Kebangkitan Lazio

Saya kembali gaes. Dengan penuh percaya diri, Lazio menumbangkan perlawanan pemuncak klasemen Inter Milan di stadion Giuseppe Meazza. Si Brewok Antonio Candreva cetak dua gol penting sementara sebiji gol balasan dari tuan rumah datang dari Mauro Icardi. Berkesempatan untuk nonton bareng dengan ICI (Inter Club Indonesia) Karawang yang berjumlah lebih dari 40 orang, Lazio Karawang yang datang hanya berlima: Nard, Qyeng, Rudy, Abe dan saya. Awalnya alarm saya berbunyi jam 02:00 untuk persiapan nonton via HP streaming, namun bersamaan dengan itu ada SMS dan Ping! masuk dari Nard dan Abe bahwa kita akan nonton bareng Inter Karawang, Purwakarta dan Bekasi di West Java Caffee. Tanpa berfikir dua kali saya berangkat. Kumpul di Alun-alun Karawang, kita berlima ke TKP.

Inter adalah saudara tua Lazio jadi kita disambut mereka dengan hangat. Saat tahu Lazio memakai jersey putih, muncul optimisme kita bakal menang. Namun melihat susunan pemain yang disiapkan Pioli bikit ciut. Bertebaran pemain inti cidera, Lazio mengandalkan Mauricio dan Hoedt di bek tengah. Lalu berturut-turut: Parolo, Biglia, Savic, Radu, dan Lord Konko! Wow si tua ini sekarang jadi pilihan utama setelah mengesankan di UEL (UEFA Europa League). Di depan tak ada pilihan yang lebih bijak dengan memasang Felipe, Candreva dan Matri. Susunan sudah benar, jangan menaruh Candreva dan Keita bersamaan begitu juga Matri dan Djorjevic karena bertipe sama.

Babak Pertama: Peluit dimulainya permainan terdengar, menit pertama Lazio langsung mendapat peluang. Kiper Inter Handanovic melakukan kesalahan konyol. Sebuah back-pass yang mengalir tenang disepaknya saat Matri sudah sangat dekat. Memang bola pantul tak masuk ke gawang, tapi itu sudah membuat degub jantung melonjak. Wah pertanda iki. Mereka grogi di kandang. Dan pertanda itu menjadi kenyataan, gol datang dengan cepat. Melalui sepak pojok sisi kanan, tendangan Biglia mengarah ke Candreva yang berdiri bebas. Dengan sekali hentak bola merobek jala Inter. 0-1. Saya bahkan belum memegang gelas yang disajikan di meja.

Selanjutnya adalah praktek permainan terbuka ala Lazio. Namun kali ini kendali ada di tuan rumah, ball posession njumplang mencapai 65%. Inter kesulitan membongkar bek tua Lord Konko yang pagi ini bermain lugas. Felipe-pun seperti tanpa beban, osak-asik lini tengah. Saat serangan Inter gagal, bola di kaki pemain Lazio kita langsung bergerak cepat merangsek naik. Bayangkan saja, Lord Konko sampai sektor depan. Di menit 30 Lord mengirim umpan silang kepada Savic sayang tak bisa dimaksimalkan. Inter yang dimotori Joventic selalu memancing pemain Lazio untuk keluar area namun sia-sia, Elang Biru bermain sangat rapat. Serangan Inter selalu mentok di tengah, setiap bola yang coba digulirkan ke kotak penalti, 2 – 3 pemain Lazio langsung menutup dengan disiplin. Di satu menit akhir, Lazio the Great harusnya bisa menggandakan gol. Berawal dari salah umpan di pertahanan lawan, Felipe merebut bola nanggung tersebut. Dari sisi tengah Felipe menggiring bola melewati dua pemain Inter, bek terakhir di depan kiper, Telles bahkan terpaksa melakukan tekel. Felipe tetap bisa menggocek bola sampai depan gawang, sayang Candreva yang dapat bola malah menembak burung. HT 0-1.

Hasil babak pertama sungguh luar biasa. Inter memang menguasai laga namun mereka tak ada shot on target. Mengerikan. Saya baru menonton Inter musim ini saat lawan Lazio, dan sungguh menggelikan tim dengan permainan sebobrok ini bisa ada di puncak klasemen. Ada apa dengan Serie A? Ada apa dengan kompetitor?

Babak kedua: Tak ada pergantian pemain. Baru berjalan beberapa menit sang kapten kena kartu kuning setelah tekel tak pentingnya kepada Joventic. Tak banyak peluang tercipta, Lazio bermain aman, Inter mulai frustasi. Jelang satu jam laga, Mancini melakukan double sub: Brozovic dan Ljajic masuk menggantikan Joventic dan Ludovic (what! Saya tak kenal pemain Inter kok bisa pakai ‘VIC’ semua). Pemain-pemain snob! Pergantian yang langsung membawa hasil menit 61 setelah umpan yang buruk itu berhasil dipotong, Perisic memberi assist kepada Icardi yang dengan cerdik mengecoh dua bek. Bola dengan tenang disepak melalui kolong Berisha, Gol 1-1.

Tanpa banyak gaya, Icardi memungut bola dari dalam jala dan membawanya ke tengah lapangan. Gol yang membuat seisi stadion memanas. Atmosfer langsung riung, begitu juga di kafe West Java. Interisti pada bersorang bising. Drum berdentum layaknya perang tengah tersaji, chant-chant riuh rendah bersautan tiada henti. Chant yang didengungkan tak jauh beda dengan milik Lazio, karena kita saudara mereka juga me-merda-merda-kan Roma. Lazio langsung merapatkan barisan, saya udah ketar-ketir alamat buruk kalau Lazio kebobolan saat leading first biasanya pada gugup. Menit 74 Djordjevic masuk menganti Matri yang main culun. Semenit berselang Melo dan Savic cek cok. Namun hanya sesaat karena bola langsung kembali bergulir. Menit 80 giliran Melo lawan Mauricio kini lebih intens. Ini Melo rusuh mulu sepanjang laga. Ada momen lucu ketika bola lambung Inter disepak pelan back pass oleh teman sendiri kepada Berisha, dengan santai menangkapnya. Wasit menganggap bola itu haram dipegang sehingga Inter mendapat free kick dalam kotak pinalti. Konyol, mereka gagal mengkoversinya jadi gol dengan jarak tembak sedekat itu. Keita masuk menggantikan Felipe, berani sekali Pioli. Saat tertekan seperti ini harusnya menambah bek, Radu sudah mulai kelelahkan, namun justru menambah daya gedor patriot muda. Sebuah perjudian Menang atau Kalah sekalian.

Saat menyisakan lima menit akhirnya momen itu datang juga. Pendulum bejan mengarah pada kita. Lagi-lagi Melo melakukan tindakan konyol. Umpan lambung di dalam kotak terlarang Inter dengan tenang akan disambut Savic, namun Melo dengan bodohnya malah menerjang yang membuat Lazio dapat pinalti. Sempat debat sama Qyeng siapa yang akan mengambil tendangan, antara Biglia dan Candreva. Si brewok-lah eksekutor-nya, dia gagal memasukkan bola saat percobaan pertama dihalau kiper namun sukses ketika bola pantul yang mengarah kepadanya disepak sekali lagi. Goooool! 1-2. Gol yang pantas karena memang pagi ini Lazio jauh bermain efektif. Menit terakhir Inter melakukan pergantian ketiga Telles out Palacio in.

Dan saat injury time yang diberikan adalah 5 menit itulah terjadi drama dua kartu merah. Melo melakukan tendangn kungfu kepada Biglia, langsung red card. Sementara Savic akhirnya mendapat kartu kuning kedua. Candreva dianggap buang waktu sehingga dapat kuning juga. Saat menyisakan semenit, saya bersorak. Pemain masa depan Lazio Patric Gabarron masuk menggantikan Candreva. Pergantian ketiga yang sebenarnya hanya untuk buang waktu itu memberi debut the next BIG thing: Patric untuk tim Lazio senior. Tak mengubah banyak hal, saat free kick terakhir Inter yang membuat Handanovic sampai maju ke depan skor akhir adalah tetap 1-2. Luar biasa.

Apa yang didapat dari laga ini selain 3 poin. Mental kembali tinggi jelas, ini adalah kemenangan Serie A pertama setelah babak belur berpekan-pekan. Kemenangan ini menempatkan posisi kita di nomor sepuluh dengan 23 poin. Gap 14 poin dari leader scudetto, 17 poin dari salvation. Poin penting lainnya dari pekan 17 ini adalah Lazio bermain tanpa pemain pilar tapi bisa menang: Machetti, De Vrij, Basta, Lulic sampai Kishna sedang cidera. Coba bayangkan ketika kita full team, jangankan Inter Milan, Barcelona saja siap kita ladeni. Bersama Abdulay ‘Lord’ Konko kita siap memulai kebangkitan.

Catatan yang lain adalah Felipe Melo. Saya pertama kenal pemain ini saat dibeli mahal oleh Juventus namun di musim pertamanya dengan Nyonya Tua gagal total. Pemain overate ini setelahnya dipinjamkan ke berbagai klub yang kukira sudah tenggelam bersama tim kecil. Ternyata pagi ini Melo tiba-tiba kulihat bersama Inter. Sungguh mengejutkan pemain sepayah ini bisa survive di Serie A. Melo jelas adalah pemain dengan rating terburuk di laga ini.

Inter tak pernah kalah dari Lazio di 3 laga sebelumnya. Inter selalu percaya diri. Inter adalah tim yang kuat dalam bertahan. Inter di tangan Mancini sulit ditaklukkan. Inter tak terkalahkan di kandang. Well, kita mengoreksi semuanya pagi ini. Forza Lazio!

Karawang, 211215

Advertisements

One thought on “Kebangkitan Lazio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s