Hidup Bersama Orang Sulit

image

Beberapa orang bertanya kepada saya, bagaimana cara menangani orang-orang yang sulit. Di lingkungan kerja, kadang kita bertemu dengan orang-orang semacam itu.
Pertama-tama, terapkan prinsip bahwa: kita tidak akan pernah bisa lolos dari orang sulit. Orang yang sulit adalah bagian dari hidup. Bahkan sekalipun saya meninggalkan keduniawian untuk menjadi biksu, saya pikir saya hanya akan hidup bersama orang-orang yang tercerahkan, namun sayangnya tidak semua biksu adalah orang yang tercerahkan. Sebagian besar biksu tidak langsung tercerahkan dan sebagian sangat sulit diajak hidup bersama.
Kenyataannya, sebagian biksu sepuh, saya sering mendapat surat permintaan untuk menampung biksu dari Wihara lain yang mengatakan, “Kami punya biksu ini…” Dan jika mereka menulis, “ia menyayangi kesunyian,” itu sesungguhnya sandi untuk mengatakan bahwa biksu itu tak bisa akur dengan siapa pun, atau “ia pekerja yang sangat baik”, artinya ia tidak bisa bermeditasi sekalipun terancam maut, atau “ia sangat instrospektif dan kontemplatif”, yang berarti ia mencari kesalahan-kesalahan orang dan mengatakannya kepada orang lain.
Jadi biasanya jika mereka bilang bahwa mereka ingin mengirim biksu dari Wihara lain, kami menelpon biksu yang bukan kepala Wihara itu, melainkan biksu lainnya untuk mencari tahu orang macam apa yang mereka kirimkan untuk memastikan orang itu tidak bakal menjadi pusat onar.
Jika entah bagaimana pembuat onar datang ke bisnis Anda, keluarga Anda atau Anda lahir bersama meraka, mereka anggota keluarga Anda, atau Anda jadi guru mereka, atau mereka muncul begitu saja dalam hidup Anda, apa yang bisa Anda lakukan? Ini adalah masalah yang setiap dari kita harus hadapi dari waktu ke waktu: berurusan dengan orang sulit.
Bagaimana kita menanganinya? Nomor satu: terimalah bahwa orang sulit adalah bagian dari hidup Anda. Alih-alih menjadi galau sendiri, “Aku tidak menginginkan ini… ini salah! Mengapa aku harus berurusan dengan ini? Mengapa harus saya?” ketimbang segala pemikiran negatif yang bikin masalah tambah rumit, kadang kita cukup belajar hidup bersama prang sulit.
Ketika saya masih muda, ketika belum banyak buku spiritual terbit. Saya ingat akan seorang guru spiritual tua yang istimewa. Ia tinggal di Perancis pada zaman antara Perang Dunia I dan II. Namanya Gurdjieff. Ia seorang pemimpin komunitas spiritual kecil. Nah dalam komunitas itu ada satu orang pembuat onar – orang yang begitu sulit untuk diajak tinggal bersama. Semua anggota komunitas itu sering kali mengeluh pada guru mereka. “Orang ini bagaikan duri dalam daging. Dia tidak pernah bersih-bersih, selalu bikin ribut, makan semua makanan enak-enak, benar-benar sulit dan egois. Dia sama sekali tidak spiritual. Bolehkah kami mengusirnya?” Gurdjieff selalu mengatakan, “Tidak. Jangan. Belajarlah dari hal ini. Sabarlah, miliki batin yang lebih lapang dan berbelas kasih.”
Setiap orang mengeluhkan orang ini, namun Gurdjieff tidak pernah mengusirnya. Sampai setelah guru besar ini meninggal, ketika mereka menelusuri surat-surat dan berkas miliknya, mereka menemukan buku catatan keungan komunitas. Setiap anggota komunitas membayar iuran agar bisa tinggal di sana, namun dalam catatan itu si pembuat onar adalah satu-satunya yang bukan hanya tidak membayar, namun malah mandapatkan uang dari Gurdjieff! Ternyata dia adalah anggota komunitas yang dibayar Gurdjieff untuk mengusik komunitasnya. Membuat orang kesal dan marah, untuk mengajari semua orang bagaimana menjadi toleran.
Sangatlah mudah berdamai dan memilliki cinta kasih kepada orang-orang yang kita sukai. Namun, ujian spiritual sejatinya adalah jika kita bisa memilki belas kasih dan kedamaian terhadap hal-hal – terutama orang-orang – yang tidak kita sukai. Mudah saja mentolerir orang baik, namun menolelir orang yang sulit? Itu baru perjuangan yang sebenarnya.
Itulah tantangannya. Itulah bagaimana kita bisa belajar dan berkembang. Jika kita belajar memilki toleransi terhadap orang yang sulit, maka kita juga bisa belajar menolelir berbagai kesulitan dalam hidup seperti penyakit, usia, tua, kekecewaan, jatuhnya bursa saham, dan segala kesulitan lain. Semua itu karena hidup ini memang sulit.
Singkatnya, cara pertama menangani orang sulit adalah selalu ingat bahwa apa pun yang kita lakukan, betapa pun kita berupaya dan berjuang, orang sulit akan selalu ada dalam kehidupan kita.
Selamat datang ke dunia! Ini bukan surga, Bung!
Diketik ulang dari buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!’ Karya Ajahn Brahm bab Penolakan Terhadap Dunia no 35 halaman 121-123.
Karawang, 200216 – 8 hari jelang Oscar 2016

Iklan