Jalan Keluar

“Kemiskinan memuat rasa takut, dan stres, dan kadang-kadang depresi. Kemiskinan itu berarti beribu penghinaan dan kesulitan. Berjuang keluar dari kemiskinan dengan usaha Anda sendiri, itulah yang sesungguhnya menjadi kebanggaan diri sendiri, tetapi kemiskinan itu sendiri hanya terkesan baik oleh orang bodoh. Apa yang paling saya takuti di usia saya seperti Anda? bukan kemiskinan, tetapi kegagalan. Kegagalan mengajarkan saya hal-hal tentang diri saya sendiri bahwa saya bisa belajar. Saya menemukan bahwa saya memiliki kemauan yang kuat, dan disiplin lebih dari yang saya duga, saya juga menemukan bahwa saya memiliki teman-teman yang nilainya benar-benar melebihi harga permata”

Itulah salah satu kutipan Penulis yang akan saya ceritakan. Penulis yang yang pernah menjadi orang terkaya di dunia ini lahir tanggal 31 Juli 1965 di kota Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Ia menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novelnya mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar “New York Times best-seller” setelah memperoleh peringkat yang sama di Britania Raya. Kemudian, saat seri ke-4-nya diterbitkan pada bulan Juli tahun 2000, seri ini menjadi buku paling laris penjualannya sepanjang masa dalam sejarah. Namun, tahukah Anda untuk mencapai puncak, perjuangannya itu amat berat dan terjal karena mengalami berbagai kesulitan sebelum mencapai hasil yang maksimal.

Sebagai seorang lulusan Universitas Exeter, dia pindah ke Portugal pada tahun 1990 untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana ia menikah dengan seorang wartawan Portugis. Anak perempuannya, Jessica dilahirkan pada tahun 1993. Setelah perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian, Sejak perceraian dengan suaminya, ia menjadi ibu tunggal yang harus menghidupi anaknya dalam kondisi serba kekurangan. Dia pindah ke Edinburgh bersama dengan anaknya dan menghadapi masalah untuk menghidupi keluarganya. Semasa hidup dalam kesulitan, dia-pun mulai menulis sebuah buku.

Ia merasa kemampuan menulisnya mungkin bisa menjadi jalan keluar untuk hidupnya yang sulit, tetapi ia tak mempunyai fasilitas yang memadai. Ia tidak memiliki komputer, dan hanya memiliki mesin tik tua. Ia juga tak mempunyai uang, bahkan hanya untuk membayar foto kopi. Maka ia terpaksa mengetik ulang naskah yang sama hingga beberapa kali agar bisa diserahkan ke beberapa penerbit. Ia mendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan menaiki kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990.

Demi menulis, akhirnya dia mengambil keputusan yang sangat menyulitkan hidupnya yaitu menuangkan seluruh waktunya untuk menyelesaikan naskah yang secara tidak langsung membuatnya berada dalam lingkaran kemiskinan.

Ia menerima sebuah flat kecil yang kumuh di sebuah sudut kota London. Flat tersebut sebenarnya bukanlah tempat yang nyaman untuk menemukan informasi. Ia sering datang ke Cafe Nicholson memesan espresso dan air putih. Kemudian ia mulai menuangkan alam imajinasinya walaupun hanya pada secarik kertas tissue.

Bayangkan, saking tak mampu membeli kertas dia menulisnya di atas tisu. Bahkan dia terpaksa harus menggantungkan pemenuhan biaya hidupnya dan putrinya pada dinas sosial dari Pemerintah. Perdana menteri Inggris John Major dalam pidatonya baru saja mencerca para wanita karier yang menjadi single parents, sebagai parasit yang suka harta, dan dia pun merasakan dampaknya ketika ia bersama Jessica mau tak mau hidup di lingkungan bersama masyarakat Inggris dan Skotlandia.

Aku mengalami depresi yang dalam, dan memiliki bayi membuat depresi ini dua kali lebih sulit. Aku merasa seperti bukan manusia. Aku merasa sangat rendah, dan seperti harus meraih sesuatu”, ungkapnya.

Keberanian berhenti menjadi orang lain dan memutuskan untuk menjadi diri sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi, terbayar dengan sebuah kesuksesan yang luar biasa. Ia menyerahkan naskahnya ke beberapa penerbit, sebanyak 12 penerbit menolak naskah yang ia buat, Setelah beberapa kali ditolak, penerbit ke 13 lah yang menerima naskahnya dan mulai memasarkannya, akhirnya nasib dan takdir baik berpihak padanya, dia berhasil menjual buku pertamanya sebanyak $4000.

Namun, dia tidak pernah lupa pada akarnya. Keuntungan dari penjualan buku-bukunya, ia sumbangkan pada UK Comic Relief Charity. Ia pun tak lupa menyisihkan sebagain kekayaannya untuk membantu sejumlah yayasan sosial, khususnya lembaga yang banyak melakukan penelitian tentang penyakit multiple sclerolis, sebuah penyakit yang sempat merengut nyawa ibunya pada tahun 1990.

Tanpa tekad yang kuat, adanya bakat pun akan menjadi sia-sia belaka. dia sudah membuktikannya. Meski terlahir dengan kecerdasan dan bakat menulis, ia ternyata harus menghadapi berbagai penolakan atas karyanya. Namun, dengan tekad untuk memperbaiki kualitas hidup ia pun akhirnya mampu memetik hasil nyata perjuangannya. Dan, kini ia pun menunjukkan kepedulian nyata, bahwa apa yang dicapainya, juga bisa memberi sesuatu pada sesama, karena itulah arti kesuksesan yang sesungguhnya

Dia adalah JK Rowling. Penulis Harry Potter.

Karawang, 090915

Iklan

2 thoughts on “Jalan Keluar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s