Captain America: Civil War – Simply Awesome

image

Steve Rogers: I’m sorry Tony. If I see a situation pointed south, I can’t ignore it. Sometimes I wish I could | Tony Stark: Sometimes, I wanna punch you in your perfect teeth
Captain America, Iron Man, Hawkeye, Winter Soldier, Scarlet Witch, Ant-Man, War Machine, Black Widow, Vision, Black Panther, Spider Man. Film dengan pahlawan sebanyak ini bagaimana meramunya? Tenang, hebatnya film ini seru. Hhhmmm…, Hulk dan Thor setelah dinanti dari menit ke menit ternyata tak muncul. Tagline-nya sendiri terbaca unik, semacam peribahasa ‘Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh’
Apa yang bisa lebih diharapkan dari sebuah film yang sempurna? Kepuasan menonton adalah harga yang dituntut ketika kita memutuskan membayar selembar tiket. Captain America: Civil War adalah contoh film yang sukses mempesona penonton. Terpesona dari awal, tengah dan akhir. Sebuah pengakuan sebelum kalian membaca lebih jauh tulisan ini, saya belum sempat menonton Ant-Man dan Winter Soldier jadi ketika penonton tertawa ngakak ketika kemunculan pertama di layar Paul Rudd saya hanya bengong. Lalu identitas apa yang sebenarnya ada pada Bucky, tetaplah saya tahan. Namun apalah itu, tak perlu menjadi pembaca komik untuk paham segalanya. Sebuah film yang bagus tetaplah bagus dan ini semacam puncak dari serangkaian film Marvel yang bertubi rilis beberapa tahun belakangan.
Maaf untuk teman-teman NICI (Rani, Yuli, Ghofur, Sheren, Sekar), saya terlambat datang jam 19:00 sehingga saat masuk studio 4 CGV Blitz Festive Walk – Karawang, film sudah menggelegar dalam pertarungan di Lagos, Nigeria. Dalam ketergesaan mencari tempat duduk, di layar Steve Rogers sang kapten Amerika (Chris Evans) sedang bahu-membahu dengan Sam Wilson sang Falcon (Anthony Mackie) dan Wanda Maximoff si Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) bertarung memperebutkan sesuatu. Crossbones (Frank Grillo) yang mengenakan rombi bom bunuh diri itu akhirnya meledak. Dampak perkelahian ini menewaskan 11 warga sipil. Sementara Tony Stark – sang Iron Man (Robert Downey Jr.) sedang ceramah untuk amal di universitas MIT. Tentang teknologi, tentang dana sukarela Stark Industries untuk kaum muda, berkaryalah! Sayang Pepper Potts tak muncul (apa kabar Gwyneth Paltrow). Lalu kita diajak duduk dalam rapat yang dipimpin General Thaddeus ‘Thunderbolt’ Ross (William Hurt). Ini adalah tampilan pertama jenderal Ross pasca Incridible Hulk (2008) yang mengecewakan itu. Ia memperlihatkan kekacauan film-film Avengers sebelumnya: New York, Sokovia, Lagos, dan lainnya. Gara-gara segala kekacauan itu, muncullah draft Sokovia Accords yang akan dibahas di Wina, tiga hari lagi. 117 negera yang mengusulkan tim Avengers dibawah naungan PBB. Segala misi dan tugas harus dalam pengawasan mereka. Waaa…, Avenger masuk ke ranah politik.
Tony tentu saja setuju, mengingat pasca presentasi di MIT dirinya ‘dicegat’ seorang ibu yang ternyata Menteri Luar Negeri yang sedih putranya tewas di tragedi Sokovia. Rapat ambil suara para jagoan ini tertunda setelah Steve menerima kabar duka dari London. Peggy Carter meninggal dalam damai di usia tua. Peggy adalah kekasihnya puluhan tahun lalu sebelum dibekukan. Anaknya, Sharon Carter (Emily VanCamp) memberi pidato penghormatan terakhir yang menyentuh. Tentang almarhum, tentang S.H.E.I.L.D. Lalu konflik yang sebenarnya dibuka, teror bom di Wina. Natasha Romanoff alias Black Widow (Scarlett Johansson) yang mewakili Avenger dalam pengambilan keputusan menjadi saksi ledakan ketika King T’Chaka (John Kani) berpidato. Ledakan yang menewaskan 9 orang termasuk beliau. Kematian itu membuat putranya T’Challa (Chadwick Boseman) diliputi dendam. Ini adalah debut sang Black Panther live-action.
Sang pelaku yang tertangkap kamera ternyata adalah Bucky Barnes sang winter soldier (Sebastian Stan). Steve yang mendengar itu langsung ke sana untuk menyelamatkan teman kecilnya. Pemburuan Bucky itu ditampilkan dengan sangat keren. Steve mencoba menolongnya dari kepungan polisi dan Black Panther. Kejar-kejaran, lompat dari satu gedung ke yang lain. Terbang, dan melibatkan banyak ledakan. Pas sekali untuk sebuah film musim panas. Sensasi sesak nafas itu diakhiri dengan pengepungan Bucky dan Steve. Mereka berdua lalu digiring ke Berlin untuk diinterogasi. Sementara di tempat lain, Zemo (Daniel Bruhl) yang asing menyusun sebuah rencana jahat.
Sekali lagi Tony membujuk Steve untuk menandatangani Sokovia Accords. Dengan bolpoin era 1940 yang cantik, Steve sempat mengambilnya, sayang penjelasan kanapa Wanda tertahan dengan Vision (Paul Bettany) membuyarkan segalanya. Bucky berhasil kabur setelah dibantu oleh Zemo dengan ‘mantra’. Kejadian di Berlin ini membuat murka jenderal Ross. Tony diberi kesempatan 36 jam untuk kembali menangkap Steve dkk. Satu setengah hari yang didapat dari tawar-menawar lucu itu tak mungkin disia-siakannya. Direkrutnya sang bintang sesungguhnya film ini: Manusia laba-laba.
Kemunculan pertama Parker (Tom Holland – pemeran Spidey termuda sejauh ini, baru 19 tahun bro) di layar disambut tepuk tangan dan gumaman antusias penonton. Parker muda yang masih kere, eh emang selalu kere sih,  menenteng keybord komputer bekas mungut dari tempat sampah. Masuk rumah disambut oleh Tony yang sedang ngobrol dengan aunt May (Marisa Tomei). Wow, kejutan! Bibi May tercantik yang pernah diadaptasi ke layar lebar. Yaiyalah, selama ini kita disuguhi bibi yang tak muda. Kali ini saya tentu saja bisa bilang: I love you May! Dalam tampilan Parker muda, seorang siwa SMU masih 15 tahun, sehingga Tom Holland sangat pas. Masih ingat bulan Juni 2015 Tom meng-upload tangan dengan tanda laba-laba hitam sebagai konfirmasi ia sebagai Spidey. Banyak yang meragukan, banyak yang kesal estafet hebat Tobey dan Andrew terancam hancur. Dan ternyata Tom mementahkan segalanya. Sejak kemunculan Spiderman sampai akhirnya nanti dia dirumahkan lagi adalah suguhan film penuh kelas, penuh humor dan sangat amat memukau. Bagian terbaik film ini jelas tarung di parkiran pesawat.
Sebelum ke bagian heboh itu, kita diperlihatkan Wanda dan Clint Barton sang Hawkeye (Jeremy Renner) yang sudah bergabung bersama sang manusia semut (Paul Rudd). Face to face yang ada di trailer dan poster itu dibingkai. Steve cs ingin ke Siberia untuk mencegah kekacauan yang akan ditimbulkan Zemo, sementara Tony cs meminta sang kapten menyerah daripada kekacauan terjadi. Dan tentu saja penonton ingin melihat pertarungan dahsyat. Dan ta-daaaa terkabul teman-teman!
Adegan demi adegan yang terjadi di bandara Leipzig itu adalah salah satu frame film terbaik yang pernah saya tonton. Sesak, lucu, cerewet, hantam sana-sini, serang-tangkis, unjuk keunggulan tiap super-hero, main jaring, panah-sana-sini, seru seru saru! Kenikmatan cinema tiada dua. Pertarunagn gradiator yang katanya best ever itu bahkan terlihat hanya seperti adu jangkrik. Jauh, sangat jauh. Pokoknya harus nonton di bioskop dah tarung hero ini. Siapa yang menang? Siapa yang kalah? Siapa yang terluka? Siapa yang lolos? Siapa yang bertahan? Siapa yang kalian jagokan!? Saya jamin, hasilnya memuaskan semua pihak. Lalu kalau pahlawan-pahlawan kita pada berantem sendiri gitu, bagaimana dengan sang antagonis yang sedang gerilya di Siberia? Wahai kawan-kawan pecinta lazionebudy.wordpress.com Saksikanlah film Captain America: Civil War di bioskop, Sekarang!!!
Ketika nama-nama pemeran akhirnya muncul satu-satu saya tak beranjak, dan memang ada adegan setelah judul utama muncul. Adegan kelanjutan nasib tangan Bucky dan pilihannya. Lalu penonton pada bubar, menyisakan sekitar 7 orang di bioskop, saya tentu saja salah satunya. Credit title yang panjang itu saya nikmati tiap kata-nya. Saya pantengin siapa saja stunt man-nya, daftar lagu yang mengisis soundtrack, daftar panjang orang-orang yang berjasa membawa film ini. Sayang sekali tak kutemukan aktor Indonesia Ray Sahetapy, yang kena pangkas. Mungkin akan muncul di edisi director’s cut. Sampai akhirnya yang ditunggu muncul. Scene after credit itu memperlihatkan super-hero yang paling mencuri perhatian. Dan serangkaian film indah ini ditutup dengan tulisan ‘Spider-man will be return’, lampu pun menyala. Ketika seluruh penonton sudah benar-benar keluar, petugas membersihkan bungkus pop-corn dan minuman bekas, saya masih terpaku. Takjub. Seakan tanda spidey di langit-langit itu mempererat pantat saya. Membuat petugas bioskop menatapku sinis.
Kalau kalian pernah nonton konser musik bagus dan kelar lagu penutup, lalu penonton berteriak, “lagi…, lagi…, lagi…” Semacam begitulah yang saya alami. Tak banyak film yang kutonton di bioskop benar-benar membuat view-gasme. Prince Caspian, The Dark Knight, Harry-Potter 7: Part 2, dan jelas Civil War kini masuk ke jajaran elit itu.
Oh iya, saking semangatnya saya menulis, saya hampir melupakan Stan Lee. Tentu saja beliau hadir cameo seperti biasa. Kehadirannya mencairkan ketegangan sepanjang film.
Keistimewaan Civil War ada tiga: Pertama ekspektasi full-pack action itu terwujud. Pernahkah kalian membayangkan manusia menarik helicopter yang mau terbang dan menahannya untuk tetap di landasan? Berlari-lari saling kejar di antara kendaraan dengan kecepatan tinggi? Raksasa semacam Ultraman dibelit jaring? Membanting mobil layaknya melempar mainan? Well, semua ditampilkan dengan sangat megah. Tarung menakjubkan di Jerman bukan akhir, karena akan ada duel yang lebih emosional antara Tony, Steve dan Bucky. The final act is built around personal act between Tony and Steve. Yang kusaksikan sebagian kecil di trailer (Iron Man dihantam kepalanya, tertunduk balas meninju Steve, Bucky ikut serta tinju) itu muncul dengan wow. “I could do this all day.” Pertarungan yang sarat emosi, alasan yang lebih realistis ketimbang duel martabak. Ooppss! Kedua: Seluruh cast tampil dengan saaaangat pas. Banyaknya hero tak membuat film kehilangan kendali. Tony yang cengengesan itu bisa berubah jadi begitu menyeramkan penuh amarah. Steve yang bijak pun ternyata tak bijak-bijak amat, setelah kejutan besar terungkap dan Tony membaca surat itu kita yang respect ke sang kapten jadi kesal. Keharmonisan Tony-Steve mungkin adalah chemistry terhebat super-hero sepanjang masa. They love each other, and explosive! No one’s right, no one’s wrong. Batman-Robin? No no, kapasitasnya jelas sangat jauh. Scatlett Johansson memang memukau sedari awal. Olsen dengan rok di atas lutut yang terus berayun, tampak anggun. Boseman jelas bisa diandalkan untuk solo-hero-nya. Emily VanCamp, baru dengar ada aktris yang satu ini, tampil cantik dan tentu saja saya tandai untuk film-film berikutnya. Bruhl memang pas bertampang jahat. Oh si bibi May yang hot harus disebut dong. Serta jangan lupakan Martin Freeman yang tampil sebagai Everett K. Ross, walau tampil sepintas tapi itu adalah trivia penting untuk film Dr. Stange yang rencana rilis 2018. Keistimewaan ketiga: Spider-man. Thanks Sony, Enough Serpent society! Marvel pay the critics. Checkmate haters and sorry, it’s just not your year.
Captain America: Civil War | Year 2016 | Directed by Anthony Russon, Joe Russo | Screenplay Christopher Markus | Cast Tom Holland, Chris Evans, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Sebastian Stan, Anthony Mackies, Don Cheadle, Jeremy Renner, Chadwick Boseman, Paul Bettany, Elizabeth Olsen, Paul Rudd, Emily VanCamp, Daniel Bruhl, Frank Grillo, William Hurt, Martin Freeman, Marisa Tomei, Ray Sahetapy (uncredited) | Skor: 5/5
Karawang, 290416 – #Sherina Munaf – Bukan Cinta Segitiga

Iklan

6 thoughts on “Captain America: Civil War – Simply Awesome

  1. Ping balik: CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR (2016) – THE DAILY CINEPHILE

  2. Ping balik: Best Film 2016 | Lazione Budy

  3. yg saya suka dr film ini adalah..
    saya lupa dg judul filmnya, karena trdapat banyak superhero di dalamnya..
    sehingga di ending saya baru ingat kembali dg judul filmnya, wkwk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s