Room: A Tense And Compelling Film

image

Jack: When I was small, I only knew small things. But now I’m five, I know everything!
Tulisan ini mungkin mengandung spoiler. Bagi yang belum menonton dan ingin menikmatinya alangkah bijak tak ikut membaca.
Separuh pertama adalah masterpiece, separuh kedua kurang greget. Begitu Mom dan Jack berpelukan di dunia luar, film ini praktis selesai. Padahal tensi di paruh pertama luar biasa tinggi. Berdasarkan buku yang ditulis oleh Emma Donoghue yang sekaligus menulis skenarionya.
Film dibuka dengan monolog Jack (dimainkan dengan sangat brilian oleh Jacob Tremblay), anak polos yang hari ini ulang tahun kelima, melihat langit dari jendela kaca yang ada di atap. Bersama Ma  (Brie Larson) mereka berdua merayakan ulang tahun yang senyap dengan hanya berdua, membuat kue ala kadarnya, tak ada lilin, tak ada balon, tak ada tamu. Berdua mereka dalam room (ruangan) sepanjang hari – sepanjang waktu. Keseharian Jack dimulai dengan menyapa benda-benda yang ada di sekitar ruangan mulai dari bak cuci piring, kasur, jendela sampai kloset. Pelan namun pasti kita akan diberitahu keadaan sesungguhnya yang membuat mereka ada di sana. Malam hari muncullah karakter ketiga, Old Nick (Sean Bridgers). Jack dimasukkan ke dalam lemari sementara mereka bercinta. Awalnya kukira ini adalah pelacuran, namun tidak. Ini lebih kejam dari itu. Besoknya Nick menghadiahi Jack mobil-mobilan, oiya Jack berambut panjang yang awalku kukira perempuan. Aneh saja melihat bocah berambut panjang bernama Jack diberi hadiah mobil.
Keanehan Jack makin lengkap saat tak tahu bahwa ada dunia di luar sana. Bahwa dunia luar adalah galaksi lain. Bahkan orang-orang di televisi-pun apakah nyata atau maya tak tahu. “Apakah Dora ada?” lalu sampaikan pada bagian yang mengungkap fakta alasan kenapa anak-ibu ini terperangkap di dalam ruangan. Tak ada kata-kata detail, hanya disampaikan bahwa mereka sudah tujuh tahun di sana. Bahwa Ma adalah korban penculikan. Bahwa Jack lahir, tumbuh kembang sampai usia lima tahun di sana. Bahwa betapa mereka mulai bosan dengan benda-benda di sekitarnya. Saya tak berani membayangkan kehidupan mereka selama tujuh tahun terakhir. Sesuatu yang biadap, sesuatu penderitaan tak terperi. Bagaimana kelahiran Jack. Bagaimana kebutuhan hidup setiap hari. Bagaimana bosannya menghadapi waktu. Mengerikan. Too many tears, too many sadness.
Percobaan melarikan diri tentu saja sudah beberapa kali dicoba. Namun di percobaan kali ini mereka berhasil. Detailnya tak kan kuceritakan karena itu adalah bagian terbaik dari film ini. Intinya mereka bisa kabur dan menghirup udara bebas. Separuh kedua adalah soal adaptasi di dunia baru. Bahwa nyamuk pers menjadikannya headline. Bahwa ayah-ibu Ma sudah bercerai dan mereka memiliki kehidupan baru masing-masing. Bahwa dunia luar sudah banyak sekali berubah. Adaptasi Jack tentu saja sulit, kini dia bisa dalam hangatnya pelukkan nenek-kakeknya. Bisa meminta permen sebanyak yang dia mau. Ternyata fokus kembali ke Ma, dalam sebuah wawancara dengan televisi dia terpojok tentang pertanyaan, bagaimana nantinya dia menyampaikan fakta ayah Jack. Seharusnya fokus tetap ke Jack karena benar-benar unik melihat anak kecil penuh tanya tentang segala yang kita anggap normal. Jacob sendiri mendapatkan piala di Critic’s People Choise award. Sangat layak. Berhasilkah mereka melewati kehidupan kejam yang sesungguhnya?
Well, seperti yang saya sampaikan di awal. Separuh awal adalah sebuah film yang sangat bagus. Saat bagian itu selesai dan berganti topik maka selesai sudah film ini. Sementara saya menjagokan Brie Larson menang best actress, dibanding Jennifer Lawrence jelas dia lebih layak. Duh apa kabar Saoirse Ronan? Nama Ma adalah Joy dan menjadikannya film ketiga yang saya tonton tahun ini bernama Joy setelah Inside Out dan Joy. Lucu-kan dua Joy bertarung untuk piala best actress. Screenplay juga menang ketimbang Martian. Namun Big Short yang unik bisa menjadikannya hampa. Kalau best picture jelas ga akan. Bagian keduanya terlalu lemah, kehilangan kendali. Penamaan ketiga karakter utama juga sangat pintar. Ma, Jack (berdasarkan Jack and the giant slayer) dan Old Nick yang diambil dari tokoh setan abad 17. Film ini sendiri bukan berdasarkan kisah nyata manapun. Atau setidaknya biar tak menyungging perasaan korban keluarga penculikan. Apapun itu secara keseluruhan Room adalah film bagus dengan set mini dan hasil maksi.
Room | Directed by Lenny Abrahamson | screenplay Emma Donoghue | Cast Brie Larson, Jacob Tremblay, Sean Bridgers, Joan Allen, William H Macy | Skor: 4/5
Nancy: Hello, Jack. Thanks for saving our little girl.
Karawang, 260216

Iklan

One thought on “Room: A Tense And Compelling Film

  1. Aku juga udah nonton film ini dan pas di pertengahan sempet gumam, “ha cuma gini aja?”

    Maksudnya kok bisa joy menjalani hidup biasa aja setelah 7 taun berada di room? Lalu kabarnya old nick setelah itu ga diceritain lagi. Apa ditangkap dan dipidanakan.

    Tapi emang ide ceritanya menarik sih walau ceritanya lepas begitu aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s