Saga No Gabai Bachan (Yoshichi Shimada)

image

Ini buku dari Negeri Matahari Terbit. Kuharap dapat sesuatu yang wah, namun ternyata hanya cerita sederhana. Seperti membaca diari penulis semasa kecil. Tak semua yang impor dan best seller itu dapat memukau, bukan? Nah buku ini salah satunya. Sama saja, di luar sana juga banyak yang memakai nama pena. Nama asli Yoshichi Shimada adalah Akihiro Tokunaga.
Kisahnya bergulir lancar tanpa konflik berarti. Mungkin karena penceritaannya yang monoton sehingga apa yang disajikan jadi datar. Dengan sudur pandang orang pertama, Akihiro menceritakan masa kecilnya. Bermula dari latar belakang keluarga. Tinggal di kota besar Hiroshima bersama ibu, ia adalah seorang yatim karena ayah sudah meninggal ketika ia masih kecil. Hiroshima, dari buku-buku yang kita pelajari di Sekolah adalah kota pertama yang dijatuhi bom atom tahun 1945, beberapa hari kemudian Nagasaki menyusul. Nah cerita ini menyinggung sejarah itu. Hiroshima pasca tragedi, masih terindikasi radio aktif yang tinggi. Seperti yang dituturkan di pembuka bab pertama, “… aku berkata demikian karena kalau saja bom atom itu tidak dijatuhkan, ayahku tak akan mati dengan menderita.”
Saat Akihiro kelas dua SD, datanglah bibi Yoshiko-can dari Saga. Kedatangan bibinya itulah yang mengubah segalanya. Kunjungan yang tak biasa karena saat di stasiun kereta api, saat kereta mulai bergerak si kecil Akihiro didorong ibunya ikut masuk kereta. Ternyata ibunya tanpa sepengetahuannya, menitipkan Akihiro ke neneknya di Saga. Karena kemiskinan, dan takut pergaulan di kota, ia tinggal di rumah nenek. Anak sekecil itu, tentu saja awalnya panik jauh dari orang tua. “Aku sedih. Aku merasa sepi. Aku merasa merana karena terpisah dari ibu. Aku ingat aku berfikir bahwa seumur hidup takkan pernah lagi ada perasaan yang lebih berat dari itu.”
Adaptasi di tempat asing pun dimulai. Di Saga, Akihiro dikenal sebagai anak kota. Sekolah di SD Akamatsu ternyata sederhana, belajar hanya dilapisi tikar dan murid-murid duduk di atasnya. Seolah-olah ia terlempar di masa zaman dahulu kala. Wah, tempat yang bagus untuk belajar. Tempat yang sederhana adalah tempat yang bagus untuk menempa hidup. Akihiro yang merasa miskin, namun di Saga kehidupan satu tingkat lebih miskin. Beruntungnya ia mempunyai nenek yang tangguh. Nenek Osano menghadapi hidup ini dengan ceria.
Nah kisah ini akan didominasi ide-ide cemerlang sang nenek. “Kita turun-temurun miskin.” Ia sudah mengusung hidup miskin garis keras. Ide-ide beliau yang terlihat sederhana itu ternyata jadi hebat. Ia berjalan dengan magnet di belakangnya. Magnet yang ditarik di jalan itu akan membawa besi-besi di jalan, besi yang tertangkap akan dikumpulkan lalu dijual. Ia memasang jala di sungai dekat rumah, jala itu akan menangkap barang-barang yang dibuang dari pasar yang ada di hulu. Barang-barang itu dipilah dan dipilih, ada makanan, buah, sampai sayuran. Lalu dibersihkan dan jadi menu. Terdengar menjijikkan? Nope! Yang mengejutkanku, Jepang di zaman itu ternyata seperti Indonesia era sekarang ya, buang sampah sembarangan bahkan di sungai!
Akihiro yang ingin klub olahraga akhirnya gagal bergabung di karate, anggar atau sejenisnya yang membutuhkan peralatan. Neneknya menyarankan mending olahraga lari. Murah, sehat. Terpaan itulah yang membuatnya jadi hebat dalam atletik. Berjalannya waktu, saat ia kelas lima akhirnya ia ikut klub baseball. Baseball di sini mungkin semacam kasti karena skalanya kecil, bola ala kadarnya, pemukul seadanya. Dengan keunggulan berlari, ia pun menjelma jadi pemain hebat.
Nah saat di SMP barulah dia lebih fokus baseball. Merasa kurang bagus dalam nilai akademi, ia fokus ke hal lain sampai akhirnya diangkat jadi kapten tim. Sebuah kemewahan yang jarang didapat Akihiro adalah sang nenek yang tahu cucunya kapten langsung membelikan sepatu atletik seharga 10,000 Yen. Dan seterusnya dan seterusnya, kisahnya adalah semacam buku harian yang dituturkan datar. Bagaimana bisa Yoshichi Shimada bukannya jadi atlit baseball malah jadi pelawak “B&B”?
Untungnya buku ini ditutup dengan kutipan-kutipan bagus dari sang nenek, saya nukil beberapa yang menarik:
Jangan bicara sedih di malam hari. Kisah sulit jika dibicarakan siang hari, tidak akan terasa begitu sulit | Nilai rapor apa pun asal bukan nol tidak masalah. Kalau satu dan dua dijumlahkan, hasilnya tetap akan jadi lima | Bebaikan sejati dan tulus adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan | Pelit itu payah! Hemat itu jenius! | Berhentilah mengeluh “panas” atau “dingin”. Musim panas berhutang budi pada musim dingin, demikian pula sebaliknya | Hiduplah miskin dari sekarang. Bila sudah kaya, kiat jadi pelesir, jadi makan sushi, jadi menjahit kimono, hidup jadi kelewat sibuk | Jangan terlalu rajin belajar. Bisa-bisa nanti jadi kebiasaan | Jangan terus berfikir hari esok di hari ini. Pikirkan seratus-dua-ratus ke depan. Bakal ada 500 orang cucu dan cicit yang terlahir, sungguh membahagiakan, bukan?! | Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini msikin yang ceria | Orang pintar maupun orang bodoh. Oarng kaya maupun orang miskin. Lima puluh tahun kemudian, semua bakal sama-sama berusia lima puluh tahun | Sampai mati, manusia harus punya mimpi. Kalaupun tidak terkabul, bagaimanapun itu kan cuma mimpi? | “Nenek aku sama sekali tidak mengerti Bahasa Inggris” – “Kalau begitu kau tulis saja ‘Aku orang Jepang’ – “Aku juga ga suka huruf Kanji” – “Tulis saja ‘Aku hidup dengan Hiragana dan Katakana’” – Aku juga benci sejarah” – “Sejarah juga? Tulis saja, Aku tidak menyukai masa lalu!’”
Nenek Hebat Dari Saga | terjemahan dari Saga No Gabai Bachan | By Yoshichi Shimada | copyright 2001, ilustrasi copyright 2004 Jiro IHA | originally published by Tokuma Shoten publishing Co., Ltd in Japan | Penerjemah Indah S Pratidina | koordinator penerjemah Mikihiro Moriyama | Penerbit Kansha Books – a division of Mahda Books | Cetakan kedua, Mei 2011 | ISBN 978-602-97196-2-8 | Skor : 2/5
Karawang, 170416 – Rio H on track Grand Prix Shanghai, China 2016

Iklan

One thought on “Saga No Gabai Bachan (Yoshichi Shimada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s