Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela (Tetsuko Kuroyanagi)

image

Amazing. Speechless-lah kelar membacanya. Kisah yang sangat menginspirasi. Kisah masa kecil yang dituturkan dengan jujur dan mengesankan. Sangat special. Buku wajib bagi pengajar atau orang tua dalam mendidik anak. Saya sudah tahu lama buku ini, namun baru diberi kesempatan menikmatinya akhir pekan ini berkat Miss Devi, guru English Training Center (ETC) yang berkenan meminjamkannya. Buku ini hanya sehari saya baca saking memikatnya. Tiap lembarnya memberi tanya apa yang akan terjadi berikutnya, petualangan apa yang akan dilakukan gadis kecil Totto chan? Buku dibuat sederhana, karena setiap bab hanya berisi 1-5 halaman. Tanpa perlu diminta berfikir keras karena tiap ganti bab kisahnya sudah berbeda. Sekarang saya paham, inspirasi asal buku Saga No Gabai Bachan yang saya baca beberapa hari yang lalu.
Dengan cerdas kisah dibuka dengan latar alasan kenapa Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah, memulainya dengan setting sebuah stasiun kereta api Jiyugaoka. “Bolehkah aku menyimpannya?” Totto-Chan anak SD kelas satu itu meminta karcis kereta untuk disimpan kepada sang penjaga. “Kalau aku sudah besar aku ingin jadi penjual karcis kereta!”
Saat itu ia baru saja pindah sekolah. Totto-Chan adalah gadis yang periang, selalu ingin tahu, ceriwis sekali, untuk anak seusia itu sungguh istimewa. Saya membacanya dengan gemas, kesemsem. Pengen cubit pipinya. Dengan diantar mama, Totto-Chan menghadap sang kepala sekolah, Sosaku Kobayashi. Pria berambut tipis, beberapa giginya sudah tanggal, wajahnya terlihat segar. Meski perawakannya tidak terlalu tinggi, bahu dan lengannya tampak tegap. Dari pembuka dedikasi buku ini, kita tahu bahwa selain tentang sang tokoh utama, kepada kepada sekolah Tomoe Gakuen inilah kisah ini berpusat.
Dengan setting pra-perang dunia II, sekolah Tomoe Gakuen tampak revolusioner. Lain dari pada yang lain. Sekolah ini tak ada gerbang, adanya dua pohon yang pengapit pintu masuk. Dipenuhi tanaman rambat. Ruang kelasnya adalah gerbong kereta api yang sudah tak terpakai. Dimodifikasi sedemikian rupa sehingga murid-murid tak merasa bosan. Sistem pengajarannya lebih hebat lagi. Di era 1930an pemikiran untuk tak melulu terpaku pada kurikulum jelas sangat unik. Tempat duduk bebas memilih, siapa datang duluan silakan pilih. Pelajaran bahkan seakan seenaknya sendiri, dimana murid diminta memulai pelajaran dari yang paling disukainya. Jadi pagi para terdidik terasa menyenangkan. Hebat sekali. Nah, buku ini didominasi kisah itu. Tentang Totto-Chan yang takjub metode euritmik. Sang kepala sekolah yang pernah belajar ke Perancis dari seorang komposer besar Dalcroze tentang irama khusus ini. Benar-benar hebat Tomoe ini menerapkan dunia pendidikan yang tak membosankan. Makanya sedari pembuka saya bilang, buku ini rekomendasi untuk para pengajar.
Ayah Totto adalah seorang pemain biola. Setiap hari ia bersekolah dengan naik kereta terusan bersama kalung tiket identitas. Berangkat diantar oleh Rocky, anjing terrier dari Jerman, hewan  kesayangannya. Teman setia.
Nah berikut beberapa bagian layak dikutip:
“… Totto-Chan melepaskan karcis abonemen kereta dari lehernya dan memasangnya ke leher Rocky, Totto-Chan berjongkok dan berujar kepada anjingnya, “Benar, kan? Karcis ini sama sekali tak cocok untukmu.” Tali itu terlalu panjang sehingga dompet karcisnya terseret-seret di tanah. “Kau mengerti? Ini karcisku, bukan karcismu. Kau tak boleh naik kereta api. Tapi akan kutanyakan pada kepala sekolah dan petugas pengumpul karcis di stasiun, apakah mereka mengizinkan kau ikut ke sekolah.” – halaman 32
Totto-Chan heran kenapa bintang itu tak bersinar. Setelah berfikir sebentar, ia berkata “Mungkin dia sedang tidur.” | Dengan matanya yang bulat ia terbelalak lebar, Sakko-chan berkata, “Memangnya bintang bisa tidur?” | “Kurasa mereka harus tidur di siang hari, lalu bangun dan bersinar di malam hari,” kata Totto-Chan cepat karena sebenarnya ia tak yakin. – 50
Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-Chan dalam situasi itu, akan bereaksi dengan berteriak, “Apa-apaan ini?” atau “Hentikan, itu berbahaya!” atau malah menawarkan bantuan. Bayangkan, kepala sekolah hanya berkata, “Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai kan?” Sungguh kepala sekolah yang hebat, pikir mama ketika mendengarkan cerita kejadian itu dari Totto-chan. – 59
“Kakakku di Amerika bilang, di sana mereka punya sesuatu yang disebut televisi. Kalau televisi sudah masuk Jepang, kita bisa duduk di rumah dan menonton sumo. Kata kakakku televisi bentuknya kotak.” Saat itu Totto-Chan tak mengerti betapa besar artinya ini bagi Yasuaki-chan, yang tak pernah bisa pergi jauh untuk bisa melihat banyak hal hanya duduk di rumah. Totto-Chan hanya heran membayangkan bagaimana pemain sumo bisa masuk ke dalam kotak kecil yang akan di rumah. Badan pegulat sumo kan besar sekali! Sungguh menarik. Di masa itu televisi belum dikenal di Jepang. Yasuaki-chan adalah orang pertama yang memberitahunya tentang benda itu. – 84
Tangis Totto-Chan meledak. Ia berjalan pulang dengan air mata meleleh membasahi pipinya. Begitu sampai lagi ke jalanan gelap, ia terisak-isak, “Belum pernah aku sangat menginginkan sesuatu seumur hidupku. Aku takkan pernah lagi minta dibelikan sesuatu. Tapi, belikan aku satu anak ayam, ya Ma! Pa?” Akhirnya mama papa menyerah. – 109
Sayangnya, dia tak pernah berhasil. Meski demikian, Totto-Chan yakin, suatu hari kelak dia pasti bisa melihat Osaka. Karena itu, setiap kali pamannya datang, Totto-Chan berkata, “Perlihatkan Osaka padaku.” Begitulah, Osaka menjadi kota yang paling diimpi-impikannya. Dan Takahashi berasal dari sana! “Ceritakan tentang Osaka!” Katanya pada Takahashi. – 117
Mungkin diambil tikus tanah, pikirnya. Atau, apakah aku memimpikannya, ya? Atau, mungkin Tuhan melihatku menyembunyikannya. Tapi waktu ia telah berfikir sekeras apapun, kejadian itu memang benar-benar aneh. Kejadian amat misterius yang tak mungkin dilupakannya. – 146
“Wah! Jadi Anda akan menjadi guru kami hari ini?” seru anak-anak penuh semangat. | “Tidak!” kata pria itu sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan di depan wajahnya. “Aku bukan guru! Aku hanya petani. Kepala sekolah kalian memintaku mengajarkan apa yang aku tahu. Itu saja.” | “Oh, itu tidak benar, dia guru. Dia guru pertanian kalian,” kata kepala sekolah yang berdiri di samping petani itu, “Dengan senang hati ia akan mengajarkan kalian bagaimana bercocok tanam.” – 178
Totto-Chan berkata dengan manis dan pelan-pelan. Nada bicaranya seperti seorang kakak atau ibu, “Aku ingin mengajar di sekolah ini kalau sudah dewasa. Sungguh.” | Totto-Chan berharap kepala sekolah akan tersenyum, tapi guru itu bertanya dengan sungguh-sungguh, “Janji?” | Mr Kobayashi tampak benar-benar ingin Totto-Chan berjanji, Totto-Chan mengangguk penuh semangat dan berkata, “Aku berjanji.” Tekadnya sudah bulat, ia akan menjadi guru, apa pun yang terjadi. – 235
Saya jadi ingat masa-masa saya SD. Dunia yang menyenangkan, tak ada beban tak ada tekanan. Dunia senang-senang itu harusnya memang membuat anak-anak senang. Belajar tak ada paksaan, belajar sambil bermain, belajar sangat penting namun metode yang benar jauh lebih penting. Saya sendiri merasa dulu saat SD metodenya sangat kaku. Segalanya diatur dengan ketat. Kreativitas dibatasi, padahal anak-kecil adalah dunia yang menakjubkan. Contoh, kita menyuruh anak kecil mandi. Kebanyakan susah-kan, coba bilangin, “Ayo kita main air.” Intinya sama saja mandi tapi cara penyampaiannya berbeda. Contoh lagi, anak susah makan sayur. Kita ajak main pesawat-pesawatan, “Ngeeeeengg… ketika pesawat sudah di depan gua ada bel, guanya dibuka. Sendok itu bilang ‘tin tin’ lalu lahaplah makanan itu kepada si kecil.”
Sayangnya identitas Totto-Chan terlalu prematur diungkap. Andai itu disimpan di akhir kita akan mendapat kejutan yang wow. Kemudian eksekusi endingnya terlalu tergesa-gesa. Pasca bom dijatuhkan, kisahnya seakan secepatnya harus diakhiri dengan menampilkan epilog nasib para karakter. Namun tetap buku ini istimewa, kualitas memang tak bohong.
Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela | judul asli Totto Chan: The Little Girl At The Window | by Tetsuko Kuroyanagi | copyright 1981 | ilustrasi Chihiro Iwasaki | published by arrangement with Kodansha International, Ltd. | alih bahasa Widya Kirana | GM 106 03 006 | sampul oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan kedelapan: Mei 2004 | 272 hlm; ilustrasi; 20 cm | ISBN 979-22-0234-x | Untuk mengenang Sosaku Kobayashi | Skor: 5/5
Karawang, 240416 #Taylor Dane – Love will lead you back

Advertisements

One thought on “Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela (Tetsuko Kuroyanagi)

  1. Buku favorit saya juga ini 😀 Si Totto-Chan sekarang sudah tua dan pernah jadi duta PBB untuk UNICEF, kayaknya. Sempat juga jadi reporter, sesuai dengan jiwanya yang selalu ingin tahu sejak masih kecil. Buku itu ada terusannya, tp sayangnya saya malah belum baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s