Priority: Focus!

Di NICI ada tujuh nilai yang jadi panutan, nilai nomor dua adalah priority atau prioritas. Apa itu prioritas? Ada yang bilang urgensi, ada yang bilang timeline, ada yang bilang bobot kerja. untuk mencapai target kerja kita harus bisa memilah dan memilih mana yang perlu didahulukan mana yang harus segera diselesaikan. Untuk itu kita butuh fokus. Menurut penuturan pak Endang Rahmat (FM – factory manager) yang disampaikan di briefing motivasi dan inspirasi hari ini (22/9) ada enam poin yang bisa menghilangkan fokus kita. Maka harus sejauh mungkin dihindarkan.

  1. Pikiran Negarif

Di era global dimana informasi dengan mudahnya kita dapat, saring berita harus kita lakukan. Apalagi saat ini berita di televisi begitu absurb-nya. Isinya lebih banyak negatifnya. Acara tv yang ditonton hanya tiga: sepak bola, film dan pengajian. Saring yang bagus, acara tv semua sampah. Kalau saya diminta jawab, ada tiga yang masih saya nantikan di tv: pertama sepak bola, terutama sekali Lazio (yang sayangnya Serie A sudah tak ada live lokal), kedua film khusus film sekali kelar, ga berseri (kecuali Dragon Ball yang kini jam tayangnya sudah ga bersahabat) dan ketiga musik luar, yang sayangnya sudah tak seperti era MTV lagi. Susah dapat update musik luar, yang ada malah dangdut geje dan pop alay.

2. Pembenaran

Ada banyak informasi yang memungkinkan masuk ke kita. Jangan asal iya, jangan asal share, jangan asal setuju. Veronica Roth dalam bukunya Insurgent (seri kedua Divergent) pernah bilang lewat karakter Marcus, “saat semua informasi dipercayakan kepadamu, kau harus memutuskan berapa banyak yang perlu diketahui orang-orang.” Itu kalimat yang disampaikan Marcus kepada Beatrice dan Christina saat di markas Amity di adegan menuju klimak cerita. Pembenaran di sini adalah pastikan itu bukan hoax, info sesat atau sesuatu yang diperlukan tidaknya untuk diketahui orang lain.

3. Mengeluh

Ini. Ini poin yang penting dalam hidup. Mengeluh adalah tindakan pecundang. Jangan mengeluhkan pekerjaan yang dibebankan ke kita. Semakin banyak dan berat berarti semakin dipercaya kita. Jangan mengeluh, hadapi dengan senyuman. Beberapa hari lalu saya kalah dalam lomba LBBK (lelang buku bayar karya) romance dimana ada 13 cerpen yang masuk, lalu disaring 3 pemenang. Seluruh cerpen di-email kepada peserta untuk dibaca sembari menunggu informasi juara. Setelah saya baca semua, 13 cerpen-nya biasa sekali – kalau ga mau dibilang jelek – jadi saya langsung optimis menang. Namun ketika hari H pengumuman, nama saya ada di nomor 3 dari bawah. Mengeluh? Ga! Mungkin kelas selera panitia beda, saya ga suka happy ending, tak suka cerita menye-menye atau cinta monyet omong kosong jadinya cerpen-ku sad ending dengan konflik tak khas remaja. Kalah dan saya tak mengeluhkannya.

4. Keluhan Dari Luar / Komplain

Beberapa komentar, terutama komentar minor terkadang membuat kita hilang konsentrasi. Media sosial apalagi, itu dunia liar. Setiap apa yang kita sampaikan jelas akan membuat komentar bercabang. Ga akan semuanya satu suara, ga akan semuanya menanggapi dengan positif. Ga akan bisa memuaskan semua pihak. Keluhan dari luar apapun itu, harus membangun untuk kebaikan di masa depan. Kalau ga siap untuk itu, mending kembali focus ke dalam.

5. Sosialisasi Yang Tidak Produktif

Dalam bermasyarakat kita memang dituntut untuk membaur dengan sekitar. Namun banyak waktu terbuang sia-sia kalau tak efektif. Apa yang kita dapat saat ngumpul di pos ronda? Wejangan ala Mario Teguh? Kajian religi Ust Yusuf Mansyur? Tentu saja tidak. Paling nge-gosip tentang pak RT, pak RW, pak lurah yang mungkin tidak kita kenal. Paling ngomongin tetangga, bicarakan keburukan saudara, mencela pimpinan negara, dst dst. Hubungan sosial yang tak produktif harus dihindarkan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup.

7. Memimpikan Sesuatu Yang Sulit Terwujud

Mimpi tinggi boleh saja, namun harus realistis. Memimpikan sesuatu yang sulit terwujud bisa menggangu pikiran. Canangkan apa yang akan kalian lakukan keesokan harinya dengan urutan yang paling mungkin terjadi, jangan merencana yang ga jelas. Ga mungkin kan besok jam 07:01 makan pizza di Roma, berdoa khusuk di New Delhi jam 07:02, dan merasakan terik pagi di Bali jam 07:03. Kecuali teknologi Doraemon sudah ditemukan.

Prioritas apa yang harus kita kerjakan sangat penting. Ibaratnya seperti sebuah bak yang akan kita masukkan barang-barang. Ada air, pasir, batu, kerikil. Bak tersebut bisa menampung semuanya kalau kita bisa memilah dengan benar urutannya. Dan akan amburadul kalau salah dalam memilih prioritas. Mari nge-teh!

Karawang, 220915 – HR NICI room

Advertisements

One thought on “Priority: Focus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s