JJ Di Koran Tempo

image

Jacob Julian, teman kemah sastra tahun 2011 hari ini namanya ada di koran Tempo. Selamat JJ!

Bagaimana Babi Menumbuhkan Sayapnya?

Oleh: Jacob Julian

Sebenarnya Poet pernah mengatakan pada teman wanitanya bahwa babi bisa terbang saat malam hari saat mereka berdua bertemu di pos kamling. Dia menceritakan babi-babi itu terbang tiap malam dengan tugas sendiri-sendiri.

“Ada yang ditugaskan untuk menjaga anak yang kesepian sebab ditinggal orangtua mereka bekerja di malam hari. Ada yang menemani orang yang sedih sebab kepergian orang yang dicintai.”

Teman wanitanya mengikik mendengar cerita itu. Poet menambahkan bahwa babi-babi itu jauh lebih indah daripada kunang-kunang. Elok bagai kerlip bintang.

“Kalau kau beruntung, mereka akan terbang berkawanan menuju ke timur. Ada yang melihatnya bagai aurora atau pasukan malaikat yang turun mewartakan kabar gembira. Selebihnya akan mengira itu adalah teluh yang dikirim orang yang jahat. Kita tak pernah tahu tujuannya sampai kita sendiri menemui salah satu dari babi itu dan bercakap-cakap dengannya.”

Teman wanita Poet menatapnya dalam garis malam yang melekat pada bayangan dan membentuk sebuah tanya yang besar.

“Jangan kau kira aku pernah menemui babi-babi itu. Tidak. Aku pernah menemui salah satu malaikat, iya.”

Semakin kagum teman wanita itu mengucapkan kehebatan Poet, lelaki itu mengembangkan hidung dan merasakan desir panas pada pipinya. Poet tak ingin sombong. Dia bukan merak yang memamerkan keindahan tubuh demi mendapatkan betina. Dia hanya punya cerita apik yang ia simpan sendiri dan kelak diceritakan sebagai ganti bulu-bulu indah merak.

“Tentang malaikat itu sebenarnya ceritanya sambil lalu saja,” kata Poet sambil mengusir beberapa nyamuk yang setia mendengarkan ocehannya sambil mengudap darah.

Poet menemui malaikat itu belum lama ini. Tak bisa menghitungnya dengan satuan waktu, tapi dia masih ingat persisnya. Poet melakukan perjalanan sendirian. Saat itu dia kehabisan tinta dan ingin membeli pulpen di mini Market terdekat dari rumahnya. Mungkin sekalian membeli sabun sebab sabunnya selalu habis di saat dia belum mandi.

“Mungkin saat itu gerimis atau mendung. Kau tak bisa melihat mendung pada malam hari bukan?”

“Aku bisa melihatnya.”

Poet terdiam. Mungkin teman wanitanya benar. Berarti saat itu memang gerimis atau seusai gerimis karena banyak halimun tercipta di bawah lampu-lampu jalanan. Poet tidak menemui orang bahkan anjing kampung yang kerap melolong saat dia gelisah di kamarnya. Dia tetap berjalan sampai dia menemui malaikat itu.

“Kau akan tertawa melihatnya. Dia malaikat paling miskin yang pernah ada. Lupakan penggambaran malaikat oleh para pelukis jaman Renaissance.”

Malaikat yang dilihat Poet berpakaian serba hitam dan kain yang menutupi tubuh manusianya compang-camping.

“Ya dia punya tubuh manusia. Aku mengutuk diriku setelahnya. Kupikir malaikat itu jauh lebih dari manusia. Mungkin dia seperti, apa ya … ah. Babi! Aku berharap malaikat itu tak punya tangan dan tubuh.”

“Babi punya tangan dan tubuh.”

“Mungkin. Tapi aku sungguh tak menyangka makhluk suci seperti mereka kenapa harus disejajarkan dengan manusia? Malaikat bukan manusia, manusia ingin seperti malaikat namun tak bisa. Lalu apa malaikat mau disandingkan dengan manusia? Dia mungkin protes. Aku mengira malaikat di sana sedang rapat merundingkan seperti apa bentuk manusia. Tak ada malaikat yang sempurna. Itu pasti.”

“Lalu?”

Malaikat kumuh itu tak menampakkan matanya di depan Poet. Poet sadar dia telah ditelanjangi oleh malaikat itu karena ada ribuan tatapan dingin tak terlihat mengiris dirinya. Poet tak sempat bergerak tapi malaikat itu berjalan menyeberang jalan.

“Dia seperti siput. Dia jauh lebih berhati-hati daripada emak-emak yang naik motor. Dia melihat ke kiri kanan sebelum menyeberang. Beberapa langkah dia berhenti dan menengok ke kiri dan kanannya. Dia lebih mulia daripada cewek-cewek menaiki motor yang menggunakan spionnya hanya untuk merias diri.”

Teman wanitanya tidak terlalu tertarik. Dia terus menunggu lanjutan cerita Poet. Tubuh malaikat itu disinari cahaya dari lampu jalanan. Poet masih terpaku menatap laku malaikat itu sampai dia berada di seberang jalan.

“Aku memanggilnya.”

“Kau memanggilnya?”

“Ya.”

“Dengan sebutan apa?”

Itulah yang dilupa Poet sampai saat ini. Dia lupa menyapa malaikat itu dengan sebutan apa. Poet juga belum sadar kalau itu malaikat. Jadi dia menyapanya selayaknya manusia biasa.

“Itu tak sopan,” ucap lirih teman wanita Poet.

“Kenapa?”

“Makhluk semacam itu katamu tak suka disamakan dengan manusia. Kenapa kamu menyapanya sebagai manusia? Beberapa hantu lokal bakal senang dipanggil mbah.”

“Aku tak tahu dia malaikat,” bela Poet.

“Terus?”

Malaikat itu tidak menengok pada Poet setelah dia menyapanya.

“Kubilang juga apa.”

“Tapi setelah panggilan ketiga dia menengok. Tidak sopan kalau kita sudah dipanggil tiga kali tak menemui sang pemanggil.”

“Kau berteriak padanya?”

“Mungkin. Saat itu jalanan sepi. Sebuah bisikan mungkin akan terdengar seperti tabrakan beruntun. Teriakan mungkin membuat malaikat itu sadar akan kehadiranku.”

Malaikat itu termenung memandangi Poet yang melambai di seberang jalan. Poet berniat menyusul malaikat itu ke seberang.

Memangnya kenapa kau memanggil orang asing di pinggir jalan? Kau tidak tahu dia malaikat bukan? Apa urusanmu?”

Alasan Poet memanggilnya adalah dia meninggalkan sepasang sayap hitam di depannya. Bulu sayap itu hitam legam dan teronggok begitu saja di depan Poet. Mungkin orang lain mengiranya itu sampah.

“Tapi itu tidak sopan kalau membuang sampah tidak pada tempatnya. Aku memanggilnya agar dia membuang sampahnya pada tempat yang sudah disediakan.”

Teman wanitanya terdiam. “Itu alasanmu?”

“Kau tak suka melihat orang membuang sampah sembarangan bukan? Yang dilakukan malaikat itu mungkin seperti itu. Namun apapun dia, dia tetap boleh melakukannya.”

Terdengar kikik teman wanita Poet. “Lalu?”

Poet menjelaskan perihal sampah itu kepada malaikat. Malaikat itu diam. Poet mengulanginya dan malaikat itu tetap saja berada di seberang jalan.

“Apa kau tuli?” teriak Poet.

“Kau memarahi malaikat.”

“Andaikan aku tahu dia malaikat.”

“Lalu?”

Poet masih tidak terima bahwa sarannya tidak diperhatikan. Dia mengangkat sayap atau sampah yang ditinggalkan malaikat itu. Poet merasakan berat sayap itu membuat kakinya tertekuk. Tangannya juga basah dan bau anyir menyengat. Sayap itu menjadi bangkai hewan yang tak pernah dia temui sebelumnya. Juga tak pernah dia lihat di ensiklopedi hewan di dunia karena hewan hitam itu berdarah. Poet mengira yang dia angkat adalah bangkai anjing kampung yang sudah dimutilasi, dia mencoba menaruhnya kembali ke tanah. Tangannya belepotan cairan hitam sepekat malam. Sementara yang ia angkat kembali menjadi sepasang sayap yang hitam pekat dan terluka.

“Bagaimana kau tahu itu terluka?”

“Aku mencium darah. Darah yang kental dan terpekat yang pernah kulihat dan kucium baunya. Darah itu kini melumuri tanganku.”

“Jadi itu adalah sayap malaikat?”

Poet tidak tahu. Malaikat di seberang jalan masih memandanginya saat Poet ketakutan dan kebingungan melihat tangannya yang berlumuran cairan hitam yang berbau amis serta anyir.

“Aku memutuskan untuk meminta tolong pada dia. Takut terjadi sesuatu tapi malaikat itu malah berlalu. Dua langkah dia berjalan, tubuhnya ambruk. Aku semakin kebingungan. Aku takut bila ada orang lain yang lewat jalan itu melihat keadaanku dan orang itu akan menduga yang tidak-tidak. Aku juga tak bisa lari. Aku masih merasakan berat beban sayap itu di kakiku.”

Yang terjadi kemudian adalah malaikat itu kemudian bangkit berdiri. Dia tanggalkan pakaiannya dan menampakkan sayap keabu-abuan di punggungnya.

“Dia melesat pergi.”

Ada kesunyian setelah Poet menceritakan kisah pertemuannya dengan manusia bersayap yang digambarkan sebagai malaikat. Teman wanitanya juga tak berkata apa-apa lagi. Poet mendengar ada suara orang-orang mendekat ke arahnya. Para petugas malam sudah bersiap melaksanakan tugasnya.

“Kadang di malam hari, di luar rumahmu, kau akan menemui kejadian yang tak terduga,” ucap Poet akhirnya.

“Lalu bagaimana babi menumbuhkan sayapnya?”

Orang-orang itu menyenteri Poet yang duduk sendirian di pos ronda sementara teman wanitanya sudah melesat pergi dengan suara tawa yang nyaring sebelum Poet sempat menjawabnya. Orang-orang mengejar teman wanitanya sementara Poet ingin menjelaskan apa yang terjadi setelah malaikat itu pergi.

Dia membawa sepasang sayap yang terluka itu menjauh dari jalanan. Dia tidak ingin orang lain melihat sampah itu dibuang sembarangan. Poet membawanya dan membiarkan jejak darah menetes ke jalanan. Karena tak ada tempat sampah, Poet membuangnya di dekat kandang babi milik warga. Dia tahu babi suka makan apapun termasuk bangkai manusia. Jadi sepasang sayap di lahap habis oleh babi-babi itu. Poet melihat mereka makan dan melihat babi-babi itu menumbuhkan sayap-sayap di punggungnya lalu terbang pergi menuaikan tugas-tugasnya.

“Harusnya aku ikut makan bangkai itu untuk mengikutimu,” ujar Poet sambil berjalan menjauh dari pos ronda. Sementara teman wanitanya masih berlompatan di atas pohon sambil tertawa nyaring.

Madiun, 5-1-2015

Iklan

Tabung Poin

image

Duel dua tim kecewa. Lazio butuh pelampiasan. Tiga tim yang menakutkan bagi Laziale: Genoa, Chievo dan Udinese! Kini saatnya membuktikan kita layak bersaing di papan atas. Saatnya tabung poin, ini Olimpico bukan Udine.
Perkiraan susunan Pemain Lazio vs Udinese :
Lazio : Etrit Berisha, Basta, Radu, de Vrij, Cana, Mauri, Biglia, Candreva, Cataldi, Parolo, Keita
Udinese : Karnezis, Pasquale, Danilo, Heurtaux, Piris, Widmer, Guilherme, Allan, Hallberg, Bruno
Fernandes, Thereau.
Untuk menyambut konser Bon Jovi maka kuis reguler Lazio The Great dibuka.
LBP Lazio 3-0 Udinese, ALL
Analisis: Kishna starter. Gol gol berkelas muncul. Misi mengejar scudetto dimulai lagi.
Penebak | Lazio  v Udinese | skorer
Widi 2-1 Biglia
Seperti biasa, Main di kandang optimisme menang tetap ada. Udinese boleh tangguh. Tapi kali ini Lazio bisa memenangkan duel ini
DC 2-0 Candreva,
Sama2 menang dan kalah sekali, sepertinya laga akan berjalan alot dan seru tetapi efektifitas penyelesaian peluang akan membedakan ke 2 tim, home side akan memenangkan laga ini
Erwin 1-1 Dinatale
Lazio masih belum stabil, Udinese bakal mencuri poin. Seri hasil yang adil.
Arif Laziale KW 0-0
Lazio tak ingin kalah. Begitu pula Udinese. Duel akan imbang.
Joko Gentong 2-0 Matri
Main di kandang jadi keuntungan buat Si Elang. Walau sempat menghajar Juve, kali ini Udinese bakal kalah✊
Huang 2-1 Parolo
Analisa: Udinese ingin mencontoh Westham yang berhasil bertransformasi menjadi giant killer. Tapi mereka lupa bahwa yang dihadapi kali ini adalah The great eagle from the capital city. Akibatnya Udinese yabg sejatinya berhasil unggul terlebih dulu, malah dapat dikalahkan berkat aksi ciamik Marco Parolo, gelandang underrated yang justru selalu tampil baik di dua laga awal il aquilotti.
Deni 1-0 Biglia
Main dikandang menjadi kesempatan Lazio utk meraih kemenangan kembali… Lajio akan bermain menyerang..Udinese bakal tertekan dari menit awal … Namun hanya kemenangan tipis lah yg bakal di raih Lajio 👍
Andi H 1-0 Mauri
Lazio akan bermain menyerang, tambahan sebagai tuan rumah Lazio akan menang dengan mudah….. Walaupun skor tipis
Imun 2-0 Cataldi
Tim hore sepertinya bakal maen ofensif ketika bermain di stadion Olimpico. Udin sedunia yg mencoba meladeni permainan Lazio, kena batunya. Lewat skema counter attack, Cataldi yang menusuk dari sayap (bukan sayap ayam hlo) membawa Elang ibukota memimpin. Udin sedunia yang mencoba membalas, malah semakin tertinggal. Juga melalui serangan balik cepat, Lazio menambah keunggulan. Wis ngono wae.
Gangan 3-1 Keita
Udinese sedang pede usai ngalahin Jupe. Permainan berimbang. Lazio diuntungkan bermain di kota Roma.
Lik Jie 1-2 Dinatale
Biar greget lah. Masak ga da yang nebak kalah. Tua tua keladi in eksyen.
Sahala 0-1 Dinatale
Euforia Udinese masih akan berlanjut setelah mengkandaskan Juve. Lazio masih mencari bentuk. Tidak ada naluri pembunuh di kotak penalti.
Aji 2-2 mauri
Pertandingan yang seru akan tersaji di Olimpico. Ke-2 tim yang sama2 menelan kekalahan sebelum jeda akan bermain ngotot demi meraih kemenangan. Walaupun Lajio tampil menyerang, namun hasil imbang layak bagi ke-2 tim.
Karawang, 120815

Jalan Keluar

“Kemiskinan memuat rasa takut, dan stres, dan kadang-kadang depresi. Kemiskinan itu berarti beribu penghinaan dan kesulitan. Berjuang keluar dari kemiskinan dengan usaha Anda sendiri, itulah yang sesungguhnya menjadi kebanggaan diri sendiri, tetapi kemiskinan itu sendiri hanya terkesan baik oleh orang bodoh. Apa yang paling saya takuti di usia saya seperti Anda? bukan kemiskinan, tetapi kegagalan. Kegagalan mengajarkan saya hal-hal tentang diri saya sendiri bahwa saya bisa belajar. Saya menemukan bahwa saya memiliki kemauan yang kuat, dan disiplin lebih dari yang saya duga, saya juga menemukan bahwa saya memiliki teman-teman yang nilainya benar-benar melebihi harga permata”

Itulah salah satu kutipan Penulis yang akan saya ceritakan. Penulis yang yang pernah menjadi orang terkaya di dunia ini lahir tanggal 31 Juli 1965 di kota Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Ia menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novelnya mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar “New York Times best-seller” setelah memperoleh peringkat yang sama di Britania Raya. Kemudian, saat seri ke-4-nya diterbitkan pada bulan Juli tahun 2000, seri ini menjadi buku paling laris penjualannya sepanjang masa dalam sejarah. Namun, tahukah Anda untuk mencapai puncak, perjuangannya itu amat berat dan terjal karena mengalami berbagai kesulitan sebelum mencapai hasil yang maksimal.

Sebagai seorang lulusan Universitas Exeter, dia pindah ke Portugal pada tahun 1990 untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana ia menikah dengan seorang wartawan Portugis. Anak perempuannya, Jessica dilahirkan pada tahun 1993. Setelah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian, Sejak perceraian dengan suaminya, ia menjadi ibu tunggal yang harus menghidupi anaknya dalam kondisi serba kekurangan. Dia pindah ke Edinburgh bersama dengan anaknya dan menghadapi masalah untuk menghidupi keluarganya. Semasa hidup dalam kesulitan, dia-pun mulai menulis sebuah buku.

Ia merasa kemampuan menulisnya mungkin bisa menjadi jalan keluar untuk hidupnya yang sulit, tetapi ia tak mempunyai fasilitas yang memadai. Ia tidak memiliki komputer, dan hanya memiliki mesin tik tua. Ia juga tak mempunyai uang, bahkan hanya untuk membayar foto kopi. Maka ia terpaksa mengetik ulang naskah yang sama hingga beberapa kali agar bisa diserahkan ke beberapa penerbit. Ia mendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990.

Demi menulis, akhirnya dia mengambil keputusan yang sangat menyulitkan hidupnya yaitu menuangkan seluruh waktunya untuk menyelesaikan naskah yang secara tidak langsung membuatnya berada dalam lingkaran kemiskinan.

Ia menerima sebuah flat kecil yang kumuh di sebuah sudut kota London. Flat tersebut sebenarnya bukanlah tempat yang nyaman untuk menemukan informasi. Ia sering datang ke Cafe Nicholson memesan espresso dan air putih. Kemudian ia mulai menuangkan alam imajinasinya walaupun hanya pada secarik kertas tissue.

Bayangkan, saking tak mampu membeli kertas dia menulisnya di atas tisu. Bahkan dia terpaksa harus menggantungkan pemenuhan biaya hidupnya dan putrinya pada dinas sosial dari Pemerintah. Perdana menteri Inggris John Major dalam pidatonya baru saja mencerca para wanita karier yang menjadi single parents, sebagai parasit yang suka harta, dan dia pun merasakan dampaknya ketika ia bersama Jessica mau tak mau hidup di lingkungan bersama masyarakat Inggris dan Skotlandia.

Aku mengalami depresi yang dalam, dan memiliki bayi membuat depresi ini dua kali lebih sulit. Aku merasa seperti bukan manusia. Aku merasa sangat rendah, dan seperti harus meraih sesuatu”, ungkapnya.

Keberanian berhenti menjadi orang lain dan memutuskan untuk menjadi diri sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi, terbayar dengan sebuah kesuksesan yang luar biasa. Ia menyerahkan naskahnya ke beberapa penerbit, sebanyak 12 penerbit menolak naskah yang ia buat, Setelah beberapa kali ditolak, penerbit ke 13 lah yang menerima naskahnya dan mulai memasarkannya, akhirnya nasib dan takdir baik berpihak padanya, dia berhasil menjual buku pertamanya sebanyak $4000.

Namun, dia tidak pernah lupa pada akarnya. Keuntungan dari penjualan buku-bukunya, ia sumbangkan pada UK Comic Relief Charity. Ia pun tak lupa menyisihkan sebagain kekayaannya untuk membantu sejumlah yayasan sosial, khususnya lembaga yang banyak melakukan penelitian tentang penyakit multiple sclerolis, sebuah penyakit yang sempat merengut nyawa ibunya pada tahun 1990.

Tanpa tekad yang kuat, adanya bakat pun akan menjadi sia-sia belaka. dia sudah membuktikannya. Meski terlahir dengan kecerdasan dan bakat menulis, ia ternyata harus menghadapi berbagai penolakan atas karyanya. Namun, dengan tekad untuk memperbaiki kualitas hidup ia pun akhirnya mampu memetik hasil nyata perjuangannya. Dan, kini ia pun menunjukkan kepedulian nyata, bahwa apa yang dicapainya, juga bisa memberi sesuatu pada sesama, karena itulah arti kesuksesan yang sesungguhnya

Dia adalah JK Rowling. Penulis Harry Potter.

Karawang, 090915

Heroes Of The Valley #2

Gara-gara keseruan trilogi Bartimaeus, saya memburu buku-buku Jonathan. Sang Pahlawan adalah buku pertama yang saya baca setelah petualang sang jin. Hasilnya adalah ketakjuban yang semakin menjadi. Jonathan jelas telah menjadi salah satu penulis besar dekade ini. Dengan detail yang mengagumkan, sang Pahlawan membuat negeri imajinasi-nya sendiri. Sebuah genre favorit saya.
Halli sangat suka mendengarkan kisah-kisah pertempuran lama, ketika lembah masih merupakan tempat liar, dikepung monster-monster Trow yang haus darah. Halli kecewa sekarang semua orang hanya sibuk bertani. Tapi ketika perseteruan lama kembali berkobar, ia melihat kesempatan untuk beraksi bagai sang Pahlawan pujaannya. Bersama Aud, gadis ceroboh dan keras kepala seperti Halli yang ternyata malah menemukan kebenaran legenda, lembah dan diri mereka sendiri.
Dunia imajinasi milik Jonathan bernama Valley (lembah) yang dihuni oleh 12 klan. Mengingatkanku pada kisah Game of Thrones dengan skala kecil. Di sang Pahlawan nantinya memang ada pertempuran perebutan kedaulatan. Namum memang skala macam berkelahi antar kampung. 12 klan dengan segala petanya dibuat dengan bagus sehingga ada tuntunan dalam membayangkan arah cerita. Dengan sudut pandang Halli Sveinsson yang begitu memuja Pahlawan penetap Svein bersama 11 ketua klan lainnya dahulu kala berhasil mengusir monster Trow keluar dari lembah. Halli begitu memujanya, cerita turun-temurun itu ternyata banyak modifkasi karena setiap klan berkisah ketua klan merekalah yang memimpin pertempuran. Awalnya, biarlah kesalahpahaman masa lalu disingkirkan dan dikubur bersama nenek moyang di bukit.
Konflik dimulai saat seluruh klan berkumpul untuk mengajakan jamuan, Svein menjadi tuan rumah. Paman Halli, Brodir Sveinsson terbunuh. Halli yang menyaksikan kejadian tersebut murka, terlebih ia sangat mengagumi pamannya yang sangat imajinatif. Olaf Hakonsson kabur, jamuan tersebut menjadi tragedi yang bisa jadi akan membuat peperangan. Arnkel Sveinsson, ayah Halli tak bisa berbuat banyak. Pembunuhan itu dalam pengadilan hanya menghukun klan Hakonsson memberikan tanah kepada klan Svein. “Tanah bukan hal tak bisa diremehkan Nak, dari situlah kekayaanmu bersumber.” Halli tak terima, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Halli yang bertubuh kecil, suka berkhayal, dan sangat ingin menjadi seperti Svein the Great bertekad membalas. Ia berangkat untuk membunuh keluarga Hakonsson di barat seorang diri.
Perjalanan panjang nan berliku. Dari peta kita tahu, klan Hakonsson ada di ujung barat dekat klan Orm dan Arne dan berbatasan langsung dengan laut. Perjalanan yang akan dikenang di masa depan atas keberanian untuk menegakkan kebenaran. Saya sendiri takjub atas tekad dan semangat pemuda kerdil tersebut. Sebuah misi mustahil tersebut menemui titik-titik keberuntungan yang membuat Halli terus selamat dan ternyata bisa menjungkirkan klan Hakon, membakar rumah mereka dan lalu kabur dengan senyum kemenangan. Tentu saja, klan Hakon murka sehingga tak peduli bagaimana caranya akan membalas Svein. Halli yang kabur, secara tak sengaja ketemu Aud temannya dari klan Orm. Berdua mereka menyusun strategi bertahan sampai akhirnya perang besar tak dihindarkan. Pertarungan besar antara klan Svein dan Hakon tersebut menyeret klan lainnya untuk menentukan pilihan kemana mereka berpihak. Pertempuran dahsyat yang membuka luka lama.
Heroes Of The Valley | Sang Pahlawan | By Jonathan Stroud | Copyright 2009 | Alih bahasa Popy Damayanti Chusfani | GM 322 01 11 0007 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan I, April 2011 | 488 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-6959-9 | Untuk Jill dan John, dengan penuh cinta | Skor: 4/5
Karawang, 020915 – Pening never ending
#30HariMenulis #ReviewBuku #September2015

Pulau Dokter Moreau #1

image

Dari orang yang memukau kita lewat Jurasic Park, H.G Wells kembali membuatku terpesona. Sesaat setelah selesai membaca Pulau, saya tertidur dan mimpi buruk. Manusia-Binatang tersebut mengacaukan pikiran teman-teman kerja. Di kantor rusuh, kelakuannya mirip yang digambarkan Wells. Meja dilempar, kursi dibanting, kertas berhamburan, saling pukul, saling hujat, seram. Semua terlihat di CCTV, saat diintrogasi sebuah nama disebut dan dirinya seakan linglung di hadapan petugas.  Seperti Manusia-Binatang yang malu-malu mengucapkan hukum, terdakwa terbata-bata mengakui tindakannya. Saat terbangun saya begidik ngeri, membayangkan pikiran Prendick yang diombang-ambing nasib sendiri di sebuah kapal di tengah samudra. Aneh bin ajaib, nama seseorang yang dipanggil di mimpi tersebut, hari itu dipanggil HRD lalu dikeluarkan dari Perusahaan karena sebuah kasus. Wells effect…
Cerita dibuka dengan sebuah pengantar yang menyebutkan pengakuan Charles Edward Prendick melalui surat. Sang keponakan membeberkan narasi panjang tentang pamannya yang hilang selama 11 bulan di laut. Menumpang kapal Lady Vine yang hancur berkeping karena bertabrakan dengan kapal tak berawak. Setelah terombang-ambing di laut lepas tanpa harapan, Predick diselamatkan kapal Ipecacuanha yang membawa dua dokter ahli bedah anatomi dan manusia-manusia aneh mengerikan. Lalu kapal tersebut menurunkannya di sebuah pulau tak bernama, di sanalah kisah ini bermula. Dua dokter gila ekperimen mencipta monster-monster untuk dididik.
Prendick bersama dokter Moreau dan dokter Montgomery hidup bersama Manusia-Binatang. Mahkluk yang dicipta melalui penggabungan berbagai jenis binatang. Mereka dilatih dan diajarkan layaknya manusia. Moreau sendiri adalah ‘Tuhan’ bagi Manusia-Binatang. Mereka harus berjalan dengan dua kaki. Dilarang makan daging mentah, dilarang minum langsung ke sumber air, dan dididik ritus-ritus agama. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Namun seperti yang kuduga, bencana terjadi. Insting buas kebinatangan itu kembali. Pemberontakan muncul sampai ada yang meninggal. Lalu mereka kembali mempertanyakan hukum kebenaran manusia. Predick terjepit di dua pilihan sulit. Bertahan di pulau itu dengan konsekuensi gila dan terbunuh atau nekat kembali ke lautan lepas dengan bekal sekedarnya?
Pulau Dokter Moreau | by H.G Wells | Penerjemah Aryo Swastika | Penerbit Quills Book Publisher Indonesia | cetakan 1, Agustus 2005 | ISBN 979-999-850-6 | 264; 120 x 180 mm | Skor: 5/5
Karawang, 010915 – Cuci baju yang banyak
#30HariMenulis #ReviewBuku #September2015