Lupita Nyong’o: Setiap Orang Boleh Bermimpi

image

Pergelaran Piala Oscar 2014 sudah berlalu. Tak banyak yang masih dibicarakan selain para pemenang dan film-film yang memukau seperti film terbaik 12 Years A Slave dan film peraih Oscar terbanyak Gravity. Sementara artis yang meraih Oscar relatif tak begitu terkenal bahkan diantaranya ada yang baru pertama kali masuk daftar nominasi tapi langsung menang seperti yang dialami Lupita Nyong’o.

Artis ini masih menjadi perbincangan hingga kini meski perannya hanya sebagai artis pendukung. Lebih dari itu ia adalah nominasi berkulit hitam keturunan Afrika yang jika dilihat sejarah, kaum Afro-Amerika sangat jarang menang di pergelaran Academy award. Tantangan ini masih ditambah dengan kenyataan bahwa di barisan nominasi Lupita harus bersaing dengan artis kenamaan Jennifer Lawrence (American Hustle), Sally Hawkins (Blue Jasmine), Julia Roberts (August: Osage County) dan Jane Squibb (Nebraska).

Academy award yang lebih popular dengan sebutan Piala Oscar adalah ajang pergelaran penghargaan film yang diselenggarakan oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), yang anggotanya kalangan selebritis AS dan unsur-unsur pendukungnya. Anggotanya sekitar 6000 orang. Mereka inilah yang memilih siapa yang masuk nominasi dan menentukan pemenangnya.

Meski saingannya berat, jika patokannya pada kemampuan akting di film tersebut, peluang Lupita memang amat besar. Hal ini terlihat sebelum Oscar, 12 Years A Slave meraih 29 award ajang festival film dunia selama 2013. Prediksi itu terbukti benar.

Setelah menerima piala, Lupita berpidato, “Ketika saya melihat ke patung emas ini (Piala Oscar), itu menyadarkan saya dan setiap anak kecil bahwa tak masalah kamu berasal dari mana, mimpimu itu sah.”

Nyong’o adalah artis kelahiran Meksiko City, Meksiko, 1 Maret 1983. Ayahnya seorang politisi Kenya, Peter Anyang Nyong’o yang ketika lahir Peter sedang menempuh pendidikan politik di Meksiko dengan membawa serta istrinya, Dorothy. Karena tempat lahirnya itulah, Nyong’o memiliki dua kewarganegaraan.

Mereka pulang ke Kenya ketika Nyong’o belum genap satu tahun. Ayahnya menjadi profesor di University of Nairobi. Mereka hidup di kelas menengah. Saat usianya 16 tahun ayahnya kembali ke Meksiko untuk belajar Bahasa Spanyol. Lupita ikut dan belajar di Universidad Nacional Autonoma de Mexico.

Ketertarikannya di dunia akting terjadi saat dia menempuh pendidikan di Hampshire Collage di Amerika dengan mengambil kelas drama. Setelah lulus dia bekerja di sebuah production house, lama-lama ia tertarik ikut serta dalam akting. Kesempatan pertama di dapat tahun 2008 ketika sautradara Marc Grey membuat film pendek East River.

Film ini tak banyak mendapat perhatian. Di tahun itu juga ia kembali ke Kenya. Lalu membuat film seri televisi Shuga yang ditayangkan di MTV Afrika. Setelahnya membuat film dokumenter In My Gene yang bercerita tentang populasi albino di Kenya yang ia tulis, sutradarai, dan produksi sendiri. Ternyata film itu mendapat perhatian dan menjadi pemenang di ajang 2008 Five College Film Festival. Bakat sutradaranya makin teruji saat menyutradarai video musik The Little Thing You Do (Wahu featuring Bobi wine) yang menjadi nominasi pemenang Best Video Award di MTV Africa Music Award 2009.

Ternyata ia penasaran dengan bakat aktingnya. Untuk meningkatkan kemampuan aktingnya ia sekolah lagi di Yale School Of Drama, Yale. Selama menempuh pendidikan ia mendapat tawaran dari Steve McQueen. Film itulah yang kita kenal memenangkan best picture 2013.

Diketik ulang dari majalah Luar Biasa edisi No. 64 Tahun VI | April 2014 halaman 27-28

FX Sudirman – Jakarta, 230216 – Oscar 2016

Iklan

Bridge Of Spies: Very Spielberg Motion Picture

image

James B Donovan: Aren’t you worried? | Rudolf Abel: would it help?
Sekali lagi sutradara kawakan Steven Spielberg memukau kita. Tanpa tahu ini kisah tentang apa dan bagaimana, saya dibuat terpesona oleh kisah panjang tentang pertukarang mata-mata saat perang dingin Amerika dan Uni Soviet pasca Perang dunia II. Berdasarkan buku karya Vin Arthey berjudul Abel. Adegan pembukanya khas film spy. Seorang pelukis tua sedang melukis dirinya sendiri lewat bantuan cermin. Adegan ini berdasarkan lukisan Norman Rockwell triple self-portrait. Dicurigai sebagai mata-mata oleh pemerintah, FBI menguntitnya. Awalnya tak terlacak namun akhirnya ditangkap. Di sinilah akting Mark Rylance memukau. Sebagai mata-mata Rudolf Abel dengan tatapan hampa, tak banyak bicara namun permainan mimik dan gesture menjelaskan semuanya. Seakan tak mengkhawatirkan apapun.
Menjelang persidangan, James B Donovan (Tom Hanks – kolabolasi keempatnya dengan sang sutradara setelah Saving Private Ryan, Catch Me If You Can, dan The Terminal) ditunjuk oleh perusahaan bantuan hukum untuk menjadi pembelanya. Sesuatu yang sulit karena sebagai warga Amerika jelas mustahil membela musuh, apalagi saat itu perang dingin sedang berlangsung. Isu sensitif dua negara adikuasa. Proses jelang persidangan yang panjang memberi kesempatan penonton mengenal karakter-karakternya. Blow-up media makin memanaskan situasi yang membuat James khawatir para juri akan terpengaruh untuk mengambil keputusan. Mata-mata musuh, ancamannya hukuman gantung. Karena saya sudah membaca bukunya Sidney Sheldon, “Malaikat Keadilan” saya jadi tahu seluk beluk ruang pengadilan, jadi saya sangat menikmati proses itu. Diluar duga masyarakat, Abel lolos dari hukuman mati, James sendiri kaget dia bisa “memenangkan” pertarungan. Warga marah, suatu malam rumah James diteror. Petugas yang seharusnya menjaga malah membuat runyam ikut menghujatnya karena dianggap penghianat. Saat scene makan malam, James berujar kepada keluarganya, “Every man deserves a defense” kutipan yang sama dipakai tom Hanks dalam film The Green Mile. Pengacara memang profesi dua mata pisau, antara jadi pahlawan atau pecundang sangat tipis.
Hasil persidangan itu ternyata tepat. Sesuai prediksi James, suatu saat siapa tahu kita bisa menggunakannya sebagai pertukaran tawanan dengan musuh. Sementara angkatan udara Amerika sedang melatih timnya untuk sebuah misi. Nama pesawat yang dipakai adalah U2, ya diambil dari band legendaris itu. Eve Hewson, putri Bono vokalis U2 ikut ambil abgain di film ini. Francis Gary Powers (Austin Stowell) salah satu pilot tertembak lawan dan dijadikan tawanan Uni soviet. Sempat tak mengaku dirinya hanya pilot biasa, namun fakta bahwa pesawat yang dikendarainya penuh kamera. Sementara di tempat lain, seorang mahasiswa Amerika yang sedang di Jerman Frederic Pryor (Will Rogers) ditangkap karena dicugai terlibat politik. Masa dimana Jerman mulai dipisahkan tembok Berlin, masa pasca Hitler itu masih sangat mencekam. Terlihat dalam sebuah adegan sekelompok pemuda mencoba melompati tembok dan diberondong peluru. Seram sekali.
Disusunlah sebuah kesepatakn untuk tukar tawanan. Tempat yang ditetapkan untuk negosiasi di Jerman Timur. Masa saat setiap orang asing yang lewat dicurigai. Digeledah dan interogasi. Pihak Uni Soviet meminta pertukaran antara Abel dan Francis. Pihak Jerman Timur sebagai tuan rumah meminta pertukaran Abel dan Pryor. Sementara Amerika meminta pertukaran tawanan Abel untuk Francis beserta Pryor. Dua untuk satu. Satu untuk dua. Rumit. Tegang. James Donovan yang seorang pengacara tentu saja lihai berbicara namun tetap saja ini pertaruhan nyawa. Berhasilkah misi ini?
Well, saya terkejut Tom Hanks tak ada di daftar nominasi Oscar. Bandingkan dengan aksi Matt Damon yang so so. Atau Michael Fassender yang melow. Mark tampil memukau dengan mimik wajah tanpa dosa. Tenang yang mengintimidasi. Layak menang, saya jagoin dia. Untuk screenplay juga juara, namun persaingan sangat ketat. Film ini khas sekali Spielberg. Scene-scene sunyi, dialog bagus. Sempat dengan judul palsu saat syuting dengan nama St. James Place. Dan walau temanya berat ditampilkan dengan bagus tanpa banyak perlu berfikir keras. Jembatan yang dipakai untuk syuting adalah jembatan yang sesungguhnya dipakai dalam pertukaran tawanan di tahun 1960an. Dan sering dipakai untuk pertukaran tawanan lain berikutnya. Jembatan mata-mata, ungkapan yang pas sekalipun ending di jembatannya itu sangat tertebak. Film sebagus ini jangan sampai bertangan hampa di Oscar nanti. Minimal satu piala dan sekali lagi saya tebak piala itu untuk Mark.
Bridge Of Spies | Directed by Steven Spielberg | Screenplay Coen brother, | Cast Tom Hanks, Mark Rylance, Joshua Harto, alan alda, Amy Ryan | Skor: 4/5
Karawang, 280216

Prediksi Oscar 2016: Priest and Justice

image

Untuk pertama kalinya sebelum hari H saya berhasil menyaksikan seluruh nominasi best picture. Perjuangannya tak semudah yang kalian kira. Sayangnya kedelapan film tak sempat saya buat tulisan semuanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya prediksi hanya berisi satu tebakan. Tak ada seri atau dua-tiga pemenang jadi ya harus tebak SATU tiap kategori. Saya tidak suka prediksi yang menulis ‘should be’, ‘will be’ bahkan ada yang sampai tiga ‘wild card’. Come on, be gentle dengan prepare jawaban lain. Dan berikut prediksi Lazione Budy:
Best motion picture of the year – “Spotlight”
Ini adalah film yang berani. Sebuah fakta yang mengerikan diangkat ke layar lebar: kejahatan di dalam gereja! Juri Oscar tentu saja menyukai hal-hal yang unik sekaligus kontroversial. Kalau keruwetan Big Short juara. Kalau kepuasan menonton Mad Max-lah jagonya. Kalau psikologi jelas Room memimpin. Beruang ngamuk? Ya ya bisa jadi memporakporandakan panggung. Tahun ini adalah tahunnya Spotlight! Yang pasti tidak untuk Martian.
Performance by an actor in a leading role – Leonardo DiCaprio in “The Revenant”
The Danish Girl gagal kutonton setelah tahu cd tak bisa berputar di laptop. Trumbo luar biasa, saya suka film-film yang mengangkat biografi penulis. Lupakan Matt dan Fassy. Kali ini juri Oscar membeikan pilihan kepada sang legenda Leo. Yah walaupun sejujurnya aksi beliau di sana lebih banyak mengerang, melenguh dan memekik dalam pelukan beruang. Andai gagal lagi, ayo Leo bersembunyilah di dalam kuda!
Performance by an actress in a leading role – Brie Larson in “Room”
Untuk pertama kalinya aktris pujaanku Saoirse Ronan mendapat nominasi best actress. Walau aksinya jadi gadis lugu yang merantau mempesona kurasa ada yang kurang. Belum nonton Carol dan 45 Years. Yang pasti J-Law ga mungkin, bisa terjatuh lagi di panggung saking shock-nya.
Performance by an actor in a supporting role – Mark Rylance in “Bridge of Spies”
Sampai hari Minggu kaset Creed ga sempat ketonton. Inilah kategori terketat tahun ini. Semuanya bagus. Tapi kalau diurutkan Bale paling rendah, lalu Ruffalo, lalu Hardy. Yang tertinggi? Ya si mata-mata tua Mark Rylance. Penampilan gemilang tiada dua.
Performance by an actress in a supporting role – Jennifer Jason Leigh in “The Hateful Eight”
Please deh jangan Kate Winslet. Steve Jobs adalah film anti-klimak. Pengen lihat Alicia Vikander angkat piala gara-gara penampilan briliannya di Ex Machina. Well, sayang sekali kalau borunan 10,00 Dollar ini tak menang. Perubahan karakter dari yang pasrah menjadi mengerikan di akhir sungguh memukau.
Achievement in directing – “Spotlight” Tom McCarthy
Setelah beberapa kali terlepas jalur antara best picture dan best director di awal 2010-an lalu tahun lalu kembali sejalan lagi dalam Birdman. Tahun ini saya menyakini berlanjut.asal jangan Iñárritu, back-to-back juara? Please kasih yang lain dong.
Adapted screenplay – “The Big Short” Screenplay by Charles Randolph and Adam McKay
Saya sempat beberapa kali pause, rewind, play, lalu replay untuk tahu maksdu film ini. Namun tetap saja pusing, otakku ga kuat menangkap maksud awal mula bencana krisis ekonomi Amerika 2008. Script yang bagus salah satunya adalah membutuhkan konsentrasi dan berulang dinikmati. Yang pasti bukan Martian (lagi).
Original screenplay – “Ex Machina” Written by Alex Garland
Saya sempat menebak Bridge of Spies akan menang. Namun film semeriah Ex Machina ga boleh tangan hampa. Karena di kategori efek ga mungkin jadinya di kategori (menurutku) paling bergengsi ini. Go Alex Go!
Best animated feature film of the year – “Inside Out” Pete Docter and Jonas Rivera
Cukup! Tak usah dibahas. Ini pasti menang.
Best foreign language film of the year – “A War” Denmark
Tebakan liar, satu-satunya kaset yang ada di rumah ya A War. Dan kuharap juara.
Achievement in cinematography – “The Revenant” Emmanuel Lubezki
Bakal menjadikannya hatrick untuk Lubezki. Sayang sekali padahal saya suka sekali Hateful 8.
Achievement in costume design – “Mad Max: Fury Road” Jenny Beavan
All hail Immortan Joe. Kostum gila untuk film gila. Mad Max is too mad. kostum si gila dan genk-nya keren. Semoga besok saat nobar Oscar kutemui penonton memakai topeng Max. Dan saya bisa berfoto denganya.
Achievement in film editing – “The Big Short” Hank Corwin
Si krisis menang lagi? Yup!
Achievement in makeup and hairstyling – “The Revenant” Siân Grigg, Duncan Jarman and Robert Pandini
Kabar 4 jam adalah waktu yang dibuhkan untuk membentuk luka Leo membuatku memilihnya. Buzz yang berhasil.
Achievement in music written for motion pictures (Original score) – “The Hateful Eight” Ennio Morricone
Film western Quentin jadi lebih mencekam ketimbang Django. Film terbaik 2015 benar-benar disokong skore menawan.
Achievement in music written for motion pictures (Original song) – “Earned It” from “Fifty Shades of Grey” Music and Lyric by Abel Tesfaye, Ahmad Balshe, Jason Daheala Quenneville and Stephan Moccio
Film mengecewakan 50 sisi Grey memiliki lagu-lagu bagus.
Achievement in production design – “The Danish Girl” Production Design: Eve Stewart; Set Decoration: Michael Standish
Achievement in sound editing – “Star Wars: The Force Awakens” Matthew Wood
Achievement in sound mixing – “Star Wars: The Force Awakens” Andy Nelson, Christopher Scarabosio and Stuart Wilson
Achievement in visual effects – “Star Wars: The Force Awakens” Roger Guyett
Yup tiga kategori terakhir saya memilih Star Wars. Ini film yang sangat bagus dan sangat layak diapresiasi terutama di visual efek. May the force be with you!
Karawang, 280216