Derby #144

image

A Roma Solo La Lazio — Derby Della Capitale adalah hajatan besar yang selalu kita sambut dengan gegap gempita. Setiap musim minimal ada dua laga yang selalu menyibukkan Laziale. Seluruh region Lazio Indonesia menyiapkan acara semeriah mungkin. Musim lalu kita LIRK (Lazio Indonesia Region Karawang)  berkunjung ke Bekasi (UBC – Ultras Bekasi Celeste). Leg pertama musim 2015/2016 saya lalui di Cibubur dalam tajuk Trofeo Lazio Indonesia lalu merentang jauh ke Purwakarta. Selalu meriah, seakan derby della capitale adalah ritual keagamaan. Satu hal yang pasti, jangan menyatukan nonton bareng Laziale dan Romanisti. Tahun lalu saya lalui bersama lawan dengan akhir yang kurang enak. Walaupun berikrar damai, tetap saja panas dengan chant dan saling ejek. Foto bareng? Jangan harap, bahkan untuk sekedar berjabat tangan-pun kita tidak. Maka sungguh mengherankan Derby yang digelar hari ini, 3 April 2016 mereka mengundang kita untuk nonton bareng lagi. No way. Mungkin mereka terlampau pede akan menang. Dengan gap 18 poin dan performa akhir-akhir ini yang bertolak belakang. Roma tak terkalahkan dalam 9 partai terakhirnya, dengan 8 di awalnya poin penuh. Seram? No! Justru dalam partai besar inilah kita akan mematahkannya.
Kalau diminta memilih manakan Derby yang paling saru untuk diingat? Gol Lucas Castroman di detik terakhir tahun 2001 adalah orgasme memabukkan. Walau skor sama kuat itu satu poin bagai sebuah kado Santa Claus. Saya ingat betul detailnya. Saat itu mereka sedang on fire menuju juara. Roma seakan-akan menang mudah setelah gol Batistuta dan Delvecchio membuat skor 2-0. Lalu Nedved memperkecilnya di menit 78. Saat Laziale sudah tertunduk lesu sampai menit 94, muncul tendangan geledek Lucas Castroman. Amazing! Lalu Gol Klose bulan Oktober 2011 yang dicetak di menit terakhir yang menjadikan skor 2-1. Bersama Zul kita berteriak dini hari tak terkendali. Saat itu Roma dilatih Luis Enrique, pelatih Barca saat ini. Luis dengan bodohnya menurunkan 10 pemain non pengalaman derby di starter. Seperti menyepelekan, kita kedodoran di awal laga sehingga mereka memimpin cepat lewat Osvaldo. Sepanjang babak pertama mereka menguasai derby. Harapan itu muncul menit 51 ketika Brocchi dijatuhkan kiper. Pinalti plus kartu merah. Tendangan Hernanes sukses. Sisanya adalah hura-hura menonton musuh tunggang langgang. Tendangan Miro nerpa mistar, salto Djibril Cisse juga kena gawang. Seakan-akan bintang-bintang the Great sengaja menertawakan carut marut pertahanan Roma. Benar-benar seperti penyiksaan sebelum final shot Klose di menit injury time membunuh mereka. Klose yang lolos jebakan off-side setelah menerima umpan Matuzalem menyepak bola dengan sangat tenang. Croot! Klimak lagi. Kuharap momen indah itu terulang malam nanti.
Musim ini adalah musim yang buruk. Target Scudetto sudah lepas bahkan saat sebelum tengah musim. Di Coppa kita tersingkir menyedihkan. Di Europa League yang lebih menyakitkan. Sungguh mengherankan dengan skuat sebagus ini kita lagi-lagi terpuruk. Jangan salahkan cidera pemain sebagai biang. Stefan cidera sedari awal musim gara-gara membela Belanda. Jangan salahkan Curva Nord yang memboikot gara-gara suara kami Libera La Lazio tak didengar. Kabarnya tiket Derby hanya terjual 4.000 lembar. Jadi bisa dipastikan malam nanti Olimpico sepi. Kuncinya tetap di pelatih. Strategi yang monoton. Keras kepala dengan memainkan pemain yang itu-itu saja. Bintang-bintang Primavera tak dimaksimalkan. Musim depan harus dirombak. Harus direvolusi. Harus jeli siapa bertahan siapa hengkang. Maka pelampiasan segala kemuakan itu harus dihantamkan hari ini kepada rival sekota. Entah bagaimana caranya, derby adalah gengsi besar. Wajib menang.
Kabar buruk menghampiri. Banyak pemain kunci absen. Daftar pemain cidera atau meragukan tampil: Berisha, Stefan, Radu, Basta, Morison, Konko, Kishna, Savic, Lulic. Bayangkan lima bek absen! Yang paling krusial tentu saja jimat Lord Konko yang juga tak bisa main. Partai sebesar ini memungkinkan kita memainkan pemain muda. Dari info whoscore, Lazio the Great kemungkinan memainkan empat pemain muda penuh talenta sebagai starter Patric (1993), Hoedt (1994), Cataldi (1994) dan Felipe (1993). Strategi 4-3-3 kemungkinan akan kembali dipakai dengan penyerang Matri sebagai andalan. Dari hasil laga sebelumnya lawan Milan kita tahu lini tengah perlu dibenahi. Pioli terlalu mengandalkan Felipe Anderson, sehingga ketika wonder kid ini dikunci kita tak punya rencana cadangan. Gol hanya terjadi lewat bola mati, lagi-lagi Parolo. Sehebat-hebatnya Felipe kalau tak didukung pemain lain ya abot. Lupakan Morison yang sudah hampir pasti dilepas. Felipe ini cocoknya bermain sebagai playmaker tepat di belakang dua striker bukan di sayap. Beberapa kali Pioli malah menaruhnya di kanan di depan Savic. No, Felipe adalah kuda pacu ofensif The Great. Dia akan maksimal dengan umpan terobosan dan sesekali kalau ada peluang shot jarak jauh.
Untuk striker murni rasanya kesempatan untuk Filip Djorjevic sudah cukup. Entah kenapa sang world class striker ini menurun setelah cidera panjang. Menit bermain yang diberi sudah sangat melimpah namun tak kunjung kembali menemukan sentuhan hebatnya. Bayangkan saja penyerang bermain terus dalam 16 laga dan tak mencetak sebiji gol-pun. Aneh, jelas ada yang salah. Bijaknya dia cadangan. Saya tak pernah meragukan Klose. Mudah-mudahan Miro bisa pensiun di Lazio. Kalau akhirnya akhir musim dia pergi, saya akan selalu mengenangnya sebagai salah satu legenda besar. Jadi karena kemungkinan ini adalah Derby terakhir beliau, please pasang Miro sejak menit pertama. Tentunya ini adalah pertandingan emosional. Ingat dia pernah menjadi bintang saat derby lewat gol dramatisnya. Sehingga tentunya dia akan menggunakan segenap tenaga untuk cetak gol demi sorak sorai Laziale. Keita bisa jadi pasangan yang pas. Tepat tiga tahun lalu adalah memori indah Keita Balde saat mencetak gol kala Lazio menekuk Roma di primavera grup C. Memori yang pantas untuk diulang di level yang lebih tinggi. Namun fakta bahwa Keita lebih bermain trengginas sebagai pemain pengganti tak boleh diabaikan. Terakhir kali Keita main sebagai starter adalah 31 Januari 2016. Walau menit bermainnya lebih sedikit, tapi saat dipercaya dia selalu bisa diandalkan. Dia adalah pemain yang paling sering “memberi” pinalti. Namun dari situs infostarda, striket murni yang dipakai adalah  Matri. Sejujurnya saya kurang suka sama pemain ini. Pemain yang sukanya “nunggu” di depan gawang lawan. Minim kerja keras. Senggol dikit jatuh. Body contact lemah. Dan sering komplain ke wasit dengan kedua tangan di depan dada, mata memelas, dan mulut nerocos minta kartu. Khas Italiano. Beberapa gol Matri terjadi lewat kepala. Seringnya lewat serangan balik lolos offside atau umpan menyilang yang dituntaskan tendangan pelan mendatar. Efektif sih kalau posisinya kita unggul lalu memarkir bus sehingga lawan melakukan serangan frontal untuk segera membalas. Untuk partai sebesar Derby terlalu beresiko. Namun kalau Pioli tetap memainkannya kuharap dia kasih andil.
Untuk posisi tengah jelas tak tergantikan peran sang kapten Lucas Biglia. Dia adalah motor penyeimbang. Bagus menyerang, hebat bertahan. Tak ada keraguan. Kepada Lazionews Biglia berujar: “Pertandingan melawan Roma? Kami akan mengalahkan mereka dan melakukan apapun yang kita bisa. Ini sangat penting karena bisa menjadi akhir musim yang indah.” Terima kasih Big player. Tunjukkan! Parolo adalah tandem yang kini sedang on fire. Beberapa golnya via bola mati terutama korner adalah jawaban kekesalan gagal dalam permaina  terbuka. Satu lagi sepertinya akan ditempati Candreva. Pemain tengah yang sering menjelma manjadi striker bayangan. Kalau sedang dalam keadaan terbaik, shot jarak jauhnya asyik dilihat. Candreva sendiri sebenarnya hampir keluar musim lalu andai tak diming-imingi ban kapten. Walau akhirnya kita semua tahu ban itu melekat di lengan Biglia akhirnya. Sempat kecewa namun janji bermain reguler membuatnya tetap masih taraf bagus. Sebenarnya saya lebih suka Savic yang permainannya lebih ngotot dan fisik sangat prima dengan visi bermain lebih jelas. Siapapun yang dipilih sokong terus Felipe dengan bola manis.
Di bagian belakang harus diakui titik lemah ada di bek tengah. Kehilangan Stafen adalah pukulan telak. Lord Konko dipastikan absen. Milan Bisevac ternyata terlalu gegabah, memang kuat dalam bertahan namun emosional, sungguh berbahaya kalau dimainkan di partai panas. Kabar dari La Gazetto Dello Sport bek muda primavera Patric akan memulai debut starter-nya. Oke anak muda tunjukkan kepada dunia, gelar juara level junior bukanlah sebuah kebetulan. Dia akan diduetkan dengan pemain muda nan tampan lainnya Hoedt. Duet patennya memang bersama Stefan yang sama-sama dari Hollanda. Dua bek muda di jantung pertahanan lawan Roma? Sangat beresiko. Pioli sepertinya nge-poor. Di bek kiri Lu71c mulai paten. Lulic adalah legenda besar. Golnya di final akan dikenang terus sampai 50, 100 tahun ke depan. Maka wajar dia selalu masuk line up. Sayangnya dia meragukan tampil. Satu lagi pemain yang jarang main akan krusial di partai ini adalah bek tua lulusan Bayern Muechen Braafheid. Ini pemain angin-anginan, kadang bagus seringnya loyo. Susunan pemain yang aneh bukan? Ini derby!
Di bagian kiper saya sudah habis sabar sama Machetti. Salah satu dosa besarnya adalah di derby leg satu dia blunder. Tendangan lemah mengarah padanya dia terlalu maju sehingga mereka unggul dua gol yang sulit. Ini kiper kebanyakan tingkah. Petakilan. Masih ingat cideranya saat laga EL dia bersorak kegirangan meyarakan gol. Konyol. Pintu keluar kami buka lebar. Berisha cidera. Berharap Guerrieri main rasanya mustahil. Bintang primavera ini sayang sekali jadi kiper ketiga. Selama di bawah pioli, rasanya pemain muda akan sulit berkembang. Musim depan posisi kiper kuharap sudah dipegang olehnya.
Pioli adalah manager terbaik kedua Italia di bawah Max Allegri dalam penghargaan Manager of the Year bulan Maret lalu. Ironis memang musim pertamanya bersama kami sangat impresif, musim ini seakan kehilangan jiwa permainan. Dengan keberhasilan mempertahankan bintang harusnya Pioli tetap bisa bersaing juara. Bahkan saking kesalnya, mantan pemain Lazio Sebastian Veron baru-baru ini bilang cita-citanya adalah menjadi Presiden Lazio menggantikan Lotito dengan Diego Simeone pelatihnya dan Alesandro Nesta menjabat direkturnya. Wow, please kembalilah ke Italia La Bujrita!
Terakhir sebagai penutup. Musim ini memang sudah luluh lantak di berbagai kompetisi. Namun dalam Derby tak boleh ada yang salah. Inilah partai penentu penguasa ibu kota Italia. Genggem erat tangan kami. Doaku selalu menyertai setiap langkah pemain berkaos kaki biru di Olimpico malam nanti. Jangan menyerah elangku sayang. #ForzaLazio #BisognaVincere #AvantiLazio #NonMollareMai #LazioTiAmo
Perkiraan formasi (4-3-3): Machetti; Patric, Bisevac, Hoedt, Braafheid; Cataldi, Biglia, Parolo; Candreva, Matri, Felipe Bale anderson — Cadangan: Guerrieri, Matosevic, Gentiletti, Mauricio, Mauri, Onazi, Keita, Klose, Djorjevic
Karawang, 030416 – Kyle Minogue: chocolate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s