Minus Gol Poin Maxi

image

Verona – Lazio memetik 3 poin penting dalam lawatannya ke kota Verona. Bermain dengan 10 pemain sejak menit 81 setelah Mauricio dikartu merah, Lazio justru bermain lebih menggila. Memasuki pekan keenam dengan hati ketar-ketir di laga tandang setelah takluk 4-0 lalu 5-0, skor 6-0 dalam bayang-bayang otak-atik-gatuk. Melawat di stadion angker Marc Antonio Bentegodi, Pioli memainkan strategi ofensif 4-2-3-1: Basta di bek kanan, Mauricio dan Gentileti di tengah, Lulic di bek kiri. Parolo di kanan, Biglia di sektor kiri. Felipe penyerang kanan, Kishna mengisi kiri , Savic penyeimbang dengan ujung tombak Djordjevic. Minus Klose dan Candreva, inilah komposisi terbaik Lazio.
Strategi ini rasanya sangat pas untuk mengurung lawan dan berjalan baik. Terjadi gol pembuka menit ke 5, sayang gol tersebut dianulir. Seperti biasa, Lazio bermain ofensif. Bola mengalir dari kaki ke kaki, nyaris tak ada bola lambung. Perpaduan Savic-Felipe sungguh keren, lini kanan sangat dominan dalam membombardir bek Hellas. Ciri khas sedari musim lalu, bola secepatnya dioper ke Felipe dan syukurlah sejauh ini pemain baru kita, Savic sangat-sangat-sangat pas dalam skema menyerang. Nantinya ketika Candreva fit, saya tak berani membayangkan betapa dahsyatnya skuat ini. Mauricio adalah titik lemah Lazio musim ini dan saya heran kenapa Pioli selalu memainkannya padahal Radu dan Hoedt siap di bangku cadangan. Benar saja ini bek dapat kartu kuning karena pelanggaran konyol. Catat: kalau ada kuis tebak kartu masukkan pemain ini, persentase melanggar lawan sangat besar. Keasyikan menyerang, Lazio justru kebobolan menit 31 melalui bek Jerman Filip Helander. Melalui skema bola mati, percobaan tendangan pertama menerpa mistar dan Helander dengan cerdik melompat di antara kerumuman pemain untuk menyundul si kulit bundar. 1-0.
Sampai babak pertama usai, Lazio tertinggal 1 gol. Statistik menunjukkan kita menguasai pertandingan, namun shot on goal-nya 0 sementara Hellas 1 dan itu berbuah skor. Bek tengah jadi titik lemah. Posisi ini harus secepatnya ditambal. Babak kedua dengan komposisi yang sama, Lazio langsung melangkah maju. Namun masih buntu juga, menit 61 Pioli melakukan double-sub mengganti Kishna dengan il capitano Mauri dan Djordjevic  dengan Keita. Tak butuh waktu lama, Keita kasih andil. Bayangkan, masuk menit 61, menit 62 dapat pinalti. Harusnya wasit Serie A lebih jeli mengenali kebiasan pemain. Pemain ini memang sering bikin kesal karena saat memegang bola sangat egois dan sering jatuh saat drible. Namun kali ini posisi jatuhnya membuat saya bersorak karena membuka asa. Biglia is big player, menunaikan tugasnya dengan bagus. Pinalti Biglia sebenarnya mudah ditebak: selalu tengah karena kalau dia coba ambil sisi lain (baik kanan atau kiri) seringnya bola keluar. Nyatanya Rafael terkecoh juga, 1-1. Harusnya kiper Serie A lebih jeli mengamati kebiasaan pinalti kicker lawan.
Dan kekonyolan Mauricio kembali terjadi, 9 menit menjelang bubaran waktu normal, saat Hellas melakukan serangan balik dia dengan bodohnya mengangkat kaki terlalu tinggi untuk mengganjal laju bola yang justru mengenai kaki. Seperti Onazi, ini pemain tinggal tunggu waktu ditendang dari skuat. Belajar dari Ledesma, Januari ini harusnya dilepas karena kesalahan-kesalahan mendasar seperti ini tak seharusnya terjadi. Untuk kejar Scudetto jangan sia-siakan poin. Pioli gerak cepat, menarik Felipe mengganti bek Hoedt. Bukti Pioli bermental teri dengan tak berani perjudian, mengganti playmaker dengan bek, dianggapnya 1 poin di laga tandang cukup. Untuk jadi juara, kita harus mengambil resiko besar. Semakin besar resikonya semakin besar peluangnya. Walau dengan 10 pemain kita tetap dominan, harusnya lebih ngotot kejar gol kemenangan dengan memasukkan pemain pendobrak, Morison sudah menunggu.
Tetapi memang skuat Lazio saat ini sangat prima dan bermental juara. Gol kemenangan itu datang juga, setelah lagi-lagi Keita menjatuhkan diri di depan garis pinalti. Tendangan bebas tepat di depan gawang di menit 86. Kita punya dua free kicker handal: Biglia dan Parolo. Setelah pagar betis dibentuk, Biglia di kiri Parolo di kanan. Peluit terdengar, saya sempat mengira bola akan ditendang kencang Biglia, eh ternyata hanya disentuh dikit ke kanan untuk di-shoooot Parolo. Bola mendasar itu melewati kaki-kaki pagar betis dan bersarang mulus di pojok kanan gawang. Gol yang melegakan. Karena skor 1-2 bertahan sampai akhir. Luar biasa, tak mengira kunjungan ke kota Verona menghasilkan 3 poin.
Ada momen mengharukan di menit 77 Hellas Verona melakukan pergantian, Hallfredsson keluar diganti Matuzalem. Seperti yang kita tahu, Matuzalem adalah eks Lazio. Hellas walau selalu menyulitkan adalah tim-saudara seperti Inter Milan yang selalu bermain ‘damai’. Sehingga saat dia masuk dengan tepuk tangan seluruh penonton Marc Antonio Bentegodi langsung bergemuruh meneriakkan namanya. “Matuzalem… Matuzalem… Lazio… Lazio…” Merinding mendengarnya.
Jadwal Serie A di pekan-pekan awal musim ini sungguh horor. 5 dari 6 partai lawannya tim jinx yang sulit ditaklukkan. Partai kandang dilewati dengan sempurna, Bologna 2-1, Udinese 2-0, Genoa 2-0. Partai tandang kalah Chievo 4-0, Napoli 5-0. Ini adalah kemenangan perdana tandang, dengan modal 2-1 ini selisih gol Lazio adalah 8-11= minus 3. Poin kita 12, untung besar.
Partai berikutnya adalah lawan tim promosi Fro-apa-tuh setelah bermain di Liga Malam Jumat. Rasanya tak sulit mendulang angka. Dengan kesuksesan melibas tim-tim sulit ini serta menghasilkan 12 angka, rasanya sisa laga bisa kita ratakan. Silakan sebut tim apapun, kita tak takut. Waspadalah, penantang serius Scudetto telah kembali! Insieme siamo piu porti, avanti Lazio. #ForzaLazio #GrandeLirk #NonMollareMai
Verona 1-2 Lazio (Helander 31′; Biglia 63′ (pen), Parolo 86′
Verona: Rafael; Pisano, Moras, Helander, Souprayen; Greco (Bianchetti 61), Viviani, Hallfredsson (Matuzalem 77); Sala, Gomez Taleb (Wszolek 55), Jankovic
Lazio: Marchetti; Basta, Mauricio, Gentiletti, Lulic; Biglia, Parolo; Felipe Anderson (Hoedt 82), Milinkovic-Savic, Kishna (Mauri 61); Djordjevic (Keita 61)
Karawang, 270915 – Kedai 05

Lazio Ke Kota Verona Lagi

image

Kota Verona di mata wisatawan sangat eksotis. Saat kita menyebut namanya salah satu yang terngiang adalah setting cerita Romeo & Juliet. Kota destinasi pariwisata yang menyenangkan untuk dikunjungi. Namun jangan tanya Laziale seberapa ingin kita ke sana. Karena Lazio selalu kesulitan saat bertandang melawan duo Verona: Hellas dan Chievo. Kunjungan terakhir bahkan digelontor 4 gol. Minggu (27/9) menyambut pekan ke 6 Serie A, Lazio kembali ke Verona, hanya dalam beberapa hari kita bertanding dua kali ke sana, kali ini giliran Hellas. Jadwal Serie A musim ini, di pekan-pekan awal sungguh horror.
Ada 4 catatan yang perlu dianalisis Pioli agar skor 4-0 dan 5-0 saat tandang nanti tak menjadi 6-0:
1. Faktor Felipe dan Djordjevic
Mainkan mereka dari menit pertama. Sedari musim lalu saya selalu berujar: Andai Djordjevic tak cidera tengah musim persaingan Scudetto tak akan seperti itu. Ketika Felipe ada dalam skuat (penuh) kita tak khawatir. Persentase kemenangan saat Felipe bermain sungguh mencengangkan. Pekan lalu kita patahkan ‘kutukan Genoah’ melalui dua pemain ini. Saya sudah analisis jauh hari. Kalian pikir ini kebetulan?

2. Biglia Kembali
Dr. Salvatori: “Biglia sudah bisa bermain untuk laga melawan Verona, sedangkan Candreva, Klose, De vrij, Matri masih akan absen. Konko kemarin mengalami kelelahan otot sehingga juga akan absen. Sergej Milinkovc Savic dan Gentiletti hari ini mengambil porsi latihan yang berbeda dengan teman lainnya tapi mereka tidak mengalami masalah, mereka akan fit akhir pekan ini.”
Awan hitam mulai meninggalkan skuat the Great. Biglia kembali bisa dimainkan. Seperti yang sudah-sudah, Biglia adalah big player. Penyeimbang strategi ofensif Pioli, penyapu bola di pertahanan. Mungkin saya orang pertama yang bertepuk tangan saat tahu dia sudah pulih.
3. Lu71c Cocok Bek Kiri
Entah kenapa musim ini Lulic lebih sering kebingungan dalam permainan. Daya jelajah tak seperti yang diharapkan. Menjual Lulic jelas dosa besar manajemen mengingat memori Roma 71, bahkan sekadar niat sekalipun. Lulic (dan Klose) adalah legenda yang akan coba diikat selama mungkin. Entah ada setan apa di pikiran Pioli, Lulic dicoba dimainkan sebagai bek kiri saat meruntuhkan kutukan Genoah. Dan menurut statistik whoscore, man of the match laga itu adalah Felipe (tak kaget) dengan nilai 8,6 di tempat kedua adalah Lulic yang diberi nilai 7,6 sepertinya posisi bek kiri cocok. Dribel, tackel, dan umpannya lebih akurat ketimbang Radu. Menggeser Radu ke bek tengah, tetap memainkan Lulic di kiri, Felipe konsisten menyokong serangan, lalu menduetkan Parolo dan Biglia di tengah jelas akan membuat Lazio menjadi mimpi buruk lawan. Jangankan Barcelona, Genoa pun sudah bisa kita tumbangkan.
4. Kostum Away
Ini mungkin hanya mitos. Tapi sepak bola tak pernah lepas dari mitos kan? Sebaiknya ke depannya laga away Lazio jangan pakai kostum hitam. Kalah 4-0 lalu 5-0 untuk tim Elang biru tentu saja janggal. Walaupun skor 6-0 sepertinya tak mungkin, jersey black tak cocok untuk mengejar Scudetto. Kembali memakai putih rasanya lebih bijak. Atau kembali membuat design kuning yang akan mengingatkan memori juara 2000 menyalip Juventus di pekan terakhir. Kuning? Hhhmmm… Kuning? Hhhmmm… Aku suka kuning. Forza Lazio!
Perkiraan susunan pemain:
Lazio : Machetti, Radu, S. Gentiletti, D. Basta, S. Lulic, L. Biglia, Parolo, Felipe Anderson, Savic, F. Đjorđjević, Kishna.
Hellas Verona : F. Coppola, M. Albertazzi, A. González, R. Márquez, E. Pisano, L. Christodoulopoulos, E. Hallfreðsson, B. Jankovic, J. Sala, M. Fares, G. Pazzini
Penebak | Hellas vs Lazio | Skorer
LBP 0-3 all
Analisis: Verona lagi, Verona lagi. Djordjevic di depan, Felipe playmaker, Biglia dan Parolo di tengah, Lulic dan Radu di belakang. Mampus kau Hellas!
Widi 1-2 Djorjevic
Kemenangan berikutnya akan diamankan di kandang Verona. Verona perlawanan sengit. Tapi akhirnya Elang biru yang menang dengan skor 1-2.
Zulk 0-2 Felipe Anderson
Menang. Menang. Menang. Menang. Menang. Menang. Menang. Menang.
Dc 0-0
Main kandang memberi semangat lebih bagi Verona, tetapi cuma cukup mendulang 1 poin, lazio memberi kesulitan.
Panji 1-2 Matri
Kemenangan yang didapatkan dengan susah payah. Kemenangan ini turut dibantu oleh masih absennya Toni. Tim-tim kaya gini biasanya sih favoritnya Matri buat ngegolin. Gol: Mitra Matri
JJ  0-1 Djorjevic
Biarlah Lajio menang. Toh Inter tetap bakal scudetto. Yang penting semua paham tut wuri handayani.
Erwin 2-0 Pazini
Kota momok. Lazio kalah. Pioli out.
Lik Jie 2-1 Toni
Verona tuan rumah bakalan mampus-mampusan menahan gempuran Elang. Apalagi Elang ada Milankovic Savic yang katanya the Next Big thing Seri A. Tua-tua keladi, pertempuran antara Toni vs Klose kalau dipasang.
Arifin 1 : 1 Pazini
Arif 0-1 Felipe
Lazio akan menang untuk kali pertama di away. Lazio akan cetak gol pertama di away. Kota Romeo Juliet ini akan memberikan kekalahan bagi tuan rumah.
Huang InFair 3-3 Juan Gomez
Jinx are everywhere. Last time the jinx was broken. But this time it will haunt again. The game will be great as you seen this high scoring prediction. 😎✌🏼
Aji 1 – 3 Djordjevic
Penampilan impresif Djordje kembali lagi musim ini. Walaupun bermain tandang tidak akan membuat tim ibukota bermain bertahan. Dengan modal kemenangan lawan Genoa membuat Elang semakin mengepakan sayapnya.
Idep idep gawe seneng atine konco ✌
Deni 2-2 Djordjevic
Verona main bakal main menyerang di kandang. The great sesekali melakukan serangan balik. Lini per lini kedua tim sama kuat. Hasil imbang pun didapat The great …👍
Gentong 3-1 Pazini
Seperti minggu lalu. Setelah menang, Lazio bakal kalah lagi. Kali ini giliran Hellas. Pulsa mana pulsa😍😍😍

Karawang, 270915

Kutukan Genoah Dipatahkan

image

Rabu malam saat takbir bergema seantero dunia, sebagian Laziale gelisah. Lawan untuk tanding pekan ke-6 Serie A adalah Genoa. Tim yang sulit ditumbangkan oleh Lazio. Laga lawan Genoa adalah bukan laga buat Laziale berjantung lemah. Seperti yang terlihat digambar sebelum hari ini, 5 pertemuan 5 kekalahan, tak peduli main di mana Genoa selalu menang. Maka jargon “laki fearless berani nonton Genoa langsung kick off 01:45 Wib” digalakkan. Prediksi yang digelar para pundit football, poin maksimal Lazio adalah seri, menang rasanya berat.
Saat gema takbir masih terdengar di sebagian masjid untuk begadang, pertandingan dimulai. Was was, namun ternyata Pioli berani bermain menyerang. Babak pertama ditutup sebiji gol dari Djordjevic. Belum aman, Felipe akhirnya mengamankan 3 poin lewat gol pertamanya di Serie A musim ini. Kemenangan 2-0 itu sekaligus mematahkan kutukan Genoah. 3 poin penting untuk merebut Scudetto. Sejujurnya laga ini Lazio bermain standar, terbantu oleh kartu merah lawan sehingga kalau ga menang kebangetan.
Jadwal Lazio musim ini sungguh mengerikan, 5 dari 6 pekan awal adalah tim jinx yang sulit ditumbangkan. 9 poin dalam 5 laga ga buruk amat, Hellas Verona menanti akhir pekan ini. Menang berarti kita bisa bersaing juara. Setelah Hellas kita optimis bisa ratakan sisanya.
Karawang, 240915

Priority: Focus!

Di NICI ada tujuh nilai yang jadi panutan, nilai nomor dua adalah priority atau prioritas. Apa itu prioritas? Ada yang bilang urgensi, ada yang bilang timeline, ada yang bilang bobot kerja. untuk mencapai target kerja kita harus bisa memilah dan memilih mana yang perlu didahulukan mana yang harus segera diselesaikan. Untuk itu kita butuh fokus. Menurut penuturan pak Endang Rahmat (FM – factory manager) yang disampaikan di briefing motivasi dan inspirasi hari ini (22/9) ada enam poin yang bisa menghilangkan fokus kita. Maka harus sejauh mungkin dihindarkan.

  1. Pikiran Negarif

Di era global dimana informasi dengan mudahnya kita dapat, saring berita harus kita lakukan. Apalagi saat ini berita di televisi begitu absurb-nya. Isinya lebih banyak negatifnya. Acara tv yang ditonton hanya tiga: sepak bola, film dan pengajian. Saring yang bagus, acara tv semua sampah. Kalau saya diminta jawab, ada tiga yang masih saya nantikan di tv: pertama sepak bola, terutama sekali Lazio (yang sayangnya Serie A sudah tak ada live lokal), kedua film khusus film sekali kelar, ga berseri (kecuali Dragon Ball yang kini jam tayangnya sudah ga bersahabat) dan ketiga musik luar, yang sayangnya sudah tak seperti era MTV lagi. Susah dapat update musik luar, yang ada malah dangdut geje dan pop alay.

2. Pembenaran

Ada banyak informasi yang memungkinkan masuk ke kita. Jangan asal iya, jangan asal share, jangan asal setuju. Veronica Roth dalam bukunya Insurgent (seri kedua Divergent) pernah bilang lewat karakter Marcus, “saat semua informasi dipercayakan kepadamu, kau harus memutuskan berapa banyak yang perlu diketahui orang-orang.” Itu kalimat yang disampaikan Marcus kepada Beatrice dan Christina saat di markas Amity di adegan menuju klimak cerita. Pembenaran di sini adalah pastikan itu bukan hoax, info sesat atau sesuatu yang diperlukan tidaknya untuk diketahui orang lain.

3. Mengeluh

Ini. Ini poin yang penting dalam hidup. Mengeluh adalah tindakan pecundang. Jangan mengeluhkan pekerjaan yang dibebankan ke kita. Semakin banyak dan berat berarti semakin dipercaya kita. Jangan mengeluh, hadapi dengan senyuman. Beberapa hari lalu saya kalah dalam lomba LBBK (lelang buku bayar karya) romance dimana ada 13 cerpen yang masuk, lalu disaring 3 pemenang. Seluruh cerpen di-email kepada peserta untuk dibaca sembari menunggu informasi juara. Setelah saya baca semua, 13 cerpen-nya biasa sekali – kalau ga mau dibilang jelek – jadi saya langsung optimis menang. Namun ketika hari H pengumuman, nama saya ada di nomor 3 dari bawah. Mengeluh? Ga! Mungkin kelas selera panitia beda, saya ga suka happy ending, tak suka cerita menye-menye atau cinta monyet omong kosong jadinya cerpen-ku sad ending dengan konflik tak khas remaja. Kalah dan saya tak mengeluhkannya.

4. Keluhan Dari Luar / Komplain

Beberapa komentar, terutama komentar minor terkadang membuat kita hilang konsentrasi. Media sosial apalagi, itu dunia liar. Setiap apa yang kita sampaikan jelas akan membuat komentar bercabang. Ga akan semuanya satu suara, ga akan semuanya menanggapi dengan positif. Ga akan bisa memuaskan semua pihak. Keluhan dari luar apapun itu, harus membangun untuk kebaikan di masa depan. Kalau ga siap untuk itu, mending kembali focus ke dalam.

5. Sosialisasi Yang Tidak Produktif

Dalam bermasyarakat kita memang dituntut untuk membaur dengan sekitar. Namun banyak waktu terbuang sia-sia kalau tak efektif. Apa yang kita dapat saat ngumpul di pos ronda? Wejangan ala Mario Teguh? Kajian religi Ust Yusuf Mansyur? Tentu saja tidak. Paling nge-gosip tentang pak RT, pak RW, pak lurah yang mungkin tidak kita kenal. Paling ngomongin tetangga, bicarakan keburukan saudara, mencela pimpinan negara, dst dst. Hubungan sosial yang tak produktif harus dihindarkan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup.

7. Memimpikan Sesuatu Yang Sulit Terwujud

Mimpi tinggi boleh saja, namun harus realistis. Memimpikan sesuatu yang sulit terwujud bisa menggangu pikiran. Canangkan apa yang akan kalian lakukan keesokan harinya dengan urutan yang paling mungkin terjadi, jangan merencana yang ga jelas. Ga mungkin kan besok jam 07:01 makan pizza di Roma, berdoa khusuk di New Delhi jam 07:02, dan merasakan terik pagi di Bali jam 07:03. Kecuali teknologi Doraemon sudah ditemukan.

Prioritas apa yang harus kita kerjakan sangat penting. Ibaratnya seperti sebuah bak yang akan kita masukkan barang-barang. Ada air, pasir, batu, kerikil. Bak tersebut bisa menampung semuanya kalau kita bisa memilah dengan benar urutannya. Dan akan amburadul kalau salah dalam memilih prioritas. Mari nge-teh!

Karawang, 220915 – HR NICI room

City Of God – Grand Theft Auto: Rio de Janiero

Untuk menikmati film ini sebaiknya langsung tonton! Baru baca review. Kenapa? Ya karena akan ada banyak kejutan disamping kekerasan yang disajikan. Sebaris kalimat di ending lebih membuat ngeri karena naskah film ini ternyata bukan imaji ngawur layaknya kita nonton kartun penuh CGI. Benar-benar mengerikan. Film ini berisi 99% kekerasan, 1%nya adalah waktu yang Anda butuhkan untuk menarik nafas setiap pembunuhan baru selesai terjadi. Itu berarti melihat tembak-tembakan, umpatan tak patut ditiru, jual-beli ganja, sampai dendam kesumat tak terperi terlihat setiap saat. Sekali lagi alangkah bijaknya Anda menonton dulu sebelum membaca ulasan yang bisa jadi mengurangi kenikmatan menonton eksotisnya sebuah kota di Brazil.

Posternya terlihat manis di bagian atas. Seorang cewek mencium pipi lelaki keling dengan pose memunggungi kita sembari duduk menatap ke pantai. Bagian bawahnya sekumpulan remaja menodongkan senjata menghadap kita, dan tagline-nya tak bohong: seorang lelaki akan melakukan apa saja untuk menjelaskan kepada dunia segalanya. Sebuah retorika sang fotografer, karakter utama yang menceritakan (segala) kekerasan gangster dengan gambar-gambar di sebuah kota Tuhan, Cidade de Deus di Rio de Janiero.

Untuk mendapatkan puncak kenikmatan, sebelum menontonnya saya tutup telinga dan mata dari segala sumber, yang pasti film ini menang 48 penghargaan termasuk Oscar dan Golden Globe 2004. Bukti sahih akan kualitas. Kebetulan saya baru menyaksikannya tahun 2015 ini membuatku membandingkan Gang Of New York-nya Leonardo Di Caprio dan film lokal Serigala Terakhir karya Upi. Saya suka Gang, saya senang Serigala, namun segala kekagumanku langsung luruh setelah menonton City. Kalah kelas, kalah naskah, kalah cerita, kalah segala-galanya. Terutama sekali Serigala, endingnya persis bahwa runtuhnya dinasti mafia artinya permulaan munculnya dinasti baru. Sekalipun begitu Serigala perlu diapresiasi, preman lokal ibu kota itu, seperti City bukan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Sesuatu yang ternyata kekerasan bisa terjadi di sekeliling kita. Percayalah, Upi sudah menganalisis City of God.

Salah dua ciri film bagus adalah detail yang mengagumkan dan kejutan yang sukses. City memenuhi dua item itu. Penuturan kisah juga tak kalah bagus, adegan pembuka ketika ayam yang lari dikejar ramai-ramai oleh sekumpulan orang dengan membawa pisau, golok, bedil itu bukan adegan biasa, karena itu adalah ujung cerita panjang ini. Sang fotografer yang jadi center di antara dua begundal gangster itu bukan adegan sembarangan. Begitu juga saat adegan di tengah saat petugas security bank dibunuh, kiranya itu adegan sederhana sebuah efek perampokan yang terpaksa melakukan kekerasan namun ternyata ada benang merahnya. Begitu juga perampokan Geng Tender di bank di awal-awal yang berantak itu, sungguh penyajian cerita yang brilian. Detail ditata dengan sungguh menakjubkan. Kejutan disusun rapi bak lembaran foto milestone sebuah profile seorang tokoh besar.

Melihat anak kecil dengan entengnya membunuh membuat tulang-tulang ngilu. Dengan santainya menarik pelatuk seperti menghabisi seekor kecoa sungguh sadis. Seperti Serigala yang bersetting Jakarta yang kumuh dengan pemukiman padat nan sempit, City dihinggapi warga miskin dengan aktivitas keseharian. Pembentuk karakter, lingkungan memang guru yang wahid. Pilihan ada di tiap individu mau jadi sampah masyararat atau melanjutkan kebobrokan moral pendahulu. Pilihan yang sulit, namun selalu ada pengecualian. Ada karakter yang mencoba lurus dan terpengaruh keadaan. Sebuah konsekuensi berat yang berujung manis. Apa yang kita tanam adalah apa yang kita tuai. Mari belajar dari kota Tuhan yang penuh kejahatan.

Tidak ada review film ditulisan ini. Selesai baca, tontonlah. Ini adalah salah satu film terbaik sepanjang masa. Sekarang juga atau Anda melupakan segalanya selamanya.

Karawang, 180915

Focus: A Fun Way To Focus

Nicky: There’s two kinds of people in this world. There’s hammers and there’s nails. You decide which one you want to be.

Wah ternyata bagus. Tanpa tahu ini film tentang apa, saya tertarik menontonnya karena dibintangi oleh Will Smith dan Margot Robbie. Seperti yang saya bilang sebelumnya untuk jadi film bagus di era sekarang ini, penonton harus dibuat terpukau sejak menit awal. Fokus memberikan rasa penasaran bahkan sebelum saya duduk menonton dalam posisi nyaman. Film tentang tukang tipu emang selalu menarik.

Nicky (Will Smith) menelpon sebuah restoran elit melalui telpon hotel untuk memesan meja makan malam, dijawab mejanya penuh dan harus booking sehari sebelumnya. Lalu dia menelpon menggunakan HP. Dan adegan berikutnya Nicky duduk santai makan malam. Dan muncullah Jess (Margot Robbie) mengajaknya berkencan. Saat di kamar, muncullah lelaki yang mengaku suaminya dan mengancam Nicky karena menyelingkuhi istrinya. Dengan enteng, Nick menampiknya. Dia tahu ini trik dan tipuannya dengan mudah diketahuinya. Kagum akan pengetahuan Nick masalah kejahatan, Jess lalu bergabung dengan genk Nicky.

Dimulailah pelatihan kejahatan dari kelas jalanan dampai kelas elite. Dari mencopet yang terorganisasi sampai menipu bos-bos kalangan atas. Awalnya mereka profesional, atas dasar pekerjaan dan uang namun perlahan dan pasti ada rasa di antara mereka. Puncaknya dalam melakukan tipuan di lapangan football Amerika. Melalui rencana yang rumit mereka bisa dengan brilian menghantam bos judi Las Vegas. Namun setelah itu mereka pisah, Nick menganggap ini selesai sementara Jess yang jatuh hati merasa sedih segalanya berakhir. Jalan pisah yang berat ini sempat menyentuh hatiku, chemistry mereka luar biasa.

Bergulirnya waktu mereka secara tak sengaja bertemu dalam misi penipuan yang lebih besar bedanya kini mereka berlawanan. Intrik lama dikuak, hati yang luka sibuka. Menyeret persaingan pembalap, pencurian dokumen, strategi akal-akalan, sampai hubungan keluarga. Perhatikan penjelas Nick soal keadaan yang mendesak, itu akan jadi kunci di adegan puncak. Walau sempat menebak akan seperti itu namun saya sempat shock juga saat letusan tembakan itu dibidikkan. Baguslah, film dengan tensi ketegangan, drama dan analisis disajikan pas. Akankah mereka akhirnya bisa bersama?

Well, setelah The Wolf of Wallstreet yang heboh itu, ini adalah penampilan bagus Margot. Tetap mengandalkan keseksian, dia bak permata di sekumpulan para begundal. Tatapan menggoda, gerak-gerik khas penipu dan penjiwaan yang solid dengan mimik baik. Sangat bagus, dia cocok memerankan karakter penggoda dengan porsi karakter yang menawan. Penampilan Will Smith tak usah dibahas, selalau istimewa!

Focus | Director: Glenn Ficarra, John Requa | Screenplay: Glenn Ficarra, John Requa | Cast: Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro | Year: 2015 | Skor: 4/5

Karawang, 170915

The Age Of Adaline: Let Go

Adaline: I am too old for this

Film romantis yang sekali lagi gagal memenuhi ekspektasi. Apa yang ditampilkan The Age bukan sesuatu yang baru, sangat tertebak, dan nyatanya tak seromantis yang dibicarakan. Beberapa waktu yang lalu teman sekantor merekomendasikan film ini, unsur drama dan percintaannya seru. Yak, berhubung lagi kosong stok filmnya saya pinjam kasetnya dan coba menontonnya. Hasilnya tak jauh beda dengan ketika nonton film The Vow. Hambar.

The Age dibuka dengan adegan flash back awal abad 20 di mana Adaline Bowman (Blake Lively) terlahir, tumbuh dewasa sampai menikah. Melewati masa perang Dunia Pertama dengan gambar hitam putih. Lalu tragedi terjadi, Adaline kecelakaan yang mengakibatkannya sekarat, kebetulan sedang gerimis dan muncullah petir yang membuatnya ‘hidup lagi’. Petir yang mendetakkan jantungnya kembali tersebut sekaligus membuatnya hidup dengan wajah awet muda. Dengan posisi sebagai single parent karena sang suami meninggal dengan anak satu, Adaline melanglang buana mengarungi kehidupan.

Dituturkan dengan narrator bak sebuah dongeng, Adaline sampai di masa kini dengan penampilan seperti gadis remaja. Padahal kalau dirunut secara waktu usianya kini sudah seabad. Dengan kenyataan yang membingungkan ini, Ada membuat segalanya samar agar orang-orang tak mengetahui identias aslinya, hanya putrinya yang tahu. Ada terlihat membuat identitas palsu. Sebuah trik yang sudah terlihat di banyak film.

Konflik baru digulirkan ketika Ada jatuh hati sama Ellis Jones (Michiel Huisman). Tapi mengingat kenangan pahit masa lalu, Ada menarik diri. Ellis yang kekeuh menaklukkan hatinya akhirnya berhasil meyakinkan Ada. Putrinya, Flemming (Ellen Burstyn) pun sudah kasih persetujuan untuk kembali membuka hati. Dan saat Ada diperkenalkan kepada orang tua Ellis, William Jones (Harrison Ford) dan Kathy Jones (Kathy Baker) betapa terkejutnya dia. Ada yang menggunakan identitas palsu saat bersamalan dengan Will yang shock karena sepertinya dia kenal. Ada pun mengungkapkan bahwa orang dimaksud Will adalah ibunya, padahal melalui kisah flash back kita tahu itu adalah Ada. Will meyakini dia tak salah, Ada mencoba menutup rahasia. Hubungan dengan Ellis kembali terancam bubar, berhasilkah mereka melalui halangan ini? Akankah Ada harus berterus terang? Rasanya dengan mudah kita akan menebaknya.

Hambar dan klise. Ada sih beberapa adegan yang membuat haru, seperti saat Ada yang merasa kesepian karena dirinya hidup abadi sementara pasangannya akan tutup usia. Saat Ada dan Ellis yang memandang langit malam penuh bintang di atas mobil klasik. Saat keputusan Ada untuk menetapkan hati walau itu pahit. Akting bagus Lively dengan kecantikannya yang natural memang daya pikat utama film ini. Sementara Huisman bermain sangat biasa. Ford seperti biasa tampil bagus sebagai orang tua yang rapuh akan memori masa muda, sangat berkelas. Endingnya sendiri sudah bisa dengan mudah diprediksi, bahkan ketika Ada akhirnya meraba rambutnya dan bilang, “perfect” itu terlalu biasa kalau ga mau dibilang ending sederhana. Yah, hidup abadi lalu bahagia karena memilih tak abadi? Bukan ide baru.

The Age Of Adaline | Director: Lee Toland Krieger | Screenplay: Salvador Paskowitz | Cast: Blake Lively, Harrison Ford, Michiel Huisman | Skor: 2/5

Karawang, 160915