The Revenant: He Knows How Far I Came To Find Him

image

Film ini jadi film pertama Oscar yang saya tonton tahun ini. Dengan harapan besar karena ini adalah sebuah film yang sedang memimpin nominasi dengan 12 kategori, akhir yang didapat anti-klimak. Saya sendiri baru tahu arti revenant setelah bertanya di forum film. Awalnya saya kira berarti balas dendam karena ada subkata revenge. Saya cek di google translate dan kamus tak ketemu. Akhirnya teman dari grup Bank Movie menjawabnya. Revenant kurang lebih berarti orang yang bangkit dari kubur, orang yang kembali dari kematian. Judul yang pas sekali dengan apa yang dialami oleh Glass.
Kisahnya sendiri sebenarnya sederhana. Hugh Glass (Leonardo Di Caprio) dan tim ekspedisi berburu kulit binatang terjebak dalam perselisihan dengan suku asli di daerah Montana dan Dakota Selatan, bersetting di tahun 1823. Berdasarkan kisah nyata film ini dituturkan dengan sudut pandang Glass diambil dari bukunya Michael Punke berjudul the Revenant: A Novel of Revenge. Aslinya Glass tak punya anak, namun untuk menambah daya balas dendam dimunculkanlah karakter  Hawk (Forrest Goodluck). Saat penjelajahan, pertumpahan darah terjadi. John Fitzgelard (Tom Hardy) beberapa kali menyelamatkan Jim Bridger (Will Poulter) dalam pelarian. Saya jelaskan ini dari awal karena akan jadi titik penting di eksekusi ending nantinya hubungan antara John dan Jim. Dipimpin oleh captain Andrew Henry (alumnus Hogwart Domhnall Gleeson) pelarian itu menyisakan segelintir pasukan. Terjebak di hutan yang seakan tak ada harapan untuk keluar hidup-hidup, mereka menyembunyikan kulit buruan di suatu tempat untuk mengurangi beban dan akan diambilnya saat keadaan sudah lebih aman. Melepaskan kapal untuk melanjutkan perjalanan. Suatu hari Glass yang sedang sendiri tiba-tiba diserang oleh seekor beruang. Adegan inilah yang memorable dan sangat membekas. Leo dengan segenap tenaga bertahan hidup. Dengan senjata seadanya dia terus melawan, berguling, terlempar, mengerang, berteriak gila. “Beri saya itu piala, please…”. Glass sekarat. Perjalanan berikutnya jelas lebih repot, dia ditandu mandaki gunung, turuni lembah, sungai mengalir indah ke samudra. Sampai akhirnya tim menyerah. Diputuskan perjalanan dilanjut dengan meninggalkan Glass ditemani oleh John, Jim, dan Hawk. Di sinilah drama besar terjadi, sampai ada perselisihan yang mengakibatkan salah seorang mati. Glass yang sekarat dan sepertinya mustahil hidup ditinggal karena hopeless. Jonh dan Jim melanjutkan perjalanan. Diluar duga Glass bertahan hidup yah karena judulnya kan bermaksdu itu, scene ketika Leo merangkak, meloloskan diri juga patut diacungi jempol. Jim meletakkan botol air minum di atas tubuh Glass, botol minum ini akan jadi barang bukti penting di akhir. Saat dirinya masuk ke tubuh kuda itu, sungguh tak tega kalau piala tahun ini terlepas dari Leo. Konon untuk membuat bentuk luka butuh waktu lima jam. Dia sudah totalitas. Ampun deh kalau gagal lagi. Mengingatkanku pada salah satu adegan film Seraphim Falls.
Apakah Glass berhasil menyusul tim dengan selamat. Dendam itu akankah terbalas. Bagaimana akhir dari perselisihan dengan suku pedalaman? Bagaimana nasib kulit buruan yang disembunyikan itu. Catat, ini penting dong karena tim ekpedisi ini kan ke sana demi kulit. Haha…
Sejujurnya saya kurang suka dengan cerita seperti ini. Sudah sangat umum, sudah banyak dibuat. Sementara saya tak menjagokannya sebelum menonton film lain. Saya justru terkesan sama Tom Hardy yang juga masuk nominasi aktor pendukung. Bisa jadi dia menang. Kabarnya Tom sampai menonton ulang film Platoon (1989) dan terinspirasi oleh Tom Berenger. Namun yang paling membuatku takjub adalah akting Will Poulter. Catet! Suatu hari dia akan menang Oscar. Tinggal tunggu waktu, peran dan momen yang tepat. Aktor yang pertama kali dikenal sebagai Rambo kecil ini adalah aktor favoritku di seri ketiga Narnia. Mimik dan setiap gelagatnya yang terlihat panik sungguh asyik diikuti. Jadi naga wow!
Yang menakutkan film ini berpeluang menjadikan Inarritu back-to-back menang best director dan best picture setelah tahun lalu secara mengagumkan bersama Birdman. Kalau bisa janganlah. Mending buat yang lain. Buat Tom Abrahamson atau Tom McCarthy aja. Atau Georgo Miller untuk Mad Max: Fury Road. Jarang-jarangkan film summer menang. Yah, karena saya belum nonton Mad saya belum bisa kasih penilaian keseluruhan. Revenant saya prediksi menang di sinematografi yang digawangi oleh senior emmanuel Lubezki.
Spotlight jelas ada pada Leonardo Di Caprio. Aktor yang total mendapat nominasi keempat ini masih saja jadi tanya, “kapankah pecah telur?”. Dari Catch Me If You Can, The Aviator, The Wolf of Wallstreet sampai Revenant ini. Sejujurnya dari keempat film itu Leo sangat layak dapat di the Wolf, terlihat total dan ekspresif. Yang sayangnya secara bersamaan ada Matthew. Di Revenant Leo jauh dari kata wow. Lebih banyak mengerang dan mengaduh ketimbang memainkan mimik muka yang biasanya disuka juri Oscar. Sebagai catatan tambahan, Leo sudah sapu bersih penghargaan bergengsi lainnya termasuk Golden Globe dan Bafta. Tanda-tanda kan. Namun sebelum tanggal 29 Feb nanti segalanya masih mungkin. Akankah ini adalah momen panjang yang dinanti Leo?
The Revenant | Director Alejandro G Inarritu| Screenplay Alejandro G Inarritu Screenplay Alejandro G Inarritu, Mark L Smith | Cast Leonardo Dicaprio, Tom Hardy, Will Poulter, Domhall Gleeson| Skor: 3,5/5
Karawang, 110216

Iklan

Kutipan Terkenal Jobs

image

Salah satu kehebatan steve Jobs adalah apa yang diucapkan hiperbola. Ia adalah master hype (membesar-besarkan), frasa yang menarik dan mudah diingat. Bahkan saat bicara biasapun kata-kata dan ungkapan brilian sering keluar. Diketik ulang dari buku yang ditulis oleh Hermawan Aksan, Steve Jobs: Otak Jenius Dibalik Kesuksesan Apple, inilah  11 kutipan terkenal Jobs:
Jarang Anda melihat seniman dalam usia 30-an atau 40-an bisa benar-benar menyumbangkan sesuatu yang luar biasa. – Pada usia 29 tahun, Majalah Playboy, Februari 1985
Saya selalu ingin memiliki dan mengontrol teknologi utama dalam segala hal yang kami kerjakan. – Business Week Online, 12 Oktober 2004
Inovasi tidak ada hubungannya dengan berapa banyak Dollar SDM yang Anda punya. Ketika Apple muncul dengan Mac, IBM menghabiskan setidaknya 100 kali lebih banyak dalam SDM. Ini bukan tentang uang, ini tentang orang-orang yang Anda miliki, bagaimana Anda memimpin dan bagaimana Anda mencapainya. – Fortune, 9 November 1998
Sungguh sulit mendesain produk melalui focus group. Sering sekali, orang-orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda memperlihatkannya pada mereka. – Business Week, 25 Mei 1998
Obat bagi Apple bukanlah pemotongan biaya-biaya. Obat bagi Apple adalah menginovasi cara keluar dari keadaan sulit sekarang. – Apple Confidential 2.0: The Definitive History of the World’s Most Colorful Company, oleh Owen W. Linzmayer
Jika saya menjalankan Apple, saya akan memerah Macintosh – dan akan sibuk dengan hal besar berikutnya. Perang PC sudah berakhir. Selesai. Microsoft sudah lama menang. – Fortune, 19 Februari 1996
Apple memiliki aset yang luar biasa, tapi saya yakin tanpa banyak perhatian, perusahaan ini bisa, bisa, bisa – saya mencari keta yang tepat—bisa, bisa mati.-  mengenai kembalinya dia sebagai CEO sementara di majalah Time, 18 Agustus 1997
Saya beruntung masuk ke dunia komputer ketika (dunia komputer ini) masih sangat muda dan masih industri yang idealis. Tidak banyak gelar yang ditawarkan ilmu pengetahuan komputer sehingga orang-orang yang masuk dunia komputer adalah mereka yang hebat dalam matematika, fisika, musik, zoologi, apa saja. Mereka mencintainya, dan tak ada yang benar-benar berfikir tentang uang. – Fortune
Personal computer tercipta oleh revolusi perangkat keras pada tahun 1970-an. Perubahan berikutnya akan datang dari revolusi perangkat lunak. – Biografi Jobs
Macintosh merupakan produk hebat karena orang-orang yang mengerjakannya adalah para musisi, seniman, penyair dan sejarahwan yang juga hebat sebagai ilmuwan komputer. – The New York Times
Karawang, 220216

Wildmills Of The Gods – Sidney Sheldon #5

image

Akhirnya setelah dicari muncul juga skor 5/5 pertama dari Sidney. Sejujurnya masih ada beberapa bagian yang mengecewakan, namun di buku Wildmills konflik yang ditampilkan sungguh berat dan kejutan yang disajikan asyik diikuti. Bagian konspirasi yang memaksa sang tokoh utama berangkat ke Eropa dengan menghilangkan anggota keluarga itu sungguh biadab. Dan semakin berat konflik yang ditawarkan semakin menarik cerita diikuti. Identitas Angel yang mengejutkan dan sang antagonis yang tak terduga, jelas buku ini layak dapat puja-puji.
Dibuka dengan sebuah kutipan yang superb dari A Final Destiny, H.L. Dietrich: “Kita semua adalah korban, Anselmo. Nasib kita ditentukan oleh bergulirnya dadu jagat raya, pengaruh rasi bintang dan arah mata angin keberuntungan, yang diembuskan dari kincir angin para dewa.” Kutipan yang benar-benar pas bahwa seluruh cerita ini nantinya akan penuh kendali sebuah organisasi untuk mengatur dunia.
Cerita diawali sebuah prolog yang memukau. Langsung terbayangkan sebuah opening film penuh teka-teki. Sebuah pertemuan yang misterius karena semua anggota menggunakan nama sandi, Sigurd, Odin, Balder, Thor, Tyr, Freyr. Pertemuan di Perho, Finlandia itu menelurkan kesepakatan tentang pemilihan seseorang yang harus mengisi sebuah jabatan. Setelah dua jam empat puluh lima menit, meeting selesai pondok itu dibakar seolah tak pernah ada pertemuan. “Aku berburu di hutan ini minggu lalu. Waktu itu tak ada pondok di sini.” Wow, khas cerita suspence!
Kisah dituturkan dalam 3 bagian/buku. Di bagian pertama adalah pengenalan karakter utama. Kedua adalah eksekusi menuju puncak, lika-liku panjang dengan intensitas mendalam dan bagian ketiga adalah puncak ketegangan sampai akhirnya mereda menjelang akhir. Sidney seperti biasa, bermain dengan pembaca dengan memberi klu bahkan di paragraf pertama. Seorang calon presiden Amerika, Stanton Rogers yang digadang-gadang akan menang dalam pemilihan malah terjerebab karena hal yang tabu yaitu pernah selingkuh dan bercerai. Seperti kata orang-orang Washinton, “Stanton terjerumus karena nafsunya dan terlempar keluar dari kursi presiden.” Catat, ini adalah klu penting cerita Wildmills.
Teori Marshall McLuhan bahwa televisi akan membuat bumi menjadi suatu “kampung-bumi” telah menjadi kenyataan. Stanton dan Ellison bersahabat. Pelantikan presiden Amerika Serikat keempat puluh dua, Paul Ellison disiarkan oleh satelit ke lebih dari seratus sembilan puluh negara. Lalu kita disuguhkan dari beberapa sudut dunia tentang pidato sang presiden. Salah satu karakter yang mendengarkan pidato itu adalah, Mary Ashley. “Syukurlah aku memilihnya, Paul Ellison akan menjadi presiden yang hebat.”
Ternyata Mary adalah tokoh utama kisah ini. Setelah pembuka yang berbelit tentang birokrasi Gedung Putih, kita diajak mengenal lebih dekat Mary, seorang dosen yang sejarah modern. Mary lahir dan besar di Junction City. Walaupun dosen yang menerangkan tentang sejarah dunia, ia tidak pernah keluar negeri. Semua yang dipaparkan dalam kuliah adalah teori dari banyak membaca. Menikah muda dengan dokter Edward yang super sibuk. Bahkan saat bulan madu-pun tak bisa jauh dari Junction City karena Edward sedang dalam tugas. Saat bulan madu direncana liburan berikutnya, Beth lahir. Dua tahun kemudian Tim, anak keduanya lahir. Jadilah cita-cita keluar negeri itu gagal. Mempunyai suami yang baik, anak-anak yang sehat, keluarga sempurna. Tetangga yang baik, tempat tinggal nyaman. Karir yang membanggakan. Hidup Mary adalah gambaran sempurna warga Amerika. “Sampanye,” Mary berkata serak, “adalah balas dendam orang Perancis terhadap kita.”
Suatu hari dirinya ditunjuk oleh Presiden Ellison untuk menjadi duta besar negara Rumania. Negara yang berada jauh di Eropa sana yang saat ini sedang dipimpin Komunis Nicolae Ceausescu. Kejutan besar itu disampaikan kepada suaminya. Tentu saja suaminya bangga, namun keputusan terpecah. Dokter Edward tak bisa ikut ke Eropa karena tugasnya yang melimpah. Anak-anak sedang dalam masa sekolah yang menyenangkan. Sulit sekali melepas kesempurnaan hidup seperti itu. Dilema besar itu diakhiri dengan konspirasi yang memberi cerita keluarga sangat menyedihkan. Daya tarik utama buku ini ada di sini. Melibatkan, pembunuh bayaran dari Argentina, gerakan bawah tanah Patriots for freedom, sampai akal-akalan para pejabat Negara.
Singkatnya Mary berangkat ke Rumania sebagai duta besar yang awalnya diragukan karena nir pengalaman. Tak bisa bahasa Rumania, dan seorang wanita di tempatkan di negara konflik. Sebelum  Mary ke sana, terjadi kudeta gagal Marin Groza yang melarikan diri ke Perancis. Setiap saat perang saudara bisa pecah. Rumania dalam pengawasan ketat setiap gerak Mary disadap, nyaris tak ada privasi. Ditambah runyam tim staf-nya banyak yang diragukan loyalitas terhadap bangsa. Saling siku, saling manjatuhkan karena iri mereka dipimpin seorang wanita yang tak pengalaman. Karena kematian pasti akan terjadi dengan jalan apapun, mengapa tidak mengambil keuntungan darinya?
Belum lagi teror yang datang ke kantornya. Ada tulisan cat di dinding, “Pulanglah Sebelum Kau Mati”. Namun berjalannya waktu Mary bisa mengendalikan situasi. Dirinya seperti mandapat spotlight, sering muncul di majalah dan televisi. Keputusan-keputusan yang menguntungkan Amerika, pelan tapi pasti Mary mencapai puncak popularitas. Well, ternyata tak sepenuhnya itu kerja keras Mary sendiri. Kelompok yang disebutkan di awal adalah kelompok yang mengatur dunia, termasuk Mary ini. Ia bagai pion yang digerakkan di atas papan catur.
Ada adegan lucu yang disampaikan Sidney. Saat jamuan makan, tidak boleh meninggalkan pesta kalau tamu kehormatan belum pulang. Sayang sekali Mary tak tahu aturan tak tertulis itu. Saat jamuan wakil presiden, Mary pulang cepat padahal sang tamu masih ada di pesta. Besoknya dia ditegur. Nah suatu malam Mary jadi tamu kehormatan, dia harusnya pamit lebih cepat namun karena lupa dia terus saja di pesta sampai tengah malam dan tak satupun orang izin karena dia masih di sana. Sungguh anekdot bagus ala Sidney.
Bagaimana akhir dari petualangan Mary. Novel-novel Sidney (hampir) semua happy ending, jadi yah akhir bahagia pasti terbentang untuk Mary. Epilog-nya sendiri seperti menampar pembaca karena saat jaringan satu terjatuh muncul jaringan lain.
Wildmills mengingatkanku pada buku-buku Noam Chomsky. Di buku How the World Works, diceritakan betapa bangsa Amerika begitu digdaya mengatur dunia. Mulai dari hal remeh menentukan pimpian suatu negara sampai keputusan perang dengan siapa i. Keputusan Marin Groza yang melarikan diri saat gagal kudeta, jelas ini ada campur tangan Amerika. Saat perang dingin dengan Rusia pun, Rumania seperti boneka yang sesuka Amerika mainkan. Entahlah kebenaran tulisan Chomsky dalam bertutur, bisa jadi dia lebai, namun Wildmills memberi bukti bahwa dia tak omong kosong. Maju terus Amerika, Eh!
Kincir Angin Para Dewa| diterjemahkan dari Wildmills Of The Gods | copyright 1987 by Sidney Sheldon | alih bahasa Irina M Susetyo & Widya Kirana | GM 402 89.592 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kelima, Agustus 1991 | 552 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-592-0 | Untuk Jorja | Skor: 455
#5/14 #SidneySheldon Next review: The Time Of Sands
Karawang, 200216 – Creed and A War
Mark Twain berkata bahwa ia tidak menaruh hormat pada orang yang hanya dapat mengeja kata-kata dari kiri ke kanan.