What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

image

Pain is inevitable. Suffering is optional | Rasa sakit itu pasti. Penderitaan adalah pilihan.
Ini bisa jadi semacam memoar atau biografi tipis seorang Penulis Besar dunia yang hingga saat ini masih hidup. Buku kedua beliau yang saya baca, yang pertama jelas Norwegian Wood yang fenomenal itu. Dan yah, setelah mengetahui detail kehidupan beliau saya tak ragu lagi memasukkannya sebagai Penulis favorit. Tak banyak orang bisa melakukan pekerjaan diimbangi dengan olahraga. Haruki Murakami adalah orang langka itu, dan setelah membaca buku saya jadi semakin salut ternyata dia sangat rendah hati. Tak jumawa, dan ini yang semakin membuatku cinta: Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. “Aku akan bahagia jika aku dan lari dapat menua bersama.”
Saya sedikit tahu tentang Murakami lewat googling riwayatnya setelah membaca Norwegian. Tahu awal dia memutuskan menulis dengan menutup kelab jazz-nya. Tahu bahwa betapa dia mengoleksi piringan hitam. Tahu musisi favoritnya the Lovin’ Spoonful. Tahu betapa dia aktif berlari mengikuti banyak perlombaan lari marathon. Namun semua itu jadi begitu sangat jelas lewat buku ini. Detailnya mengagumkan. Bagaimana perasaannya, seluk beluk kehidupannya yang luar biasa. Betapa dia seorang yanga anti-sosial, mendapatkan kedamaian dengan kesendirian. Menantang takdir dengan menjadi penulis, yah kalau gagal dia akan membuka toko kecil-kecilan, begitu dia meyakinkan istrinya. Luar biasa. Salute!
Bukunya tipis. Tak sampai 200 halaman. Memang akan lebih fokus ke hobi beliau tantang lari, jadi jangan harap akan menemukan nostalgia asmara sejarah cintanya. Tentang proses kreatif menulisnya. Tak akan ada. Setidaknya jelas, ini bisa menjadi pegangan penggemar Murakami.
Berisi 8 bab dengan prakata dan penutup, buku dibuka alasan kenapa dia menulis memoar ini. Kalimat bijak yang mengatakan bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah membahas perempuan yang pernah putus dengannya atau jumlah tagihan yang harus dibayar. Satu lagi menurut beliau untuk jadi lelaki sejati harusnya tidak membicarakan cara yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. Seorang pria harusnya tidak bicara terus soal bagaimana dirinya tetap bugar. Namun Murakami, malah bercerita panjang lebar tips hidup sehatnya. Sebuah pembuka yang seakan bilang dirinya bukan pria sejati. Sungguh rendah hati.
Berlari dengan mendengarkan musik, memakai walkman berisi lagu-lagu The Lovin’ Spoonful selalu indah di telinga. Suatu hari dia bertanya pada dokter, “Apakah ada orang di dunia ini yang tidak akan mengalami rabun dekat?” Lalu dokter itu melihatku dengan mimik aneh dan sambil tertawa menjawab, “Aku belum pernah menemukannya.” Untungnya puncak kekuatan fisik tiap seniman bervariasi. Misalnya novelis Rusia, Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky yang berhasil menyelesaikan dua novel penting dalam kesusastraan Demons dan The Brothers Karamazov pada usia akhir 60-an tahun. Komposer legendaris Italia Domenico Scarlatti menciptakan karya agung, “555 Keyboard Sonatas” selama hidupnya, dan sebagian besar sonata-sonata itu ditulisnya pada usia 57 hingga 62 tahun. Saat ini beliau berusia 67 tahun. Lahir di Kyoto pada tanggal 12 Januari 1949, saat Jepang sedang melakukan politik isolasi pasca bom atom.
Dirinya memang tak hebat dalam olahraga berkelompok, sehingga lebih memilih olahraga individual. Lari, squash, bersepeda, berenang. Sambil berlari ia memilih lagu-lagu yang iramanya sederhana untuk menemani. Red Hot Chilli Pappers, Gorillaz, Beck, Carla Thomas, Otis Redding serta band-band lawas Creedence Clearwater Revival dan Beach Boys. Apa yang aku pikirkan saat berlari? Biasanya yang menanyakan itu adalah orang-orang yang tidak punya pengalaman berlari jarak jauh. Kemudian aku akan berfikir keras untuk menemukan jawabannya. Jadi, apa yang kupikirkan saat berlari? Terus terang aku tidak mampu mengingat kembali hal apa saja yang kupikirkan saat berlari. – halaman 21
Mick Jagger ketika masih muda pernah sesumbar, “Lebih baik aku mati daripada masih menyanyikan ‘Satisfaction’ saat aku berumur 45 tahun.” Nyatanya sampai berumur 60 tahun pun dia masih saja terus menyanyikan ‘Satisfaction’. Tentu saja ada yang menanggapnya lucu, tapi aku tidak berani menertawakannya. Mick Jagger tidak bisa membayangkan dirinya berumur 45 tahun. Saat muda, aku juga sama. – halaman 23
Bab 2 tentang ‘rahasia’ bisa menulis dan berlari sangat motivatif. Murakami yang mengelola bar sedari muda, awalnya diragukan banyak orang bakal maju. Untungnya istrinya lahir dari keluarga pedagang, sehingga saling mengisi. Cerita awal beliau menulis juga sangat unik. Sambil mengurus bar, dirinya iseng menulis cerita. Ide menulis didapat ketika beliau menonton olahraga baseball di pinggir lapangan. Dengan sempitnya waktu dia berhasil menulis cerita setebal 400 halaman. Bingung mau diapakan, dirinya memutuskan mengirimnya ke majalah sastra Bungeishi. Sayangnya dia lupa membuat rangkapnya, sehingga draft itu hilang tak tentu rimba. Draft itu suatu hari diketik ulang menjadi buku berjudul Kaze No Uta o Kie (Hear the Wind Song). Waktu berlalu, dia menulis lagi. Pada musim semi tahun berikutnya, dia mendapat telpon dari majalah sastra bulanan Gunzo bahwa naskahnya masuk penilaian tahap akhir. Mendapat review yang lumayan bagus dan terbit dalam bentuk bunkobon – buku saku. Saat itu ia berumur 30 tahun, dan mendapat predikat penulis yang sedang naik daun. Setelah itu sambil terus mengelola bar, Murakami menulis 1973-Nen no Pinboru (Pinball, 1973). Dua buku debut yang mendapat pengakuan itu membuatnya mengambil langkah nekad. Bayangkan, pagi sampai tengah malam mengelola bar, selesai itu menulis sampai subuh. Tidur sebentar, lalu aktivitas lagi. Gila! Meluangkan waktu 30 menit, 1 jam, mencuri sedikit waktu kerja. Langkah nekad itu adalah menutup bar dan fokus menulis. Padahal waktu itu pendapatan mengelola bisnis jauh lebih besar dari menulis. Well, inillah titik balik beliau. Lagi-lagi, Salut!
Waktu itu tahun 1981, dan direstui istrinya. Dengan waktu yang lebih banyak, pertaruhan hidup itu dimulai. Melakukan riset, konsentrasi penuh. Dan mengahasilkan buku ketiga Hitsuji o Meguru Boken (A Wild Sheep Chase). Aku menyadari tak ada kesempatan kedua, jadi diputuskan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk berkarya. Fokus itu diganjar review positif dan majalah Gunzo meminta untuk menulis lebih mainstream. Nah kebiasan berlari mulai setelah buku ketiga terbit. Untuk mengimbangi berlama duduk ia memutuskan mulai olahraga.
Hal yang paling membahagiakannya sebagai penulis adalah ia bisa tidur cepat dan bisa bangun pagi. Tidur saat hari manjadi gelap dan bangun saat matahari akan terbit. Tidur sebelum jam 10:00 dan bangun jam 05:00. Benar-benar Pola hidup sehat. Dia juga meluangakn tidur siang selama 30 menit yang menyehatkan.
Kutipan bagus perubahan pola ini ada di halaman 55: Kamu bisa hidup dengan menjadi seorang novelis, bekerja di rumah, menetapkan jam kerja sendiri sehingga kamu tak perlu pergi-pulang naik kereta yang penuh sesak atau duduk pada suatu rapat yang membosankan. Bukankah kamu menyadari betapa beruntungnya dirimu? Dibanding semua itu berlari selama satu jam di area perumahan bukanlah apa-apa.
Tidak ada satupun dalam kenyataan yang seindah ilusi yang dibayangkan orang yang hampir kehilangan kesadaran. Tak peduli sebanyak apapun pengalaman yang kumiliki, tak peduli menjadi setua apa diriku, semua yang terjadi dalam hidup ini hanyalah pengulangan yang sudah-sudah. – halaman 77-78
Otot manusia seperti binatang pekerja yang cepat belajar. Jika kamu meningkatkan jumlah lari selangkah demi selangkah, otot-otot itu akan belajar menerimanya. – 81
Jika aku terbiasa menggunakan sibuk sebagai alasan untuk tidak berlari, aku tidak akan pernah berlari lagi. Aku hanya punya sedikit alasan untuk berlari, tetapi punya segudang alasan untuk berhenti. Semua yang perlu kulakukan adalah hanyalah memoles yang sedikit itu dengan baik. – 83
Mereka selalu menjalani latihan berat seperti itu, dan kini kemana perginya pikiran, harapan, dan mimpi-mimpi mereka? Setelah meninggal dunia, apakah pikiran-pikiran manusia juga menghilang bersama mereka? – 86
Dan masih banyak lagi kutipan bagus dari buku ini yang rasanya kalau ditulis akan memenuhi beranda blog. Salah satunya tips menulis dari beliau yang nantinya akan saya buat ditulisan terpisah. Bagian penutup buku ini juga sangat hebat, dimana dia berwasiat: suatu hari nanti, jika aku punya batu nisan dan bisa memilih kata-kata untuk diukir di atasnya, aku ingin tertulis:
Haruki Murakami (1949 – 20…) – Penulis dan Pelari, Setidaknya Tidak Pernah Berjalan Kaki Hingga Akhir.
Salut juga sama kualitas terjemahannya yang bagus. Nah Bentang, terima kasih kalian melakukan hal yang luar biasa. Jelas buku ini diterjemahkan dengan hati, tak asal translate. Enak sekali dibacanya, lembut dan membuat terhanyut pilihan katanya. Saya tak menemukan satu-pun typo. Saya tak terusik dengan catatan kaki yang kurasa sudah pas. Saya benar-benar menikmati buku ini. Cover-nya juga bagus, sedap dipandang dan cocok dipajang di rak. Tak heran disampulnya dinulik dari The New York Time, “Buku ini akan membuat fan Murakami tergila-gila, bahkan sebelum ke kasir.” Sebagai catatan, jarang-jarang lho saya memuji kualitas terjemahan.
Terakhir, saya ingin mengikuti jejak Haruki Murakami. Lari sebagai teman hidup. Mungkin tak dalam waktu dekat, karena minggu depan sudah memasuki bulan puasa. Saya ingin berlari, suatu saat saya ingin mengikuti lomba lari marathon. Tahun 1982 ia mulai berlari. Bagaimanapun, begitulah awalnya aku mulai berlari. Saat itu umurku 33 tahun. Masih cukup muda meskipun tak bisa lagi disebut anak muda. Usia ketika Jesus Kristus meninggal dunia. Usia ketika Penulis Amerika Serikat Scott Fitzgerald mulai redup. Usia yang mungkin menjadi persimpangan jalan dalam hidup seseorang. Pada saat itulah aku memulai berlari, dan meskipun terlambat, saat itulah titik awal diriku bersungguh-sungguh menjadi novelis. – halaman 56. Well, saya 33 tahun dan saya siap menulis dan berlari! Terima kasih Haruki Murakami, anda luar biasa. Sangat inspiratif! 15, 20, 30 tahun lagi saya ingin bilang betapa buku ini sangat mempengaruhi saya, kuharap!
Setelah gagal di tahun 2015, Nobel Sastra untuk Haruki Murakami, please….!
What I Talk About When I Talk About Running |by Haruki Murakami | diterjemahkan dari Hashiru Koto Ni Tsuite Kataru Toki Ni Boku No Kataru Koto | terbitan Bungeishunju Ltd., Japan, 2007 | Penerjemah Ellnovianty Nine Sjarif & A. Fitriyanti | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Penerbit Bentang Pustaka | Cetakan pertama, April 2016 | vi + 198 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-086-2 | Skor: 5/5
Karawang, 280516 – Utada Hikaru – Automatic

Iklan

One thought on “What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s