24 Wajah Billy

image

Mereka yang punya kendali atas orang lain mungkin punya kuasa. Tetapi hanya mereka yang mampu mengendalikan diri sendirilah yang memiliki kekuatan sebenarnya. – Lao Tzu
Buku gratis berikutnya yang selesai baca. Sangat berat untuk menyelesaikan sebuah bacaan yang tak sesuai harapan, apalagi buku itu setebal lebih dari 600 halaman. Tapi saya selalu percaya semua yang saya baca tak ada yang sia-sia. 24 Wajah Billy adalah jenis bacaan yang butuh telaah, kajian lebih mendalam dan kesabaran. Karena dari judul kita sudah tahu bahwa ini adalah cerita dengan konflik pria berkepribadian majemuk, maka penyampaian kejutan saat di halaman yang mengungkapnya terasa hambar. Sangat hambar. Buku dipecah dalam tiga bagian. Pertama Masa Galau yang berisi pengantar kenapa William Stanley Milligan (panggilan Billy) ditangkap. Kedua tentang Menjadi Sang Guru yang menjelaskan asal usul munculnya kepribadian lain. Dan yang Ketiga Usai Kemelut yang menceritakan pemecahan masalah. Berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Amerika inilah untuk pertama kalinya seorang narapidana kasus berat lolos dari penjara karena divonis gila. Apakah saya spoiler? Tidak! Sedari cerita pembuka kita sudah dikasih tahu itu jadi yah, apa yang diharapkan lagi?
Kesepuluh sosok yang diharapkan: 1. Billy, 26 tahun – pribadi asli atau inti. 2. Arthur, 22 – Pria Inggris yang bijak. 3. Ragen Vadascovinich, 23 – dari kata rage again, seorang Yugoslavia berlogat Slavia ahli senjata dan karate. 4. Allen, 18 – orang kepercayaan. Satu-satunya yang tak bertangan kidal. 5. Tommy, 16 – escape artist, hali melepaskan diri dari kunci dan simpul ikatan. 6. Danny, 14 – anak yang selalu ketakutan, jireh. 7. David, 8 – penanggung rasa nyeri. 8. Christene, 3 – si anak sudut. 9. Christhoper, 13 – abang Christene. 10. Adalana, 19 – wanita lesbian, introver, pemalu dan selalu merasa kesepian. Sementara 14 sosok yang tak diinginkan: 1. Philip, 20 – penjahat brutal. 2. Kevin, 20 – sang perencana. 3. Walter, 22 orang Australia. 4. April, 19 – perempuan brengsek. 5. Samuel, 18 – Yahudi pengembara. 6. Mark, 16 – si kuda pekerja. 7. Steve, 21 – peniru gelagat orang lain. 8. Lee, 20 – sang pelawak. 9. Jason, 13 – katup menyalur tekanan. 10. Robert (Bobby), 17 – sang pemimpi. 11. Shawn, 4 – tuna rungu. 12. Martin, 19 – si pemalu snob. 13. Timothy, 15 – bekerja toko bunga. 14. Sang guru, 26 –  wujud kedua puluh tiga sosok alter ego di atas jika sudah melebur atau terfusi.
Ga usah pusing membayangkan bagaimana bisa satu orang dengan 24 kepribadian bisa seperti itu. Jadi sosok itu ceritanya muncul bergantian. Semacam ada lampu sorot di panggung, nah yang kena spotlight itulah yang muncul berinteraksi dengan lingkungan luar. Sementara yang lain ada disekitar panggung. Ada yang mengamati ada yang tidur ada yang cuek. Terus bagaimana bisa mereka ga berantem untuk memperebutkan hak sebagai sosok yang Paling Asli? Ga usah pusing juga karena fakta bahwa buku ini menceritakan satu orang dengan pribadi mencapai puluhan aja sudah terdengar rumit. Jelas buku ini tak cocok dibaca saat santai sambil dengar musik sendu.
Karena ini lebih kepada catatan laporan bukan novel maka saya merasa tertatih menyelesaikannya. Disusun runut dengan frasa yang biasa. Padahal saya sudah baca Flowers For Algernon (diterjemahkan dalam Bahasa menjadi Charlie Si Jenius Dungu) yang menurut saya sangat bagus maka kaget juga kenapa Billy bisa menjadi sangat membosankan. Apakah karena ini kisah nyata sehingga penulis dibatasi ruang geraknya? Hhmm… menurutku ga juga. Banyak di luar sana kisah nyata ditulis dengan sangat indah. Apakah konflik yang disajikan kurang nendang karena Billy bukan melakukan tindak kriminal berat nomor satu? Tetap ga juga, banyak buku dengan konflik sederhana ditulis dengan sangat brilian menghasilkan buku hebat. Jadi tetap kesalahan utama Billy adalah cara penyajian yang buruk. Keyes seperti dipaksa merunut kejadian sehingga kehilangan letupan.
Dalam sebuah artikel penutup cerita yang dinukil dari edisi koran mahasiswa Ohio University, The Post bertuliskan: … Milligan, yang jelas tidak diberi kesempatan yang adil dalam hidup ini, telah kembali ke Athens untuk dirawat oleh para ahli di sini. Dan masyarat ini, kalaupun ada yang mereka perbuat, seharusnya membantu memberikan atmosfer mendukung yang dia butuhkan… kami tidak meminta Anda untuk menyambut Milligan dengan tangan terbuka. Tetapi kami meminta Anda memahami. Itulah yang setidaknya berhak dia terima. Di akhir catatannya Keyes menulis: studi tentang kepribadian majemuk menawarkan kepada kita semua sesuatu yang terkait dengan kendali pikiran dan tubuh. Saya pikir, sesungguhnya para penderita kepribadian majemuk bisa saja merupakan satu dari sekian banyak eksperimen alamiah, yang akan menjelaskan jauh lebih banyak hal kepada kita, tentang kita sendiri… Athens – Ohio, 20 Juli 1982.
Kabarnya buku ini dalam proses adaptasi film (lagi) dengan bintang Leonardo Di Caprio. Wow, sehebat apakah kang Leo nantinya? Ada beberapa buku biasa saat dirubah ke film jadi bagus. Salah satu contohnya ya Brokeback Mountain. Itu novelet biasa bisa jadi film nominasi Oscar! Terakhir, dulu tahun 2007an setelah terpesona dengan Charlie saya pengen banget memiliki buku ini. Sekarang setelah baca pinjam punya Putri Wedaswari – teman kerja itu sudah cukup dan ga akan saya masukkan ke rak koleksi. Syukurlah saya hanya pinjam.
24 Wajah Billy | diterjemahkan dari The Minds of Billy Milligan | by Daniel Keyes | terbitan Bantam Book, New York – 1982 | Penerjemah Miriasti dan Meda Satrio | Penerbit Qonita – PT Mizan Pustaka | edisi baru, cetakan I, Desember 2009 | 668 h., 20,5 cm | ISBN 978-602-8579-05-6 | untuk anak-anak korban penganiayaan, terutama mereka yang tersembunyi… | Skor: 2/5
Karawang, 300316 – Promises-nya The Cranberries

Iklan

Creed: An Exhilarating Showcase Michael B. Jordan

image

Rocky Balboa: Women weaken legs
Saat pelatihan Adois mengenakan celana training dengan tulisan: “Why do I wanna fight? Because I can’t sing and dance…” Ini adalah line dari Rocky ke Adrian di film pertama Rocky saat mereka akan main ice skating. Sebuah trivia menarik, dan kalian akan banyak menemukan hal serupa. Satu lain trivia serunya adalah nama Adois, itu bukan sembarangan nama karakter. Adois adalah salah satu nama Demi-God Yunani melanjutkan tradisi Apollo yang juga nama dewa. Alasan utama menyaksikan ya karena Sylvester Stallone jadi kandidat Oscar.
Penasaran bagaimana aktor kawakan ini membawakan serial tinju di masa tuanya.
Sedari kecil Adois Johnson (Alex Henderson) suka berkelahi. Selalu berpindah dari penampungan yayasan sosial satu ke yang lain. Suatu hari saat di-strap dirinya mendapat kunjungan spesial dari seorang wanita, Mary Jane Creed (Phylicia)  yang mengatakan bahwa dia adalah ibunya. Dan dirinya adalah anak dari seorang petinju besar, Apollo Creed.
Film lalu melompat jauh ke depan. Kini Adois Johnson (dimainkan dengan brilian oleh Michael B. Jordan) sudah dewasa dan bekerja sebagai seorang akuntan. Dengan pekerjaan yang menjanjikan di kantor, sebuah promosi jabatan ditawarkan Adois namun malah meminta mundur. Sebagai anak dari legenda tinju, dirinya ingin melanjutkan kebesaran sang ayah. Perlu diketahui, Apollo mengalami akhir yang mengenaskan di karier tinjunya. Karena itulah Mary Jane melarang Adois mengenakan sarung tinju. Sampai mengancamnya tak akan menghubungi, namun yang namanya naluri, dan bakat yang sudah mengalir deras dalam tubuhnya Adois nekat menuju Philadelphia, Pennsylvania untuk memulai karier tinju pro.
Ada adegan mengharukan saat Adois awal tiba di kafe yang memajang foto-foto Rocky Balboa, bertemu dengannya lalu memintanya melatihnya karena dia adalah putra Creed. Stallone memainkan mimik terkejut, minta maaf sekaligus menyanjung dengan sangat bagus. Menolaknya karena era itu sudah berlalu. Namun dengan kegigihannya luluh juga hati Rocky. Dan sepanjang film jangan harap melihat Rocky naik ring, karena dia hanya akan jadi mentor yang tangguh.
Ada adegan yang bikin senyum saat Adois meninggalkan Rocky dalam kebingungan setelah memfoto tip latihan tinju dan meninggalkan kertasnya. Rocky tanya: Hey don’t you want this? Adois bilang sudah ada di dalam HP. Lha kalau hilang bagaimana? Adois jawab itu sudah ada di Cloud. Tentu saja Rocky yang beda zaman kebingungan sambil lihat awan, “what cloud?”
Dalam apartemen, Adois yang terganggu tetangga karena musik yang berisik mencoba menegurnya. Muncullah Bianca (Tessa Thompson) yang meminta maaf. Pandangan pertama menjatuhkan cinta. Bisa ditebak mereka akan jadian. Ada kejanggalan di adegan ini. Saat Adois mengetuk pintu, musik dalam kamar terdengar sangat kencang. Setelah pintu dibuka dan mereka berbincang musik langsung menghilang. Setelah pintu kembali ditutup, musik langsung kencang lagi. Well, siapa yang memainkan tombol suara? Bianca adalah penyanyi kafe dan diperankan oleh Tessa dengan bagus, kenapa? Karena ternyata Tessa adalah penyanyi asli dan menyumbang tiga lagu untuk soundtrack: Grid, Breathe dan Shed You.
Film selanjutnya menyorot kerja keras Adois menuju panggung tinju. Berlatih lari tanpa henti. Berlatih tinju di sasana tinju bersama orang-orang lama Rocky. Setelah berbulan-bulan berlatih intens akhirnya muncul juga kesempatan pertandingan resmi pertama. Langsung berhadapan dengan Danny “Stuntman” Wheeler (Andre Ward)  sang juara kelas bulu ringan yang memilki rekor tak terkalahkan. Stuntman adalah anak didik dalam satu sasana Adois. Harapan masa depan tinju Amerika. Pertandingan pertama ini dibuat dengan sangat seru. Adois menunjukan semangat pantang menyerah, penuh determinasi yang instan membuatnya terkenal.
Dari kota Liverpool, Inggris mereka mempunyai petinju unbeaten “Pretty” Ricky Conlan (dimainkan dengan sangat bagus oleh petinju asli Liverpool Tony Bellew). Dengan background stadion Goodison Park, sebuah base town klub sepak bola Everton. Hingar bingar kebanggaan British. Oiya Sylvester Stallone adalah fan berat Everton sehingga bisa jadi pemilihan lawan dengan latar kota pelabuhan ini adalah idenya. Adegan fan Everton yang hingar bingar itu sendiri dinukil dari pertandingan lawan West Brom Albion untuk menyatakan partisipasi Everton. Kalau kalian jeli kalian akan melihat pelatih Roberto Martinez di sana. Keseruan terselubung. Ah…, suatu saat saya akan buat cerita dengan latar Lazio dan Olimpico bergemuruh bersama Curva Nord-nya. Melihat perkembangan Adois yang kini sudah mencapai 16 kemenangan tak terkalahkan, sang promotor Conlan mengajak duel dengan syarat Adois menggunakan nama Creed agar pertandingan lebih menjual. Awalnya Adois menolak mengenakan nama sang ayah, namun setelah dibujuk Bianca dan ini adalah kesempatan menjadikannya makin besar ditemukanlah kesepakatan. Pertandingan akbar menuju klimak cerita. Berhasilkah Adois Creed menyabet gelar juara?
Well, adegan final saat Adois menuju ring ditampilkan dengan megah. Kamera menyorotnya tanpa putus, berputar mengelilinginya sambil dilatih ringan lalu melangkah ke arena. Dengan sorakan penonton yang mendukung Conlan sebagai taun rumah, membuat penonton ikut merasakan gemuruh dan kengerian jelang pertandingan. Tinjunya sendiri meledak dengan tensi tinggi. Seru, sesak dan berdarah-darah. Luar biasa. Karena ekspektasiku yang sederhana, klimak film terasa menohok. Apalagi saat adegan saat menyorot wajah Carl Weathers (Apollo Creed) “merasuki” tubuh Adois itu. Sungguh membuat merinding.
Penampilan Sylvester  Stallone sangat bagus. Layak jadi nominasi Oscar. Apalagi adegan saat dia didiagnosa sakit keras itu. Duh mimik sang juara dunia di usia senja ditampilkan dengan getir. Tapi memang Mark Rylance tampil lebih bagus dalam Bridge Of Spies, wajar Stallone kalah. Ini adalah film pertama seri Rocky yang tak ditulis olehnya, awalnya Rocky Balboa (2006) diniatkan adalah film pamungkas. Dia bilang,”No no no film ini sudah selesai dan saya bahagia akan akhir Rocky Balboa (2006) dan tak ingin merusaknya.”  Namun setelah dibujuk banyak pihak terutama Ryan Coogler sang sutradara, Stallone luluh juga ambil andil. Creed adalah film dengan jeda paling lama dalam serial Rocky. Sembilan tahun baru rilis lagi. Pertanyaannya apakah ini adalah akhir dari saga Rocky? Saya bisa pastikan tidak. Penampilan memukau Michael B. Jordan sudah jadi jaminan estafet Rocky berlanjut. Dialah spotlight film ini. Jordan sendiri terinspirasi oleh penampilan petinju Timothy Bradley, Pernell Whitaker dan Andre Ward. Ini adlah penampilan keduanya berakting sebagai petinju setelah di tahun 2010 dalam episode Law and Order: Criminal Intent. Dan jelas skalanya jauh berbeda. Ini adalah film besar penyambung saga Rocky. Semoga warisan besar ini tak membebaninya.
Creed | Year 2015 | Directed Ryan Coogler | Screenplay Ryan Coogler, Aaron Covington | Cast Sylvester Stallone, Michael B Jordan, Tessa Thompson, Phylicia Rashad, Tony Bellew | Skor: 3,5/5
Karawang, 260316 – Abdullah v Takeshi and Zulk

Tuhan, Aku Ingin Menjadi Malaikat Kecil-MU (Eidelweis Almira)

image

“Tangan mungilku memohon untuk Kau jadikan aku anak yang berguna bagi sesama”
Buku kedua pinjaman itu sudah selesai baca. Tanpa banyak ekspektasi, hasilnya memang sesuai. Buku tanpa isi. Buku yang sederhana, sangat sederhana. Bagaimana bisa buku seperti ini bisa lolos seleksi, dicetak dan dijual? Ada lima cerpen yang disajikan. Kelimanya berpola sama, penuturan monoton tanpa jiwa, dengan narasi yang buruk dan ending yang sama.
Rumah Asa
Tentang Gege anak orang kaya dengan kedua orang tua sibuk. Gege dan kakaknya Tito dibesarkan dengan bergelimang harta. Gege ternyata punya hati mulia, dengan niat membangun sebuah rumah untuk pendidikan anak tak mampu. Tito sakit namun peduli sama adiknya, sehingga ikut menyumbang untuk rumah asa.
Anggrek Jingga
Tentang Anggrek, anak yang suka membantu sesama. Anggrek lagi-lagi adalah anak orang kaya yang sakit namun peduli sesama. Mencuri uang untuk menyumbang panti. Bergaul dengan orang yang kurang beruntung. Niatnya sih menyentuh pembaca dengan membuatkan puisi untuk orang tuanya, gagal.
Mancing Mania
Tentang Adi, lagi-lagi anak orang kaya. Adi dibesarkan orang tunggal. Orang tua bercerai, ibunya sibuk sehingga kurang kasih sayang. Hobi Adi mancing, tapi ibunya mengarahkannya untuk jadi model sehingga diikutkan ekskul fashion show. Adik Adi yang masih TK, Dila juga hasu kasih sayang. Suatu hari Adi dan ibunya sepakat: Adi mau ikut ekskul kalau ibu mau jemput Mila sekolah. Deal.
Demi Adikku
Tentang Anti yang rajin dan pintar. Kali ini anak orang tak mampu namun punya teman-teman kaya nan dungu. Kisah seorang kakak yang penuh cinta kepada kedua adiknya, Riri dan Ari. Riri sakit. Anti yang masih sekolah mencoba membantu kumpulkan uang untuk pengobatannya suatu hari nanti. Cari duit dengan “menjual” PR dan membuat kartu kreatif.
Basri Yang Baik
Tentang Basri yang baik. Si bungsu yang suka membantu. Dari keluarga kurang mampu yang jual makanan yang digoreng. Setiap hari membawa bekal hasil goreng dan dibagikan ke teman-temannya yang ga punya uang jajan. Terkadang kalau Basri bangun kesiangan, mengajak teman-temannya untuk makan di gerobak goreng emak-nya gratis. Terlampau baik namun konyol.
Well, saya sudah tanpa harapan sama sekali membaca buku ini. Terlampau sederhana untuk jadi wow sebuah buku tipis nan simple. Saya menemukan beberapa kata yang tak baku: gorengan, silahkan. Saya menemukan hiperbola “!!!”, saya menemukan typo inkonsistensi dari “Mbak” atau “Mbah”, saya menemukan sesuatu yang ga logis 4 juta sekali tarik dari ATM, dan seterusnya dan seterusnya. Yang paling parah tentu saja ceritanya. Monoton dengan ending yang sama. Ada tokoh mati dengan cara konyol. Di sampul sih tertulis, “berdasarkan kisah nyata”. First thing first story dan cerita yang disajikan sangat buruk. Kalau buku ini dicetak dengan tujuan membuat orang berinspirasi akan kebaikan sederhana yang dicipta beberapa tokoh, kurang pas juga. Kenapa? Karena beberapa karakter yang dicipta “baik” itu sekaligus “ga baik”. Seperti mencuri uang dari ATM orang tua, mengajak berbohong demi menutupi tindakan ga benarnya, membandel dari perintah orang tua, dan seterusnya dan seterusnya. Sungguh buku sederhana dengan pemikiran sederhana. Buku tak bernyawa. Sekali baca lupakan. Sekali-dua kali cetak dan akan dilupakan peradaban.
Tuhan, Aku Ingin Menjadi Malaikat Kecil-MU | by Eidelweis Almira | Cetakan I, 2015 | Penerbit Euthenia | ISBN 602-1010-78-7 | Skor: 1/5
Karawang, 230316 – Baby Creed

Nestapa Nesta

image

Milan vs Lazio. Nestapa Nesta.

LBP 0-3 all
Analisis: Nesta bimbang kemana hatinya berlabuh. Dibesarkan Lazio, dibajak Milan. Tanti Auguri “Alessandro Nesta”.

1. Joko Gentong
Milan 2-0 Lajio, Honda
Ini match pasti milik Milan. Lajio lagi kek bebek goreng. Siap disantap.

2. Arief
Milan v Lazio 1-1. Bacca. Partai yang krusial bagi Milan & Lazio. Bisa menang di San Siro, harga diri Lazio akan terangkat menyusul tragedi memalukan dibantai Sparta Prague kamis lalu. Hasil seri adil untuk kedua tim.

3. DC
Milan 2-0 Lazio, Bacca
Milan menang mudah kali ini. Menghadapi tim yang lagi ga stabil Bacca kembali jadi salah 1 skorer milan. Pintu menuju Eropa semakin lebar

4. Widy
Milan 2-1 Lajio. Bacca
Maen kandang vs Elang biru. Elang biru habis dibabat di EL. Ambisi menang diusung tapi akhirnya tetep aja kalah.

5. Huang
Milan 2-0 Lazio, Niang.
Poin salvation sudah didapat. Lazio sudah ndak niat main. Para pemain udah ngebet pengin liburan, nonton yuro lanjut kopa mamarika.

6. Jokopar
Milan 0-2 Lazio. Klose.
Dua team yang lagi pesakitan mengingat hasil leg akhir2 ini. Semoga saja Lajio menang. Tapi biasanya kalo didukung begini gagal total 😪.

7. Papwin
Milan 3-0 Lajio (Bacca)
Laga mudah bagi milan. Hal biasa bagi Lajio. Yang luar biasa hanya Arief yang udah meracuni memeber grup ini 😂.

8. Deni
Milan 1-2 Lajio (klose)
Laga sulit bagi The Great Lajio. Milan bermain menyerang. Lajio melakukan serangan balik. Akhirnya Lajio menang tipis 2-1 👍

9. Imoenk
Milan 3-0 Lazio, Bacca
Main di Roma aja bisa menang 1-3 apalagi di San Siro. Hajar blehhhh. Hoedt bakal kena bully Carlos Bacca. Ini baru Bacca, belum lagi Bona’jack’ventura. Tambah mumet bek Lazio (kali ini saya gak pake The Great) cuma Lazio aja. Lawannya Milan lhoooo. Catet!!! AC MILAN.

10. Andi
Milan 3-1 Lazio, Bacca
Main di kandang akan memecut semangat milan untuk mengalahkan Lazio. Milan akan bermain menyerang untuk  mendapatkan banyak gol. Dan Lazio akan kalah, apalagi baru tersingkir dari Uefa. Maine Lazio ga focus.

11. Jj
Milan 1-0 Lajio Honda
Permainan sulit. Saling lempar tekanan. Akhirnya terkapar oleh kenangan.

12. Fahrur
Milan 3 0 Lajio, Bacca
Emprit dikebiri. Ditumis kangkung. Kasih sambal level 10. Siap dinikmati.

13. Iin
Milan 1-2 Lazio Bacca
Menebak Lazio kalah sudah terlalu mainstream. Lazio besok bakal main bagus. Because Lazio is great.

14. Bob
Milan 2-0 Lazio. Bacca
Dari segi moral, motivasi, kebugaran & faktor kandang Milan jelas lebih diunggulkan. Bacca on fire. 3 poin untuk tim tuan rumah.

15. Lik Jie
Milan 1-2 lazio, Candreva
Milan lagi goncang karena isu Nihajlovic. Sedangkan Honda, sepertinya masih banyak PR. Kecepatan di trek lurus kalah sama Ducati, di tikungan kalah sama Yamaha, itupun masih ditempel wajah baru Suzukinya Vinales.. Juaranya Lorenzo.

16. Rohmat
Milan 4 – 1
Honda
Angka 41 ado jumlah angka tertinggi dlm permainan kartu 41.
Honda memang satu hati.
Lazio membuktikan bahwa mereka adalah emprit ibukota.✌

Next
Takdir mana woiii…. kuis nih kang!
Karawang, 200316

Oscar 2016 Winners

image

Tak ada kata terlambat untuk memajang daftar ini. Tahun ini sebenarnya banyak kemajuan dalam menebak pemenang, terutama 8 kategori utama. Sayangnya untuk di bagian teknis saya melesat, tak kusangka Mad Max memborong semua dengan menempatakn Star Wars tangan hampa. Kejutan terbesar adalah di bagian efek yang dimenangkan Ex-Machina. Gila, film alex Garland itu budget-nya paling kecil dari empat film lain.
Oscar tahun ini bagian pembawa acara mengalami penurunan. Chris Rock kurang pas membawa acara sebesar ini. Walau tak seburuk James Franco tapi jelas dia kebanting Neil Patrick Harris dan Ellen. Tahun ini saya ke FX bareng Rani bersama Gila Film, acara tahunan yang sangat menyenangkan.
Berikut adalah daftar pemenang yang dilansir dari Oscar.go.com dan sedikit ulasan saya ketika nonton di FX, Sudirman berkat HBO dan Big Tv:
Best Picture : Spotlight
Sudah ketebak dan memang sangat layak.
Actor In a Leading Role : Leonardo DiCaprio
Twit sampai hang, hanya kalah tipis crash di twit dari Ellen yang selfie itu. Selamat Leo, akhirnya.
Actress In a Leading Role : Brie Larson, Room
Tebakan ini juga benar. Memang hebat aksi Brie sebagai Mam itu.
Actor In a Supporting Role : Mark Rylance
Benar lagi, sejak pertama kali lihat Mark di film saya langsung menjagokannya dan benar kan.
Actress in a Supporting Role : Alicia Vikander
Karena saya belum nonton Danish Girl saya tak bisa komentar. Tapi penampilan hebohnya di Ex-Machina sudah saya prediksi dia akan jadi aktress besar, ternyata hanya setahun berselang langsung booom!
Animated Feature Film : Inside Out
Pixar lagi, dan sudah sekali.
Cinematography : The Revenant
Sama, ini bagian paling mudah di Oscar tahun ini. Kekuatan utama Revenant ya di sini.
Costume Design : Mad Max: Fury Road
Ini juga ketebak. Kegilaan Mad Max diperkuat dengan design kostum.
Directing : The Revenant
Ini kesalahan saya, ternyata tahun ini tak sejalan lagi dengan best picture. Back-to-back Innaritu.
Documentary (Feature) : Amy
Documentary (Short Subject) : A Girl in the River: The Price of Forgiveness
Film Editing : Mad Max: Fury Road
Ketika saya dengar Mad Max yang menang, saya sempat khawatir ini film akan jadi yang terbaik di kategori paling bergengsi. Karena editing film dan best picture nyaris selalu sama.
Foreign Language Film : Son of Saul
Make up and Haistyling : Mad Max: Fury Road
Music (Original Score) : The Hateful Eight
Ini juga ketebak. Pokoknya Hateful 8 ga boleh tangan hampa. Ternyata di kategori ini.
Music (Original Song) : Writing’s on The Wall
Kontroversi ini. Lagunya jelek, filmnya kacrut. Bond Daniel Craig sudah usang.
Production Design : Mad Max: Fury Road
Short Film (Animated) : Bear Story
Short Film (Live Action) : Stutterer
Sound Editing : ,Mad Max: Fury Road
Sound Mixing : Mad Max: Fury Road
Visual Effects : Ex Machina
Writing (Adapted Screenplay) : The Big Short
Film ini ketebak juga. Seperti yang saya sampaikan, script-nya bikin pusing.
Writing (Original Screenplay) : Spotlight
Ini adalah kejutan (bagiku). Tak kusangka di bagian ini sejalan dengan best picture. Selamat buat para pemenang. Sampai jumpa tahun depan. Di FX lagi?
Karawang, 180316 – Colbie Caillat – 2. Blaze

Lazio: Tim Terbaik Di Dunia Dan Akhirat

image

Satu hari ini mungkin akan sangat kesel, bete dan eneg. Makan kayak kunyah koral. Minum macam menegak air comberan. Kerja ga fokus pengennya marah-marah. Emosi labil. Waspada aja Jumat berkah ini. Benar kata bung Jacky, salah satu teman di grup Football On Chat. Harusnya saya tetap tak berharap Lazio melaju lebih jauh di EL. Karena sejak awal musim saya selalu berdoa Lazio secepatnya tersingkir agar fokus ke Scudetto. Nyatanya Lazio terus lolos sampai 16 besar dengan rekor tak terkalahkan. Lalu kemarin Juve Haha tersingkir yang menjadikan Lazio sebagai satu-satunya wakil Italia yang tersisa. Harapan itu menjadikan langkah kita berat. Dalam sehari saya berbalik menjadi SANGAT berharap Biancoceleste lolos sampai final. Garapan yang jadi boomerang.
Doa-doa dan asa itu malah menjadi aib. Memalukan. Sungguh memalukan. Menyapu rata 5 pertandingan kandang di EL sebelumnya, hanya membutuhkan skor 0-0, atau menang dengan skor berapa-pun, Pioli merusak segalanya. Padahal Olimpico sudah ramai kembali setelah berbulan-bulan diboikot Curva Nord. Benar-benar keji apa yang diberikan Pioli ini, menang tipis aja susahnya minta ampun.
Bisevac dan Hoedt pergilah kalian dari Olimpico. Jersey Elang biru ini terlalu istimewa untuk kalian kenakan. Dalam lima belas menit, harapan Laziale dan seluruh warga Italia kalian rusak. Kekalahan di saat yang tak tepat. Borek Dockal, Ladislav Krejci, Lukas Julis. Ketiga nama asing itu membuat satu-satunya harapan Italia di Eropa pupus sudah. Jerrsey hitam yang anehnya dikenakan di kandang itu sebaiknya di museum-kan. Terlalu dark, terlalu buruk untuk dikenang. Kekalahan di kandang dengan skor gap 3 gol adalah yang pertama setelah tahun 2003 tumbang 0-4 di tangan Chelsea. Kekalahan yang memalukan ini harusnya jadi pelajaran berharga untuk manajemen memecat Pioli.
Saya jadi ingat pelatih yang satu ini: Petkovic. Datang dengan harapan kecil karena siapa yang kenal beliau? Bermain dengan hati. Berani memainkan banyak pemain muda: Cavanda, Perea, Onazi, sampai Keita. Benar-benar memainkannya dengan menit yang banyak. Dengan modal kecil namun berhasil membawa juara Coppa 2013. Di final mengalahkan seteru tetangga pula. Bandingkan dengan Pioli. Dengan skuat penuh bintang, hasilnya papan medioker. Musim ini praktis sudah habis. Di Liga sudah melewati zona salvation 40. Di copa sudah tersingkir. Jadikan pertandingan sisa untuk persiapan musim berikutnya. Jadikan pemain yang pernah berjersey Biru pelatih berikutnya: S Inzaghi, S Mihajlovic, M Oddo, R Mancini bahkan D Someone kalau perlu diculik. 
Berat sekali menyaksikan tiga gol dalam setengah babak bersarang di tim kesayangan kita. Namun yang membuat bangga adalah mereka terus bermain sportif, terus berlari, berlari dan berjiwa besar. Dan saat peluit panjang terdengar, kamera menyorot seisi Olimpico, Laziale tetap berdiri sampai waktu benar-benar habis. Tepuk tangan tetap membahana untuk tim yang sedang di titik nadir. Air mata meleleh, silakan. Kesedihan menerpa kita semua. Kemarahan dan caci maki mungkin hal yang wajar. Salah satu kunci perbaikan krusial tentu saja secepatnya memecat Pioli. Tak ada keraguan dialah biang memalukan ini. Terima kasih Lazio, maaf Italia.
Kebanggaan utama sebuah klub (sederhana) memang bukan kemenangan, bukan pula deretan piala di lemari namun kesetiaan para fan. Lazio, (bagiku) tetap tim terbaik di dunia dan akhirat. Non Mollare Mai.
Karawang, 180316 – Lazio da sola, il gente Laziale non ti lasceremo mai

The Walk: Reach The Clouds

Philippe Petit: So, picture with me it’s 1974, New York city and I am in love with two building – two towers.

Butuh script berkelas untuk sebuah film yang sudah kita ketahui akan ending-nya. Kita (nyaris) semua tahu film ini tentang apa. Mau kemana arahnya, tujuan utamanya apa. Bahkan untuk seorang awam sekalipun pasti tahu bahwa The Walk inti kisahnya adalah orang yang berjalan di atas tali yang terbentang di antara dua gedung. Setidaknya lihatlah posternya, kover filmnya. Judul awalnya adalah “To Reach the Clouds” lalu diganti “To Walk the Clouds” namun akhirnya dipilih hanya “The Walk”. Jadi sebuah tantangan besar penulis skenario agar penonton bisa puas. Nyatanya film ini gagal. Mengandalkan akting hebat Joseph Gordon-Lewitt tak cukup.

Berdasarkan kisah nyata. Dari orang yang sudah membuat film Back to The Future, Flight dan Forrest Gump yang terkenal itu. Film dibuka dengan Philippe Petit (Joseph Gordon-Lewitt) menarasikan kisah hidupnya di puncak patung Liberti, suara Petit di cawan itulah narasi film akan terus menemani penonton. Menceritakan masa kecilnya di kota cantik Paris, Perancis. My story begins in another one of the world’s most beautiful cities, se Paris.. Sedari kecil Petit memang menggemari sirkus keliling. Menyaksikan dengan kagum atraksi badut yang bejalan di atas seutas tali sambil melempar-lempar target bowling. Petit juga suka beratraksi di jalan untuk mencari receh. Dari atraksi jalanan itulah dia berkenalan dengan Annie (Charlotte Le Bon). Seorang seniman jalanan dengan biola di tangan. Bisa ditebak mereka jadian. Annie mendorong Petit untuk terus mengembangkan kehebatannya di atas seutas tali. Suatu siang, datanglah seorang fotografer amatir lokal yang kemudian bergabung. Jean-Louis (Clement Sibony) sering mengabadikan gambar-gambar Petit. Satu per satu orang-orang pendukung bergabung dalam tim. Di bawah bimbingan papa Rudy (Ben Kingsley) bagaimana simpul tali yang kuat. Bagaimana mengatur nafas dan betapa pentingnya ketenangan dalam setiap atraksi. Setelah dirasa cukup, tim yang merencana menaklukkan Menara kembar WTC (World Trade Center). Mereka berangkat ke Amerika dengan persiapan sematang mungkin. Ditetapkanlah tanggal 7 Agustus 1974.

Seluk beluk menuju hari H yang sibuk ditampilkan dengan cepat. Mulai cara mengelabui petugas, membeli peralatan, sampai menyamar jadi pekerja kontruksi. Semua dilakukan dengan detail yang seru. Sila, kaki Petit terluka menginjak paku. Akankah ditunda atau tetap dilanjut? Malam sebelum mulai aktraksi, Petit menyiapkan peti matinya. Jaga-jaga. Berhasilkah dia memenuhi ambisi berjalan di atas tali yang terbentang di Menara kembar itu dengan selamat?

Kabarnya JGL sampai dilatih langsung oleh Petit asli untuk mendapatkan gambaran yang sempurna. Well, pantas saja terlihat hebat. Ini adalah akting pertama JGL memerankan seorang tokoh. Satu lagi tahun ini ia akan beraksi sebagai Snowden tahun ini. Selain kekuatan akting JGL yang wow kelebihan lain film ini tentu saja 3D-nya yang nampol. Saya menonton di dvd saja pop-ping banget. Saat di atas tali Petit melempar target bowling itu seperti dilempari benda. Saat di atas gedung, Zemerick banyak mengarahkan kamera ke bawah dengan gemuruh yang membuat penonton ikut merinding, bagai terombang-ambing di udara. Karena saya termasuk orang yang takut ketinggian, perutku beberapa kali mual. Sebuah keberhasilan tersendiri tentunya, sayangnya tak kusaksikan di bioskop. Satu lagi yang menarik bagiku adalah kutipan ini, “people ask me, ‘why do you risk death?’ For me, this is life”. Ya, pandangan orang beda-beda, ada banyak orang yang suka sekali menantang maut untuk memacu andrenalin, demi kesenangan, kebanggaan dan atau ambisi. Petit jelas salah satu dari itu.

Namun tetap, yang utama adalah cerita. Saya sendiri belum nonton “Man On Wire” tahun 2008 yang ceritanya sama. Semua sudah ketebak sedari awal. Tak ada yang baru, tak ada yang wow. Dalam sebuah narasi Petit pernah berujar, “orang akan mengingat saya ketika disebut kata WTC”. Benar juga orang akan selalu mengingat aksi gilanya itu. Itu sebelum tahun 2002 tentunya. Karena tragedi 9/11 mengubah paradiga itu. Sekarang yang terlintas pertama kali tentu saja tragedi pilu pembajakan dua pesawat yang menabrakkan diri ke WTC.

Film ini tetap seru dinikmati asal jangan berharap terlalu tinggi saja, takut jatuh.

The Walk | Directed by Robert Zemeckis | Screenplay Robert Zemeckis, Christopher Browne| Cast Joseph Gordon-Lewitt, Ben Kingsley, James Badge Dale, Steve Valentine, Charlotte Le Bon | Skor: 3/5

Ruang HR NICI Karawang, 150316 – Balon udara Sherina