Lucid: Exploring The World Of Lucid Dreaming

Some dreams can make you fade away

Pertama kali lihat buku ini pada akhir tahun 2014 saat di Gramedia Solo. Pengen beli namun kebentur budget akhirnya hanya saya foto, simpan lalu terlupakan. Sampai akhirnya malam Minggu kemarin (26/3) nemu lagi di toko buku Kharisma – KCP, Karawang. Malam minggu jalan sama May, Hermione dan kedua adik ipar itu saya lalui dalam toko buku penuh sementara mereka jalan-jalan ga jelas. Tanpa pikir dua kali langsung saya pilih.

Pertama kover-nya unik. Dengan latar warna hijau muda, dua remaja perempuan saling berlawan hadap atas dan bawah tertulis di antaranya judul buku. Gambarnya agak blur karena ini cerita tentang mimpi. Lucid dreamng kurang lebih berarti keadaan ketika kau menyadari bahwa kau sedang bermimpi. Kisah luar biasa nyeleh. Heran, kenapa ga kepikiran untuk membuat cerita seperti ini. Jadi kisahini diambil dari dua sudut pandang berbeda. Dua karakter satu tubuh. Maggie tahu ia bermimpi ketika Sloane sedang terjaga. Seperti ketika dia sedang bermimpi saat Sloane tertidur. Bolak-balik, Maggie tidur Sloane bangun. Sloane tidur, Maggie bangun. Sepanjang cerita kita akan disuguhi gitu terus sampai akhir. Dengan saling memimpikan mereka berusaha lari dari realita kehidupan masing-masing. Namun, semakin dalam mereka hanyut dalam mimpi itu, mereka menyadari sebuah keganjilan. Salah satu dari mereka tidaklah nyata, dan mereka harus berjuang mempertahankan eksistensi masing-masing. Karena salah satu dari mereka harus menghilang selamanya. Hebat! Ide hebat.

Kalimat pengantar halaman pertama buku ini adalah klu paling masuk akal untuk dipegang apalagi ditelaah setelah selesai baca. “Saat ini aku adalah Maggie. Sebenarnya namaku adalah Sloane Margaret Jameson, tetapi sudah menjadi Maggie setelah siang itu ketika guru taman kanak-kanakku memanggil ibuku Nicole bahwa Sloane menonjok mulut Devin Chuiksank.” Saya sendiri beberapa kali terkecoh sama wajah Maggie, kenapa? Karena dengan jeli duet ini menyimpan kejutannya. Seperti nasehat Nicole: Jangan terlalu kaku, jangan takut akan tubuhmu, tapi beri batasan sendiri. Sedangkan ayahnya Benjamin akan berkata: Jangan menanyakan pertanyaan yang tak kau ingin dengar jawabannya. Dan itu benar-benar memberiku jawaban yang tak ingin kudengar. Ini adalah klu penting yang akan memberi twist di kalimat akhir. Maggie adalah seorang aktris remaja yang berjuang untuk mendapatkan peran Robin dalam buku the Standart. Dia tak sekolah seperti remaja umumnya karena mengambil kelas rumah. Tinggal di Manhatan, New York di sebuah apartemen bersama ibunya yang super sibuk Nicole bekerja sebagai editor majalah Elle dan adiknya berusia tujuh tahun Jade.

Petunjuk berikutnya adalah Sloane (nyaris) selalu bangun dengan melihat pohon elm di luar jendela. Setiap kita memasuki bab Sloane kita akan diajak melihat ilustrasi pohon itu. Hati-hati, itu menjebak. Seperti kalimat pembuka paragraf kedua, “Namaku Sloane Margaret Jameson. Aku tak pernah meninju mulut orang yang bernama Devin Chuiksank karena aku tak pernah bertemu orang dengan nama Devin Chuiksank…” Nah lo. Ambigu-kan. Sloane adalah seorang pelajar kutu buku, seorang penyendiri yang mempunyai kerja sampingan sebagai assiten dokter hewan. Tinggal di Mystic, Connecticut bersama kedua orang tua dan dan dua saudara.

Banyak referensi dari buku dan film lain. Karena Maggie adalah aktris dan Sloane adalah kutu buku maka banyak judul buku-film berseliweran. Mulai The Trial-nya Kafka, Sound and Fury, The Standart, The Golden Girls, Philadelphia Story, The Nun’s Story, The Little Prince, An Occurrence at Owl Creek Bridge, Siddhartha sampai the Girl With The Dragon Tattoo. Karena saya sudah menyaksikan dan membaca sebagian besar dari itu tentu saja ikut terhanyut. Seru melihat trivia itu berseliweran.

Beberapa dialog-nya terdengar romantis, seperti dinukil dari buku sastra.

“Kau tahu apa yang membuatku takut?” | “Silverfish. Berlendir banget” | “Oh yeah itu, hanya saja aku sangat takut kalau kau sudah menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku, kau akan bosan setengah mati dan betanya-tanya kenapa dulu sampai bertemu denganku”

“Waktu aku masih kecil, seorang penyihir melayang di luar jendelaku di malam hari. Aku ketakutan. Aku ketakutan olehnya, tapi juga senang. Aku tahu bahwa begitu aku lengah, penyihir itu akan masuk melalui jendelaku, ke tempat tidurku, dan menguasaiku. Aku menahannya di luar jendela dengan ritual yang kulakukan setiap malam.”

Sebenarnya latar cerita tak menarik. Remaja putri jelang sweet seventeen dengan problematikannya. Mulai konflik tentang pacar, rumitnya belajar, masalah dalam keluarga. Ga menarik sebenarnya. Yang luar biasa adalah pembawaan dalam bertutur. Terlihat sekali berpengalaman menyusun joke dan ironi. Lucid dream sendiri sebenarnya adalah sisi panjang yang (sepertinya) terasa tak berkesudahan. Fakta menyakitkan karakter ditutup dengan pintar sehingga pembaca digiring untuk membentuk opini lain. Hebat.

Karena sedari awal kita sudah diberitahu bahwa hanya satu yang akan bertahan sementara satu lagi lenyap, setiap lembarnya selalu memberi tanya siapakah yang akan ‘dimatikan?’ Beberapa bagian mengungkap betapa Maggie-Sloane terlihat seperti orang gila karena tak bisa membedakan mana maya-mana nyata sehingga nyaris membuat dia bunuh diri. Yah, mungkin seperti itulah kasus bunuh diri yang menggelayuti manusia. Dalam pikiran terbesit bahwa hidupnya hanya fatamorgana, hanya ilusi sehingga merasa apapun yang dilakukan tak penting lagi. Siap mati setiap saat. Ada adegan yang memperlihatkan, sang tokoh bahkan berdiri di atas rel kereta api siap menyambut kereta datang. Benar-benar seram.

Sepertinya hanya tinggal tunggu waktu saja, buku ini akan diadaptasi ke layar lebar. Materi yang bagus. Ditulis duet oleh Ron Bass dan Adrienne Stoltz. Ron adalah penulis scenario untuk film-film bermutu macam Rain Man, My Best Friend’s Wedding dan The Joy Luck Club dan telah berkolaborasi lebih dari sepuluh tahun. Sehingga wajar, kisahnya berkelas dan sangat padu. Ini hanya buku permulaan mereka, saya sangat meyakini duet ini akan menulis novel ke depannya dan sangat layak ditunggu.

“Selamat malam cantik, semoga aku ada dalam mimpimu.”

Lucid | By Adrienne Stoltz & Ron Bass | terbitan Rozor Bill an imprint of Penguin Group, New York | copyright 2012 by Predawn production, Inc., and West Mystic Work, Inc | Penerjemah Sujatrini Liza | Indonesian language translation copyright 2013 by Noura Book | Penerbit Mizan Fantasi | Cetakan I, Desember 2013 | ISBN 978-979-433-7744-5 | Untuk istriku Christine tersayang, yang menciptakan kebahagian dan kedamaian di dalam diriku sehingga aku sanggup berkreasi. Dan, untuk anak-anakku tercinta Jennifer dan Sasha karena telah mengajariku kebenaran terpenting dalam sejarah manusia: cinta tanpa syarat itu memang ada. – Ron | Untuk Flutter dan B. – Adrienne | Skor: 4/5

Karawang, 010416 – Jumat siang Bunga Rose bersama Sherina.

Iklan

2 thoughts on “Lucid: Exploring The World Of Lucid Dreaming

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s