Relentless – Dean Koontz

image

Buku kedua Dean Ray Koontz yang saya baca setelah Intensity yang memukau itu. Sah, saya masukkan beliau sebagai salah satu Penulis favorit yang buku-bukunya akan saya buru dan santap saat ada kesempatan. Sebenarnya aneh juga sih, karena saya lebih suka genre fantasi-imajinasi, novel Dean lebih ke thriller dengan penjelasan pembantaian secara gamblang. Dari sekedar iseng mencari bacaan diluar batas, akhirnya saya menemukan seorang pencerita ulung. Dari dua buku yang sudah kulahap saya bisa tarik ciri utama Dean adalah di detail karakter, tempat dan humor sadis. Keberanian bertutur kekejaman manusia yang hebatnya sangat indah disampaikan. Seorang Penulis yang tak kenal ampun membantai tokohnya.
Di Relentless, penyampainnya lebih sabar. Tidak seperti Intensity yang langsung ke puncak pembunuhan, di sini dia memakai pola standar di mana kejutan di simpan di akhir. Tak heran detail panjang itu membutuhkan lebih dari 500 halaman, tepatnya 548. Panjang sekali bukan. Di pecah dalam tiga bagian dalam 62 bab yang melelahkan. Butuh waktu seminggu untuk menuntaskannya. Kesabaran yang tak sia-sia karena memang ini buku yang sangat bagus. Tanpa daftar isi kita diajak membuka cerita dengan tiga kutipan Penulis legendaris Charles Dickens yang saling silang dengan GK Chesterton. Sebuah saling silang yang pas dengan isi cerita itu berbunyi: “Hal-hal kecillah yang menyusun jumlah kehidupan” dari buku David Copperfield lalu: “Masalahnya jelas. Ini antara cahaya dan kegelapan, dan setiap orang harus memilih pihaknya” dari GK Chesterton yang dilanjut, “Semua manusia itu tragis.. semua manusia itu lucu… setiap leki-laki itu penting jika dia kehilangan kehidupannya. Dan setiap laki-laki lucu jika dia kehilangan topinya.” Terdengar biasa? Silakan dibaca sampai tuntas buku ini biar tahu rasa.
Dibuka dengan perkenalan lembut nan aneh tentang keluarga Cullen Greenwich (dilafalkan dengan Grenitch). Beristri Penny Boom yang cerdas. Punya anak berusia 6 tahun yang jenius, Milo. Punya mertua yang tak kalah nyentrik, Clotilda dan Grimbald. Memiliki anjing gembala Australia yang memiliki warna mata berbeda, satu biru satunya abu-abu bernama Lassie. Cara penuturannya mungkin terbaca tak seru karena dijabarkan dengan satu pihak seakan tak ada jeda untuk menyela. Namun ternyata ketika selesai baca, detail itu masih sangat bagus dibaca ulang dan ulang. Cullen – dengan nama panggilan Cubby adalah Penulis buku best seller. Penny juga Penulis sekaligus ilustrator, namun lebih ke buku anak-anak. Tinggal di rumah indah di Kalifornia Selatan. Keluarga ini seakan dinaungi suka cita sepanjang waktu, sampai akhirnya Cullen merilis buku keenamnya, One O’Clock Jump. Malapetaka yang tak disangka-sangka.
Review dari USA Today dan Washington Post positif, review yang ketiga mengerikan. Review dari seorang kritikus ini ternyata berdampak panjang. Kritikus bernama Shearman Waxx yang memaksa keluarga ini berjibaku bertahan hidup. Sesuai judul bagian pertama, Penny Boom Bilang Lupakan Saja, review buruk akan membuatnya marah. Namun hasilnya bukan sekedar marah, lebih ke kengerian. Pasalnya suatu hari Cubby berkesempatan bertemu Waxx di restoran langganan. Lelaki berdasi kupu-kupu berwarna merah. Kesempatan untuk melihat sang kritikus langsung itu berakhir buruk, “Doom – malapetaka.”
Suatu sore saat Cubby membaca cerita favoritnya, A Good Man Is Hard To Find karya Frannery O’Connor sesuatu yang menakutkan membayanginya. Waxx muncul di rumahnya, hunian yang dipenuhi pengaman itu bisa diterobos tanpa ketahuan. Seperti bayangan, Waxx berjalan seakan tak melihat sekeliling, Cubby ragu akankah itu nyata atau imaji-nya. Setelah dikejar dalam ruang-ruang rumah, ia menghilang. Dari sinilah keseruan cerita ini benar-benar dimulai. Waxx ternyata asli, dia adalah pembunuh berdarah dingin. Cubby tahu itu setelah dihubungi sesama Penulis yang pernah di-review buruk olehnya. John Clitherow bercerita keluarganya dibantai Waxx satu per satu, namun polisi gagal melacaknya. Penulis lain  juga mengalami nasib serupa. Tom Landuff lebih tragis lagi setelah diulas dengan kejam Waxx. Yang paling biadap adalah mutilasi Henry Casas. Membiarkannya hidup dalam penderitaan. Mengingat pola itu, Cubby pantas waspada. Nah suatu hari setelah detail-detail mengerikan itu. Dengan penuturan cerita ala film suspence, rumah keluarga ini diledakkan. Untungnya Cubby dan keluarga berhasil kabur tepat waktu. Dengan barang seadanya, mereka berkendara menjauh dari Kalifornia.
Di bagian kedua dengan judul, Aku Adalah Pembantai Saudaraku. Adalah kisah pelarian dari kejaran Waxx, mereka tinggal di rumah tenang tepi pantai. Tak bisa lega lebih lama, rumah itu diberondong peluru. Cubby berhasil kabur lagi. Kini mereka meminta bantuan orang tua Penny. Setiap tempat yang disinggahinya selalu terdeteksi. Padahal kartu kreditnya tak digunakan. Telepon dan kartu sekali pakai, percobaan hindar yang nyatanya kecium terus seakan Waxx adalah bayangan itu sendiri. Segalanya kan memang harus dihentikan. Kisah ini membawa mereka ke Utara, ke sebuah kota Smokeville.
Di bagian ketiga judulnya sangat asing Zazu, Siapa Dia Di sini Anjing, Di Sana Anjing Doom Zoom Doom. Padahal bagian ini menyisakan seperlima namun ternyata muncul karakter baru yang mengejutkan dan fakta kata “doom zoom doom” itu memiliki makna yang konkrit. Akhirnya berhasilkah Cubby Greenwich dan kelurga selamat dari sang kritikus? Ataukah dirinya menjadi Penulis berikutnya yang menjadi daftar panjang korban Waxx?
Selesai baca pagi tadi saat Subuh menjelang. Rencana membuat review kemenangn Lazio 1-3 atas Carpi buyar saking excited-nya ending cerita ini. Speechless. Tak menyangka saja, hal remeh yang digenggam dan dipelajari Milo memiliki peranan penting eksekusi ending. Mengingatkanku pada film Funny Game, sebuah remake dibintangi Naomi Watts. Sekarang mungkin kita menanyakan secara ilmiah penemuan itu, namun saya percaya 100, 200 tahun lagi tak mustahil terwujud. Luar biasa. Shocking!
Banyak kutipan yang perlu saya bagikan. Saking banyaknya takut merusak kenikmatan teman-teman yang akan membacanya, saya nukil sebagian.
“Si gajah kecil, tikus kecil, dan kelinci kecil semuanya memiliki telinga yang benar-benar besar.” – halaman 176
“Hukuman yang paling besar bukanlah kematianmu sendiri, tapi justru rasa kehilangan orang-orang yang kau sayangi.” – 161
Dalam kekacauan ekomoni saat ini, yang disebabkan oleh para politikus yang bersikeras kalau mereka bisa memperbaikinya dengan membuat kami lebih menderita, banyak bisnis kecil yang dihancurkan. – 260
Aku benci jika orang-orang menjadi anomin di internet. – 268
Bagi beberapa orang, berpetualang adalah sebuah hobi, bagi yang lainnya merupakan sebuah filosofi yang bijaksana, bagi para sanak keluargaku, survival adalah sebuah agama. – 294
Pandangan yang Penny lemparkan padaku bukanlah pandangan yang akan kupotret dan kusimpan selamanya di dalam buku tentang memori-memori kasih sayang milik kami. – 343
Pikiran adalah penipu dengan sandiwara yang tak terbatas, dan pikiranku mengubah bau dari tembakan senjata api ini menjadi napas asam milik Tray persis seperti yang ada di malam bulan September di waktu dulu itu. – 386
Kalau laki-laki itu ingin tahu soal hal aneh, dia seharusnya melihat ke cermin. – 476
Dalam dunia abad dua puluh satu yang terbalik ini, para penguasa merupakan para penjahat kejam yang tak punya prinsip. – 494
Kau akan berfikir begitu. Shelley, Marx, Freud, Nietzche, Tolstoy, Bertrand Russel, Sartre – mereka semua adalah monster bagi orang-orang dalam kehidupan pribadi mereka. Tapi itu tidak penting saat kau mengingat kontribusi-kontribusi mereka pada dunia. – 535
Sebelum saya tutup, saya ingin bilang: bab 44 adalah sebuah masterpiece sebuah cerita. Sangat amat mengagumkan, kisah bisa begitu menyentuh dan sadisnya. Dituturkan satu bab panjang tanpa putus, membuat sesak nafas. Bagian terbaik buku ini. Bagian terbaik sebuah cerita pembunuhan yang ditulis dengan sangat memikat. Bagi penyuka suspence, wajib baca. Karena waktu adalah monyet!
Tak Kenal Ampun | Diterjemahkan dari Relentless | by Dean Koontz | copyright 2009 | Pewarna sampul vbi_djenggoten | Pewajah isi EMW-Ufukreatif Design | Penerjemah Nina Setyowati | Penyunting Premi Wahyu | Pemeriksa Aksara Olga Dories | Penerbit Ufuk Press | Cetakan I, November 2010 | ISBN 978-602-8801-53-9 | Untuk Gerda, untuk segalanya | Skor: 4,5/5
Karawang, 090516 #Trian – Breakfast in bed

Iklan

One thought on “Relentless – Dean Koontz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s