Trumbo: Inspirationally Triumphs

image

Dalton Trumbo : Friends? What friends? Who the hell has the luxury of friends? Saya selalu senang menonton film biografi penulis. Seluk beluknya dalam menghasilkan karya. Sejujurnya saya tak tahu siapa Dalton Trumbo itu, hanya tahu film ini memasang Bryan Cranston menjadi nominasi best actor Oscar 2016 lah yang membuatku memutuskan menikmatinya. Trumbo adalah penulis skenario era pasca Perang Dunia II sehingga terdengar asing di telingaku. Berkat film ini saya jadi tahu betapa masa itu perjuangan Amerika menegakkan kedaulatan penuh intrik layaknya era peralihan Indonesia dari Orde Lama ke Orde Baru. Ya setiap negara punya sisi gelap dalam sejarahnya, tak terkecuali Amerika. Trumbo adalah penulis yang terjebak dalam intrik politik di mana kekebasan masih sangat mahal.
Film dibuka dengan setting tahun 1940an, pengenalan betapa Dalton Trumbo (Bryan Cranston) adalah penulis skenario jempolan. Berkat kepiawaian ia banyak meraih Dollar, sampai menjadikannya screenplayer dengan bayaran termahal. Kehidupan keluarganya terlihat sempurna dengan seorang istri cantik Cleo Trumbo (Diane Lane) dan ketiga anak Niki Trumbo (Elle Fanning), Chris Trumbo (Mitchell Zakos) dan Mitzi Trumbo (Meghan Wolfe). Prestasinya di dunia perfilman membuatnya bergabung dalam sebutan istimewa Hollywood Ten. Hidup nyaman mulai terusik saat Amerika sedang gencar kampanye anti-komunis. Politik itu kejam. Menyapu bagai badai segala hal yang tak sejalan dengan pemerintah. Trumbo yang komunis dan teguh terhadap pendiriannya akhirnya terdesak. Kumpulan komunis satu-per-satu digiring ke pengadilan untuk dimintai saksi dan diadili, Trumbo dan (sebagian) kawan-kawan memutuskan menolak menjawab, “Apakah anda komunis” dan dianggap menghina pengadilan yang mengakibatkannya dijebloskan ke dalam penjara. Runtuh sudah kemapanan itu. Ada satu kenyataan unik dalam persidangan. Reporter yang ada dalam film menggunakan mikrofon, padahal mikrofon baru diperkenalkan tahun 1970an.
Ada satu aktor, teman Trumbo yang saat dimintai saksi terlihat ragu dan menjawab ia bukan komunis. Berkat bicaranya ia terbebas sehingga bisa melanjutkan karirnya. Berjalannya waktu Trumbo dan kawan-kawan akhirnya bisa keluar dari penjara. Sekembalinya dia ke dunia luar, dia memutuskan pindah rumah dan bekerja sebagai penulis skenario dengan nama samaran. Seperti yang bisa kita tebak, film-film yang berdasarkan skenario-nya sukses. Sukses yang menghantarkannya sampai menjadi nominasi best screenplay Oscar 1954. Saat pengumuman pemenang best screenplay, sebuah ironi dia juara dengan hanya menonton lewat televisi bersama keluarga. Publik lalu bertanya siapakah penulis skenario film Roman Holiday, Ian who. Yang unik dari film ini adalah, saat presenter berteriak, “and the Oscar goes to…” kalimat itu tak pernah digunakan sebelum era 1990. Karena faktanya di tahun 1950an pengumuman pemenang biasanya bilang, “and the winner is…”
Dalam sebuah momen yang mengharukan Trumbo bertemu sang aktor, tentang kesaksiannya di pengadilan kenapa tak menjawab seperti yang disepakati. Well, saya sempat menitikan air mata. Bahwa kalian para penulis masih bisa hidup dengan berkarya tanpa terlihat publik. Dengan nama samaran kalian masih bisa memberi makan keluarga. Mendekam dalam rumah bersama mesin tik tanpa harus menghadapi kejamnya dunia luar. Sementara seorang aktor harus tampil di depan sorot kamera. Bagaimana bisa dia mengaku komunis dan dijebloskan dalam penjara, itu namanya bunuh diri. Betul juga.
Satu lagi adegan memorable adalah saat Trumbo sedang mengetik di dalam bath-up sementara di ruang keluarga sedang merayakan ulang tahun Niki. Niki dan ibunya memutuskan memanggilnya untuk bergabung, namun Trumbo malah marah. Dia tetap sibuk mengetik dan memaki dengan kalimat yang sungguh menggugah, “I work in a bathup, surrounded by water. So I’m fairly certain that even if the whole goddam country was on fire, that I can still function as this family’s personal slave.” Jleeeb, dari adegan inilah saya meyakini Bryan sangat layak di Oscar.
Berjalannya waktu, Trumbo terus menghasilkan karya-karya terbaik. Di tahun 1959 film The Brave One mendapat nominasi Oscar dengan nama penulis samaran. Itu tulisan Trumbo tentu saja. Dan film itu menang. Lagi-lagi publik bertanya. Ironi lagi, dia hanya bisa menonton penyerahan piala itu di depan tv. Puncak cerita ini adalah film Spartacus yang terkenal itu. Di tahun 1959 saat menjelang Natal, Otto Preminger (Christian Berkel) membawa kabar bahwa Trumbo yang menulis skenarionya. Kirk Douglas (Dean O’Gorman) yang seorang aktor dan produser memutuskan inilah saatnya kembali mencantumkan nama Trumbo dalam credit title. Sebuah perjudian besar, akankah film itu sukses karena memajang nama mantan komunis? Maukan warga Amerika membeli selembar tiket dengan nama Trumbo di dalam filmnya? Berhasilkah Trumbo berjuang mendapatkan hak sebagai warga negara biasa tanpa diskrimasi?
Well, film ini sangat menyentuh. Ironi lagi, putri pertama Trumbo, Nikola adalah seorang aktivis yang memperjuangkan persamaan hak untuk warga kulit hitam. Bedanya Niki berjuang bersama teman-teman belajarnya lewat demo, Trumbo lewat tulisan. Kisah panjang ini mengingkanku pada penulis terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925 – 2006). Beliau pernah dinominasikan penghargaan Nobel Sastra berkat tetralogi Buru. Beliau di penjara dan diasingkan karena dituduh komunis oleh era Orde Baru. Beliau berjuang lewat tulisan. Benar-benar Trumbo-nya Indonesia.
Penampilan Bryan Cranston memang luar biasa, layak masuk nominasi best actor. Tapi memang tahun ini tahunnya Leo jadi wajar kalah. Diane Lane harusnya juga masuk nominasi supporting actress berkat konsistensinya sebagai ibu dan anak-anak yang terasing. Akting yang sangat kuat. Bagi kalian yang suka kisah hidup penulis, film ini wajib tonton. Endingnya sangat menggugah dengan menampilkan final speech Trumbo asli. Inspiratif!
Trumbo | Directed by Jay Roach | Screenplay John McNamara | Cast Bryan Cranston, Diane Lane, Hellen Mirren, Michael Stuhlbarg, David Maldonado | Skor: 4,5/5
Karawang, 130316 – Cranberries dini hari

Antrian Baca 7 Buku Terbaru

image

Tekanan ajang Oscar 2016 sudah berlalu, saatnya kembali ke rutinitas bola, film reguler dan buku. Beruntung saya punya teman-teman kerja yang baik, yang mau bertukar-pinjam buku sehingga tak pernah sepi daftar panjang buku baca gratis. Berikut 7 buku yang akan mewarnaiku dalam sebulan-dua-bulan ke depan. Beserta tulisan singkat back-cover-nya.
Pinjaman Putri Wedaswari
24 Wajah Billy — Daniel Keyes
Mereka semua akan Anda temukan dalam kisah nyata yang amat mengejutkan ini. Anda akan tertarik ke dalam pikiran lelaki muda tersiksa, beserta dunianya yang terpecah-belah dan menakutkan.
Pinjaman Sekar Ayu
Tuhan, Aku Ingin Menjadi Malaikat Kecil-MU – Eidelweis Almira
Kehadirannya bisa menjadi guru bagi orang-orang di sekitarnya. Tak banyak yang mengira apa yang dilakukannya begitu berguna dan memiliki makna sepeninggalnya.
Silent Love – Dien Ilmi
Setahuku, waktu tak pernah ingkar janji. Ia memang seringkali menyuguhkan kepedihan, kebahagian dan kepura-puraan. Tapi aku tahu satu hal. Ia tak akan ingkar janji.
Surga Kecil Di atas Awan – Kirana Kejora
Langit tempat bergantungnya semua pengharapan, cita-cita dan butuh ribuan sayap untuk menerbangkannya. Bisa dimulai dari mendaki bukit, lalu mencapai puncak, menggapai awan kecil yang akan menghantarkannya ke langit kuasa.
I Am Malala – Malala Yousafzai
Namaku Malala. Saat aku lahir, para tetangga bersimpati pada ibuku, karena melahirkan anak yang tak bisa meneruskan nama keluarga. Tapi bagi ayah, perempuan ataupun lelaki, sama. Sama-sama berhak tumbuh dan dididik setara.
Pinjaman Widy Satiti
Allegaint – Verinica Roth
Tak ada lagi faksi, tak ada lagi panduan, hanya ingatan akan penghianatan. Tirani lain mengancam, para fictionless yang selama ini terbuang mengambil alih kekuasaan.
Punyaku sendiri beli bulan lalu
Serigala Navajo – Tony Hillerman
Ketika Letnan Joe Leaphorn dari Navajo Tribal Police menemukan mayat dengan mulut penuh pasir di tempat kejadiannya kejahatan yang seolah tanpa jejak dan petunjuk, ia siap untuk mencurigai seorang pembunuh supernatural. Darah di atas karang… mayat di atas dataran tinggi yang sempit… Leaphorn harus memburu Wolf-Witch sepanjang jalan yang mengerikan di antara mistisisme dan pembunuhan.
Karawang, 120316 – Nikita Willy “Lebih Dari Indah”