The Jungle Book – Rudyard Kipling

image

“Cepat kau turun ke perkampungan manusia di lembah dan ambil sedikit Kembang Merah yang mereka pelihara di sana. Jadi, bila waktunya tiba, engkau mungkin saja akan memiliki teman yang kuat dariku atau Baloo atau anggota Kawanan yang mencintaimu. Ambil Kembang Merah itu.” Yang dimaksud Bagheera dengan Kembang Merah adalah api. Tidak satupun hewan di Rimba yang menyebut api sesuai dengan nama aslinya. Setiap makhluk Rimba takut setengah mati pada api, dan membuat ratusan cara untuk menggambarkannya.
Ini adalah kutipan paling terkenal dari buku yang (dulu) paling kuburu. Salah satu kutipan yang paling menghantui sepanjang sejarah literatur dunia. Pertama kali membaca kutipan itu dari novel Inkheart-nya Funke tahun 2009. Dalam salah satu babnya, paragraf The Jungle Book itu dinukil. Berisi kumpulan cerita anak yang ditulisnya tahun 1893-1894 ketika tinggal di Vermort. Awalnya cerita diterbitkan secara bersambung di majalah. Kisah yang berisi pelajaran moral dengan aturan fabel, dimana para tokohnya adalah binatang yang bisa bicara dalam atromorfisme.
Dan kini, waktu yang tepat untuk menulis review The Jungle Book. Ini adalah buku ketiga beliau yang saya baca setelah Angkong Hantu dan Just So Stories. Selain Roald Dahl, tak diragukan lagi Kipling adalah penulis anak favoritku. Penulis Inggris kelahiran Bombay, 30 Desember 1865 ini saat berusia lima tahun pulang ke negara asalnya. Menyelesaikan pendidikan di United Services College, Westward Ho, Bideford. Tahun 1882, Kipling kembali ke India dan bekerja di surat kabar Anglo-Indian.
The Jungle Book berisi 11 bab. Beberapa di antaranya hanya selembar-dua lembar halaman yang berisi lagu-lagu pujian para binatang. Beberapa di antaranya lagi berisi cerpen yang sangat seru. Yang paling terkenal dan dijadikan cover adalah bab berjudul “Mowgli dan Saudara Serigala”, “Lagu Berburu Kawanan Seeon”, dan “Harimau! Harimau!” Beberapa lagi cerita lepas tentang anjing laut putih dari Lukannon dengan misi menyelamatkan kawanannya. Seekor mongoose dengan bulu dan ekor mirip kucing bernama Rikki-Tikki-Tavi melawan ular cobra untuk menyelamatkan manusia. Dan seterusnya dan seterusnya. Namun untuk efektivitas ulasan, saya akan fokus ke Mowgli. Kisah paling saru di buku ini.
Bab pertama, dan inilah yang sering diadaptasi ke layar lebar adalah asal mula Mowgli seorang bayi terdampar di rimba yang lolos dari terkaman Shere Khan, harimau pincang yang ditakuti di lembah dekat sungai Waingunga. Shere Khan baru saja mengubah peta pemburuan dan melanggar Hukum Rimba. Bersama kroninya, serigala jakal Tabaqui – sang penjilat mereka berseteru dengan serigala lokal. Papa dan Mama serigala yang menemukan bayi manusia merasa berhak mengambilnya, sementara Shere Khan mengklaim bahwa bayi itu adalah buruannya yang nyasar ke guanya.
“Anak tak berbulu ini datang di malam hari, sendirian, kelaparan, tapi ia tak takut. Lihat! Dia telah mendorong anakku ke samping. Wahai engkau Mowgli – begitulah kau dipanggil – akan tiba waktunya engkau memburu Shere Khan sebagaimana ia telah memburumu.”
Mowgli akhinya dibawa ke Council Rock – bukit batuan – sebuah puncak yang penuh kerikil dan batuan besar di mana seratus serigala bisa sembunyi. Dipimpin Akela, serigala berbulu abu-abu sidang hak Mowgli dibuka. Untuk menghindari perkelahian, hak asuh Mowgli harus berisi dua minimal dua suara. Kemudian satu-satunya hewan lain yang diizinkan hadir di Dewan Kawanan – Baloo, si beruang cokelat tukang tidur yang mengajari anak-anak serigala Hukum Rimba itu memberi suara ke Papa serigala. “Akan kubela anak manusia ini. Anak manusia tidak berbahaya. Aku memang tak pandai bicara, tapi aku mengatakan kebenaran. Biarkan dia berlari dengan anggota Kawanan yang lain dan bergabung dengan yang lainnya. Akulah yang akan mengajarinya.”
Saat keheningan merayap, muncullah sang Macan Kumbang Hitam, Bagheera. Semua orang kenal dia dan tak ada yang mau berurusan dengannya bila berpapasan. Karena ia licik seperti Tabaqui, berani seperti kerbau liar, belingssatan seperi gajah yang terluka. Tapi ia memiliki suara selembut madu asli yang menetes dari pohon dan kulit yang lebih lembut dari embun. “Aku memang tak punya hak di dalam pertemuan kalian, tapi Hukum Rimba berkata jika ada keraguan yang berhubungan dengan masalah hidup dan matinya seekor anak serigala, hidup anak ini bisa dibeli dengan harga tertentu. Dan hukum tidak menyebutkan siapa yang boleh dan tidak boleh membayar?”
“Sekarang, melengkapi kata-kata Baloo aku memberikan seekor lembu jantan yang gemuk, baru saja aku terkam, kurang dari setengah mil dari sini, jika kalian semua mau menerima anak manusia ini sesuai Hukum Rimba yang ada. Apakah ini sulit?”
Dan akhirnya dengan tebusan seekor lembu, hak Mowgli “si katak” diberikan kepada Papa-Mama serigala. Dia menjadi bagian dari Kawanan Serigala Seeone dengan harga seekor lembu jantan dan kata-kata bijak dari Baloo.
“Seisi hutan ini milikmu. Dan engkau bisa berburu apa pun begitu engkau cukup kuat untuk berburu. Tapi demi nyawa lembu yang telah dikorbankan untukmu, kau tak boleh membunuh atau memakan hewan ternak, baik yang masih muda atau yang sudah tua, selamanya. Itulah Hukum Rimba.” Kata Bagheera
“Aku lahir di hutan. Aku mematuhi Hukum Rimba. Aku pernah mencabut duri di cakar semua serigala yang ada di sini. Tidak diragukan lagi, mereka saudaraku.” Mowgli berujar.
Berikutnya ada petualangan seru selama Mowgli di hutan. Perseteruan tanpa henti dengan Shere Khan. Drama penculikan Mowgli oleh sekawanan kaum monyet Bandar-Log untuk dijadikan pemimpin. Kisah panjang melawan monyet diceritakan terpisah dalam satu bab. Seru, dramatis dan sangat menegangkan. Di mana Mowgli ditarik paksa sekumpulan monyet dan dibawa ke bukit reruntuhan. Dibantu Rann si burung elang yang memantau di atas. Kaa si ular piton batu, satu-satunya makhluk yang ditakuti Bandar-log. Seperti kata Hathi, si Gajah Liar setiap makhluk punya ketakutannya sendiri. Monyet-monyet itu merasa hebat, bebas dan luar biasa. Sayang, ingatan monyet sangat singkat sehingga mereka ingin dipimpin oleh Mowgli sang manusia. Sebelum terlambat, berhasilkah misi penyelamatan Mowgli?
“Hati yang berani dan mulut yang sopan. Kedua hal itu akan membantunya mengarungi Rimba ini, anak manusia. Namun, sekarang cepat pergi dari sini bersama teman-temanku. Pergi dan tidurlah, karena bulan sebentar lagi hilang, dan setelah itu tidaklah baik apa yang kau lihat.” Salah satu indahnya Hukum Rimba adalah hukuman adil untuk semua pihak. Tidak ada yang menggerutu kesal setelahnya.
Bab Harimau! Harimau! Membuat kita tahu siapa ayah-ibu Mowgli dan nama aslinya. Percobaan kehidupan baru Mowgli, adaptasi dengan manusia, mahkluk misterius itu. Tesingkir dari kawanan serigala dan tak diakui oleh warga. Shere Khan yang terus mengejar untuk balas dendam. Dan sebuah mitos di India di mana membakar kumis seekor harimau buruannya untuk mencegah agar arwah sang harimau tak mengantui. Siapakah yang akhirnya bisa bertahan hidup?
Tentu saja saya penasaran berat dengan adaptasi layar lebarnya. Sudah lima hari tayang di bioskop, sejauh ini review yang kudengar positif semua. Saya berencana menonton The Jungle Book minggu ini. Saya tak peduli siapa orang dibaliknya, saya tak peduli seberapa besar para aktornya. Yang pasti setiap ada buku bagus yang pernah kubaca disadur ke film saya sangat antusias. Bagaimana dengan yang satu ini? See…
The Jungle Book | By Rudyard Kipling | Penerjemah Anggung Prameswari | Ilustrasi sampul Dmaz Bodjonegoro | Penerbit Atria | Cetakan I: September 2011 | ISBN 978-979-024-490-0 | Skor: 5/5
Karawang, 120416 #Munaf – Bukan Kenangan

The Fencer: Amazing Tale Of Fence

Berdasarkan kisah nyata dari seorang pemain anggar dari Estonia. Dengan embel-embel finish candidate for Oscar 2016: Foreign Language from Estonia / Finlandia, apa yang ditampilkan The Fencer (pemain anggar) sungguh memenuhi ekspektasi. Menonton di kala beberapa saat setelah matahari tenggelam, ditemani kopi pahit dan camilan saya tentu saja berharap sebuah film berkualitas.

Kisahnya terlihat suram sedari awal. Dengan teknik pengambilan gambar yang beberapa kali terulang, orang berjalan kamera mengikutinya sehingga tampak punggung. Endel Nelis (Mart Avandi) adalah seorang mantan serdadu yang mengasingkan diri, buronan. Seorang pemain anggar dari Leningrad, terdampar di Haapsalu sebuah kota kecil di Estonia. Awalnya menjadi seorang pelatih gim di sekolah dasar, tapi karena sang guru adalah atlit anggar, dibentuklah klub anggar. Dengan setting tahun 1952, walau tak dijelaskan tahunnya tapi selintas kita bisa melihat sebuah banner merah diturunkan saat kereta api melintas, banner itu memuat angka 1952. Tahun di mana Estonia masih diduduki Soviet.

Endel terlihat muram sepanjang film. Banyak merenung banyak berfikir. Dirinya seperti dihantui masa lalu yang kelam. Sosok asli Endel tak berjenggot dan berjambang namun di film untuk membuatnya berkarakter ditambahkan. Suatu sore awalnya Endel memasang pengumuman bagi yang berminat main anggar silakan berkumpul. Diluardugaanya yang datang bejibun. Banyak peminat. Salah satu adegan yang menempel di kepala saat Endel didatangi salah satu murid bernama Martha (Liisa Koppel). Lalu Endel memberi pin juara kepadanya. Karena olahraga anggar mahal, butuh perlengkapan dan dana yang tak sedikit mereka harus kreatif mengakali kendala, apalagi pihak sekolah tak memfasilitasinya. Untuk pedang, mereka menggunakan kayu yang dimodifikasi. Latihan rutin, apapun bentuknya akan membuat orang jadi ahli. Begitu juga anggar. Dengan peralatan ala kadarnya mereka menjelma jadi hebat.

Masalah datang saat sang kepala sekolah bimbang karena olahraga ini berbahaya sehingga akan dihentikan. Saat rapat guru dan orang tua/wali murid itulah diambil voting. Dramatis, nyaris semua orang tua mengangkat tangannya agar anggar dilanjutkan! Salah seorang orang tua murid Jaan (Lembit Ulfsak), adalah mantan atlit anggar menyumbang peralatannya. Aura semangat makin tinggi. Sebagai pemanis muncullah Kadri (Ursula Ratasepp) jalan dengan sang guru dan menjalin kasih.

Suatu hari Aleksei (Kirill Karo), sesama atlit datang, mengajaknya segera bergerak meninggalkan Haapsalu. Endel dilema akankah meninggalkan murid-muridnya dan melukai kepercayaan orang tua anak asuhnya ataukah menyongsong masa depan. Dibuatlah adegan dramatis di stasiun kereta, dirinya memutuskan bertahan dan meminta Alexsei mengirim perlengkapan anggarnya. Jreng jreng… makin solidlah tim ini. Suatu hari Martha melihat selebaran ada turnamen anggar antar sekolah di Leningrad. Karena merasa siap, mereka meminta Endel mengirim tim ke sana. Tentu saja Endel menolak, karena dirinya sama saja mengantar nyawa.

Namun perjalanan waktu membuatnya berubah pikiran dan nekat berangkat dengan 4 atlit pilihan. 3 pemain inti: Jaan (Joonas Koff), Lea (Ann Lisett Rebane), Tiiu (Elbe Reiter) dan cadangan: Martha. Sampai di Leningrad mereka terkendala lagi, peralatan mereka yang ala kadarnya tak suport untuk bertanding, pedang mereka tak ada aliran listrik. Melawan sekolah-sekolah kaya nan mewah, mereka kelabakan. Di saat lawan-lawan fokus berlaga, Endel malah kebingungan masalah teknis. Berhasilkah mereka mengatasinya? Apakah hidup Nelis berakhir di sini? See..

Beberapa detail memang dirubah oleh Klaus Haro. Seperti fakta bahwa turnamen anggar saat itu usia antara 13 sampai 14 tahun. Endel Nelis saat  ke Haapsalu tahun 1950 bukan 1952, dirinya berstatus menikah. Lalu dirinya ditangkap bukan sesaat setelah turnamen. Detail itu walau mengurai kekhidmatan tak terlalu menggangu karena masih sangat saru diikuti. Pertandingannya dibuat dengan sangat bagus. Menghibur, deg-degan dan yah ketebak. Saya suka film-film biopic seperti ini. Belajar dari orang-orang hebat. Sayangnya sebelum nonton saya baca ringkasan di back-cover kaset yang berisi sejarah singkat Endel Nelis, sehingga kenikmatan yang didapat tak maksimal. Sebuah film yang gagal masuk di Oscar, sedikit lagi namun tetap sungguh menghibur.

The Fencer | Original title “Meikkailija”| Year 2015 | Directed by Klaus Haro| Screenplay Anna Heinamaa | Cast  Lembit Ulfsak, Mart Avandi, Liisa Koppel, Ursula Ratasepp, Kirill Karo| Skor: 4/5

Karawang, 120416 # Munaf – Pergilah Kau