Mind Blowing, Anfield

image

Divock Origi: “Klopp told us to create a 2nd half that our grandchildren remember.”
Drama tujuh gol. Ini bukan pertama kalinya Liverpool membuat penonton berdecak kagum akan sebuah pertandingan yang sarat keseruan. Laga yang sangat membara, bakar! Bakar! Bakar! Setidaknya di separuh kedua itu tersaji dengan determinasi dan kualitas tinggi. Sesak, tegang, jantung berdegup, panik, sebutkan saja segala jenis kosa kata perasaan yang pernah tercipta layaknya Anda menanti kedatangan seorang kekasih yang lama tak bertemu. Sungguh celaka, orang-orang yang terlelap di malam Jumat kala Liverpool bentrok BVB di stadion Anfield (13/4) dalam tajuk perempat final leg 2 UEL. Pertandingan gila semacam ini hanya muncul dalam 5 atau 6 tahun sekali. Dan beruntunglah saya jadi salah satu saksi Anfield membara yang menakjubkan itu.
Pertama yang harus kalian ketahui, di tulisan ini saya ga akan bermain dalam detail data dan statistik karena di era sekarang informasi semacam itu akan dengan mudah kalian dapat di ribuan situs. Kedua, saya Laziale. Sehingga keputusan saya menyaksikan pertandingan ini semata-mata dari sudut pandang seorang penyuka bola jadi tenang, saya akan tetap (mencoba) objektif. Jumat dini hari Liverpool yang mengantungi satu gol tandang akan bisa lolos bila skor akhir 0-0 atau menang dengan angka berapapun. Memakai ban hitam sebagai penghormatan tragedi 27 tahun Hillsborough, Klopp menyimpan Sturridge. Sementara BVB memainkan seorang target man Emerick Aubameyang, jelas Dortmund mengincar gol secepat mungkin.
Dan harapan itu terkabul. Sesaat setelah kick-off Aubameyang mendapat peluang pertamanya namun sepakan melebar. Tak lama dari itu tepatnya menit kelima sukses Mkhitaryan menaklukkan Mignolet. 0-1. Melalui serangan balik, Miss yang terjadi antara Countinho dan Moreno menjadikan Mkhitaryan bebas mencetak nilai. Start yang buruk. Skor yang sulit buat tuan rumah. Keadaan makin berat ketika Reus  berhasil merebut bola di tengah kemudian Aubameyang menjadikan papan angka 0-2 hanya berselang lima menit. Bahkan kalau mau jujur, harusnya ada 4 gol ke gawang Mignolet sebelum turun minum. Eksekusi akhir Dortmund sedang kurang Oke. Sampai di sini kalian harus tahu, aggregat 1-3 sehingga Reds membutuhkan tiga gol. Ke gawang Weidenfeller? Rasanya mustahil. Babak pertama yang memilukan publik Anfield itu ditutup.
Babak kedua Liverpool yang butuh gol cepat untuk asa mengejar, dan terkabul di menit 47 oleh Origi. Umpan Can dengan sukses dikolong ke Weiderfeller. Gol yang membuat saya menyingkirkan selimut untuk ikut konsentrasi menonton. Origi kepada pers ketika ditanya apa yang Klopp lakukan di tengah babak? “Ayo ciptakan momen agar bisa dikisahkan kepada anak cucu. Buat malam ini menjadi spesial untuk fans!” Berharap mendapat pertandingan yang lebih bermutu. Sayang, konsentrasi pada usaha di depan membuat bagian belakang kecolongan. Melalui serangan balik, Reus yang menerima umpan lambung jeli menempatkan bola di jala Reds menit 57. Skor 1-3, aggt 2-4 keadaan kembali reset di awal babak dua, butuh tiga gol. Saya menarik selimut, untuk menonton sambil tiduran. Menit 62 Klopp melakukan double sub: Firmino dan Adam ditarik diganti Allen dan striker maut Daniel sturridge. Sebenarnya kuncinya di sini. Klopp sukses dalam menangani situasi. Tahu apa yang dibutuhkan saat situasi sulit. Respon cepat guna mengejar ketinggalan. Sang pelatih terus meminta anak asuhnya ofensif. Serangan terus digeber.
Dukungan mengalir, terus bernyanyi ‘You’re Never Walk alone’ jelas membuat tamu semakin gugup. Gol balasan dengan cepat tercipta, wow. Menit 66 melalui umpan Milner, Coutinho mencetak aggt 3-4. Gol khas jarak jauh. Dua gol lagi. Saya ke dapur masak aer. Kelar buang air kecil, papan skor sudah 3-3, Liverpool benar-benar tak menyerah. Reds kini hanya butuh satu gol. Melalui sebuah replay saya lihat gol Sakho tercipta dengan cantiknya. Bek incaran Lazio itu, menanduk bola dari sepak pojok Coutinho. Bek keling itu berdiri bebas di depan gawang sehingga sundulannya membuat gemuruh seisi Anfield. Pertandiang memanas, sepanas kopi yang saya seduh. Malam Jumat yang menegangkan.
Pemain BVB mencoba mengulur waktu. Pemain Liverpool memaksimalkan waktu tersisa. Menit 80 Emre Can cidera. Memaksa Klopp menggantinya dengan Lucas. Tim tamu merubah strategi ke defensif dengan double sub di menit 83. Castro dan Reus ditarik. Si Merah mencoba bola dipaksa secepat mungkin aktif di kala tersisih keluar. Dalam sebuah serangan Reds, umpan lambung ke sisi kiri,  terlalu deras bola keluar lapangan. Sturridge dengan gesit mengambilnya membawa si kulit bundar ke titik tendang Weiderfeller. Kejadian seperti ini saya lihat bukan sekali-dua-kali. Origi melakukan hal yang sama di sisi kanan. Kerja keras yang luar biasa. Tidak manja. Saya yang tadinya ngantuk jadi fokus ke pertandingan. Pemain BVB jumpalitan menahan serangan. Pemain Livepool mengocok serangan spartan. Berondongan peluru yang berharap salah satunya mengenai sasaran itu berkat dorongan semangat Klopp di pinggir lapangan, berkat dukungan penuh suporter. Fan Reds bernyayi, fan Bvb tak mau kalah terus membakar Anfield.
Ternyata malam itu, TAKDIR berkata “Kun” untuk doa-doa fan Liverpool. Yang terjadi, terjadilah. Peluru yang diharap Klopp itu akhirnya benar-benar kena sasaran. Memasuki menit pertama injury time. Detailnya, bola free kick Milner disepak rendah ke arah Sturridge yang ada di kotak penalti, ia berlari menyongsongnya, lalu Daniel menggoreng di sisi kanan. Milner maju membuka ruang dan menerima bola kembali, dengan jeli mendorong bola ke dekat garis dan masih dalam pengawalan ketat, ia menyepak lambung ke tengah gawang. Lomba lompat terjadi, dan beruntunglah Dejan Lovren. Dia memenangi duel udara itu untuk menempatkan bola di pojok yang tak terjangkau kiper. Dan pecahlah seisi stadion. Lovren berlari ke pojok lapangan diikuti pemain lain merayakan klimak cerita. Nyelorot. Merayakan gol yang ajaib, mind blowing Anfield. Kopiku tumpah saking terkejutnya. Semacam analogi klimak bukan?
Twit resmi dari  Liverpool FC (@LFC):
GOALLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLL,  saya ketik persis jumlah ‘g’, ‘o’, ‘a’ dan ‘l’ nya. 3 menit tersisa di injury time berbalik. Dengan skor 4-3 atau aggt 5-4, kini BVB yang terus mengejar bola. Reds membuangnya. Dan yah, apalah tiga menit itu saat sudah di titik puncak. Hanya pemulihan stamina tanpa shot on goal. Fan BVB terdiam, bahkan ada yang menangis. Saat peluit akhir terdengar para pemain Liverpool merayakannya seakan sudah juara. Klopp seperti biasa, agresif ikut dalam euforia. Menyapa penonton, kasih applaus, senyum ceria sebuah tiket semifinal. Keadaan sebaliknya BVB. Fan BVB mungkin berfikir, Klopp jahat terhadap mantan. Inilah hiburan sejati, profesionalisme dibalut thriller. Nolan twist. No no no, skenario Nolan memang kerap mengejutkan namun ini lain. Ini kejutan yang aneh. Tarafnya di atas menumbangkan Norwich City 5-4 awal tahun ini. Tapi tetap yang terbaik final Champion kala menekuk Milan.
Fan BVB, mereka mungkin melakukan sumpah serapah dalam 50 bahasa yang berbeda kepada Klopp, melihat jahatnya sang mantan. Dan saya percaya salah satunya akan terkabul.
Dari 50 itu tentunya tak semua sumpah buruk, bukan? Bisakah ini jadi tropi pertama Klopp di Liverpool? Total kalau lancar masih ada 3 pertandingan. Sebelum ke sana, Reds terlebih dulu harus berhasil menenggelamkan Kapal Selam Kuning. Klopp sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Komentator RCTI berujar, “coba bayangkan seandainya Klopp memegang kendali sedari awal musim, bukan di tengah musim menggantikan Brendan Rodgers.”
Liverpool 4-3 BORUSSIA DORTMUND ( aggregat 5-4)
0-1 Mkhitaryan 5′
0-2 Aubameyang 9′
1-2 Origi 48′
1-3 Reus 57′
2-3 Coutinho 66′
3-3 Sakho 78′
4-3 Lovren 90′
LIVERPOOL: Mignolet; Clyne, Lovren, Sakho, Moreno; Can (Lucas 80′), Milner, Lallana (Allen 62′), Coutinho; Firmino (Sturridge 62′), Origi
BORUSSIA DORTMUND: Weidenfeller, Piszczek, Papastathopoulos, Hummels, Schmelzer, Mkhitaryan, Castro (Guendogan 83′), Weigl, Reus
(Ramos 83′), Kagawa (Ginter 77′), Aubameyang.
Congrats  Reds family on FOC: Jokop, Mads, Iin & Andhika CB
Karawang, 160416 * Peterpan – Ku Katakan Dengan Indah

Iklan

One thought on “Mind Blowing, Anfield

  1. Saya ndak nonton pas liverpool lawan dormund. Saya nonton di youtube besoknya. Luar biasa emang. Sejak ditangani klopp, liverpool jadi penuh gairah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s