The Fencer: Amazing Tale Of Fence

Berdasarkan kisah nyata dari seorang pemain anggar dari Estonia. Dengan embel-embel finish candidate for Oscar 2016: Foreign Language from Estonia / Finlandia, apa yang ditampilkan The Fencer (pemain anggar) sungguh memenuhi ekspektasi. Menonton di kala beberapa saat setelah matahari tenggelam, ditemani kopi pahit dan camilan saya tentu saja berharap sebuah film berkualitas.

Kisahnya terlihat suram sedari awal. Dengan teknik pengambilan gambar yang beberapa kali terulang, orang berjalan kamera mengikutinya sehingga tampak punggung. Endel Nelis (Mart Avandi) adalah seorang mantan serdadu yang mengasingkan diri, buronan. Seorang pemain anggar dari Leningrad, terdampar di Haapsalu sebuah kota kecil di Estonia. Awalnya menjadi seorang pelatih gim di sekolah dasar, tapi karena sang guru adalah atlit anggar, dibentuklah klub anggar. Dengan setting tahun 1952, walau tak dijelaskan tahunnya tapi selintas kita bisa melihat sebuah banner merah diturunkan saat kereta api melintas, banner itu memuat angka 1952. Tahun di mana Estonia masih diduduki Soviet.

Endel terlihat muram sepanjang film. Banyak merenung banyak berfikir. Dirinya seperti dihantui masa lalu yang kelam. Sosok asli Endel tak berjenggot dan berjambang namun di film untuk membuatnya berkarakter ditambahkan. Suatu sore awalnya Endel memasang pengumuman bagi yang berminat main anggar silakan berkumpul. Diluardugaanya yang datang bejibun. Banyak peminat. Salah satu adegan yang menempel di kepala saat Endel didatangi salah satu murid bernama Martha (Liisa Koppel). Lalu Endel memberi pin juara kepadanya. Karena olahraga anggar mahal, butuh perlengkapan dan dana yang tak sedikit mereka harus kreatif mengakali kendala, apalagi pihak sekolah tak memfasilitasinya. Untuk pedang, mereka menggunakan kayu yang dimodifikasi. Latihan rutin, apapun bentuknya akan membuat orang jadi ahli. Begitu juga anggar. Dengan peralatan ala kadarnya mereka menjelma jadi hebat.

Masalah datang saat sang kepala sekolah bimbang karena olahraga ini berbahaya sehingga akan dihentikan. Saat rapat guru dan orang tua/wali murid itulah diambil voting. Dramatis, nyaris semua orang tua mengangkat tangannya agar anggar dilanjutkan! Salah seorang orang tua murid Jaan (Lembit Ulfsak), adalah mantan atlit anggar menyumbang peralatannya. Aura semangat makin tinggi. Sebagai pemanis muncullah Kadri (Ursula Ratasepp) jalan dengan sang guru dan menjalin kasih.

Suatu hari Aleksei (Kirill Karo), sesama atlit datang, mengajaknya segera bergerak meninggalkan Haapsalu. Endel dilema akankah meninggalkan murid-muridnya dan melukai kepercayaan orang tua anak asuhnya ataukah menyongsong masa depan. Dibuatlah adegan dramatis di stasiun kereta, dirinya memutuskan bertahan dan meminta Alexsei mengirim perlengkapan anggarnya. Jreng jreng… makin solidlah tim ini. Suatu hari Martha melihat selebaran ada turnamen anggar antar sekolah di Leningrad. Karena merasa siap, mereka meminta Endel mengirim tim ke sana. Tentu saja Endel menolak, karena dirinya sama saja mengantar nyawa.

Namun perjalanan waktu membuatnya berubah pikiran dan nekat berangkat dengan 4 atlit pilihan. 3 pemain inti: Jaan (Joonas Koff), Lea (Ann Lisett Rebane), Tiiu (Elbe Reiter) dan cadangan: Martha. Sampai di Leningrad mereka terkendala lagi, peralatan mereka yang ala kadarnya tak suport untuk bertanding, pedang mereka tak ada aliran listrik. Melawan sekolah-sekolah kaya nan mewah, mereka kelabakan. Di saat lawan-lawan fokus berlaga, Endel malah kebingungan masalah teknis. Berhasilkah mereka mengatasinya? Apakah hidup Nelis berakhir di sini? See..

Beberapa detail memang dirubah oleh Klaus Haro. Seperti fakta bahwa turnamen anggar saat itu usia antara 13 sampai 14 tahun. Endel Nelis saat  ke Haapsalu tahun 1950 bukan 1952, dirinya berstatus menikah. Lalu dirinya ditangkap bukan sesaat setelah turnamen. Detail itu walau mengurai kekhidmatan tak terlalu menggangu karena masih sangat saru diikuti. Pertandingannya dibuat dengan sangat bagus. Menghibur, deg-degan dan yah ketebak. Saya suka film-film biopic seperti ini. Belajar dari orang-orang hebat. Sayangnya sebelum nonton saya baca ringkasan di back-cover kaset yang berisi sejarah singkat Endel Nelis, sehingga kenikmatan yang didapat tak maksimal. Sebuah film yang gagal masuk di Oscar, sedikit lagi namun tetap sungguh menghibur.

The Fencer | Original title “Meikkailija”| Year 2015 | Directed by Klaus Haro| Screenplay Anna Heinamaa | Cast  Lembit Ulfsak, Mart Avandi, Liisa Koppel, Ursula Ratasepp, Kirill Karo| Skor: 4/5

Karawang, 120416 # Munaf – Pergilah Kau

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s