The Sands Of Time – Sidney Sheldon #6

image

Sejauh ini sudah dua belas buku yang saya baca dari Sidney, sepuluh diantaranya beruntun dan ini yang paling lemah. Dari segi cover sudah tak meyakinkan. Seorang lelaki memegang senjata dengan wajah kusam, di belakangnya close up wajah wanita yang sepertinya menatap hampa. Dan di halaman pertama kita disuguhkan tentang latar empat biarawati yang tiba-tiba dilempar ke dunia luar. Megan, Lucia, Graciela dan Teresa. Dengan setting negara Spanyol dengan segala pemberontakannya, inilah kisah panjang sebuah gerakan pemberontakan dan perebutan kekuasaan.
Kehidupan orang-orang besar, semuanya mengingatkan kita bahwa kita bisa membuat kehidupan kita gilang-gemilang. Dan sewaktu pergi, kita meninggalkan jejak langkah di butir-butir waktu – Henry Wadsworth Longfellow, sebuah Mazmur kehidupan
“Yang mati tidak perlu bangkit. Mereka menjadi sebagian dari bumi kini dan bumi tak pernah dapat ditaklukan karena bumi adalah abadi. Dia akan mengungguli segala bentuk tirani. Mereka yang telah masuk ke bumi dengan terhormat, dan tak seorang pun masuk ke bumi secara lebih terhormat daripada mereka yang mati di Spanyol, telah memasuki kehiduapn kekal” – Ernest Hemingway
Sedari awal kita sudah diberitahu bahwa ini adalah karya rekaan, namun… lalu Sidney memaparkan fakta di Spanyol yang bergolak. Tentang perang saudara antara Republiken dan pemberontakan Nasionalis. Perang saudara tahun 1936-1939. Pembunuhan politik, pembakaran Gereja, gerakan Basque yang menuntut otonom sampai sejarah panjang gerakan terorisme. Ya ini karya rekaan yang dibalut fakta, seperti biasa dibuat dramatis.
Cerita dibuka dengan sangat indah. Tentang rekayasa pelarian tahanan, seperti serial Prison Break yang mendebarkan. Tak ada yang namanya kebetulan. Jamie Miro adalah sebuah legenda. Seorang pahlawan Basque dan musuh terkutuk bagi pemerintah Spanyol. Sebuah kota Pamplona tahun 1976, adu banteng tak terkendali sampai ke penjara gedung Carcel, sebuah bangunan tingkat dua yang menyeramkan. Tahanan politik Felix Carpio dan Ricardo Mellado akan dihukum mati, satu orang sudah tewas karena dihajar sampai babak belur Zamora. Seorang pastor memberkati mereka sebelum eksekusi. Namun dalam injil yang dikalungkan itu sang pastor menyembunyikan belati yang digunakan untuk merobohkan para pengawal, tudung dibuka dan ternyata adalah Jamie. Mereka meloloskan diri tepat ketika kerumunan banteng menyerbu penjara. Kocar-kacir, hingar bingar, tahanan politik itu melarikan diri. “terbanglah, pajarito, semua makhluk hidup harus bebas.”
Kabar itu sampai di Madrid, sang perdana menteri Leopoldo Martinez berang. Teroris Jamie dan anteknya harus dihentikan. Mereka harus ditangkap. Pasukan dibentuk, GEO – Grupo de Operaciones Especiales yang dipimpin oleh Ramon Acoca dikerahkan. Dia adalah pimpinan yang tegas nan kejam, seorang fanatik jenderal Franco. Berusia enam puluhan yang berarti sudah melewati banyak perang saudara, persekutuan kelompok nasionalis yang terdiri atas kaum bangsawan, jenderal pemberontakan, tuan-tuan tanah, hirarki Gereja, seta golongan fasis Falangis di pihak lain. Dan kelompok pemerintah Republiken, termasuk golongan sosialis, komunis, liberal, serta separatis Basque dan Catalania. “Kita hanya bertanggung jawab terhadap Tuhan dan sejarah.”
Kalau kelompok Gereja menolong para pemberontak, maka mereka adalah musuh pemerintah. “Tak seorang pun di Spanyol peduli akan kepentingan umum. Setiap kelompok hanya mementingkan masalah masing-masing. Gereja, kelompok Basque, rakyat Catalania. Masing-masing tidak mementingkan kelompok lain. Gereja merupakan salah satu ironi terbesar dalam sejarah kita. Kisah ini adalah tentang pengejaran Jamie Miro dan kelompoknya yang melarikan diri ke dalam Gereja, sehingga banyak tempat ibadah digeledah dan dibakar. Sampailah di sebuah kota Avila, tempat empat biarawati yang disebutkan di awal tadi. Sang perdana menteri memberi perintah, “Lakukan penggeledahan!”
Tak perlu saya jelaskan kekejaman dalam misi itu. Para biarawari berasal dari berbagai latar kelakang keluarga dan bangsa. Ada yang dari kalangan bangsawan, petani, tentara… mereka datang ke biara sebagai orang miskin, atau kaya terpelajar, kesal maupun penuh harapan namun dalam satu tujuan dan harapan untuk menjadi mempelai Jesus yang abadi. Kehidupan di biara sangat keras. Lalu sampailah kita pada pengenalan empat karakter biarawati.
Pertama Suster Lucia adalah yang paling aneh. Muda, berpikiran kotor. Ternyata dia adalah anak mafia yang kini jadi buronan melarikan diri bersembunyi di biara sampai pemburuan mereda rencana dia akan ke Swiss mencairkan uangnya.
Kedua Suster Teresa adalah yang (kelihatannya) paling bijak. Berusia enam puluhan dan berpikiran kolot. Ternyata dibalik semua itu kita tahu, dia-pun ke sana karena melarikan diri dari kehidupan yang kejam. Dihianati pria yang akan menikahinya. Pernah ke Eze, Perancis dan nyaris mempunyai masa depan cerah.
Ketiga suster Megan, seorang anak yatim-piatu. Dididik mandiri sedari kecil. Pikirannya encer dan sangat cerdas. Sangat lain dari pada anak lainnya di panti asuhan. Tak tahu siapa orang tuanya jadi ketika ditanya, jawabnya selalu berbeda. Ayahkau seorang pencuri permata yang lihai. Ayahku adalah tentara dalam perang saudara. Ayahku seorang pemain banteng yang ulung. Khayalan itu tidak ada habisnya. Nantinya di eksekusi ending, suster Megan punya peranan yang sangat penting karena identitas orang tuanya sungguh diluardugaan. Dia jatuh hati dengan Jamie Miro
Keempat suster Graciela, masa lalu yang buruk. Ibunya adalah pelacur yang suatu hari datanglah lelaki Mor. Merusak segalanya membuat ibunya naik pitam. Dirinya tak sadarkan diri dan tahu-tahu di rumah sakit, setelah sembuh dia tak tahu harus ke mana namun akhirnya memutuskan masuk biara.
Kenapa mereka datang ke biara? Mereka datang dengan berbagai alasan. Sebagain terbesar datang untuk membaktikan diri kepada Tuhan. Tetapi sebagian lagi datang karena merasa putus harapan. Biara memberi mereka harapan. Ada yang datang karena merasa tiada ada alasan untuk hidup. Kami menunjukkan kepada mereka bahwa Tuhan adalah alasan buat mereka hidup. Ada juga yang datang karena melarikan diri. Yang lain datang ke sini karena merasa terbuang dan ingin menemukan lingkungan yang mau menerima mereka.
Bersama Miro dan kawan-kawan. Bersama para suster dengan salib emas yang akan diselamatkan. Berhasilkah mereka kabur dari kejaran sang jenderal? Apa yang terjadi saat suster yang sepanjang hidupnya dikurung ketatnya aturan biara akhirnya harus menghadapi kejamnya dunia luar?
“Itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Perbedaan antara seorang patriot dan pemberontak tergantung pada siapa yang berkuasa saat itu. Pemerintah menganggap kami teroris. Kami menyebut diri kami pejuang kemerdekaan. Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa kemerdekaan adalah kekuasaan untuk memilih ikatan kita sendiri.”
Tentu, keluarga adalah cinta kita pertama kta bukan?
Butir-butir Waktu| diterjemahkan dari The Sands Of Time | copyright 1985 by Sidney Sheldon | alih bahasa Threes Susilastuti | GM 402 90.779 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan I, Januari 1990 | 576 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-776-6 | Kepada Frances Gordon, dengan cinta | Skor: 3/5
#6/14 #SidneySheldon Next review: Konspirasi Hari Kiamat
Karawang, 230516 #Seether – Careless Whisper

Iklan

2 thoughts on “The Sands Of Time – Sidney Sheldon #6

  1. karya Sidney Sheldon yg pertama kubaca waktu masih sekolah sembunyi2…..wkwkwk….tapi ini favoriteku dari semua buku Sidney Sheldon tokoh yg suka malah Lucia dan si petani jelek itu….thats true love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s