Tell Me Your Deams – Sidney Sheldon #4

image

Ini adalah buku yang sempurna di pembuka. Sesak tanpa jeda kita dihantam penuh intrik dan teka-teki. Di bagi dalam tiga bagian, bagian pertama adalah masterpiece. Sebuah awal yang sempurna untuk membuat skor 5/5. Sayangnya di bagian kedua tensi diturunkan dan di bagian penutup Sidney kehilangan kendali sehingga menukik tak tertahankan. Sesal sekali ekspektasi yang membumbung itu terhempas.
Untuk kali ini tak ada prolog atau kutipan khas Sidney sebagaimana buku lainnya. Kita langsung ditaruh di tengah konflik. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, seorang gadis bernama Ashley Patterson bekerja di Global Computer Graphics Corporation, sebuah perusahaan baru yang sukses dan berkembang di pusat kota Cupertino, Silicon Valley California. Ashley adalah gadis yang gugupan, mudah panik dan merasa selalu dikuntit seseorang. Ternyata Sidney sudah memberi klu sedari awal. Merasa diikuti seseorang, Ashley yang sering bicara dalam hati berjanji: “Itu tak bisa berlarut-larut. Siapapun dia, tak kan kuizinkan dia melakukannya ini padaku. Tidak akan pernah. Aku akan memasang gerendel. Besok.”
Ayah Ashley adalah seorang dokter terkemuka. Terkenal sampai masuk majalah Time. Dr. Steven Patterson adalah sosok yang tegas, berkharisma dan tampak berwibawa. Sebagai orang tua tunggal Dr. Steven sangat protektif kepada putri semata wayangnya. Dalam sebuah adegan saat mereka makan siang di sebuah kafe, Dr. Steven melarang Ashley berpacaran dengan Shane Miller, supervisor-nya. Lalu adegan ditarik ke masa SMU. Adalah pemuda idaman cewek-cewek, Jim Cleary seorang pemain sepak bola yang berhasil meluluhkan hati Ashley. “Tak kan kuizinkan seorang pemain sepak bola menikah denganmu Ashley. Dia tak cukup baik untukmu.” Klu lagi: Ia selalu berkomentar begitu kepada setiap pemuda yang kencan dengannya.
Prediksi ayahnya benar. Jim tak bisa diandalkan. Sehari setelah kelulusan, mereja berencana kabur naik kereta untuk menyongsong hari depan bersama. Nyatanya Jim tak datang ke stasiun kereta api yang disepakati. Dengan hati remuk, Ashley dibawa ayahnya ke London untuk melanjutkan kuliah. Mengambil jurusan komputer dan setelah lulus dirinya kerja di Silicon Valley.
Gadis kedua adalah Toni Prescott, kelahiran Inggris. Gadis yang memiliki suara merdu dan mahir bermain piano. Hobinya kelayapan di klub malam, hidup bebas penuh ekspresi menikmati masa muda. Sewaktu kecil ibunya sangat benci kalau Toni menyanyi. Salah satu lagu yang selalu diingatnya di masa kecil adalah ini:
“All around the mulberry bush | The monkey chased the weasel | The monkey thought ‘twas all in fun | Pop! Goes the weasel — Mengelilingi semak beri | Si monyet mengejar si musang | Si monyet pikir cuma main-main |  Pop! Muncul si musang”
“A penny for a spool of thread | A penny for a neddle | That’s the way the money goes | Pop! Goes the weasel — Satu penny untuk segulung benang | Satu penny untuk sebatang jarum | Untuk itulah uangnya | Pop! Muncul si musang”
Waktu dan keadaan membuat Toni bekerja di Global Computer Graphics Corporation. Dia sangat benci rutinitas di sana. Benci mendengar bunyi plug-in dan dpi dan halftone dan grid. Melewatkan hari-hari yang menyiksa di kantor. Setiap akhir pekan dirinya melewatkan diri di klub malam di San Fransisco. Internet mengubah segalanya. Toni sepulang kerja lebih banyak duduk di depan komputer untuk chatting, inilah dunia baru. Toni berkenalan dengan banyak pemuda, salah satunya Jean Claude Parent.
Gadis ketiga adalah Allete Peters. Seorang yang penyendiri, hobi melukis. Indranya dipenuhi nuansa warna, mencium warna dan mendengarkan warna. Allete lahir di Roma, Italia dan nada bicaranya beraksen Italia yang melodius. Ia suka Italia dan bangga terlahir di sana. Hobi melukisnya sering membuat marah ibunya. “Kau membuang-buang kertas dan cat. Kau tak punya bakat.”
Allete takut terbang, sehingga kepindahannya ke California sempat membuatnya was-was. Namun ternyata berjalannya waktu membuatnya kerasan. Bekerja di Global Computer Graphics Corporation menawarkan banyak kesenangan. Sebuah kota kecil yang menghormati privasi. Allete menderita manik-depresif, menderita anomi, merasa disisihkan dari yang lainnya. Perubahan hatinya sering tiba-tiba, dalam sekejap ia bisa berubah dari luar biasa bahagia menjadi begitu menderita. Allete sama sekali tak bisa mengontrol emosinya.
Teman baiknya adalah Toni Prescott. Dirinya sering curhat dan berbagi cerita. Karakter Toni yang keras sering memberi solusi instan atas masalah yang menghantui Allete. Setiap minggu ke gereja, menjual lukisan indahnya untuk amal. Suatu hari pastor Frank akan pensiun dan jemaat mengusulkan menghadiahinya sebuah lukisan. Seorang jemaat senior Walter Manning mempunyai seorang anak perempuan yang pandai melukis sehingga diminta melukis Pastor Frank, sementara jemaat lain mengusulkan Allete-lah yang pandai melukis. Akhirnya dibuat dua lukisan lalu divoting lukisan siapa yang akan dijadikan hadiah. Walter ngotot, lukisan putrinyalah yang terbaik Allete mengalah. Malam itu saat perjalanan pulang, Walter meninggal dalam kecelakaan tabrak-lari.
Setelah tiga bab pengenalan tiga karakter utama, konflik pertama muncul di bab keempat. Suatu pagi saat Ashley berburu-buru berangkat kerja dirinya menemukan sebuah amplop di apartemennya. Amplop yang berisi ajakan reuni SMU 10 tahun di Pennsylvania. Dengan hati berdebar antara datang atau tidaknya nanti, Ashley teringat Jim, pemuda yang menghianatinya. Diputuskan Ashley datang, dan betapa terkejutnya dia ternyata Jim meninggal di pagi hari saat mereka janjian di stasiun. Begidik ngeri. Ashley pening dan memutuskan secepatnya kembali ke kota Cupertino. Sepuluh tahun kematian Jim, tak ada perkembangan siapa pembunuhnya. Ada yang janggal.
Seuatu hari Ashley dikejutkan sebuah tulisan merah lipstik seperti darah di cermin apartemennya, “KAU AKAN MATI”. Dengan panik dihapusnya tulisan itu. Sepertinya sang penguntit berhasil masuk ke kamarnya. Apa dan bagaimana dia bisa melakukannya akan dibuka di akhir bagian pertama. Sementara pembunuhan kembali terjadi. Teman kerja di Global Computer Graphics Corporation ditemukan tewas seuatu pagi. Pembunuhan berikutnya terjadi, korbannya teman lukis sekaligus teman kencan Allete. Pembunuhan lainnya, teman chatting Toni,  Jean Claude meninggal. Semua korban laki-laki, semua dikebiri. Semua tewas mengenaskan. Pembunuhan terbaru, seorang deputi bernama Blake yang menangani kasus ini ditemukan meninggal setelah dikebiri ditemukan tergeletak di tengah jalan dekat apatemen Ashley. Ending bagian pertama sungguh mengcengangkan, f**king awesome saat sang pembunuh akhirnya ditangkap.
Di bagian kedua kita disajikan karakter baru. Seorang pengacara muda yang menanti anak pertamanya. David Singer dan Sarah sedang mencari rumah baru untuk menyambut kelahiran si kecil. Sebagai pengacara muda yang penuh bakat, David akan naik kelas setelah enam tahun kerja di biro hukum Kincaid, Turner, Rose & Ripley. Namun promosinya tertunda saat dirinya ditunjuk oleh Dr. Patterson untuk membela seseorang. Sebuah kasus berat yang rasanya mustahil dimenangkan. David yang punya hutang nyawa kepada Dr Patterson karena pernah menolong ibunya, dipaksa menangani kasus ini. Saat david kembali ke kantornya, ia bertanya-tanya sendiri, Kenapa Dr Patterson ngotot mnenginginkannya menjadi pembela?
Sisa bagian dua diwarnai dari satu persidangan ke persidangannya yang lain. Sampai akhirnya sidang pembunuhan itu selesai kita masih akan diberi tanya apa sebenarnya motif utama pembunuhan berantai ini. Motif utama disimpan sampai kalimat terakhir. Bagian persidangan kurasa kurang greget. Novel persidangan yang lebih detail dan lebih seru ada di buku ‘Malaikat Keadilan’.
Lalu di bagian ketiga akan fokus kepada penyembuhan seorang karakter yang panjang nan berbelit. Terapi untuk menuntaskan sesuatu yang salah dalam kepala seseorang yang penuh teori dan memang njelimet. Bagian ini sungguh membosankan. Saya sempat akan nyerah karena diputar-putar terus seakan terapi ini adalah inti ‘Tell Me Your Dreams’. Padalah memang iya.
Kisah panjang itu diakhir dengan lebih seru dengan lagu … Pop! Goes the weasel. Membuktikan ada sesuatu yang salah dalam penanganan. Jelas novel ini bukan sebuah puncak dari Sidney. Namun tetap layak dinikmati. Seperti komentar salah satu teman kerjaku yang sudah membacanya, “Buku ini luar biasa seru di awal lalu meloncat pelan di tengah sampai akhirnya terjun bebas di bagian akhir.” Dan yah tentu saja saya sangat setuju.
Ceritakan Mimpi-Mimpimu | diterjemahkan dari Tell Me Your Dreams | copyright 1998 by Sidney Sheldon | alih bahasa Listiana Srisanti | GM 402 99.284 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 1999 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-655-284-1| Untuk kedua Larry: Larry Hughes dan Larry Kirshbaum, dua mitra andalanku | Skor: 4/5
#4/14 #SidneySheldon Next review: Kincir Angin Para Dewa
Karawang, 140216 – All in a valentine day
Ketika Jim Cleary berkata kepada Ashley, “Ada yang menanyakan padaku pagi ini apakah kau pacarku. Aku harus bilang apa?” Ashley tersenyum dan berkata, “Bilang Ya.”

Advertisements

2 thoughts on “Tell Me Your Deams – Sidney Sheldon #4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s