Notevole, Lazio!

Kalian terkejut atas penampilan menawan Lazio semalam? Ya, saya juga. Karena saya ketinggalan debut sensasional Simone Inzgahi pekan lalu. Apa yang saya saksikan kala menjamu Empoli sungguh menggembirakan. Hebat, tranformasi singkat dari Pioli ke Simone ternyata berjalan keren. Terlihat di tribun sang kakak, Fillipo Inzaghi kasih dukungan.

Memainkan pola 4-3-3 Lazio menang meyakinkan. Di bawah mistar entah kenapa Machetti masih dipercaya. Pengen lihat Guido atau Matosevic turun padahal. Lulic yang sudah kembali di bek kiri. Gentiletti dan Hoedt di sentral serta Patric di kanan. Senang sekali menonton anak muda lulusan primavera the Great ini akhirnya manjadi pemain inti. Di tengah Biglia jadi playmaker, Parolo gelandang kiri dilengkapi Onazi di kanan. Akhirnya Onazi kembali menemukan kepercayaan dirinya setelah tersingkir. Sektor penyerang, mengejutkan. Pemain sebesar Felipe dicadangkan, padahal dia fit. Diganti oleh striker masa depan, Keita Balde. Pos striker murni diisi sang senior Klose untuk melengkapi Candreva di kanan. Formasi ini persis dengan yang dipakai kala menumbangkan Palermo. Sang tamu tak menurunkan Tonelli, pemain yang saat ini santer diberitakan akan berbaju Lazio.

Mendengar pekan lalu kita main ofensif, maka saya menuntut hiburan yang memikat. Dan Simone menyajikan dengan mewah. Tepat ketika bola resmi digulirkan, pemain Lazio langsung bergerak cepat seakan mengejar maling. Bola dimanapun di-uber. Seperti pekan lalu yang bisa unggul cepat, kali ini juga berhasil. Menit keenam, sepakan keras Parolo mengenai tangan pemain belakang Empoli di kotak terlarang. Semenit berselang, Candreva sukses mengecoh Pelagoti. 1-0. Setelahnya adalah hiburan kelas atas. Mirip strategi Sven Goran Eriksson. Pressing ketat, saat menyerang semua pemain terlibat jadi jangan heran Lulic dan Patric bukan sekali-dua-kali berjibaku di kotak lawan. Begitu jua saat bertahan. Klose dan Keita sampai bentrok dengan Piu. Benar-benar semangat 1900. Yang paling menonjol tentu saja Keita Balde. Striker keling ini seakan pamer skill. Serangan nyaris selalu ke kiri ke kakinya. Dalam sebuah adegan, Keita memperagakan gaya Dinho di mana ia menyepak bola, mengoper  tanpa melihat rekan. Indah, sungguh menawan.

Keita menari-gocek bola seakan menampar Pioli bahwa keputusan mencadangkannya salah. Laziale terus dihibur, dan ini yang mengejutkanku: ia tak egois. Saya pernah berujar dalam rencana serang jangan sekali-kali menempatkan Keita-Candreva dalam satu segmen. Analisis itu dimentahkannya karena ia memanjakan Klose. Sementara Can masih sama, egois paksa shoot. Onazi kembali, pemain dengan sprint yahud ini juga kembali menemukan bentuknya. Sayangnya semangat itu ternoda oleh Leandro Paredes. Pemain pinjaman tetangga ini selalu memprovokasi, sering guling-guling ga jelas. Setiap bola menyentuh kakinya seisi Olimpico mem-b000. Emosi itu menghasilkan tiga kartu kuning dalam enam menit untuk Keita, Biglia dan Parolo.

Setengah jam berjalan belum tambah gol. Umpan lambung di depan gawang yang jadi posisi favorit Klose, tumben ditanduk melebar. Lazio the Great memperagakan permainan jelas dan lepas. Komposisi seperti ini menguras energi karena pemain terus bergerak. Wajar Onazi kini jadi pilihan. Dan semenit jelang turun minum ia bikin gol. Melalui skema saru bermain one-two dengan Klose yang tak egois. Onazi menyepak bola yang tak terjangkau kiper. 2-0. Gairah resafel.

Babak pertama mutlak milik kita. Njomplang. Babak dua Inzaghi tetap memperagakan permainan posisi. Bola terus dikejar. Lawan tak dikasih kesempatan memainkan rencana. Namun sejam berjalan Lazio mulai kehabisan bensin. Waspada kalau lawan tim kuat. Skor masih 2-0, kita melakukan pergantian beruntun Keita diganti Felipe dan Djordjevic mengganti Klose. Pergantian ini ternyata makin menurunkan tempo. Sepertinya mereka mulai lelah. Bahkan Candreva ga mau turun ke belakang saat keserang, hanya jalan dan meminta minum. Energi mereka terkuras di babak pertama. Patric lalu digantikan Basta. Patric terlihat sedikit pincang karena salah blok. Praktis pertandingan selesai tanpa ada shot on goal dari kubu Empoli, b

Kemenangan yang wajar. Inzaghi dalam jumpa press pasca laga berujar: Lazio wins not easy. It’s now time to look ahead, we played well today and could have scored more. Dua kali main dua kali menang, clinsit. Inilah pertama kalinya musim ini kita bisa beruntun clinsit. Kemenangan yang menjadikan poin sama dengan Sasso dan tetap berjarak 4 poin dengan Milan yang semalam menang tipis di debut Brocchi. Man of the match saya pilih Klose, pemain ini menampilkan ketenangan yang luar biasa. Tidak egois, finishing bagus. Pemain lain harus belajar darinya. Miro selalu bermain dengan hati, menunjukkan kebanggan berbaju Elang biru. Sangat layak diperpanjang kontraknya. Sangat layak pensiun di Lazio.

Laga sesungguhnya adalah Kamis dini hari nanti saat bertandang ke Juventus stadion. Bisakah Inzaghi memutus kekalahan dari si Zebra? Oke, lets put your henad together, a round of applause please, Juventus is await. See…

Lazio 2-0 Empoli (Candreva 7’ – pen, Onazi 44’)

Lazio: Marchetti; Patric (Basta 83), Hoedt, Gentiletti, Lulic; Onazi, Biglia, Parolo; Candreva, Klose (Djurdjevic 70), Keita (Felipe Anderson 63)
Empoli: Pelagotti; Laurini (Bittante 19), Cosic, Costa, Mario Rui; Buchel, Paredes (Diousse 68), Croce; Saponara; Pucciarelli, Piu (Mchedlidze 59)

Karawang, 180416 * Pram – Midah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s