Peter Pan

image

Peter Pan
“Mengapa burung-burung gereja suka membangun sarang di bawah cucuran atap rumah? Karena ingin mendengar cerita-cerita. Oh Wendy, ibumu pernah mengisahkan sebuah cerita yang sangat indah.”
Tiba-tiba pengen review buku ini setelah berbincang dengan Rani Wulandari, teman sekerja kemarin. Dia baru saja nonton Pan, film yang diadaptasi dari kisah karya JM Barrie. Dongeng Peter Pan dan Wendy Moira Angela Darling abadi, dan semua orang tahu petualangan mereka di Neverland. Eh maaf ralat, hampir semuanya. Karena ternyata ketika diskusi dengan Rani dia bilang temannya nonton ternyata ga tahu siapa itu kapten Hook. Dengan polosnya bilang, “mungkin nanti kalau Pan sudah dewasa akan berteman dengan Hook”.
Peter Pan ditulis dengan runut nan menawan. Seperti impian setiap anak-anak bisa pergi ke negeri ajaib penuh suka cita. Dikisahkan Mrs Darling diberi bunga oleh anaknya yang berusia 2 tahun, Wendy dan terharu berujar, “Oh, mengapa kau tak bisa seperti ini selamanya.” Kata-kata mirip yang ternyata pernah saya ucapkan kepada Hermione beberapa hari setelah umur setahun. Sepulang kerja dengan tubuh lelah di petang itu, saya disambutnya di depan gerbang rumah. Dia berlari dengan kaki kecilnya untuk memelukku, minta digendong. Sesaat setelah saya gendong, dia mencium pipiku dan berujar, “mau…”. Lelahku langsung hilang, dengan gemas saya kecup pipinya. “jika bisa waktu dihentikan, aku ingin momen ini yang abadi.”
Di rumah nomor 14 itu, keluarga Darling mempunyai 3 orang anak: Wendy, John lalu Michael. Mereka mempunyai anjing Newfoundland bernama Nana. Nana tinggal di kamar anak-anak sebagai pengasuh yang setia dan menyenangkan. Suatu hari Wendy bercerita kepada ibunya tentang Neverland. Sebuah pulau yang semula dianggapnya imaji, tentang Peter Pan, tentang peri, tentang impian liar anak-anak. Mrs. Darling cuek saja mendengar kisah Peter Pan yang mengunjungi rumah nomor 14 di malam hari. “Tak seorang pun bisa masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu.”
“Menurutku dia masuk memalui jendela. Di lantai tiga.”
Malam di mana kisah ini menemukan titik awal keseruan, Mr. Dan Mrs. Darling mendapat jamuan makan tetangganya di nomor 27. Malam itu ketika mereka pergi, Peter Pan datang mengajak anak-anak ke Neverland. Peter Pan menangis karena bayangannya terlepas. Setelah dibantu Wendy dengan menjahitnya kembali. Mereka terbang ke Neverland dengan bubuk ajaib. Bersama Tinker Bell, peri rapuh, kecil nan sombong. Bersama adik-adiknya juga Michael dan John. Mereka terbang jauh tinggi dan kisah yang sesungguhnya dimulai.
Peter Pan adalah anak istimewa. Suka berpetualang, “menurutmu apa aku akan membunuhnya (bajak laut) sementara dia tidur? Tentu saja aku akan membangunkannya dulu lalu membunuhnya. Itulah yang selalu dilakukannya.”
Waspadalah apabila ada yang menawarimu petualangan dan kau menerimanya maka kau akan jatuh ke jurang yang sangat dalam. Sesampai di Neverland, satu per satu karakter diperkenalkan. Pertama, Tootless si melankolis. Nibs periang dan perlente. Slightly si congak yang suka menari dengan peluit dari pepohonan. Curly si kikuk yang selalu merasa bernasib malang. Dan terakhir si kembar yang tak tergambarkan karena kita pasti keliru menggambarkannya.
Ada ribuan petualangan yang sudah dilewati oleh Peter Pan, namun yang paling seru dan mendebarkan adalah saat melawan bajak laut Kapten James Hook yang memiliki tangan dengan ujung pengait. Di pihak Hook ada Cecco, orang Italia yang tampan. Lalu Bill Jukes, lelaki bertato di sekujur tubuhnya. Ada Cookson, konon saudara si Murphy Hitam. Gentleman Starkey mantan pembina di sekolah negeri. Skylight, orang Irlandia. Mandor kapal, Smee. Noodler yang kedua tangannya kepuntir di belakang. Robt. Mullins dan Alf Mason dan penjahat-penjahat yang ditakuti di negeri Spanyol.
Di tengah-tengah dua pihak ada pasukan Indian yang dipimpin oleh Tiger Lily yang pemberani. Putri kepala suku yang rupawan. Wanita tercantik di seluruh negeri Piccaninny. Cantik, centil, dingin dan manis. Semua orang ingin mempersuntingnya, namun sejauh ini tak ada yang bisa menaklukkan hatinya. Satu lagi karakter penting yang membawa kita mengarungi sisi gelap Kapten Hook yaitu seekor buaya yang menghantui. Buaya raksasa yang mengejar sang kapten. Tangannya ditebas Peter Pan lalu tangan itu dilahap sang buaya. “dia sangat menyukai lenganku, Smee. Jadi dia selalu mengikuti kemanapun semenjak saat itu, dari samudra ke samudra, dan dari pulau ke pulau. Menjilati bibirnya tak sabar mencicipi sisa diriku. Buaya itu seharusnya sudah melahapku sebelum ini, tapi kebetulan saja karena nasib mujur dia justru melahap jam yang berbunyi tik, tik,tik di dalamnya, jadi sekarang sebelum dia bisa mendekati aku akan mendengar suara berdetak itu dan melarikan diri.”
Selain ingin membalas Peter Pan, itulah perasaan takut yang menghantui sang kapten. Di Neverland yang penuh anak-anak dan peri, Wendy menjadi semacam ibu yang tiap malam mendongengkan kisah sebelum tidur. Ada banyak petualangan yang dilewati, kisah mana yang akan dipaparkan? Mungkin petualangan yang lebih menarik adalah serbuan malam hari orang-orang Indian di rumah bawah tanah, ketika beberapa dari mereka terjepit di lubang-lubang pohon dan terpaksa ditarik keluar seperti sumbat-sumbat botol. Atau kisah tentang Peter Pan yang menyelamatkan Tiger Lily di Telaga Putri Duyung, sehingga menjadikannya teman. Atau kisah tentang kue yang dibuat para bajak laut yang membuat anak-anak itu ingin melahapnya sampai mati? Namun Wendy berhasil merampas kue-kue itu sebelum dimakan sehingga kue nya jadi keras membuat Hook tersandung dan jatuh di kegelapan. Atau kisah tentang burung-burung Never yang menjadi teman Peter terutama burung Never yang membuat sarang di atas dahan-dahan Telaga. Atau petualangan keisengan Tinker Bell yang memindahkan Wendy saat tidur. Atau kisah Peter melawan singa-singa, dengan enteng singa-singa ditantang Peter melewati garis yang dibuatnya sementara Wendy dan teman-teman gemetar ketakutan di atas pohon. Ternyata kisah yang akhirnya dipilih untuk diungkap JM Barrie, setelah melempar koin adalah kisah di Telaga Putri duyung.
Kisahnya sangat-sangat-sangat bagus. Hebat sekali bisa membuat kisah sedemikian seru. Sampai akhirnya Wendy ingat rumah. Ingat ibu dan ayahnya. Kangen Nana, anjing pengasuhnya. Ditikam rindu orang tua Wendy ingin pulang. Bagaimana Barrie mengakhiri petualangan di Neverland agar tak ada yang kecewa?
Well, mungkin ini adalah salah satu ending kisah terbaik yang pernah kubaca. Pilihan hebat dengan berlaku adil tanpa membuat air mata harus dikuras dalam-dalam. Kutipan paling terkenal yang menghantuiku selama bertahun-tahun ini akhirnya terjawab.
Peter berujar: “siapa itu Tinker Bell? Jumlah mereka sangat banyak. Kurasa dia sudah mati.” Kurasa Peter benar, karena peri-peri berumur pendek dan mereka begitu mungil sehingga waktu yang pendek itu terasa cukup lama bagi mereka. Dulu saya selalu bertanya di mana kutipan itu akan diletakkan dalam kisah. Dan saya temukan jawabnya dengan brilian dalam buku ini beberapa bulan yang lalu.
Ketidaktahuan memberikan kebahagian satu jam lebih lama pada mereka. Sampai akhirnya buku ini kututup dan akan saya estafet-kan kepada Hermione yang kini berumur satu tahun dua bulan. Beruntung sekali saya diberi kesempatan membaca kisah abadi ini dan kuharap kelak anak dari Hermione, cucu-cicit dan sampai 7 turunan berikutnya bisa membaca juga sesenang saya menikmati tiap lembarnya. “Akan kemana lagi kau nak, Peter Pan si bocah abadi berpetualang? Di dalam pikiran setiap anak-anak yang mencintai orang tua mereka!?”
Peter Pan | By JM Barrie | GM 40201140047 | Alih bahasa Julanda Tantani | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, 2014 | ISBN 978-602-03-0347-5 | 240 hlm; 20 cm | Skor: 5/5
Karawang, 241015
Begitulah seterusnya, sepanjang anak-anak tetap ceria, polos dan tanpa beban.

Iklan