The Happy Prince – Oscar Wilde

image

Buku pertama yang kubaca dari Penulis legendaris Irlandia, Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde. Lahir 16 Oktober 1954 di Dublin dan meninggal di Paris 30 November 1900. Terlahir dari pasangan ayah dokter ahli bedah dan ibu seorang Penulis Jane Francesca Agnes atau yang lebih dikenal dengan nama pena Elgee (1921-1989). The Happy Prince adalah kumpulan cerpen yang terbit tahun 1888 dan sangat berpengaruh dalam dunia literatur. Buku yang berisi 5 cerita ini saya baca cepat tak kurang dari sejam. Bahasanya yang sederhana, analogi yang bagus tentang benda mati yang bisa berfikir benar-benar membuat kita terhanyut dalam imaji yang tak terbatas. Seperti dongeng tidur yang kita bacakan untuk anak, penuh pesan moral.
Pangeran Nan Bahagia
Sebuah patung berdiri megah di sebuah bukit di atas kota. Patung pangeran nan bahagia itu seperti malaikat yang mengawasi kota. Dilapisi emas, dengan mata sepasang batu nilam dan sebutir batu delima di ujung gagang pedangnya. “Aku senang ada seseorang di dunia ini yang benar-benar berbahagia.”
Suatu hari datanglah burung layang-layang. Burung yang unik ini jatuh hati dengan burung alang-alang, sudah ditinggalkan teman-temannya ke Mesir. Nah, ketika pasangannya pergi diapun bersiap menyusul. Karena malam menjelang ia pun berteduh di patung sang Pangeran. Saat berteduh itulah ia merasa ada tetesan air, padahal cuaca sedang tidak hujan. Tetesan air yang datang dari mata patung yang ternyata sedih menyaksikan penduduk kota.
Lalu sang Pengeran meminta tolong kepada burung layang-layang untuk membantu penduduk yang kurang beruntung itu. Dimintanya burung itu mengambil emas, batu delima dan batu nilam untuk diberikan kepada yang fakir. Tanpa itu, patung itu kini tampak bobrok dan menyedihkan. Apakah tanpa perhiasan, sang Pangeran tetap bahagia? Di mata Tuhan? Bagaimana nasib rencana sang burung ke Mesir?
Burung Bulbul Dan Bunga Mawar
“Dia bilang mau berdansa denganku kalau aku membawanya setangkai mawar merah. Tapi di seluruh tamanku tak ada mawar merah.” Seorang pelajar muda sedang galau ketika Pangeran akan mengadakan pesta dansa, kekasihnya mau dengannya kalau diberi setangkai mawar merah. Sementara burung bulbul yang senang menyenandungkan lagu cinta berupaya membantu. “Ini dia seorang pecinta sejati. Malam demi malam telah kukidungkan lagu tentang pecinta sejati. Walau aku tak mengenalnya, malam demi malam telah kuceritakan kisahnya pada bintang-bintang dan kini aku bertemu denganya. Rambutnya sehitam malam, dan bibirnya semerah mawar hatinya, tapi hasratnya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesedihan mengerutkan keningnya.”
Lalu burung bulbul pun berupaya membantu mencarikan bunga mawar merah. Dia terbang ke taman satu ke taman yang lain, menanyakan kepada binatang dan pohon-pohon. “Kalau kau ingin mawar merah. Kau harus membuatnya dari musik yang diciptakan bulan purnama, dan mewarnainya dengan darah jantungmu sendiri. Kau harus bernyayi untukku dengan dadamu menancap pada duri. Sepanjang malam kau harus bernyayi untukku, dan duri itu akan menembus jantungmu dan darah kehidupanmu akan mengalir ke dalam urat-urat nadiku dan menjadi milikku.”
Berhasilkah burung bulbul membatu sang pemuda? Sanggupkah dia berdansa dengan kekasih pujaan hati?
Raksasa Yang Suka Mementingkan Diri Sendiri
“Kebunku ya kebunku,” kata si raksasa, “semua orang tahu itu dan aku tak akan mengizinkan siapapun bermain di sana kecuali diriku sendiri.” Ini adalah kutipan cerita yang menghantuiku selama 7 tahun terakhir. Pertama membacanya di buku Inkheart yang mengutip quote beberapa buku lainnya, salah satunya ya dari The Selfish Gaint. Nah, syukurlah saya akhirnya bisa tahu arti secara menyeluruh kutipan itu setelah membacanya.
Bahwa raksasa yang kikir ini tak mau kebunnya untuk bermain anak-anak, sehingga dibuatnya pagar tinggi mengelilinginya. Kebun indah penuh bunga dan burung-burung itu suatu masa paceklik musim semi sehingga bunga-bunga menghilang. Nah sang raksasa yang bersedih suatu kali melihat anak kecil lalu dia berubah pikiran dengan mengizinkannya bermain di kebun. Kehidupan di sanapun kembali normal, sayangnya itu tak lama. Kenapa?
Teman Yang Setia
Ini kisah yang absurb. Sungguh aneh sekali. Suatu hari ada seekor tikus air tua bertemu dengan itik, dan burung kecil. Mereka bertukar cerita. Burung nuri pun akhirnya berkisah tentang suatu masa seorang manusia yang jujur bernama Hans, memiliki kebun bunga yang sangat elok. Hans punya banyak teman, namun taman yang paling setia adalah Hugh si juragan penggilingan gandum. “Teman sejati seharusnya sama-sama saling memiliki segala hal yang dimiliki teman yang lainnya.”
Demikianlah Hans bekerja di musim semi, gugur dan panas. Namun ketika musim dingin tiba, dirinya tak bisa bercocok tanam sehingga kekurangan bunga dan buah untuk makan. Ia sangat kedinginan dan lapar. Saat seperti inilah Hugh ga datang ke kebun Hans karena tidak bisa diminta apa-apa. Begitu juga dia tak berniat mengundangnya ke rumah nyamannya. “Kalau si Hans kecil datang kemari dan melihat pendiangan kita yang hangat, dan makan malam kita enak dan berkerat-kerat anggur merah, ia akan iri. Dan iri adalah hal yang paling buruk karena bisa merusak perilaku manusia. Ayah tak akan membuat perilaku Hans rusak. Ayah adalah sahabatnya, dan ayah akan selalu mengawasinya. Dan melihat supaya ia tak terjerumus pada godaan apapun. Lagipula kalau Hans datang kemari, mungkin ia akan berhutang tepung, dan itu tidak boleh terjadi. Tepung adalah satu hal, dan persahabatan adalah hal lain, dan keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Lihatlah ejaannya saja sudah berbeda, semua orang juga tahu itu.”
Begitulah prinsip Hugh. Ketika musim dingin berakhir, ia pun kembali berkunjung ke rumah Hans untuk meminta tolong. Hans yang polos menyambutnya dengan tangan terbuka. Sesuatu yang tak adil memang, bagaimana akhir dari kisah yang diceritakan burung nuri ini?
Roket Yang Hebat
Cerpen ini tak kalah absurb-nya. Bagaimana bisa roket kembang api bisa berdiskusi dan saling klaim yang terhebat? Suatu ketika putra sang raja akan menikah dengan putri dari Rusia yang menempuh perjalanan via Finlandia. Perayaan pernikahan yang megah segera digelar, tiga hari tiga malam. Akhir pesta itu akan ditutup dengan kembang api. Nah kisah ini bukan tentang para bangsawan tadi, namun tentang kembang api yang sudah dipersiapkan raja untuk diluncurkan.
Percakapan terjadi di antara mereka. Petasan kecil berujar, “dunia memang indah” setelah melihat tulip-tulip kuning. Lalu ditimpali kembang api lilin-romawi yang besar, “dunia adalah tempat yang sangat luas dan perlu waktu tiga hari supaya kau bisa melihat keseluruhannya.”
Kembang api kincir catherine berujar, “tempat manapun yang kau suka adalah dunia bagimu. Tapi cinta sudah tak lagi jadi tren, para penyair membunuhnya. Mereka menulis banyak sekali tentang cinta sehingga tak seorang pun percaya padanya. Dan aku tak heran. Cinta sejati menderita dan sunyi. Aku ingat aku pernah , tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Percintaan itu dari masa lalu.”
Perdebatan itu dipotong oleh roket besar yang sombong. Roket besar itu seperti politisi yang congak dan jumawa bahwa dia akan diluncurkan di saat yang tepat di pernikahan sang putra raja. Banyak bicara dan berandai membuatnya lupa diri. Di hari H sesuatu yang buruk menimpa. Bagaimana akhir kisah para kembang api ini?
Well, buku tipis yang sangat berkesan. Memanusiakan binatang dan benda mati di abad 18 adalah sebuah pencapaian luar biasa. Salut ide-idenya yang original dan nyeleneh.
The Happy Prince dan Kisah-Kisah Lainnya | by Oscar Wilde | copyright 1888 | judul asli The Happy Prince and Others Stories | Penerjemah Ratna Setyaningsih | Design sampul Andy FN & Meta | ISBN 978-602-95977-5-2 | Cetakan I, Agustus 2010 | Penerbit Portico Publising | skor: 4/5
Karawang, 290516 – NSYNC – Tearin’ Up My Heart

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s