Pahat Hati

image

Back cover-nya mengiurkan. Dengan berani menuliskan: Dari Penulis yang bersanding dengan JK Rowling dan Cassandra Claire sebagai nominator BEST AUTHOR IN SOCIAL MEDIA 2013, penulis Indonesia berbakat, Andi Tenry Ayumaya siap menggebrak dunia lewat karya fenomenalnya. Bayangkan, penulis Harry Potter disebut dan disandingkan. Walau penulis favoritku dijual, ekspektasiku tak tinggi. Biasanya jualan dengan omongan koya seperti ini isinya kosong. Mungkin Eka Kurniawan sedang sibuk sehingga tak masuk, mungkin Dee sedang liburan sehingga tak tercantum sehingga Penulis lokal yang masuk nominasi adalah Andi-who? Baru dengar? Saya juga.
Saya jadi teringat Jemy teman satu kos dulu. Tiap selesai baca buku buruk dia selalu melemparnya ke bak sampah. Dia berujar, “buku seperti ini berbahaya, lebih bagus dilenyapkan”. Saya tak setuju, karena kita membeli dengan uang jerih payah maka kita harus ‘memeliharanya’ di rak. Saya berpendapat, kalau buku ini buruk di mata kita berarti buku ini memang bukan untuk kita. Bisa jadi untuk orang lain yang nantinya berkesempatan membacanya memetik hal positif. Bisa jadikan.
Saya teringat pesan teman, “sesekali kamu harus keluar zona nyaman. Bacalah genre diluar favoritmu. Mungkin kamu akan menemukan sebuah sensasi yang menakjubkan.” Dan novel Pahat hati ini di tangan, kisahnya tentang cerita semasa SMA. Seorang gadis ceria sedang ke rumah Oma setelah minggat dari rumah orang tuanya. Sampai di rumah nenek, tak ada orang. Neneknya sedang ke Jepang untuk berobat. Dia dititipi tetangga amplop berisi uang GeDhe dan akan rutin kirim uang, ia gunakan untuk sewa apartemen. Ketika pulang secara tak sengaja rebutan taksi dengan pemuda, sewot saling usir. Kebetulan sang pemuda satu kamar dalam apartemen yang ia sewa karena kena tipu. Kebetulan lagi mereka satu sekolah. Sang pemuda memiliki mobil yang bisa setiap saat berangkat-pulang sekolah bareng. Sang pemuda adalah playboy stadium akhir, setiap minggu ganti pacar. Bah pembuka macam apa in, anak durhaka, nenek gila, nyinyir hanya rebutan taksi sewot seperti mau mengantar pasien ke IGD saja. Dengan santainya membuat susunan cerita anak sekolah naik mobil. Hello dunia, SIM A sudah bisa dibuat oleh remaja lho sekarang. Dari sini saya sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini akan berlanjut. Andai ini buku sewa atau pinjam, tentu saja saya hentikan. Namun saya tegaskan setiap lembarnya saya bayar jadi ya harus dituntaskan. Dan segalanaya mulai berjalan kacau bahkan ketika saya belum sampai separo baca.
Biar terlihat keren, daftar isi menggunakan bahasa Inggris. Dari prolog sampai epilog, dari Sweet Cherries sampai 1 month later. Kalau kalian berharap akan ada dialog puitis ala Chairil Anwar, jelas ga akan ada. Jadi ceritanya Cherry ini anak baru di SMA Bhakti. Di hari pertama sudah jadi pahlawan bagi anak kembar Alda dan Andini. Kalau yang ada di bayangan Anda ketika saya ketik pahlawan adalah melawan begal, membasmi perampok, menahan petir atau mencegah kejahatan lain Anda salah. Cherry hanya mengusir anjing. Pahlawan? Ya, tahan muntah Anda. Ulasan baru dimulai.
Di bab 2 Andi memberi judul Robber Cat. Mungkin maksudnya adalah criminal cat, plesetan ala Tukul di Bukan Empat Mata, mungkin artinya kucing garong agar terdengar cool jadilah robber cat. Itu istilah diperuntukkan buat Dicky, teman seatap Cherry seorang playboy yang giginya dipagar. Bayangkan Ashton Kucher memakai kawat gigi lalu tersenyum, mungkin terlihat lebih tampan. Dicky baru saja memutuskan Nabilah, korban terbarunya. Sementara itu Ilham pemuda yang akan tunangan sedang patah hati setelah Hannie pacarnya tewas kecelakaan. Kejadian dibuat se-dramatis mungkin, sang kekasih meninggal dalam pelukan ala sinetron lokal. Kelas 2 SMA tunangan. Kerjaan Ilham ini setiap hari melihat danau yang ada di belakang sekolah merasakan semilir angin. Ya, tahan muntah Anda, tulisan masih panjang.
Lalu secara flash back kita diberi tahu kenapa Cherry minggat dari rumah. Alasan pertama adiknya Dea nyebelin, kedua dia dijodohkan dengan anak teman ayahnya. Ya ini bukan zaman Siti Nurbaya yang bisa menyatukan pasangan lewat orang tua, kejadian ini bisa saja terjadi. Namun menyodorkan konflik keluarga seburuk ini sungguh tak ada logika. Otak Cherry jelas perlu di-ruwat. Bisa-bisa Raam Punjabi pingsan saking shock-nya membaca kisah ini. Tahan lagi muntah Anda, ini belum separo tulisan.
Dalam kisah The Ring, cincin tunangan Ilham secara tak sengaja jatuh ke danau setelah disenggol Cherry. Bodohnya Ilham ini memandang danau cincin tunangannya di-ewer-ewer mulu. Merasa bersalah, malam hari dia nekat nyebur ke danau mencari. Sungguh konyol, di siang hari ngapain? Di panas terik saja ga ketemu apalagi dalam gelap malam. Dicky dengan gagah berani menyusul ke danau, mungkin maksdunya biar terdengar romantis ala A Lot Like Love, berdua kedinginan di bawah sinar rembulan. Besoknya mereka flu. Konyolnya lagi, cincin bisa ketemu dengan mudahnya kemudian, dan diperparah Ilham memberinya kepada Cherry. Andi bisa saja sekalian menulis itu cincin The Hobbit sehingga siapa yang pakai bisa ngilang, toh sampai di sini kisah mulai liar tak terkendali.
Hobi ganti pacar Dicky berlanjut kini giliran Alda jadi korban. Salah satu si kembar ini back street (tanpa boys) jadian, namun seperti yang sudah diduga mereka putus. Dalam judul Playboy’s Aware lalu Dicky ditantang teman-temannya yang kurang kerjaan (atau PR-nya sudah selesai dikerjakan) untuk bisa menaklukkan hati Cherry. Dengan pede dia yakin bisa menjadikannya pacar. Kesempatan itu datang saat acara kemah di Tangkuban Perahu, namun saat acara belum mulai Cherry menghilang. Saya sempat berharap dia diculik Smeagol biar seru, tapi ternyata dia sedang bergelayut di tepi jurang karena kecelakaan. Setelah diselamatkan, acara itu dibatalkan. Wah wah, hebat. Seakan ke Tangkuban Perahu hanya 5 menit perjalanan, dan dengan mudahnya bubar lantaran kekonyolan karakter ini. Duh! Dunia koma.
Akhirnya kepala Cherry kepentok pintu sehingga luluh dengan cinta Dicky, dia mau pacaran dengannya, syarat dia mengaku insyaf di sekolah. Karakter macam apa, masak sedari awal kekeuh membenci Dicky tiba-tiba mencinta. Kalau alasan berubah pikiran karena sesuatu yang kuat sih oke saja, toh banyak yang benci jadi cinta, namun cinta itu bersatu karena sesuatu yang konyol seakan cinta bisa dipetik di kebun belakang rumah. Besoknya Dicky memegang megaphone berteriak-teriak ke seisi sekolah dia tobat dari mempermainkan cewek. Ini lagi, makin ke sini makin ngawur. Coba dilogika, di mana para guru? Di mana nalarnya? Bagaimana sekolah bisa menjadi arena petak umpet dengan megaphone di tangan. Siswa teriak-teriak di sekolah dan tak ada yang protes? Mungkinkah satpamnya sedang cuti? Atau setting-nya di dunia ketiga sehingga hal semacam itu lumrah. Perkara makin ga jelas saat pak guru Dion yang ditaksir bu Erlin akhirnya akan menikah dengan pacarnya yang di Perancis. Uhuk.., guru zaman sekarang apakah gajinya setara keluarga Bakrie bisa macari cewek yang eek-nya aja di Paris. Dan tak ketulungan buruknya saat Ilham dengan mudah dikirim oleh pihak sekolah ke Jepang untuk Olimpiade Kepo. Wew, my God. Rasanya kini benar-benar tak tahan muntah. Tahan tahan, bentar lagi sobat.
Cherry pun diminta memilih antara Ilham yang cool, Reza yang pengagum rahasia (sudah ga rahasia dong dia mengungkapkannya – walau mundur juga), dan Dicky sang playboy. Siapa yang dipilihnya? Baca sendiri buku ini kalau Anda penasaran, pening tanggung sendiri.
Sekarang silakan muntah. Selesai baca buku ini saya jadi prihatin. Separah inikah sekolah sekarang? Zaman saya tak ada yang naik mobil, atau sekarang anak sekolah bisa punya izin mengemudi? Setahu saya jangankan mobil, motor saja seorang pelajar belum boleh punya SIM, kecuali pelajar yang oon-nya kebangetan sehingga saat SMA usianya kepala 2. Ini jelas pengaruh buruk sinetron kita yang tayang prime time. Tentang pacaran, tentang pergaulan bebas. Di Pahat Hati lebih parah lagi dua karakter utama satu atap, satu apartemen. Walau tak ada adegan macam Lust, Caution tetap saja ini sungguh pemikiran kisah yang buruk. Saat saya sebut: BIsma, Rangga, Dicky, Ilham, Reza apa yang ada di pikiran Anda? Apa Smash? kurang keras! Smash?! Ya ya, Anda bisa memasukkan nama-nama selebritis favoritmu dalam karangan Anda. Namun belum pernah saya menjumpai novel menaruh nama-nama karakter konyol senorak ini. Bukan, saya bukan anti-smash. Saya adalah Laziale, seandainya saya menjumpai novel dengan 11 nama karakter dengan 11 nama pemain Lazio, saya sendiri yang akan membakar buku itu.
Konfliknya mutu rendah. Kisahnya datar. Settingnya memang sekolah, namun tak satu kata pun menyebut algoritma atau statistik dasar. Gaya hedon seperti ini berbahaya, bukannya iri justru saya prihatin dengan yang ditampilkan. Sedemikian kacaukah remaja Indonesia sehingga yang ada di otaknya pacaran? Awalnya saya mau beri rate 0.5 namun 2 bab terakhir mulai menarik karena karakter penting akan dimatikan, makanya saya naikkan rate, namun eksekusi ending kembali menjatuhkan cerita sehingga ya kembali saya beri rate 0.5. kalau saya kasih 0 takutnya asosiasi penulis Indonesia akan menggugat saya. Emang ada? Cari saja sendiri. Seingat saya, saya belum pernah kasih nilai 0.5 seburuk-buruknya 1. Entah kenapa di tahun baru Islam ini saya berlakukan nilai itu, bisa jadi saya shock ada buku seperti ini di Indonesia.
Menurut buku Nyanyian Ilalang karya Andi berikutnya, Pahat Hati diklaim best seller. Ini tak bagus, kalau Pahat Hati dibaca dan ditiru remaja sekarang, Indonesia dalam darurat karya. Sedemikian minimkah pilihan sehingga editor meloloskannya? Sedemikian minimkah pilihan sehingga  sampah seperti ini laku? Kalau tulisan seperti ini berani menyandingklan diri dengan JK Rowling, mungkin Tere-Liye sudah mengklaim layak dapat Nobel Sastra.
Jadi kangen Jemy. Untuk kali ini saja. Ya untuk kali ini saja saya setuju dengannya. Buku sebobrok ini lebih berbahaya ketimbang pengungkapan konspirasi Wahyudi dan layak dilempar ke tempat sampah. Benamkan ke lumpur terdalam sehingga anak cucu kita tak membacanya. Tetap semangat Andi, jangan patah hati.
Pahat Hati | karya Andi Tenry Ayumaya | copyright 2009 | cetakan II, November 2013 | ISBN: 978-602-1258-40-8 | Penerbit Matahari | Skor: 0.5/5
Karawang, 151015 – Sheldon rules

Iklan

13 thoughts on “Pahat Hati

  1. iya, kadang suka ngerasa gimana kalau baca novel teenlit yang inti ceritanya lebih fokus ke percintaannya. seolah-olah dunia remaja itu adanya cuma pacaran dan nggak ngejar prestasi. padahal kan bagusnya novel teenlit berisi hal-hal positif. Ini juga harusnya jadi masukan sih bagi para penulis novel teenlit

  2. Yaaa, setuju Mas. Kadang miris kalo berkunjung ke toko buku, rak teenlit dipenuhi buku-buku cinta-cintaan semata (sebenernya saya lebih suka nyebutnya naksir-naksiran anak sekolahan sih, karena kalo ‘cinta-cintaan’, sastra-sastra lama yg romantis juga bisa dibilang cinta-cintaan kan), dan rak itu senantiasa dipenuhin anak-anak sekolahan.

    Saya (yang belum bisa tidak apatis terhadap selera baca kayak gini) bingung, karena buku-buku kayak gitu nggak ngehibur dan malah ngabis-ngabisin waktu alih-alih menghibur. Karena banyak alur yang nggak masuk akal, konflik yang monoton, trus tokohnya ga variatif.

  3. Harga sepuluh ribu? Saya nyesel baru baca ini barusan.. karena di rak buku sudah terpajang nyanyian ilalang yang dibeli karena tergiur dengan judul dan harga murahnya. (Saya fikir lumayan)

  4. Wah, sama, Mas. Saya juga punya novel ini. Dulu beli juga karena tergiur dengan covernya yang bombastis. Setelah baca isinya, saya jadi berpikir, sebagai penulis yang disandingkan dengan JK Rowling novel ini jauh di luar ekspektasi saya. Apa kabar penulis Indonesia lainnya yang buku-bukunya lebih “bergizi”? Lama saya berpikir, dan saya belum menemukan jawabannya. 😐 *minum ramuan polyjuice*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s