Lazio: Tim Terbaik Di Dunia Dan Akhirat

image

Satu hari ini mungkin akan sangat kesel, bete dan eneg. Makan kayak kunyah koral. Minum macam menegak air comberan. Kerja ga fokus pengennya marah-marah. Emosi labil. Waspada aja Jumat berkah ini. Benar kata bung Jacky, salah satu teman di grup Football On Chat. Harusnya saya tetap tak berharap Lazio melaju lebih jauh di EL. Karena sejak awal musim saya selalu berdoa Lazio secepatnya tersingkir agar fokus ke Scudetto. Nyatanya Lazio terus lolos sampai 16 besar dengan rekor tak terkalahkan. Lalu kemarin Juve Haha tersingkir yang menjadikan Lazio sebagai satu-satunya wakil Italia yang tersisa. Harapan itu menjadikan langkah kita berat. Dalam sehari saya berbalik menjadi SANGAT berharap Biancoceleste lolos sampai final. Garapan yang jadi boomerang.
Doa-doa dan asa itu malah menjadi aib. Memalukan. Sungguh memalukan. Menyapu rata 5 pertandingan kandang di EL sebelumnya, hanya membutuhkan skor 0-0, atau menang dengan skor berapa-pun, Pioli merusak segalanya. Padahal Olimpico sudah ramai kembali setelah berbulan-bulan diboikot Curva Nord. Benar-benar keji apa yang diberikan Pioli ini, menang tipis aja susahnya minta ampun.
Bisevac dan Hoedt pergilah kalian dari Olimpico. Jersey Elang biru ini terlalu istimewa untuk kalian kenakan. Dalam lima belas menit, harapan Laziale dan seluruh warga Italia kalian rusak. Kekalahan di saat yang tak tepat. Borek Dockal, Ladislav Krejci, Lukas Julis. Ketiga nama asing itu membuat satu-satunya harapan Italia di Eropa pupus sudah. Jerrsey hitam yang anehnya dikenakan di kandang itu sebaiknya di museum-kan. Terlalu dark, terlalu buruk untuk dikenang. Kekalahan di kandang dengan skor gap 3 gol adalah yang pertama setelah tahun 2003 tumbang 0-4 di tangan Chelsea. Kekalahan yang memalukan ini harusnya jadi pelajaran berharga untuk manajemen memecat Pioli.
Saya jadi ingat pelatih yang satu ini: Petkovic. Datang dengan harapan kecil karena siapa yang kenal beliau? Bermain dengan hati. Berani memainkan banyak pemain muda: Cavanda, Perea, Onazi, sampai Keita. Benar-benar memainkannya dengan menit yang banyak. Dengan modal kecil namun berhasil membawa juara Coppa 2013. Di final mengalahkan seteru tetangga pula. Bandingkan dengan Pioli. Dengan skuat penuh bintang, hasilnya papan medioker. Musim ini praktis sudah habis. Di Liga sudah melewati zona salvation 40. Di copa sudah tersingkir. Jadikan pertandingan sisa untuk persiapan musim berikutnya. Jadikan pemain yang pernah berjersey Biru pelatih berikutnya: S Inzaghi, S Mihajlovic, M Oddo, R Mancini bahkan D Someone kalau perlu diculik. 
Berat sekali menyaksikan tiga gol dalam setengah babak bersarang di tim kesayangan kita. Namun yang membuat bangga adalah mereka terus bermain sportif, terus berlari, berlari dan berjiwa besar. Dan saat peluit panjang terdengar, kamera menyorot seisi Olimpico, Laziale tetap berdiri sampai waktu benar-benar habis. Tepuk tangan tetap membahana untuk tim yang sedang di titik nadir. Air mata meleleh, silakan. Kesedihan menerpa kita semua. Kemarahan dan caci maki mungkin hal yang wajar. Salah satu kunci perbaikan krusial tentu saja secepatnya memecat Pioli. Tak ada keraguan dialah biang memalukan ini. Terima kasih Lazio, maaf Italia.
Kebanggaan utama sebuah klub (sederhana) memang bukan kemenangan, bukan pula deretan piala di lemari namun kesetiaan para fan. Lazio, (bagiku) tetap tim terbaik di dunia dan akhirat. Non Mollare Mai.
Karawang, 180316 – Lazio da sola, il gente Laziale non ti lasceremo mai

Advertisements

One thought on “Lazio: Tim Terbaik Di Dunia Dan Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s