Murjangkung (A.S. Laksana) – Cinta Yang Dungu dan Hantu-Hantu

image

Jadi buku pertama yang saya baca dari tuan A.S. Laksana. Karena sudah sering mendengar betapa unik buku-buknya, maka tak salah dong ekspektasiku tinggi. Awalnya kukira adalah sebuah novel, eh ternyata kumpulan cerpen. Ini adalah kumpulan cerpen kedua setelah “Bidadari Yang Mengembara” buku perdana itu bernasib mujur menang sastra terbaik Tempo 2004. Murjangkung berisi 20 cerpen yang dinukil dari beberapa media yang sudah terbit dalam 10 tahun terakhir.
Untuk mendapatkan rasa penasaran agar kalian juga berniat membacanya (dan memang layak dinikmati), saya hanya akan menukil sedikit kutipan dari cerpen-cerpen itu. Berikut ulasanku:
Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut
Ini adalah cerita tentang pemabuk, tetapi kau bisa membacanya dengan pikiran tenang menurut caramu sendiri. Bah kalimat pembuka yang tak lazim, dan memang buku ini dari pembuka sampai habis penuturan kisahnya aneh. Tentang Tuan Mur yang berkuasa dengan angkuh membuat patung singa memeluk dunia. Setiap keangkuhan harus dilawan, sehingga suatu malam penduduk mengendap-endap ke tengah lapang dan merobohkan patung itu. Maka lapangan itupun mereka sebut Lapangan Singa. Namun karena patung singa itu mirip anjing pudel dan keseleo lidah, jadilah Lapangan Anjing Pudel. Dan tahukah kamu nama itu di kemudian hari jadi Lapangan Benteng. Sebuah nama yang akrab di telinga bagi warga Jakarta dan sekitarnya.
Otobiografi Gloria
Kisah tentang kakek Bob dan Leli yang mengharapkan cucu. Warga Semarang ini bermasalah dengan anak-anaknya. Dari sudut pandang Gloria, si miss X inilah yang menuturkan kekacauan keluarga. Anak pertama, jadi bujang lapuk. Kedua seorang perempuan yang menikahi karyawan asuransi yang mandul, sudah berusaha ke orang sakti, alternatif sampai yang diluar nalar, namun tetap tak segera diberi momongan. Anak yang ketiga perempuan yang berusia 28 tahun dan tak menikah jua dan seterusnya. Cucu itu akhirnya terlahir, namun bukan dari anak kedua. Kegembiraan datang bersama keruwetan. Keruwetan itu disajikan A.S. Laksana dengan jitu dan sendu.
Dongeng Cinta Yang Dungu
Tentang Fira karyawan baru yang selingkuh dengan atasannya. Tentang nyawa yang tertukar. Tentang pasangan selingkuh yang akhirnya menikah. Tentang asal usul pelawak, yang laki jadi melambai yang perempuan jadi berotot. Tentang mereka yang kesal rutinitas dan kisah ini dibuat dengan sangat bagus karena disampaikan dengan tak wajar, tanya saja pada pekik burung. Benar-benar cinta dungu!
Perempuan Dari Masa Lalu
Seto. Nama ini bersama Alit, akan sering dipakai sang pengarang. Kali ini Seto adalah pemuda yang mengikuti anjuran sebuah buku dalam memikat perempuan. Cara berkenalan ga lazim itu dipakainya untuk menjerat perempuan asing yang dijumpainya. “Mungkin Anda adalah gadis kecil dari blab la bla… di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih. Aku mengingatnya…” jurus itu ampuh saat ia praktekkan di sebuah halte. Namun kali ini Seto kena getahnya. Apa pedulimu asu!
Bagaimana Kami Selamat Dari Kompeni dan Seterusnya
Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Ini kisah yang lagi-lagi tak biasa. Kisah tentang orang-orang Cina dan hujan, tentang kakus dan neneknya, tentang siluman dan jin Sulaiman, tentang kompeni yang bermain ayunan dan kakekku yang tak menjadi nabi.
Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri
Ini adalah cerpen terbaik dari kumpulan ini, menurutku. Seto yang beruntung ataukah buntung? Heroism-nya menyelamatkan anak sang Mayor dari tawuran ga jelas itu berentet panjang. Diminta tinggal di rumah sang Mayor sebagai balas jasa, lalu kita dijejali cerita para karakter di sekitar Seno, tentang keluarga sang Mayor. Tentang yah, jangan sembarangan bernyanyi!
Dua Perempuan di Satu Rumah
Tentang Seto lagi, namun ini Seto yang lain yang nasibnya dibuat pendongeng kita apes. Dicipta dengan enam perbuatan tak pantas, memecahkan tempurung lutut anak buah yang berhianat, dan menulis 37 puisi yang menyedihkan.  Cerpen paling biasa dari kumpulan ini.
Bukan Ciuman Pertama
Pamali untuk suami saat istrinya hamil. Memiliki daftar yang panjang ternyata, dan masyarakat kita memang begitu, bukan? Jangan membunuh binatang, jangan memancing, pakai gunting yang dicantolkan dibaju buat tolak bala, jangan potong kuku di malam hari, dan seterusnya dan seterusnya. Salah satunya menyapa, memandang orang cacat. Pamali tau!
Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan Yang Remis
Ini cerpen yang tak biasa (lagi). Alit yang kikuk menjadi pesulap yang mempesona sang gadis. Alit selalu menjadi kikuk ketika ditonton gadis cantik itu. Bakat dan kecantikan adalah anugerah dari Tuhan. Lalu sang Alit merasa tak berbakat sulap karena tentu saja seorang entertainer tak boleh gugup. Namun setelah panjang lebar kita dijejali tentang Alit, fokus tiba-tiba dirubah dan itu sungguh keren sekali. “Biar Tuhan dan ikan-ikan tahu bahwa aku tidak menyukai keputusan yang keliru dan pertarungan yang curang.”
Kisah Batu Menangis
“Aku dihancurkan oleh musuhku.” Tentang politikus goblog yang (seakan) selalu menyalahkan keadaan. Tak ada untungnya menghancurkan pegawai negeri kecil-kecilan di kota kecil Grobogan. Nah kalau kita sebut Grobogan dan cerita ini tentang batu, tentu saja kalian tahu ke mana arahnya. Setidaknya bagi kalian yang mengikuti berita Malam.
Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa
Seto lagi. “Itu menunjukkan bahwa kau pernah ke tempat itu, pada kehidupan yang lalu, dan mengalami kejadian tak menyenangkan di sana, dan itu membuatmu tak mengingkan lagi ke sana.” Cenayang, kepala kadal, raja Uganda, prajurit Mongol dan dilempar jauh ke Trenggalek. Apa-apaan ini? Tenang, beliau akan merajutnya dengan kisah telinga yang disabet itu.
Lelaki Beristri Batu
Ketahuilah wahai asu, bahwa menumbuhkan rasa cinta itu  tak mudah. Bahkan jalan yang paling mudah sekalipun sama sekali tak mudah. Tetapi kau datang dan pergi sesukamu. Lelaki brengsek yang mati dengan dua patung batu, satu perempuan dewasa dan satu gadis kecil.
Efek Sayap Kupu-Kupu
“Apakah kepak sebelah sayap kupu-kupu di Brazil menyebabkan badai Tornado di Texas?” tahun 1960 seorang peramal cuaca diganggu pikirannya dengan teori itu dan kini banyak dikutip, efek sayap kupu-kupu. Tentang kegaduhan politik, “apakah kepak sebelah bibir di Jakarta menyebabkan banjir besar di Semarang, membawa kelaparan di Kupang, dan melongosrkan gunung sampah di Jawa Barat?” Karakter bernama Alit, kini konflik dibangun dengan ayahnya.
Ibu Tiri Bergigi Emas
Alit yang ditinggal ibu kandungnya, tampak muram. Kini ia punya ibu tiri yang dalam pikiran masyarakat kita seorang yang kejam. Gugat saja film Ratapan anak Tiri itu. Apalagi saat tersenyum punya gigi emas, macam mak lampir. Namun mantra-mantra itu tak berguna di tangan Alit sebab ibu tiri ini luar biasa.
Seorang Lelaki Telungkup Di Kuburan
Kisahnya absurb. Kisah ‘aku’ yang punya anak-istri ini tak dijelaskan dengan runut, telaah yang lebih dalam harus dilakukan guna tahu maksud sesungguhnya, kenapa lelaki itu telungkup di kuburan. Well, walaupun sejatinya gamblang, sudut pandang yang dibangun A.S. Laksana seakan tak ketara.
Malam Saweran
Dari sebuah headline berita “Nonton Penari Bugil nyawer Lima  Juta” seorang pejabat membuat heboh nyamuk pers gara-gara saweran. Walaupun seperti biasa, pejabat yang ahli mengelak namun data-fakta dibeberkan. Unik, sungguh unik cerita ini. Lihai bagai lidah ulat.
Cerita Untuk Anak-Anakmu
“Saya sudah tidak tahan.” Lagi-lagi kritik politik untuk pejabat yang terhormat yang suka berdangdut ria kala senggang. Politikus menikahi pedangdut, cerai dan masing-masing bahagia. Politikus merayu pedangdut lagi untuk Pemilu yang sudah dekat. Jelas bukan cerita untuk anak-anak, kawan.
Kuda
Paragraf pembukanya nakal. Perempuan yang memanggil lelakinya kuda dalam bersatu berahi. Alit itu muncul dalam balutan asing. Main judi, main perempuan, main janji. “Naiklah ke punggungku”. Sayang sekali, ini kisah yang sederhana yang dicoba rumit. Faktanya memang sederhana.
Peristiwa Kedua, Komidi Putar
“Aku merasa ada iblis di rumah ini.” Sayang sekali kumpulan cerpen ini ditutup oleh dua kisah yang sederhana. Perselingkuhan pembantu dan majikan, lika-likunya. Seto sang pemimpin masa depan, terlahir di Semarang, mempunyai garis tangan ke arah sana. Tunggu dulu, itu adalah paragraph penutup jadi kita diajak berputar dengan komidi asal usul Seto.
Sebagai penutup, kumpulan cerpen ini sangat layak dikoleksi. Layak dibaca dan diajarkan kepada anak cucu. Penulis-penulis Indonesiah ayo belajar kepada beliau. Sungguh membanggakan kita punya penulis sehebat A.S. Laksana. Karena saya penggemar Tarantino, maka yang disampaikan beliau sangat mirip pola berceritanya. Tak lazim, membuat bingung pembaca. Lalu disambung dengan brilian. Ini buku perdana beliau yang saya nikmati dan jelas, buku-buku yang lain akan kuburu. Jadi bung Laksana, kapan kita ngopi bareng sambil bertukar isi kepala?
Murjangkung: Cinta Yang Dungu dan Hantu-Hantu | oleh A.S. Laksana | design kover: Levina Lesmana | Penerbit GagasMedia | gagasmedia.net | distributor tunggal TransMedia | cetakan pertama, 2013 | vii + 216 hlm; 13×19 cm | ISBN 979-780-644-8 | Untuk Eka, Raya, Karebet, dan Nara | Skor: 4/5
Karawang, 210416 #Sherina Minaf – Akan Ku Tunggu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s