Max Mad: Fury Road – What A Lovely Day

image

Wow. Kali ini suara mayoritas review tak bohong. Sesak sedari detik pertama sampai akhir. Kita disuguhi sebuah film yang tak membiarkan penonton bernafas lega. Terus…, kita dihantam kisah pilu nan puitis dari sebuah perjalanan manusia untuk bertahan hidup di masa depan yang misterius.
Max Rockkatansky (Tom Hardy) adalah pengembara yang dihantui masa lalu. Masa lalu yang traumatis tentang anak dan istrinya. Film dibuka dengan Max tiba-tiba ditangkap sekelompok War Boy. Ditangkap untuk dijadikan pendonor darah. Dengan setting post-apocalyptic masa depan yang frustasi, jangan membayangkan donor darah yang senyap. Bumi bagai neraka dengan tanah yang gersang.  Kelompok ini dipimpin oleh Immortan Joe (Hugh Keys-Byrne) yang kejam dan otoriter. Air adalah barang langka yang mewah, Joe menyimpan air untuk sesekali dialirkan kepada warga. Mereka tinggal di lereng sehingga bisa mengatur segalanya dari atas. Gambar yang ditampilkan sungguh pilu. Anak-anak bekerja menggerakkan roda, bayi disusui dengan asi peras, war boys yang brutal. Bentuk pakaian mereka, penampilan mereka, semuanya tampak seram. Sungguh gambaran dunia masa depan yang menakutkan.
Suatu ketika panglima perang Imperator Furiosa (Charlize Theron) sedang mengendarai Rig War berisi tangki penuh air dan bahan bakar. Rig war adalah kendaraan tronton nomor satu saat itu. Layaknya stom yang melindas segala halangan di depannya. Tanpa diduga, Furiosa membelokkan rute. Tahu ada pembelot, Joe bersama pasukan utama mencoba mengejar. Inilah kegilaan sesungguhnya. Salah satu pasukan war boy Nux (Nicholas Hoult) menjadi driver untuk pertama kalinya setelah berebut stir. Nux yang disuplai darah oleh Max berangkat dalam pertempuran merebut kembali Rig war. Film ini sebagian besar adalah pertempuran ini. Seru sekali melihat perebutan bajak mobil, melihatnya dengan tensi tinggi seakan-akan pembajakan mobil di Fast and Furious adalah tindakan para amatir. Kelas teri. Kejar-kejaran, diiringi music live sebagai penyemangat. Instrument gitar dan drum yang sekaligus sebagai skoring.
Sampailah mereka di gurun kabut penuh badai. Furiousa tak gentar memasukinya, tujuan utama adalah membawa Rig War ke Green Place. Di tengah badai itulah terjadi pembantaian. Mobil rontok, lempar granat, saling tembak, dan seterusnya sampai akhirnya sebuah ledakan menutup layar. Max terbangun setelah badai reda. Masih dalam posisi terantai, dirinya mencoba melepas selang darah dan rantai yang mengikatnya dengan war boy. Ditemukannya pistol, ditembakkan ke tangan war boy agar terputus. (untung) macet. Dibongkarnya pintu mobil dan Max menggotong tubuh war boy selagus menyeret pintu. Tak jauh dari situ Max menemukan Rig War yang terparkir sedang dibersihkan Foriusa dan pemamdangan layaknya fatamorgana, karena ada lima perempuan mandi mengenakan pakaian putih. Ough, itu bukan hasil bayangan Max karena setelahnya mereka jadi satu tim untuk kabur dari kejaran pasukan Joe. Melewati daerah penuh begal. Melewati rawa-rawa. Melewati gurun antah berantah.
Menuju tanah yang dijanjikan Green Place akankah mereka berhasil menemukannya? Bagaimana nasib War Boy yang ternyata berkhianat bergabung dengan Max? Akankah kedamaian tercipta setelah perjuangan panjang ini? Beberapa adegan ngeri untuk dibayangkan. Seperti saat war boy berani bunuh diri demi Joe. Mengingatkanku pada fakta saat ini akan pasukan berani mati, pelaku bom bunuh diri. Adegan saat mereka mengirim pasukan dengan menggunakan galau itu benar-benar gila. Memacu andrenalin. Melompat dari satu mobil ke mobil lain seakan hanya melompati selokan. Setiap gambar yang terjadi bisa Anda jadikan wallpaper yang indah. Tinggal pause lalu screenshot dan jadilah sebuah picture profil yang megah. Sungguh berkesan. Well, film ini sangat seru. Kalau juara Oscar diukur berdasarkan kepuasan menonton Mad Max jelas akan menang. Film Oscar sampai View-gasme seperti ini sangat langka. Yah, inikah film summer. Namun belajar dari tahun lalu yang dari daftar nominasi best picture tak memenangkan Grand Budapest Hotel, rasanya akan sulit juara Kegilaan Maksimal ini. Seandainya film ini bisa mendobrak ketabuan film fantasi imajinasi jadi jawara Oscar maka akan jadi yang pertama setelah lebih sedekade lalu, Lord Of The Ring: The Return Of The King melakukannya. Uwoooo semoga Mad Max berhasil!
Max Mad: Fury Road | Directed George Miller | Screenplay George Miller, Brendan McCarthy, Eve Enssler | Cast Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byne, Zoe Kravitz| Skor: 5/5
Karawang, 260216

Iklan

Inside OUT: We Know Riley’ Head.

image

Inside Out
Sebelum saya menontonnya, ada yang bilang harusnya film ini masuk jajaran nominasi best picture. Dan ketika semalam saya selesai menontonnya, jelas saya tak setuju. Film dengan ide kehidupan di kepala manusia memang bukan barang baru, namun emang sangat bagus. Animasinya juga bagus sekali. Saying sekali ini film Disney yang ending-nya harus happy. Kelemahan utama ada di konflik, terlalu sederhana. Kita sudah sering menontonnya di serial Doraemon saat Nobita ngambek lalu memutuskan kabur dari rumah. Dan seperti itulah garis besar yang disajikan.
Riley (disuarakan oleh Kaitlyn Dias) adalah remaja yang tinggal di Minnesota. Sedari bayi kita disuguhkan ‘kehidupan’ yang ada di kepalanya. Ada 5 karakter utama yang ada di epala Riley: Joy (Amy Poehler), Anger (Lewis Black), Disgust (Mindy aling), Fear (Bill Hafer), dan Sadness (Phyllis Smith). Kehidupan yang ada di kepala Riley selalu menangkap momen yang terjadi di hadapannya. Momen itu berbentu bola bening. Mulai dari terlahir di dunia, tumbuh kembangnya sampai momen yang memaksa keluarga ini harus pindah e San Fransisco. Otomatis Riley harus meninggalkan kehidupan yang menyenangkan. Meninggalkan teman mainnya. Sekolah yang dicintainya. Tim hoki yang seru. Kehidupan baru penuh tantangan menanti di depan.
Di San Fransisco ternyata tak sesuai harapan. Tinggal di apartemen yang sempit. Barang-barang terlambat dikirim. Sekolah yang kacau, bahkan hari pertama perkenalan berubah jadi tragedi. Kesal dengan keadaan, Riley ingin pulang. Kembali ke Minnesota. Apalagi saat chat dengan temannya, terlihat ia sudah punya teman baru, semakin membuatnya cemburu. Akankah Riley memutuskan kabur?
Sementara cerita di kepala Riley lebih seru. Ada  memori core yang disimpan dalam pulau-pulau kepribadian. Suatu hari sebuah memori inti sedih (perkenalan di kelas itu tuh) coba dibuang oleh Joy sebelum mencapai ke sub pusat. Namun dalam prosesnya Joy, Sad dan memori itu tersedot keluar dari Markas, terlepas sehingga terancam terjatuh di pembuangan. Joy tak mau kehilangannya sehingga terseret ke sebuah lokasi penyimpanan. Berdua mereka mencoba kembali ke ruang kendali utama. Sayang dalam perjalanan satu per satu pulau kepribadian terjatuh. Gaswat-kan kalau mereka tak bisa kembali. Di kenyataan bisa jadi membuat Riley selamanya sedih. Dalam perjalanan mereka bertemu makhluk imajinasi masa kecil Riley, Bing Bong. Salah satu adegan menyentuh adalah saat di Dumb Memori mereka mencoba kembali naik menggunakan wagon rocket. Itu sangaaat menyentuh sampai akhirnya membuat salah satu karakter harus dilepas. Berhasilkah mereka kembali? Karena ini adalah Disney, jelas itu pertanyaan Klise.
Banyak trivia-trivia seru yang nge-link dengan film Pixar lain. Seperti gambar dari film UP di memori bola, Saat Joy dan Sad berpetualang mereka menemukan game “Find Me” dari film Finding Nemo dan game “Dinosaur World” dari The Good Dinosaur. Sebuah majalah yang menampilkan wajah Colette Tatou dari Ratatouille. Ada teman sekolah Riley yang mengenakan t-shirt dari film Toy Story. The Luxo, Jr terlihat saat flash back dari karakter Bing Bong. Mobil Cars juga terlihat beberapa kali. Mobil pizza nyaris di semua film Pixar. Dan banyaaaaak lagi. Inilah salah satu keseruan yang membuat kita layak menonton ulang-ulang untuk benar-benar memperhatikan detail gambar.
Secara keseluruhan bagus. Walaupun beberapa detail diabaikan. Seperti fakta ilmiah bahwa emosi manusia dalam kepala sebenarnya ada 27 namun untuk menjaga focus Pete hanya menampilkan lima. Padahal kalau ditelusuri ada tiga emosi yang sangat disayangkan ga dibahas yaitu Surprise, Pride dan Trust. Karena review mayoritas yang bilang wow, keseluruhan tak bisa memenuhi ekspektasi yang kadung tinggi. Kisahnya sangat mirip tv seri Herman’s Head (1991-1994) tentang kehidupan di kepala. Ini adalah film pertama animasi Oscar yang saya tonton. Walau kurang puas tapi sudah bisa simpulkan Inside Out bakalan menang. Sang pemenang memang tak selalu yang terbaik di mata penonton. Namun jelas screenplay yang tak lazim sangat menarik juri Oscar. Empat film sisanya bisa saya skip. Pertanyaan hanya apakah selain best animated film ini bisa menggondol best screenplay? Mari kita lihat.
Inside Out | Directed By Pete Docter | Screenplay Pete Docter, Michael Arndt| Cast Amy Pehler, Lewis Black, Mindy Kaling, Bill Hader, Phyllis Smith, Diane Lane | Skor: 3.5/5
Karawang, 250216