Midah – Pramoedya Ananta Toer #1

image

Buku pertama beliau yang pertama kubaca: Midah, Simanis Bergigi Emas. Dibaca cepat karena memang buku tipis. Sebenarnya kisah ini sederhana, tentang seorang gadis bernama Midah yang galau. Namun ini hebatnya Pram, kisah biasa ini di tanganya jadi luar biasa. Butuh kehebatan imajinasi dan olah kata tak wajar untuk bisa membuat cerita menjadi seru. Di Midah kita mungkin bisa menebak ke arah mana nasibnya dibawa, kita bisa dengan mudah menduga-duga takdir itu mengarah, namun setiap kalimat yang disusun memang dibuat istimewa. Tak lazim, tak ala kadarnya.
Sebagai satu-satunya Penulis Indonesia yang pernah dinominasikan Nobel Sastra, buku-buku Pram memang jadi patokan sastra kita. Kalau kita ngomogin sastra Indonesia  berkualitas, orang pertama yang disebut tentunya beliau. Back kover bukunya selalu bertanda “Sumbangan Indonesia Untuk Dunia”. Dan itu ternyata tak bohong. Midah telah mempesonaku, terhanyut dalam kisah hidup seorang wanita bertahan hidup di kerasnya ibu kota pasca Kemerdekaan.
“Ah, saudara, manusia ini kenal satu-sama-lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri… memang tidak ada hasilnya untuk kemakmuran kita hendak mengenal diri, karena dia takkan menghasilkan kekayaan.”
Kisahnya Midah adalah anak tunggal dari haji Abdul dari Cibatok yang hijrah ke Jakarta. Dirinya terlahir dari keluarga berada, ayahnya fanatik agama dengan lagu-lagu arab Umi Kalsum, Midah dimanja dan dipangku, gambaran orang kaya di Indonesia tahun 50an. Semua itu berubah kala berusia 9 tahun, dirinya memiliki adik. Haji Abdul merayakan kelahiran anaknya dengan bermewah-mewah. Disambut dengan gegap gempita keluarga dan sanak saudara. Adiknya menyita perhatian miliknya. Kelahiran yang disambung kelahiran lain itu telah mengubah segalanya. Midah mulai menyendiri, jarang dipangku dan dimadu. Midah akhirnya menemukan pelarian oleh keroncong keliling. Pengamen jalanan itu membuatnya terpesona. Suatu hari ia mengikutinya sampai petang, pulang terlambat ternyata tak membuat orang tuanya marah. Sampai dirinya membeli piringan musik yang diharamkan ayahnya dan memutarnya di rumah. Dalam sekejap ia hafal lagu-lagu.
Naas, ayahnya suatu ketika memergoki musik setan itu, piringan dipatahkan ia ditampar dan dimaki. Tamparan yang sakit itu bukan di pipi tapi di hati. Dirinya merasa telah menemukan cinta, larangan itu bukannya membuatnya jauh tapi malah makin cinta musiknya menggila.
Selepas remaja, dirinya sudah siap menikah. Jodoh pilihan ayahnya adalah orang berada, beragama baik dan dari kota kelahirannya Cibatok. Haji Terbus pun meminangnya. Naas seakan memang jadi nama tengah Midah, setelah hamil tiga bulan ia baru tahu kalau suaminya punya banyak bini. Haji Terbus  yang digambarkan gagah, berkumis, berperut buncit, tua dan poligami sepertinya sebuah kritik buat titel haji yang di mata masyarakat kita seakan jaminan orang soleh. Keputusan nekat dibuat, Midah kabur ke Jakarta. Kembali ke orang tuanya akan membawa malu, dia pun ke Riah bekas babu yang pernah menolongnya dari amukan ayah tentang masalah musik keroncong.
Selepas dari tempat tinggal Riah, dia memutuskan mencari kelompok pengamen yang dulu dilihatnya. Sebuah pilihan hidup. Berani mengambil keputusan penting. Awalnya tak ketemu, namun terus dicari akhirnya bertatap juga. Sempat bersitegang dengan vokalis aslinya Nini, yang bergigi emas, Midah bergabung. Mulailah ia hidup di kerasnya jalanan ibu kota. Dengan paras ayu, muka bulat, muda dan hamil. Dirinya dilindungi sang kepala rombongan, Rois. Bahkan dipinangnya. Namun status Midah yang masih resmi bersuami, serta prinsipnya yang tak mau diikat karena trauma tentu saja menolaknya.
Dari grup pengamen jalanan inilah ia akhirnya bertemu dan berkenalan dengan seorang polisi lalu lintas Ahmad. Polisi muda yang baik itu lalu melatih vokalnya. Midah yang kini mempunyai anak namun minggat dari suami, jatuh hati kepadanya. Cinta yang mustahil bersatu. Ahmad adalah polisi, seorang pemuda baik-baik sedang Midah hanya penyanyi jalanan. Namun siapa yang bisa menolak pesona kecantikannya?Midah hamil dan si pemuda tak bertangung jawab. Dasar lelaki pengecut. Dengan kehamilan ini ia dipaksa pulang. Berhasilkah ia melawan kerasnya hidup?
Well, cerita sederhana namun jadi begitu berjiwa di tangan Pram. Konfliknya disusun dengan rapi. Keluarga terpandang dengan agama yang kuat, Midah yang lebih berfikiran terbuka dan siap mewujudakn keinginan sekalipun itu bertentangan dengan orang tua. Terlunta-lunta untuk jadi nyata. Sungguh novel pembuka yang mempesona. Tak berlebihan, buku-buku beliau bertuliskan ‘Sumbangan Indonesia Untuk Dunia’. Kelemahan buku ini adalah eksekusi ending yang singkat namun merubah segalanya. Awalnya saya mau kasih skor sempurna, namun penuturan paragraf-paragraf penutup itu seperti membalik telapak tangan sifat dan kekuatan Midah yang digenggamnya.
Beberapa kutipan layak disimak:
Keinginannya untuk mempunyai anak lagi, selalu ditindasnya. Apabila Tuhan telah menakdirkan, demikian selalu ia berpendapat, pada suatu kali yang baik dia akan datang ke rumah kami untuk menjadi anak kami. – halaman 11
Untuk anak ini – biar dia pilih sendiri kelak apa yang dikehendaki – 26
Midah mencoba tersenyum oleh pandangan itu. Tetapi pikatannya belum juga berhasil. Dan dalam hatinya ia berjanji akan memperbaiki usahanya. Kembali ia mengusap perut dan berbisik penuh kepercayaan: Tidak Nak, engkau tidak akan Emak rusakkan. Tidak raja, tidak. – 30
Apakah aku punya tampang buaya? – 80
Aku tak rela! Aku tidak rela! Walau bagaimanapun jua cintaku padamu, bisiknya. Kemudian ia tenggelam. Ahmad tenggelam. Midah tenggelam. Begini cantik enkau, Midah. Begini manis. Tak ada satu cacatpun merusak kulitmu. Midah hanya memperdengarkan keluhan. Midahku! Midahku! – 94
Setidak-tidaknya ia mengerti, bukan engkau tidak mengakui anakmu sendiri. Bukannya engkau membimbangkan cintaku padamu. Tetapi kini aku mengetahui bahwa seseorang yang kucintai itu adalah pengecut yang tak punya keberanian sedikitpun jua. Itupun aku tak menyesal, karena tka ada gunanya lagi. Biarlah semua ini terjadi. Hanya satu yang tak akan dilupakan olehmu: anak ini adalah anakmu. – 110
Anggapnya ia orang paling suci di dunia ini dan paling dikasihi Tuhan, dan paling baik serta paling beribadah, kini hilang sama sekali. Ia merasa menjadi kecil dalam hubungan segala-segalanya. Pandangan hidup dan dunianya berubah hingga seratus delapan puluh derajat. – 74
Oiya, buku ini terasa istimewa karena tak menggunakan tanda petik untuk kalimat langsung. Walau bukan buku pertama yang saya baca dengan pola seperti ini, namun ini sungguh istimewa karena ditulis oleh Penulis lokal. Kita dibiarkan menebak siapa yang bicara, siapa yang menyanggahnya. Imaji kita diminta lebih aktif. Sekali lagi, Pram benar-benar hebat. Midah tentu saja adalah buku pembuka untuk membaca buku-buku beliau selanjutnya. Mahal memang terbitan Lentera, namun sangat worth it.
Midah, Simanis Bergigi Emas | oleh Pramoedya Ananta Toer | copyright @2003 | ilustrasi buku: M Bakkar Wibowo dan Ong Hari Wahyu | Penerbit Lentera Dipantara | pernah diterbitkan tahun 1954 oleh NV Nusantara, edisi Indonesia | De Gues, 1992 edisi Breda, Belanda | Manus Amici, 1992 edisi Amsterdam, Belanda | Midah, het Liefje de Gouden Tand | cetakan 5, Februari 2010 | ISBN 13: 978-979-97312-2 | ISBN 10: 979-97312-7-5 | 134 hlm; 13×20 cm | Skor: 4/5
Karawang, 230416 – #MaddiJane – Secrets

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s