segalanya kan memang harus dihentikan. Kisah ini membawa mereka ke Utara, ke sebuah kota Smokeville.
Di bagian ketiga judulnya sangat asing Zazu, Siapa Dia Di sini Anjing, Di Sana Anjing Doom Zoom Doom. Padahal bagian ini menyisakan seperlima namun ternyata muncul karakter baru yang mengejutkan dan fakta kata “doom zoom doom” itu memiliki makna yang konkrit. Akhirnya berhasilkah Cubby Greenwich dan kelurga selamat dari sang kritikus? Ataukah dirinya menjadi Penulis berikutnya yang menjadi daftar panjang korban Waxx?
Selesai baca pagi tadi saat Subuh menjelang. Rencana membuat review kemenangn Lazio 1-3 atas Carpi buyar saking excited-nya ending cerita ini. Speechless. Tak menyangka saja, hal remeh yang digenggam dan dipelajari Milo memiliki peranan penting eksekusi ending. Mengingatkanku pada film Funny Game, sebuah remake dibintangi Naomi Watts. Sekarang mungkin kita menanyakan secara ilmiah penemuan itu, namun saya percaya 100, 200 tahun lagi tak mustahil terwujud. Luar biasa. Shocking!
Banyak kutipan yang perlu saya bagikan. Saking banyaknya takut merusak kenikmatan teman-teman yang akan membacanya, saya nukil sebagian.
“Si gajah kecil, tikus kecil, dan kelinci kecil semuanya memiliki telinga yang benar-benar besar.” – halaman 176
“Hukuman yang paling besar bukanlah kematianmu sendiri, tapi justru rasa kehilangan orang-orang yang kau sayangi.” – 161
Dalam kekacauan ekomoni saat ini, yang disebabkan oleh para politikus yang bersikeras kalau mereka bisa memperbaikinya dengan membuat kami lebih menderita, banyak bisnis kecil yang dihancurkan. – 260
Aku benci jika orang-orang menjadi anomin di internet. – 268
Bagi beberapa orang, berpetualang adalah sebuah hobi, bagi yang lainnya merupakan sebuah filosofi yang bijaksana, bagi para sanak keluargaku, survival adalah sebuah agama. – 294
Pandangan yang Penny lemparkan padaku bukanlah pandangan yang akan kupotret dan kusimpan selamanya di dalam buku tentang memori-memori kasih sayang milik kami. – 343
Pikiran adalah penipu dengan sandiwara yang tak terbatas, dan pikiranku mengubah bau dari tembakan senjata api ini menjadi napas asam milik Tray persis seperti yang ada di malam bulan September di waktu dulu itu. – 386
Kalau laki-laki itu ingin tahu soal hal aneh, dia seharusnya melihat ke cermin. – 476
Dalam dunia abad dua puluh satu yang terbalik ini, para penguasa merupakan para penjahat kejam yang tak punya prinsip. – 494
Kau akan berfikir begitu. Shelley, Marx, Freud, Nietzche, Tolstoy, Bertrand Russel, Sartre – mereka semua adalah monster bagi orang-orang dalam kehidupan pribadi mereka. Tapi itu tidak penting saat kau mengingat kontribusi-kontribusi mereka pada dunia. – 535
Sebelum saya tutup, saya ingin bilang: bab 44 adalah sebuah masterpiece sebuah cerita. Sangat amat mengagumkan, kisah bisa begitu menyentuh dan sadisnya. Dituturkan satu bab panjang tanpa putus, membuat sesak nafas. Bagian terbaik buku ini. Bagian terbaik sebuah cerita pembunuhan yang ditulis dengan sangat memikat. Bagi penyuka suspence, wajib baca. Karena waktu adalah monyet!
Tak Kenal Ampun | Diterjemahkan dari Relentless | by Dean Koontz | copyright 2009 | Pewarna sampul vbi_djenggoten | Pewajah isi EMW-Ufukreatif Design | Penerjemah Nina Setyowati | Penyunting Premi Wahyu | Pemeriksa Aksara Olga Dories | Penerbit Ufuk Press | Cetakan I, November 2010 | ISBN 978-602-8801-53-9 | Untuk Gerda, untuk segalanya | Skor: 4,5/5
Karawang, 090516 #Trian – Breakfast in bed

Tiada Ojek Di Paris – Seno Gumila Ajidarma

image

Obrolan urban. Ini adalah buku utuh pertama yang saya baca dari bung Seno, sebelumnya hanya baca beberapa cerpen dan esai yang tersebar di media. Kini saya berkesempatan membaca secara keseluruhan dalam rangkuman esai yang dinukil dari majalah dan tabloid Djakarta!, kolom Affair (2004) sampai Kentut Kosmopolitan (2013). Selesai membacanya saya langsung teringat teman saya dari Bandung yang sekarang terdampar di Jakarta, teman dikusi film yang menjalar ke berbagai topik lain. Kenapa saya teringat Mohammad Takdir? Karena tulisan beliau yang merakyat dan sering sebut jelata, sebut kaum urban, sebut ani-nya Rhoma, sebut kaum kelas bawah dengan berbagai problematikanya. Lalu setelah membahas topik utama bung Tak – panggilan saya kepada beliau – akan menukil orang-orang besar terdahulu dari Baker, Ami Priyono, Chairil Anwar sampai penulis-penulis Eropa Timur yang asing di telinga. Nah, buku ini polanya mirip. Namun sayang bung Seno terlampau serius, kurang nada humor layaknya bung Tak sehingga jatuhnya bosan. Sehingga harapan saya yang (terlampau) tinggi kurang terpenuhi saat saya menutupnya. Buku ini lebih kepada pengamatan sang Penulis terhadap ibu kota dengan analisis dan argumennya. Ditambah beberapa istilah asing biar terlihat keren.
Berisi 44 esai semua tentang Jakarta dengan hiruk pikuknya. Beberapa bagian memang menjadi bacaan yang bervitamin, namun beberapa yang lainnya menjurus ke kebosanan, beberapa lainnya lagi unik, beberapa lainnya bahkan boleh di-skip. Yang menarik adalah setiap ganti topik kita disuguhi gambar-gambar klasik produk Indonesia. Dari kopi, rokok, keripik sampai obat-obatan. Sebuah nilai tambah. Gambar-gambar yang memanjakan mata. Sebagian tentu saja pernah mengkonsumsi, dulu waktu kecil. Patut diapresiasi bungkus produk yang di-scan itu semacam nostalgia.
Dalam kesempatan berbagi dalam meeting dan briefing pagi di kantor NICI tanggal 4 Mei 2016 lalu, saya membacakan salah satu topik yaitu tentang Zebra Cross. Sebuah gambaran nyata betapa kita kurang menghormati para pejalan kaki. Bagian itu terbaca lucu sekaligus miris. Tertulisnya begini: Di berbagai tempat di Jakarta terdapat zebra cross alias tempat pejalan kaki dianjurkan menyebrang. Menurut teori, jangankan sebelum menginjak zebra cross, orangnya baru nongol saja dan kakinya masih di trotoar, mobil yang mau lewat seharusnya berhenti dan menunggu sampai penyeberang lewat. Di berbagai kota yang sudah “tertib”, bahkan saya kadang bermain-main, seakan-akan mau menyeberang padahal tidak, sehingga  para pengemudi beradab betul-betul bingung. Di Jakarta saya sering dibingungkan oleh kejadian sebaliknya. Saya sering pura-pura beradab dan berhenti di zebra cross ketika tampak seseorang mau menyeberang, tapi ajaib. Sang penyeberang ini terlihat ragu-ragu dan tidak percaya bahwa ada mobil menunggu beliau menyeberang jalan terlebih dahulu. Sering kali keraguannya begitu lama, dan akibatnya mobil-mobil di belakang menjadi murka luar biasa, seperti ditunjukkan klasok. Ketika akhirnya beliau menyeberang, meski tampak jelas saya menunggu, larinya juga cepat sekali seolah-olah ada mobil siap meluncur menabraknya. – halaman 159
Di bab Manusia Jakarta, Manusia Mobil ada bagian yang sangat menohok: Manusia dan mobil dalam sintesis kemacetan ternyata melahirkan semesta unik. Secara teoritis waktu dalam kehidupan manusia Jakarta dibagi menjadi dua: di rumah dan di tempat kerja. Ini melahirkan dikotomi stereotip tentang talik ulur antara keluarga dan karier. Dalam praktiknya, waktu 24 jam itu ternyata dibagi tiga: waktu di rumah, waktu di kantor dan waktu dalam perjalanan yang bagi sebagian manusia Jakarta, hal ini berarti berapa dalam mobil. Andaikan secara rutin dia menghabiskan 2 jam untuk mencapai kantor dari rumah yang terjebak macet, maka berarti 4 jam sehari, masih ditambah jika segala urusan kerja dia harus ke sana kemari. Alhasil, sepertiga waktu dalam hidup manusia Jakarta dihabiskan dalam mobil. Seandainya ia bekerja mulai umur 25 tahun, dan berhenti kerja 55 tahun maka tak kurang dari 10 tahun dari masa kerjanya habis di perjalanan. – halaman 22
Di bab Mobil: Sebuah Mitos saya juga senang sekali mengetahui asal usul mobil pertama di Indonesia. Saya nukilkan: Bung Karno berkisah kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966), tentang bagaimana Republik Indonesia mendapatkan mobil resminya yang pertama. Seperti yang diketahui, setelah mengucapkan proklamasi, dan ditunjuk sebagai presiden, bung Karno pulang berjalan kaki dari Pegangsaan Timur 56 dan merayakan kemerdekaan Indonesia seorang diri di pinggir jalan dengan memesan 50 tusuk sate. Besoknya 18 Agustus 1945, seorang pengikutnya Sudiro – yang berfikir sudah sepantasnya seorang presiden menaiki mobil – berburu ke seluruh Jakarta. Dia menemukan sebuah mobil Buick besar, yang muat untuk tujuh orang, dengan tirai di jendela belakang. Sayang mobil ini milik Kepala Jawatan Kereta Api yang masih orang Jepang. Dalam semangat revolusi, tentu ini bukan masalah besar. Sudiro mendatangi mobil itu dalam garasi. “Heh, saya minta kunci mobilmu,” ujarnya kepada supir yang kebetulan dikenalnya. | “Kenapa?” tanya orang itu kaget. | “Kenapa?” Sudiro mengulangi, terguncang oleh kebodohan itu. “Karena saya bermaksud mencurinya untuk presidenmu.” Begitulah dengan cara seperti itu, mobil tersebut menjadi milik Republik Indonesia. Namun ini tak membuat masalah selesai. Apa lagi? Ternyata – dan ini khas Indonesia – tidak ada yang bisa mengendarainya! Haha! “Di mana kami bisa belajar?” Bung Karno berkata, “Orang Indonesia tidak mempunyai kendaraan di zaman Belanda, dan hanya pembesar yang dapat memakai kendaraan di zaman Jepang.” Sudiro harus mencari sopir lain untuk menjalankan mobil itu, begitulah sejarah kepemilikan mbil di negeri ini mulai ditancapkan. – halaman 170
Dalam bab Jakarta Yang Sebenarnya? Saya ikut terenyuh terhadap keponakan bung Seno, berikut saya nukil: Ketika melewati Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, keponakan saya itu bertanya: “Jadi ini Jakarta?”; dan jawaban saya pun cukup klise: “Bukan, ini Jakarta yang semu, karena deretan gedung-gedung tinggi hanya berada dalam enclave Segitiga Emas.” Jadi menurut saya yang mana Jakarta sebenarnya? “Inilah Jakarta,” kata saya ketika melewati jalan berlubang-lubang, sehingga mobil hanya merayap lambat dalam kemacetan, sementara para Mister Cepek merajalela dari segala penjuru mengulurkan tangan. – halaman 192
Dalam bab Ojek Sudirman-Thamrin saya teringat fenomena Go-Jek dan taksi Uber yang saat ini menuai pro-kontra. Tulisan beliau buat saat di Paris tahun 2007 sehingga tentu saja ide ada transpotasi motor sudah ada jauh hari. Berikut saya nukil: Apakah ide datangnya ojek datang dari seorang menteri? Sudah pasti bukan. Kalau begitu apakah datang dari seorang profesor? Tentu tidak. Ojek adalah bukti kreatifitas dalam usaha suvival kelas bawah dalam tingkat kemakmuran ekonomi seadanya yang bisa diperjuangankan negara, baik dari masa pemerintahan Orde Baru sampai Reformasi. Bahwa di satu pihak ojek dibutuhkan Jakarta adalah bukti terbatasnya jangkauan pemikiran Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota; di lain pihak bahwa manusia terpaksa jadi tukang ojek sebagai alternatif satu-satunya, adalah terbatasnya lapangan kerja dalam struktur yang mampu disediakan pemerintah Indonesia. Namun jangan khawatir, tukang ojek mengampuni Pemerintah. ( . Bukankah selalu dikatakan masyarakat tidak harus menunggu uluran tangan Pemerintah? (Karena kalau hanya menunggu pasti berarti kematian! ( ) Fenomena ojek adalah contoh terbaik bentuk kreatifitas yang tumbuh dari kebutuhan komunitasnya. Ojek ada karena ada yang membutuhkan. Begitu pula dengan segala hal yang tumbuh dari bawah: Tanpa propaganda dan tanpa pengomporan. Kepentingan tukang ojek hanyalah makan untuk hari ini; kepentingan pengguna ojek sampai tujuan secepat-cepatnya. Itulah ideologi dalam wacana ojek. – halaman 188-189
Begitulah. Buku ini walau terasa biasa, tetap sangat bervitamin. Walau kalah lucu dari tulisan-tulisan bung Tak namun tetap membumi. Kenapa? Ya jelas kalah kelas. Bung Tak adalah (yang mengklaim) jelata yang benar-benar merasa tiap minggunya akrab dengan mie instan, naik transpot umum sampai baju pakai yang itu-itu saja. Bandingkan bung Seno yang nulis masalah ojek saja inspirasinya terperangkap di Eropa. Setiap tulisan memang punya plus-minusnya. Sebenarnya tulisan bung Tak kalau mau dirangkum dan dibukukan tak akan kalah pamor dengan rangkuman Tiada Ojek ini.
Terakhir, saya masih bisa menikmati buku ini walau kurang bisa memenuhi ekspektai. Masih layak baca, beberapa istilah asing bahkan saya catat untuk referensi bacaan berikutnya. Masih layak pajang di rak bersama buku bacaan lain. Kutunggu buku bung Tak di sampingnya.
Tiada Ojek Di Paris | oleh Seno Gumila Ajidarma | Penerbit Mizan | Cetakan II, Mei 2015 | design sampul Dodi Rosadi | Gambar-gambar seni rakyat koleksi Antyo Rentjoko dan Seno Gumila Ajidarma | ISBN 978-979-433-846-9 | Untuk Nagalangit dan Lautan Cahaya | Skor: 3/5
Karawang, 080516 – Subuh Minggu pagi bersama surah Yusuf