Creed: An Exhilarating Showcase Michael B. Jordan

image

Rocky Balboa: Women weaken legs
Saat pelatihan Adois mengenakan celana training dengan tulisan: “Why do I wanna fight? Because I can’t sing and dance…” Ini adalah line dari Rocky ke Adrian di film pertama Rocky saat mereka akan main ice skating. Sebuah trivia menarik, dan kalian akan banyak menemukan hal serupa. Satu lain trivia serunya adalah nama Adois, itu bukan sembarangan nama karakter. Adois adalah salah satu nama Demi-God Yunani melanjutkan tradisi Apollo yang juga nama dewa. Alasan utama menyaksikan ya karena Sylvester Stallone jadi kandidat Oscar.
Penasaran bagaimana aktor kawakan ini membawakan serial tinju di masa tuanya.
Sedari kecil Adois Johnson (Alex Henderson) suka berkelahi. Selalu berpindah dari penampungan yayasan sosial satu ke yang lain. Suatu hari saat di-strap dirinya mendapat kunjungan spesial dari seorang wanita, Mary Jane Creed (Phylicia)  yang mengatakan bahwa dia adalah ibunya. Dan dirinya adalah anak dari seorang petinju besar, Apollo Creed.
Film lalu melompat jauh ke depan. Kini Adois Johnson (dimainkan dengan brilian oleh Michael B. Jordan) sudah dewasa dan bekerja sebagai seorang akuntan. Dengan pekerjaan yang menjanjikan di kantor, sebuah promosi jabatan ditawarkan Adois namun malah meminta mundur. Sebagai anak dari legenda tinju, dirinya ingin melanjutkan kebesaran sang ayah. Perlu diketahui, Apollo mengalami akhir yang mengenaskan di karier tinjunya. Karena itulah Mary Jane melarang Adois mengenakan sarung tinju. Sampai mengancamnya tak akan menghubungi, namun yang namanya naluri, dan bakat yang sudah mengalir deras dalam tubuhnya Adois nekat menuju Philadelphia, Pennsylvania untuk memulai karier tinju pro.
Ada adegan mengharukan saat Adois awal tiba di kafe yang memajang foto-foto Rocky Balboa, bertemu dengannya lalu memintanya melatihnya karena dia adalah putra Creed. Stallone memainkan mimik terkejut, minta maaf sekaligus menyanjung dengan sangat bagus. Menolaknya karena era itu sudah berlalu. Namun dengan kegigihannya luluh juga hati Rocky. Dan sepanjang film jangan harap melihat Rocky naik ring, karena dia hanya akan jadi mentor yang tangguh.
Ada adegan yang bikin senyum saat Adois meninggalkan Rocky dalam kebingungan setelah memfoto tip latihan tinju dan meninggalkan kertasnya. Rocky tanya: Hey don’t you want this? Adois bilang sudah ada di dalam HP. Lha kalau hilang bagaimana? Adois jawab itu sudah ada di Cloud. Tentu saja Rocky yang beda zaman kebingungan sambil lihat awan, “what cloud?”
Dalam apartemen, Adois yang terganggu tetangga karena musik yang berisik mencoba menegurnya. Muncullah Bianca (Tessa Thompson) yang meminta maaf. Pandangan pertama menjatuhkan cinta. Bisa ditebak mereka akan jadian. Ada kejanggalan di adegan ini. Saat Adois mengetuk pintu, musik dalam kamar terdengar sangat kencang. Setelah pintu dibuka dan mereka berbincang musik langsung menghilang. Setelah pintu kembali ditutup, musik langsung kencang lagi. Well, siapa yang memainkan tombol suara? Bianca adalah penyanyi kafe dan diperankan oleh Tessa dengan bagus, kenapa? Karena ternyata Tessa adalah penyanyi asli dan menyumbang tiga lagu untuk soundtrack: Grid, Breathe dan Shed You.
Film selanjutnya menyorot kerja keras Adois menuju panggung tinju. Berlatih lari tanpa henti. Berlatih tinju di sasana tinju bersama orang-orang lama Rocky. Setelah berbulan-bulan berlatih intens akhirnya muncul juga kesempatan pertandingan resmi pertama. Langsung berhadapan dengan Danny “Stuntman” Wheeler (Andre Ward)  sang juara kelas bulu ringan yang memilki rekor tak terkalahkan. Stuntman adalah anak didik dalam satu sasana Adois. Harapan masa depan tinju Amerika. Pertandingan pertama ini dibuat dengan sangat seru. Adois menunjukan semangat pantang menyerah, penuh determinasi yang instan membuatnya terkenal.
Dari kota Liverpool, Inggris mereka mempunyai petinju unbeaten “Pretty” Ricky Conlan (dimainkan dengan sangat bagus oleh petinju asli Liverpool Tony Bellew). Dengan background stadion Goodison Park, sebuah base town klub sepak bola Everton. Hingar bingar kebanggaan British. Oiya Sylvester Stallone adalah fan berat Everton sehingga bisa jadi pemilihan lawan dengan latar kota pelabuhan ini adalah idenya. Adegan fan Everton yang hingar bingar itu sendiri dinukil dari pertandingan lawan West Brom Albion untuk menyatakan partisipasi Everton. Kalau kalian jeli kalian akan melihat pelatih Roberto Martinez di sana. Keseruan terselubung. Ah…, suatu saat saya akan buat cerita dengan latar Lazio dan Olimpico bergemuruh bersama Curva Nord-nya. Melihat perkembangan Adois yang kini sudah mencapai 16 kemenangan tak terkalahkan, sang promotor Conlan mengajak duel dengan syarat Adois menggunakan nama Creed agar pertandingan lebih menjual. Awalnya Adois menolak mengenakan nama sang ayah, namun setelah dibujuk Bianca dan ini adalah kesempatan menjadikannya makin besar ditemukanlah kesepakatan. Pertandingan akbar menuju klimak cerita. Berhasilkah Adois Creed menyabet gelar juara?
Well, adegan final saat Adois menuju ring ditampilkan dengan megah. Kamera menyorotnya tanpa putus, berputar mengelilinginya sambil dilatih ringan lalu melangkah ke arena. Dengan sorakan penonton yang mendukung Conlan sebagai taun rumah, membuat penonton ikut merasakan gemuruh dan kengerian jelang pertandingan. Tinjunya sendiri meledak dengan tensi tinggi. Seru, sesak dan berdarah-darah. Luar biasa. Karena ekspektasiku yang sederhana, klimak film terasa menohok. Apalagi saat adegan saat menyorot wajah Carl Weathers (Apollo Creed) “merasuki” tubuh Adois itu. Sungguh membuat merinding.
Penampilan Sylvester  Stallone sangat bagus. Layak jadi nominasi Oscar. Apalagi adegan saat dia didiagnosa sakit keras itu. Duh mimik sang juara dunia di usia senja ditampilkan dengan getir. Tapi memang Mark Rylance tampil lebih bagus dalam Bridge Of Spies, wajar Stallone kalah. Ini adalah film pertama seri Rocky yang tak ditulis olehnya, awalnya Rocky Balboa (2006) diniatkan adalah film pamungkas. Dia bilang,”No no no film ini sudah selesai dan saya bahagia akan akhir Rocky Balboa (2006) dan tak ingin merusaknya.”  Namun setelah dibujuk banyak pihak terutama Ryan Coogler sang sutradara, Stallone luluh juga ambil andil. Creed adalah film dengan jeda paling lama dalam serial Rocky. Sembilan tahun baru rilis lagi. Pertanyaannya apakah ini adalah akhir dari saga Rocky? Saya bisa pastikan tidak. Penampilan memukau Michael B. Jordan sudah jadi jaminan estafet Rocky berlanjut. Dialah spotlight film ini. Jordan sendiri terinspirasi oleh penampilan petinju Timothy Bradley, Pernell Whitaker dan Andre Ward. Ini adlah penampilan keduanya berakting sebagai petinju setelah di tahun 2010 dalam episode Law and Order: Criminal Intent. Dan jelas skalanya jauh berbeda. Ini adalah film besar penyambung saga Rocky. Semoga warisan besar ini tak membebaninya.
Creed | Year 2015 | Directed Ryan Coogler | Screenplay Ryan Coogler, Aaron Covington | Cast Sylvester Stallone, Michael B Jordan, Tessa Thompson, Phylicia Rashad, Tony Bellew | Skor: 3,5/5
Karawang, 260316 – Abdullah v Takeshi and Zulk

Iklan

One thought on “Creed: An Exhilarating Showcase Michael B. Jordan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s