Menyiasati Waktu Baca

Beberapa hari yang lalu teman kantor ada yang nanya, “bagaimana kamu bisa baca buku? Padahal waktu yang tersedia begitu sempit.” Saya sempat memandangnya beberapa saat sebelum menjawab, sekedar memastikan dia serius nanya atau menguji keaslianku mencintai buku. Setelah yakin dia serius saya pun jawab dengan jujur.

Mungkin karena teman saya ini pengantin baru, sehingga rada shock atas sempitnya waktu. Sama seperti saya dulu, pas awal menikah ‘kemerdekaan’ saya dirampok. Saat lajang kita bisa dengan leluasa mengatur waktu seenak udel-le dewe. Mau baca buku atau nonton film jam berapa-pun terserah. Sebelum saya jawab saya nebak dulu apakah waktu sendirinya menghilang. Ketika kita memutuskan berkeluarga, kita menyatukan dua individu yang berbeda. Saya dan Mey sering kali bentrok argumen, dan harus ada yang ngalah.

Kita mulai dari pagi. Kami berdua kerja, saya 5 hari kerja Mey 6 hari kerja. Pagi kita antar Hermione ke rumah neneknya lalu nge-drop Mey di titik jemputan. Ada waktu sekitar 30 menit, biasanya saya buat lanjut baca sambil ngopi baru berangkat kerja. Saat istirahat jam 12:00 saya akan cepat-cepat ke kantin makan lalu sholat Dzuhur. Ada waktu sekitar 30 menit, biasanya saya buat lanjut baca di meja kerja sambil dengerin musik. Pulang jam 17:00 langsung ke Blok H, rumah ibu. Hermione dan Mey, yang pulangnya langsung ke sana, udah menunggu buat pulang. Selepas Isya, kita bertiga sampai di rumah Greenvil tercinta. Ada waktu 2 jam sebelum jam 22:00 yang saya gunakan untuk bermain dengan Hermione yang kini sudah setahun. Jam 22:00 saya harus tidur, mau ngantuk atau ga saya akan berusaha tidur. Saat Hermione belum juga terlelap, saya minta Mey yang jagain.

Jadi total berapa jam saya baca buku dalam sehari? Dari cerita di atas waktu yang saya alokasikan hanya 1 jam. Yup, hanya sejam di jam sibuk. Jawabannya ada di dini hari. Saat orang-orang terlelap, saya PASTI terbangun oleh alarm 03:01. Di jam inilah saya menyiasati baca buku. Ada waktu 2 jam sebelum kembali beraktivitas. Total sekitar 3 jam dalam sehari, dan itu sudah cukup untuk menikmati novel. Saya bilang cukup karena dalam berkeluarga, quality time bersama orang-orang tercinta sungguh membahagiakan dan itu tetap harus kita sempatkan. Ingat ya, saya belum menghitung weekend, dimana waktu luang tinggal dimodifikasi bersama yang tentu saja waktu baca bisa 2-3 kali lipat dari weekday.

Seperti 2 buku yang saat ini sedang saya nikmati, Sultan Mehmet II sang Penakluk dan Wusthering Hesth. Keduanya mau punya waktu luang berapa menit-pun pasti saya selesaikan baca. Bagaimana dengan Anda?

Karawang, 140815 – tepuk Pramuka