The Master Of  The Game – Sidney Sheldon #3

Kata teman-teman ini adalah novel terbaik dari daftar 14 novel Sidney yang saya pegang. Makanya saya tempatkan di awal-awal urutan. Awalnya sungguh keren detail yang disodorkan, penuh intrik dan akal-akalan. Penuh perjuangan menuju sukses dari kere Eropa menuju bale di Afrika. Namun perlahan Sidney kembali ke pakemnya, drama dengan klise yang berlebihan. Karena di Amerika, segalanya ditarik ke sana. Ini memang sudah ciri khas Sidney. Detail-detail yang akurat setiap kota bagai kita dipandu ke sana.

Kisahnya panjang mencapai lima generasi. Dengan prolog yang lagi-lagi bisa merusak andai kita jeli sekali mengamatinya. Prolog yang mengantar kita pada ending cerita berliku 764 halaman ini memberitahu kita bahwa nenek 90 tahun Kate Blackwell sedang menikmati permainan piano Robert, buyutnya. “Aku adalah bagian dari masa lampau. Dialah masa depan, buyutku ini yang akan mengambilalih Kruger-Brent Limited kelak”. Kata-kata ini mengisyaratkan banyak hal. Kate selamat sampai umur 90 tahun. Anak-cucunya bermasalah sehingga menyisakan Robert yang berbakat dalam bidang musik. Tulisan seperti ini di depan sungguh beresiko spoiler berat. Dan saya merasakannya. “Di Afrika Selatan, badai seperti ini disebut donderstorm…”

Generasi Pertama adalah Jamie (1883-1906), laki-laki asal Skotlandia yang punya tekad baja akan sukses sebagai penambang di Afrika Selatan. “Lakukanlah apa yang kaupikir harus kau lakukan Nak. Aku tak tahu apadi sana ada berlian. Tapi kalau betul ada kau pasti akan menemukan apa yang kau cari.” Jamie McGregor adalah pemuda tampan yang usianya belum genap 18 tahun saat menutuskan merantau. Dari kampungnya ke Edinburgh, London, Cape Town dan sampaikan di Klipdrift. Daerah kumuh yang menjanjikan uang. Bermodal nekad, otak dan badan kuat Jamie berkenala seorang diri. Dia termasuk orang yang suka menyendiri, tapi sepi yang berkepanjangan membuat hatinya pedih. Perjalanan waktu membuatnya berkenalan dengan seorang saudagar, Solomon Van Der Merwe seorang Belanda yang banyak ‘membantu’ penambang. Punya anak gadis Margaret Van Der Merwe yang membantunya menjaga toko. Ada lagi karakter penting warga lokal lelaki tinggi besar hitam bernama Banda yang bekerja di toko Solomon. Dengan Mr Solomon, Jamie bermitra. Menuju ke utara dengan perbekalan seadanya dan seekor keledai. Di pagi pertama saat perjalanan, keledainya telah mati.

Saat membaca bagian itu saya terlonjak. Hebat betul frasa yang disusun. Diberi harapan meluap lalu ditikam tiba-tiba. Perjalan berikutnya laksana perjalanan maut karena di gurun penuh burung pemakan bangkai di atasnya. Mengerikan. Menuju daerah berlian antara Gong Gong, Forlorn Hope, Delports, Poormans Kopje, Sixpenny Rush… dan akhirnya apa yang ditunggu itu datang juga. Jamie berhasil menemukan ladang berlian tak bertuan yang akan mengubah segalanya. Balik ke Klipdrift untuk melapor kepada tuan Solomon hasil jerih payahnya. Dan kejutan dimulai dari sini. Tipu-menipu, balas dendam, perebutan lahan sampai akhirnya salah satunya terjerebab. Perseteruan panjang itu menghasilkan seorang anak haram bernama Jamie McGregor Jr. Anak yang sepertinya akan jadi penerus kekayaan melimpah Kruger-Brent Limited itu ternyata diluarduga kita semua. Ketika anak kedua Jamie seorang perempuan bernama Kate McGregor lahir. “Astaga, gadis inilah kelak yang akan menjadi pemimpin Kruger-Brent Limited. Ya Tuhan, bantulah kami semua.”

Berakhirlah generasi pertama Jamie. Generasi kedua adalah Kate dan David (1906-1914). Untuk mencapai pembuka menuju sang Ratu Berlian kita diharuskan membaca kisah panjang 266 halaman. Gila kan, kisah sepanjang itu hanya pembuka. Generasi kedualah yang dimaksud Sidney sebagai Master of the Game. Kate orangnya sangat cerdik dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Salah satu yang sungguh brilian adalah saat dirinya jatuh hati kepada pegawainya David Blackwell. Seperti yang sudah saya tebak, David yang sudah bertunangan akhirnya putus sampai akhirnya jatuh ke pelukan Kate. Perjalanan untuk membuat mereka menikah sungguh sangat hebat. David yang akan menikah dengan Josephine O’Neil namun dengan uang dan otak brilian Kate semua buyar. Bagian saat David dan Kate bersatu menjadi pembuka gerbang puncak kesuksesan Kruger-Brent Limited. Dari kisah ini kita tahu, pasangan hidup yang kita pilih akan sangat menentukan nasib kita ke depannya. Kate jeli, David adalah seorang laki-laki sempurna untuk mengurus Perusahaannya. Dari pernikahan mereka kita dituntun ke Bagian ketiga Kruger-Brent Limited (1914 – 1945).

Gila kerja mereka mengubah Kruger-Brent terus berafiliasi ke bisnis lain. Dari Perusahaan berlian kini merambah ke bisnis lain, asuransi, percetakan, ratusan hektar hutan kayu sampai senjata. Di Afrika  dan seluruh dunia berkecamuk perang membuat Kruger-Brent pun akhirnya memasoknya. Tak ada kesenangan yang lebih memuaskan dalam hidup ini selain kerja. Ketika bekerja hidup terasa paling nikmat. Setiap hari selalu membawa seperangkat problema baru. Setiap problema merupakan tantangan – teka-teki yang harus dipecahkan. Permainan baru yang harus dimenangkan. Dan Kate sangat ahli dalam hal ini. Di sinilah arti master of the game, Kate terjebak dalam keadaan yang tak dimengerti akal sehat. Semuanya itu bukan berlatarbelakang keinginan untuk menambah uang atau sesuatu, tapi ada hubungannya dengan kekuasaan. Kekuasaan yang mengatur dan menjadi gantungan hidup beribu-ribu orang di berbagai pelosok dunia. Sepanjang ia memiliki kekuasaan, ia bisa bilang tak butuh siapapun. Kekuasaan bagaikan senjata yang berkeampuhan luar biasa.

Anak pertama pasangan Kate-David lahir prematur dua bulan. Kate memberi nama Anthony James Blackwell. “Aku akan mencintaimu, Nak karena kau adalah anakku. Tapi cintaku akan lebih lagi, karena aku begitu mencintai ayahmu.”

Anthony ternyata sangat berbeda dengan Kate. Dirinya lebih suka menyendiri dengan segala imajinasinya, turunan kakeknya. Maka saat usianya beranjak dewasa, Anthony menjawab:, “Seperti yang kukatakan tempo hari, waktu memndadak dipotong oleh perang. Aku ingin ke Paris…”

Bagian ini sebagai pengantar untuk generasi ketiga, Anthony (1946-1950). Tony lebih condong ke seni ketimbang mengurus Perusahaan. Di Paris dirinya belajar melukis. Belajar dari ahlinya. Berkenalan dengan Dominique, teman belajar melukisnya yang tinggal di flat kecil. Klimak cerita Tony sungguh mencengangkan. Ketika seorang ahli seni, kritikus kawakan Andre d’Usseau melihat galeri kecil tempat lukisan Tony dipamerkan segalanya berjalan berantakan. Hebat sekali di sini Sidney menuturkan kisahnya. Segalanya rapi dengan penuh perhitungan. Tony berjodoh dengan siapapun sudah ditata seolah boneka. Pernikahan dengan Marianne yang menghadirkan kisah berikutnya. Mereka dikaruniai bayi kembar.

Generasi keempat adalah Eve dan Alexandra (1950-1975). Akhir Tony sendiri sangat disayangkan. Namun hidup kadang memang tak seperti diharapkan, bukan? Si kembar ternyata memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang. Eve sangat pintar, ambisius dan sangat dominan, turun neneknya. Sementara Alex sangan pemalu dan menjalani hidup dengan penuh perhitungan. Alex seolah selalu ditimpa sial karena kecelakaan beberapa kali menghinggapinya. Namun dari penuturan kisah satu arah Eve kita tahu tak ada kejadian buruk yang tak direncana. Kehidupan seperti ini seolah menegaskan pada kita bahwa memang hidup ini adil kok. Roda hidup pasti berputar dan bisa jadi penuturan Sidney akan sifat Eve ini adalah degradasi kerja keras kakek buyutnya, Jamie. Seperti pepatah China, generasi pertama membangun generasi kedua puncak kemahsyuran generasi ketiga meruntuhkan. Bagian Eve dan Alex adalah bagian reruntuhan kerja keras. Sifat mereka jelas seperti sifat kebanyakan orang kaya yang belagu dan sok penting, terutama Eve. Alex adalah cermin wanita idaman lelaki, feminis dan selalu peduli sekitar. Eve penuh dendam, salah satu dendam yang selalu dibawanya adalah menyingkirkan Alex dari daftar penerima warisan Kruger-Brent Limited. Menurut saya inilah bagian yang sangat disayangkan, setelah penuturan panjang nan mengesankan bagian generasi keempat adalah yang paling buruk. Banyak adegan klise ala sinetron, banyak kejadian dilaur logika yang disampaikan. Seperti adegan saat Alex jatuh hati pada lelaki yang sebenarnya sudah jadi pasangan Eve. Lelaki Yunani yang akan jadi benang merah punutup anti-klimak generasi ini. Kate sendiri berumur panjang dan masih hidup saat cucu kembarnya menikah.

Generasi kelima adalah anak dari Alexandra dan Peter, Robert (1982) dimana kisah panjang ini ditutup. Robert digambarkan sangat mahir memainkan piano. Prolog yang dinukil itu lalu dilanjutkan sebagai epilog epik menuju tutup usia master of the game? Paragraf penutupnya sungguh bijak, belajar dari Anthony akhir bahagia seperti yang diharapkan bisa kita baca dari pemikiran Kate.

“Kau benar, aku sudah tua tak berhak mencampuri urusan kalian. Kalau memang dia ingin jadi musisi ya jadilah dia musisi. Ingatlah Robert, aku tak menjanjikan apa-apa. Tapi aku akan berusaha membantumu.  Aku punya kenalan kawan dekat Zubin Mehta.” Dasar pengatur!

Dari kisah panjang lima generasi ini saya tahu. Buku ini akan sangat berpengaruh kepada banyak orang, para penulis di masa sekarang dan yang akan datang. Dare you!?

Ratu Berlian | diterjemahkan dari The Master Of The Game | copyright 1982 by Sidney Sheldon | alih bahasa Indri K Hidayat | GM 402 97.672 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan keenam, Oktober 1998 | 768 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-614-5 | Untuk saudaraku Richard yang berhati baja| Skor: 4,5/5

#3/14 #SidneySheldon Next review: Tell Me Your Dreams

Karawang, 100216

Kurasa kaulah satu-satunya perempuan yang bisa mengubah pola hidupku itu buat selama-lamanya. Kemudian aku menelpon ibu dan ayahku serta adik-adikku. Kuceritakan pada mereka tentang perempuan cantik yang menemaniku petang ini.

Advertisements

One thought on “The Master Of  The Game – Sidney Sheldon #3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s