Menantang September

Setelah Juni berlalu, 30 hari menulis review buku pun selesai. Namun ternyata nagih. Buku yang belum di-review banyak. Semangatnya masih tinggi. Dan karena Juli dan Agustus berisi 31 hari sehingga tak bisa dibikin *30 hari menulis (heleh…) dipilihlah bulan September untuk event part II ini.

Seperti sebelumnya, setelah judul buku aka nada hastag (#) diikuti nomor catatan. Semua review ada di tag #30HariMenulis #ReviewBuku. Kebetulan kemarin ada 5 buku baru yang tiba di rak sehingga makin semangat ngetiknya. Menantang September Ceria!

Karawang, 310815

Iklan

Mourinho Butuh Gerakan Perubahan

Sejujurnya saya tak terkejut atas start buruk Chelsea musim 2015/2016. Empat laga empat poin dengan permainan yang tidak mencerminkan sebuah tim juara bertahan. Laga ke 100 Mourinho di Stanform Bridge di English Premiere League (EPL) semalam ternoda oleh hentakan menawan Palace lewat skor 1-2. Alan Pardew membuktikan bahwa memetakan posisi pemain dalam permainan lebih penting ketimbang penguasaan bola. Kekalahan ini membuat rekor kandang Mou jadi 2 kali setelah April tahun lalu di tempat yang sama Sunderland menang.
Setelah 45 menit pertama yang tak enak dipandang, kecuali double save McCarthy atas shoot Pedro dan Cecs, awal babak kedua sudah memberi sinyal buruk buat tuan rumah. Tak perlu penguasaan bola sia-sia untuk membuat Palace memimpin. Setiap serangan gagal the Blues, bola langsung bergulir cepat ke depan. Seolah-olah ada feeling yang kuat antar pemain, 11 personil seperti ada di mana-mana, setiap pemain Chelsea langsung di-cover pergerakannya. Gol itu lahir lewat serangan balik nan jitu, umpan matang tepat di depan gawang Courtois yang gagal disapu Cahill membuat Sako leluasa menceploskan bola. Mou merespon dengan memasukkan Falcao dan langsung memberi andil menit 79 lewat sundulan gol setelah menerima umpan dari kiri. Gol yang mencerahkan setelah 7 bulan hampa. Gol yang sempat memberi asa kebangkitan, karena semenit kemudian Chelsea mendapat peluang perak. Namun dari peluang perak yang gagal itulah Palace kembali unggul. Lagi-lagi serangan balik cepat, melalui lima sentuhan yang indah. Gol kemenangan yang disusun dengan penempatan pemain yang tepat. Dari sisi kiri, umpan lambung itu ditanduk Sako ke tengah gawang yang diteruskan dengan sekali sentuh Ward. Gerakan cepat itu membuat bek Chelsea seakan baru sadar bahwa bola sudah merobek jala mereka. Skor 1-2 memberi siksaan Trueblue di 10 menit akhir. Kekalahan kedua sebelum September tiba adalah langkah jeblok untuk bersaing mempertahankan gelar. Sebagai pembanding, pesaing utama city mengkonversi empat laga dengan poin sempurna.
Ingat musim lalu, City gagal mempertahankan piala EPL di lemari mereka gara-gara tak melakukan banyak perubahan skuat setelah juara. Lebih jauh di era 90an, Blackburn Rover memalukan musim berikutnya pasca juara gara-gara tak melakan gerakan perubahan. Di era digital di mana informasi dengan mudahnya didapat, formula juara dengan cepat ditemukan formula anti-nya. Tak seperti Catenacio yang bertahan lama di Italia era 90an, tiki-taka dipatahkan Mourinho hanya semusim setelah bergabung dengan Madrid. Formula anti yang lalu banyak ditiru banyak tim itu memaksa Barcelona melakukan perubahan di era Luis Enrique. Ironisnya Chelsea yang kini ditukangi penemu sang-master-formula-anti itu justru jadi pesakitan.  Laga-laga pra-musim sudah memberitahunya, namun hanya keegoisan Mou-lah komposisi itu bertahan. Setelah mendapatkan Begovic, belanja Chelsea sudah selesai. Hasilnya? Gugup dengan Swans, amburadul oleh City, nyaris dipermalukan West Brom (walau akhirnya dapat kemenagan) dan yang terbaru dipecundai Palace. Pasca di-luluhlantak-kan City mereka mendatangkan Pedro untuk mengisi pos penyerang setelah lobi panjang MU yang gagal. Tindakan tepat. Lalu melepas Cuad dengan mengambil Kenedy. Langkah pas. Apalagi semalam Kenedy tampil prima. Dua transfer bagus itu tinggal dilanjutkan di posisi bek tengah. Entah siapa yang bakal didatangkan Mou di periode panic buy ini, Chelsea butuh pemain besar untuk membantu Terry. Stones? Bisa jadi pilihan tepat, namun the Blues butuh kepastian setelah negosiasi panjang nan berbelit. Patut ditunggu siapa bakal datang jelang penutupan pintu transfer yang tinggal dua hari ini. Saatnya Abramovic merogoh kantong lebih dalam.

Chelsea 1-2 Palace

Chelsea (4-2-3-1): Courtois; Ivanovic, Cahill, Zouma, Azpilicueta (Kenedy 68′); Matic (Loftus-Cheek 73′), Fabregas; Pedro, Willian (Falcao 66′), Hazard; Diego Costa.

Crystal Palace (4-2-3-1): McCarthy; Ward, Dann, Delaney, Souare; McArthur, Cabaye (Ledley 82′); Zaha (Bolasie 55′), Puncheon, Sako (Chung-yong 84′); Wickham
Karawang, 300815

Kado

Ulang tahun tak selalu perlu dirayakan, saya sendiri selalu melewati hari istimewa tersebut dengan biasa. Jelang 3 September, Meyka sudah wanti-wanti pengen kado apa? Kurasa, ditanya seperti ini lebih bagus ketimbang kasih kejutan namun isinya tak sesuai kebutuhan. Seperti tahun lalu, saya tak mau dibelikan apa-apa, selain buku. Doaku alokasi budget beli buku ditambah. Tahun lalu, 4 buku Tere-Liye datang ke rak buku keluarga. Tak beda untuk sekarang, saya minta buku lagi. Awalnya sih minta 1 juta buat beli buku baru, namun melihat ekonomi Indonesia yang sedang tak bagus, rasanya ga bijak. Akhirnya setelah hitung sana-sini kebutuhan, disepakati budget beli buku untuk kado adalah 300 ribu.

Secepatnya saya cari-cari buku bagus. Incaran pertama Divergent series. Udah pengen punya sejak dua tahun lalu saat tahu akan diadaptasi film. Sementara saat ini sedang mengincar buku klasik dari Olih yang baru di-update termasuk di dalamnya buku perdana penulis besar Rusia Fyodor Dostoevsky. Dee dengan Filosofi Kopi-pun sudah ada dalam angan jauh hari. Akhirnya setelah pusing pilih-pilah dengan budget 300 ribu kepilihlah daftar buku berikut:

  1. Divergent (Veronica Roth) – 59 ribu
  2. Insurgent (Veronica Roth) – 52 ribu
  3. Filosofi Kopi (Dee) – 39 ribu
  4. How the World Works (Noam Chomsky) – 71 ribu
  5. A Room With A View (E.M Foster) – 53 ribu

Plus ongkir 2 kg 18 ribu, jadilah 292 ribu. Save 8 ribu dari budget yang sudah ditetapkan. Alasan kenapa saya memilih lima buku tersebut adalah: 1) Divergent series, dua filmnya bagus, review bukunya pun kece. Salah satu young-adult berbaik dekade ini. Well, patut dicoba dua dulu kalau OK kita tuntaskan seri berikutnya. 2) Dee kualitas buku sudah tak diragukan lagi. Filosofi masuk daftar jauh hari jauh sebelum ada niat filmnya muncul, dan mungkin memang inilah saatnya memiliki. 3) How the World Works, gara-gara di grup buku ada yang nyeletuk ini buku bisa menyesatkan karena non-fiksi dan dibumbui logika. Jadi mari kita lihat, seberapa kontroversikah? 4) A Room With A View adalah buku klasik yang sudah lama kuinginkan. Se-‘romantis’ apakah perlu dibukdikan.

Olih di standbuku sebagai tukang buku yang terpercaya dan sudah beberapa kali beli tadi siang info buku segera dikirim bahkan sebelum saya kasih bukti transfer. Oh teman, 3 September masih seminggu lagi! Tapi ga masalah juga sih yang jadi kendala bukan hari H ultahnya, tapi approve Meyka buat beli buku. Lebih cepat sampai lebih baik, tak sabar ingin segera memeluk Tris dkk.

Karawang, 280815 – HR NICI room

Terbenam Dan Tersingkir Di BayArena

Mimpi itu semu. Kita kembali ke Liga Malam Jumat. Laga amburadul tadi pagi (27/8), sepenuhnya salah Pioli. Strategi buruk yang diterapkannya selama pra-musim dengan menggunakan 3 bek sejajar, 3-4-3 justru dipakai di laga yang krusial. Padahal kita tahu, selama jeda musim Lazio menuai hasil minor. Lazio kembali ke pakem 4-3-3 semenjak kualifikasi Liga Champion tengah pekan lalu yang menghasilkan sebuah gol Keita. Lalu kembali digunakan saat menumbangkan Bologna di pembuka Serie A. Maka, entah ada setan apa di kepala Pioli, saat bertandang ke BayArena, saat penentuan jadi tidaknya kita berlaga di kompetisi elite justru Pioli mengacak-acak skuad-nya sendiri.

Pioli beralibi, “Babak pertama cukup berimbang, tapi secara keseluruhan Leverkusen membuat lebih banyak peluang, menekan lebih keras dan pantas menang. Kami belum siap untuk level ini, tapi juga kami ingin terus berkembang dan kami masih bisa melakukan lebih baik lagi di Serie A, Liga Europa dan Coppa Italia.”

Leverkusen yang harus menang langsung menyusun serangan-serangan bagus sedari awal. Gol tercipta jelang turun minum melalui Calhanoglu memanfaatkan bola liar di kotak pinalti. Aggregat sama kuat 1-1 Laziale gregetan. Onazi tampil buruk, seakan-akan kembali membuka lubang yang musim lalu dibuat Ledesma. Seharusnya saat imbang gini, Pioli langsung menariknya dengan striker murni. Sayangnya terlambat, Leverkusen akhirnya leading 2-0 saat pemain Biancocelesta baru menarik nafas. Gol cepat yang menghancurkan mental pemain muda. Mehmedi memaksa Pioli bertindak dengan memasukkan Kishna. Heleh telat! Namun saat gol yang ditunggu ga juga hadir, Mauricio malah membuat Lazio bermain dengan 10 pemain menit 68. Makin berat. Laziale langsung lunglai menjelang akhir laga dengan gol ketiga Leverkusen. Sah! Kita lolos ke Europa League!

Dengan skuat sebagus ini, gagal mewujudkan mimpi tampil di UEFA Champion League jelas dosa besar mengingat target kita scudetto kinerja Pioli perlu dievaluasi. Bayangkan, dia dengan berani memainkan Mauricio, Onazi dan Radu yang tampil kurang prima sebelumnya sebagai starter! Di barisan depan pemain egois Keita dan Candreva tampil bareng, dan puncaknya tak ada striker predator di depan. Kishna, Klose, Djorjevic, ketiga striker hebat ini bersama Laziale hanya bisa termenung. Blunder bos. Perjuangan semusim penuh dihancurkan hanya dalam semalam.

Ah sudahlah, inilah dosa Pioli untuk serie A. Dengan makin terpuruknya klub-klub Italia di Eropa, makin tergeruslah pamor kita bernaung. Masakan yang lezat memang bermula dari racikan yang pas.

Leverkusen 3-0 Lazio (aggt. 3-1)

Bayer Leverkusen: Leno; Hilbert, Papadopoulos, Tah, Wendell; Kramer, Bender; Bellarabi (Ramalho 89′), Calhanoglu (Kruse 80′), Mehemedi (Brandt 76′); Kiessling

Lazio: Berisha; Mauricio, De Vrij, Radu (Kishna 56′); Basta, Onazi (Morisson 82′), Parolo, Lulic; Candreva, Keita, Felipe Anderson (Gentiletti 70′)

Karawang, 270815

Masa Penting Lazio Menuju Liga Para Juara

Inilah masa penting Lazio menuju Liga Para Juara. Saat kita kembali ke arena elite setelah absen 7 tahun. Bermodalkan 1 gol Keita Balde di leg pertama minggu lalu, rasanya Lazio lebih berpeluangan lolos ke fase utama Liga Champion saat bertandang ke BayArena Kamis (27/8) dini hari WIB nanti. Pioli seharunya belajar dari kemenangan atas Bologna, bahwa kekuatan utama skuad-nya ada di dominasi. Sekalipun unggul sebiji gol, strategi ofensif tetap harus dipakai sejak menit pertama karena saat kita berhasil membobol gawang Leverkusen terlebih dulu maka tamatlah mereka. Macam main Clash of Clans (COC):  Serang! Serang! Serang! Hanya keajaiban yang bisa membuat jala Berisha jebol 3 kali. Kuharap Felipe, Keita dan Kishna dijadikan starter guna tancap gas. Semakin cepat Leno memungut bola di gawangnya semakin baik. Gol! 0-1 di menit berapapun, maka kita sudah bisa membuka sampanye lebih dini.

Kabar cidera Klose masih berlanjut dan Biglia gagal sembuh tepat waktu sehingga dua pemain berpengalaman ini dipastikan absen. Apapun itu kurasa 4-3-3 tetap harus dipakai sedari awal, berarti kemungkinan Savic atau Lulic yang mengisi pos tengah. Barisan belakang tak akan banyak berubah Basta, Stefan, Gentiletti dengan Radu sebagai dirijen. Marchetti juga masih cidera sehingga Berisha akan memakai sarung tangan sedari peluit dibunyikan. Bisa kita lihat, mayoritas pemain muda yang diterjunkan di medan perang. Biru, muda, dan berbahaya. Sang Allenatore bisa berteriak lantang, “Beri Pioli 6 pemuda maka akan kugoncang BayArena”.

Berikut prediksi warga Fottball On Chat (FOC):

LBP 0-3, Kishna – Skuad muda terpercaya. Kishna langsung membuat gol di menit awal. Kemudian Leverkusen babak kedua dalam kepanikan yang mencekam, malah bobol dua gol lagi.

De Coy 2-0, Kiessling – Main kandang ditambah motivasi kekalahan di leg 1 bakal memberi kekuatan besar buat Leverkusen mengirim Lazio pulang tanpa tiket grup 😀, jadi Jerman masih bisa menurunkan 4 tim lengkapnya di fase grup UCL, goodluck B04!

Arif 1-0, Son – Kemenangan melawan Hannover jadi modal penting. Lazio juga percaya diri setelah menang lawan Bologna. Pertandingan akan berlanjut hingga adu penalti.

Huang 1-3, Keita – Tidak sedikit yang menganggap kemenangan lazio atas Bayer di leg 1 sebagai sebuah keberuntungan belaka. Namun yang terjadi kemudian sungguh di-luardugaan banyak orang. Sang Elang justru menggila di tanah Jerman. Lazio akan lolos meyakinkan, sekaligus menandai kebangkitan Serie A di kancah Eropa.

Widi 2-1, Keita – aggt. 2-2 Lazio Lolos🎉 Duel seru terakhir play off, seri aja lolos. Leverkusen akan mati-matian melawan Lazio. Menang tapi sayang tidak meloloskan ke fase grup

Jacob 2-1, Calhanoglu – Lazio tak kan lolos. Tahun depan atau mungkin tiga puluh putaran matahari lagi. Sementara Leverkusen bermain menawan.

Gentong 3-0, Calhanoglu – Misi balas dendam di kandang sendiri. Kehilangan pemain inti membuat Lazio kewalahan. Dan akhirnya Leverkusen yang lolos menemani MU.

Andyka 3-1, Bellarami – Bermain di BayArena motivasi Bayer lebih tinggi. Dan Lazio-pun tak berdaya. Akhirya Si Elang pulang dengan sayap yang patah .

Gangan 2-0, Calhanoglu – Kedua tim ngotot lolos ke fase grup. Lazio mendapat kerugian besar dengam absennya Biglia. Dua gol terjadi di penghujung laga.

Erwin 3-1, Kiesling– Motivasi tinggi leverkusen untuk main d UCL ga bisa dibendung lazio. Lazio bakal tersingkir. Hilanglah embel-embel the Great di depan nama Lazio

Imung 3-1, Calhanoglu – Absennya Biglia berpengaruh besar pada permainan Lazio. Keadaan ini dimanfaatkan betul oleh Leverkusen. Tiga gol bakal bersarang di gawang Lazio. Satu lagi, Calhanoglu mencetak gol dari skema bola mati. 😜

William 2-0, Calhanoglu – Faktor kandang Leverkusen. Faktor motivasi. Faktor Lazio jago kandang. Calhanoglu udah latihan freekick khusus buat ngebobol Lazio

Perkiraan susunan pemain:

Bayer Leverkusen: Leno; Hilbert, Papadopoulos, Tah, Wendell; Kramer, Bender; Bellarabi, Calhanoglu, Mehmedi; Kiessling.

Lazio: Berisha (26 tahun); Basta (31), De Vrij (23), Gentiletti (30), Radu (28); Savic (20), Lulic (29), Cataldi (21); Candreva, Keita (20), Felipe Anderson (22), Kishna (20).

Karawang, 260815

Pamer Gaya Dua Kiper

Sebuah umpan silang di depan gawang Arsenal, disambut dengan sontekan tipis Benteke. Sebuah peluang yang kata komentator lebai, “ahai… peluang emas 99% gol” itu dibarengi dengan lonjakan kegembiraan sang arsitek Liverpool, Brendan Rodgers. Separo isi Emirate bergemuruh, namun tunggu dulu. Di depan Cech, bola sepak itu seakan kucing jinak sehingga berhasil dihalau. Sungguh sebuah penyelamatan gilang-gemilang. Bukan hanya sekali, eks kiper Chelsea itu jungkir balik pamer gaya di depan pendukungnya belasan kali. Babak pertama memang Arsenal mendominasi tapi total attempt mutlak milik Liverpool. Entah kenapa barisan belakang Arsenal macam orang linglung, yang untungnya di bawah mistar bukan Szczesny lagi. Cech mengubah papan skor yang seharusnya 1-4 menjadi 0-0. Yak, saya bilang 1 karena sebenarnya bola sempat menggetarkan jala Mignolet namun gol Ramsey dianulir.

Babak kedua dimulai, Arsenal lebih ofensif dengan mendorong Ozil lebih ke depan. Strategi bagus itu membuahkan peluang lebih banyak ketimbang interval pertama. Sewajarnya saya bilang, “Babak pertama Cech dibombardir tapi gol masih 0. Babak kedua giliran Mignolet, gol tinggal tunggu waktu.” Namun baru beberapa menit berjalan, Simon seakan menertawakan pikiran saya, dia melakukan penyelamat super! Bola kotak-katik di dalam kotak pinalti sampai akhirnya jadi bola liar di depan gawang, Giroud yang melihat situasi memungkinkan membuat Arsenal memimpin, segera saja menjatuhkan diri guna menyonteknya, sepakan tipis itu berhasil mendorong si kulit bundar menuju sasaran, saya sudah tepuk tangan. Akan tetapi edian, Mignolet berhasil menepisnya! Teriakan “goal….” yang seharusnya keluar dari mulut berubah jadi gumaman, “goal kick”. Masa-masa selanjutnya giliran kiper Liverpool unjuk kebolehan.

Detik berjalan lebih mencekam ketimbang saat menonton film Goosebump. Sanchez mulai frustasi. Ramsey gigit jari. Detik berubah jadi menit, menit lalu mengkonversinya menjadi jam. Skor masih kaca mata. Setelah belum juga gol terjadi Wenger merespon situasi dengan memasukkan dua pemain enerjik guna mempertajam serangan: Walcott kemudian Chamberlian. The Gunners terus berupaya membongkar pertahanan, Mission Impossible 5 kali Ozil dkk menembak 5 kali pula mereka memegang kepala geram tak berdaya. Sampai akhirnya memasuki menit-menit akhir upaya terakhir Meriam London pun sia-sia. Justru Liverpool harusnya bisa mencuri gol melalui skema serangan balik cepat. Sayangnya saat tiga pemain Reds tinggal menghadapi dua pemain belakang Gunners itu tak dimanfaatkan secara baik. Benteke yang sudah menyamping membuka ruang lalu meminta bola, tapi tak mendapatkannya, bola terus saja digocek Milner untuk mengelabui lawan. Sayangnya Milner bukan Felipe sehingga gocekannya dengan mudah disapu bersih.

Kedua tim sampai peluit panjang terdengar, gagal memecah kebuntuan. Keseruan laga tak tercermin di papan skor. Nyaris tiga lusin tendangan ke gawang tercipta, sama-sama bermain terbuka dan jual beli serangan tersaji dengan mendebarkan. Aduh, aku deg-degan. Bisa saja skor akhir 5-5, andai kipernya kiper Roma: Szczesny. Namun mau 0-0 atau 5-5 tetap poin yang dibagi satu sama. Yang membedakan adalah, Liverpool sampai tiga laga masih clean sheet. Keren deh, Cech tampil brilian itu sudah biasa. Tapi melihat gawang Mignolet tetap perawan itu luar biasa. Yang pasti hari ini kita puas melihat penampilan mereka yang sedang pamer gaya. Cech jelas jadi man of the match, rasanya tak sabar menantinya bertemu kawan lama lagi. Kami tunggu kau di Bridge, dan tetaplah gagah!

Arsenal 0-0 Liverpool

Arsenal (4-2-3-1): Cech; Bellerin, Chambers, Gabriel, Monreal; Coquelin (Chamberlain 81′), Cazorla; Ramsey, Ozil, Sanchez; Giroud (Walcott 73′).

Liverpool (4-3-3): Mignolet; Clyne, Skrtel, Lovren, Gomez; Can, Lucas (Rossiter 76′), Milner; Firmino (Ibe 63) , Benteke, Coutinho (Moreno 87′).

Karawang, 250815

Catatan Penting Kemenangan Lazio

image

Meraih poin penuh di pertandingan perdana Liga sangat penting, saat akhirnya peluit panjang terdengar seluruh Laziale (Karawang) bertepuk tangan lega. Senam jantung di 10 menit terakhir sungguh menyiksa dan nyaris 3 poin terlepas. Ada 4 catatan penting mengenai penampilan Lazio yang mendepak Bologna 2-1 (23/8) di pekan pertama Serie A 2015/2016:
Keita-Candreva Masih Egois
Keita mendapat umpan lambung yang dengan manis dikontrolnya. Kemudian melakukan dribel gocek bola kanan kiri menuju gawang Bologna, namun masih di luar kotak pinalti sementara Kishna yang mempunyai ruang tembak dan menanti di sisi kanan. Normalnya diumpan, di kaki Keita bola tersebut di-shoot kencang meluncur tinggi ‘menembak burung’. Tak jauh beda dengan Candreva yang sungguh egois memaksakan shoot. Oke-lah kalau on target, sayangnya tidak. Keduanya menghasilkan selusin lebih shoot sia-sia! Teamwork Keita Balde dan Candreva buruk, harus diakui karena keegoisan mereka, musim lalu kita banyak membuang poin. Kecuali mendesak, mereka berdua jangan sampai tampil bareng. Karena peluang selama 90 menit dalam sepak bola tak sebanyak peluang 90 menit dalam Basket. Jangan sia-siakan!
Konsentrasi Penuh
Salah satu catatan penting kegagalan Scudetto musim lalu adalah konsentrasi yang buruk di babak kedua. Dengan strategi ofensif 4-3-3, Lazio selalu tampil prima di babak pertama. Gelombang serangan dari kaki-ke-kaki yang enak diikuti kembali ditampilkan pagi tadi. 30 menit pertama mutlak milik Biancoceleste. Bisa saja menghasilkan 5-6 gol andai Mirante tak tampil prima di bawah gawang. Bologna hanya mengandalkan serangan balik yang menghasilkan satu gol cantik di penghujung turun minum. Sayangnya konsentrasi di babak kedua meredup. Ingat Derby Roma musim lalu saat kita sudah unggul dua gol? Ingat betapa Juventus bertahan ketakutan? Ingat pula betapa Fiorentina luluh lantak? Babak kedua jadi sorotan. Fokus bro! Tadi pagi di menit-menit akhir laga, sungguh mengerikan, deg-degan terus. Untung lawan kita hanya Bologna yang punya striker kacrut macam Destro!
 Respon Pioli
Menyimpan tenaga Felipe untuk laga krusial tengah pekan depan mungkin adalah langkah bijak. Menempatkan Keita di lini depan menemani debutan Serie A, Kishna ide bagus karena king header Klose cidera. Tercatat Pioli tak banyak mengubah strategi ketika lawan Leverkusen. Radu-Gentileti-Stefan-Basta mengisi 4 pos bek sejajar. Parolo-Biglia masih di tengah, mengubah Savic di bangku cadangan dengan memainkan Lulic. Namun saat permainan timbang harus cepat direspon, Lulic tampil buruk di babak pertama. Babak kedua pun tetap tak prima, bayangkan seandainya umpan Kishna itu yang menyundul Klose, 99% gol. Pioli baru memasukkan Savic menggantikan Lulic saat laga berjalan sejam. Betapa lambatnya Pioli merespon keadaan.
 Kishna Bisa Diandalkan
Dan sungguh membahagiakan melihat penampilan menawan rekrutan baru ini. Man of the match jelas disematkan pada Kishna. Skill mumpuni, gocekan yahud, ketenangan eksekusi, kerja sama tim yang apik dan PeDe. Adaptasi cepat dengan skuad the Great membuat decak kagum Laziale (Karawang) sehingga saat layar menampilan wajah sang striker kita bertepuk tangan. Aura positif saat kita mengetahui dia starter, “bakalan habis ini Bologna”. Dan terbukti babak pertama kita se-ofensif Barca. Selain gol debutnya, ada dua momen seru, pertama saat Kishna mengontrol bola di sisi kanan di dekat garis lapangan. Menggoreng bola sambil melihat gawang lawan, lalu dengan elegan mengirim umpan jauh ke arah Lulic, umpannya keren sekali rek. Yang kedua saat kotak-katik bola di kotak pinalti saat laga akan berakhir, skill hebat yang membuat Laziale (Karawang) refleks serentak teriak “woooow…” Lini depan Lazio cerah. Saudara-saudara sekalian, perkenalkan inilah Ricardo Kishna, idola baru Olimpico.
Di menit 90 kemelut di gawang Berisha nyaris saja merusak pesta, untungnya bola bisa diamankan. Ini baru Bologna yang pola serangan masih acak adut (apa saya perlu menyebut Destro lagi?), saya ga berani bayangkan saat kita nanti melawat Barcelona atau Arsenal yang sama-sama mengusung strategi menyerang. Akankah pola 4-3-3 kita bisa membunuh mereka? Sementara momen itu masih menunggu datang, kita layak bersyukur atas start bagus ini. 3 poin penting untuk mengejar Scudetto Lazio 2015/2016.
Kedai 05 – Karawang, 230815