My Best Friend Forever #23

image

Ketika mendengar kata best friend forever (BFF) hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah persahabatan Spongebob dan Patrick. Dalam sebuah seri, Spongebob berangkat kerja ke Krasty Krab, ketemu Patrick di jalan dan ditanya, “apa yang kamu lakukan saat aku bekerja?”, Patrick dengan polos menjawab, “menunggumu pulang….”
Buku ke 23 yang akan saya review ga ada sangkut paut-nya dengan serial di dasar laut tersebut. Adalah novel ke-2 Sherina Salsabila, buku keluaran Paci (Penulis Anak Cerdas Indonesia). Saya menjadi first reader di awal tahun 2013. Sempat berjanji pada Sher akan membuat ulasannya, namun saat itu saya lagi down sehingga rencana me-review-nya nyaris terlupa. Kemarin saat membuka-buka rak, saya teringat lagi. Saat ini beberapa kali masih kontak dengan Sher yang kini memasuki bangku SMU. Betapa waktu berjalan cepat.
Di cover pembuka ada tulisan pink “To: Om Budi & Bunda Mey, semoga senang membaca karyaku 🙂 – Sherina”. Sebuah tanda tangan tertanggal 10 Februari 2013, sabaris kalimat yang sejatinya memberi semangat kepadaku, bukan sebaliknya. Di kata pengantar nama saya juga kembali disebut, kini dalam cetakan: “… juga buat Om Lazione Budiyanto yang suatu hari nanti ingin punya akan perempuan kecil seperti aku, yang selalu memberi motivasi terbaik untukku.” Sejujurnya Sher, bukan saya yang memberi motivasi ke kamu, tapi saya-lah yang kamu beri motivasi yang saat itu kami dalam posisi terpuruk. Dan kini dua tahun lebih berselang, putri keduaku bernama Hermione, kelak mudah-mudahan doa itu terkabul, bisa secantik dan secerdas Sher. Ke depannya Sher, kalau boleh minta tolong ‘selipkan kalimat penyemangat buat Hermione – Sherina Kecilku’ di buku terbarumu.
Kisah dimulai langsung tanpa daftar isi, namun tiap bab-nya ada judul. Di pembuka Sepucuk Surat Untuk Fatia. Pagi yang mendung, Fatia mendapat surat tanpa nama pengirim di amplop. Segera dibuka dan dibacanya, ternyata dari Kenzia sahabatnya yang kini di Belanda. Menanyakan kabar dan kesibukan. Dari sepucuk surat itulah cerita ini akan digulirkan, ditarik mundur. Kenangan-kenangan semasa mereka bersama di sekolah Cendrawasih.
Tokoh utama Fatia, panggilannya Fat – duh gemuk dong – orangnya supel dan (sepertinya) yang paling cerdas. Kedua Kenzia, anak orang kaya. Anak tunggal, ayahnya kerja di bank swasta ibunya lawyer, liburan kemarin dia ke Bali. Ketiga Shania, anak baru pindahan dari Sumatra. Dirinya terpaksa pindah sekolah gara-gara orang tuanya mendapat tugas di ibu kota. Keempat, Misca teman sebangku Shania. Mereka berempat mendapat julukan ‘4 Sekawan’. Kisah novel ini menceritakan hiruk-pikuk mereka di SMP Cendrawasih. Begitulah hari-hari indah di sekolah. Masa paling indah bersama teman-teman terbaik. Ada audisi penulis, ada kegiatan Osis, ada kegiatan baksi sosial dan seterusnya.
Konflik itu muncul juga, saat pemilihan ketua Osis ada yang pingsan. Kenzia tak sadarkan diri, segera dibawa ke ruang UKS – ada yang masih ingat kepanjangannya apa? – mulai saat itu Kenzia sering sakit. Teman-temannya ikut sedih. Namun ternyata ada yang tak beres, saat Fatia secara tak sengaja membaca buku bersampul hitam sebuah fakta menarik terbongkar. Fatia yang terkejut menceritakan pada kak Farah, kakaknya yang kini kuliah. Fakta apakah gerangan? Akankah persahabatan mereka tetap utuh saat satu demi satu kenyataan buruk menghampiri. Sisi negatif tiap karakter terkuak, dan Sherina dengan sukses bisa membuat pembaca tetap terpaku sampai halaman terakhir.
Secara keseluruhan, masa itu udah lewat. Saya membacanya dari sisi seorang anak sekolah dengan segala keceriaan mereka. Hebat ya anak zaman sekarang, SD-SMP udah punya karya. Saya dulu saat seusia Sher, yang ada dalam benak ketika pulang sekolah hanya mengejar layang-layang putus, memancing di sungai, berburu burung di sawah, atau sekedar main kelereng di halaman belakang rumah. Apalagi Sher udah bisa bikin plot yang baik, konflik yang bagus, menyimpan kejutan dan eksekusi ending yang pas. Di usia 12 tahun sudah bisa membuat cerita tentang histrionic personality disorder. Ckckck… seusia itu tahuku malah brambang goreng. Sampai saat ini saya belum bertanya lagi ke Sher udah berapa buku yang ditulis. Namun novel keduanya ini termasuk sukses menghantarkan saya menikmati lembar-demi-lembar mengarungi dunia anak. Saya yakin dalam 5 atau 10 tahun lagi, nama Sherina Salsabila akan tercetak di sampul buku yang dibicarakan banyak orang karena ceritanya yang istimewa. Or is it just me?
My Best Friend Forever | oleh Sherina Salsabila | Penerbit Zettu | PACI: Penulis Anak Cerdas Indonesia | Cetakan I, 2013, 14×21 cm: 120 halaman | ISBN: 978-602-7735-45-3 | Skor: 3/5
Karawang, 230615 – Midnight midweek
#23 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

The Five People You Meet In Heaven #22

Featured image

Ini adalah novel Mitch Albom pertama yang saya baca, sekitar empat tahun yang lalu saat mencari kado ulang tahun Winda, ponakan saya yang berusia lima tahun. Mampir sebentar di bagian buku dan menemukan novel yang katanya mirip dengan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Karena saya juga sudah baca karya Tere Liye tersebut. Jelas sekali benang merah-nya sama, ini terinspirasi atau menjiplak?

Lima Orang Yang Kamu Temui Di Surga, kisah diceritakan setelah kematian, lebih tepatnya sesaat setelah sekarat. Anehnya dalam Bahasa Indonesia malah diterjemahkan menjadi Meniti Bianglala, jauh dari arti judul aslinya. Kisah tentang Eddie yang dibuka dengan menit-menit menuju ajal. Kisah yang bermula dari akhir, istilah death is the only beginning.. disajikan dengan khidmat. Eddie lelaki tua, meninggal di tempat kerja Ruby Pier, taman hiburan di tepi samudra besar yang kelabu. Eddie adalah maintenance, tugasnya ‘memelihara’ wahana hiburan agar bisa tetap aman. Sapaannya ‘Eddie Maintenance’, hari itu adalah ulang tahunnya yang ke 83. Terlalu tua untuk seorang pekerja, seminggu sebelum kematiannya dia di-diagnosa dokter, sakit ruam saraf. Dan kematiannya dihitung mundur, takdir-lah yang menghantar wahana Freddy’s Free Fall macet, dan kata ‘mundur..’ menjadi penutup kehidupan di dunia ini.

Kemudian kisah ditarik ke belakang, sama seperti Rembulan, kisahnya mundur lalu menelusuri perjalan hidup. Eddie lalu dihantar ke dunia ‘antara’ dan menemui lima orang yang terkait masa lalunya. Kalau Rembulan berkisah tentang Ray yang menuntut jawab tentang hidup, di sini Eddie diberi jawaban yang semasa hidupnya adalah misteri. Orang pertama yang ditemuinya adalah orang ‘asing’ baginya. Manusia biru yang tak dikenal, jadi kenapa harus menemuinya? Ternyata Albom menarik benang keterkaitan. Orang biru tersebut meninggal karena ‘ulah’ Eddie. Joseph Corvelzchik kisahnya dituturkan sepintas, “jadi kau mengeri sekarang? Mengapa kita ada di sini? Ini bukan surgamu, ini surgaku”. Pelajara pertama, “Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.”

Berikutnya Eddie bertemu dengan Kapten Michael. Atasannya saat pergi berperang ke Filipina. Eddie bertanya-tanya ada kaitannya apa dengan sang kapten? Sebuah misteri yang tak Eddie tahu saat hidup dikuak, kenyataan yang menyakitkan tersebut membuat Eddie marah besar. Namun dibaliknya ada pelajaran penting, “aku bayangkan seperti Alkitab, seperti yang terjadi pada Adam dan Hawa. Malam pertama Adam di bumi ketika dia berbaring untuk tidur. Dia berfikir, dia tidak pernah tahu apakah ‘tidur’ itu? Matanya terpejam dan dia mengira dia meninggalkan dunia. Tapi ternyata tidak, dia bangun keesokan harinya di depannya terbentang dunia baru yang masih murni menunggunya. Tapi dia memiliki yang lain, dia memiliki hari kemarin.” Sesuatu yang tak ditemuinya di surga.

“Pengorbanan,” kata Kapten. “Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kau berikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kau korbankan” (halaman 97).

Orang ketiga, keempat dan kelima dituturkan dengan lebih menyentuh. Apalagi pas bagian istrinya, itu sungguh mengharukan. Kata-kata, “per l’amaro e il dolce” – “untuk kepahitan dan kemanisan” menjadi perjalanan yang romantis. Sampai masalah dengan ayahnya ditelusuri, “Kau menemui kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.”

Ending-nya sendiri terasa manis, saling kait kehidupan disampaikan di epilog dengan pas. Bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan berikutnya. Dan kehidupan berikutnya itu mempengaruhi kehidupan berikutnya lagi. Dan bahwa dunia ini penuh kisah-kisah kehidupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

Oiya satu lagi yang membuat Meniti Bianglala sama dengan Rembulan adalah tokoh utamanya tak memiliki keturunan. Jadi apakah ini sebuah kebetulan?

The Five People You Meet In Heaven | by Mitch Albom | copyright 2003 | alih Bahasa Andang H Sutopo | Meniti Bianglala | G 402 01 11 0044 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam: Desember 2012 | 208 hlm; 20 cm | ISBN: 978-979-22-7002-0 | Skor: 4/5

Karawang, 230615 – Audit lancar

#22 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Jo(m)bless #21

Featured image

Buku ketiga Jemy, buku kedua dari penerbit Puspa Swara yang ku review. Dibaca Sembilan tahun lalu beberapa hari setelah Valentino Rossi terjatuh di lap ke enam di perlombaan terakhir 2006. Buku yang diluar-duga sungguh menghibur, menghibur diri dari kegagalan Rossi juara. Novel chicklit / teenlit memang harus seperti ini. Seru dan kocak.

Jombless adalah gabungan kata dari jomblo dan jobless, disusun dengan Bahasa gaul yang tak disangka-sangka bisa renyah. Ceritanya tentang seorang cewek yang tak punya pacar, tak punya kerjaan walau sudah wisuda 9 bulan. Kalimat pembukanya langsung dibuat terpingkal-pingkal: “Cari kerja itu susah. Maaf, gua ralat. Cari kerja itu susaaaaaaaaaaahhhhhhhh banget! Hmm.. kayaknya ini juga salah. Cari kerja itu sebenarnya gampang sih. Di koran edisi Sabtu dan Minggu itu biasanya penuh sama iklan lowongan kerja. Di internet juga ada banyak situs pencari kerja. Yang susah itu ‘mendapatkan’ pekerjaan”. Haha… ada benernya, dulu saya juga pernah jombless jadi yah setuju sekali.

Amel. Namanya singkat padat, dan kurang menjual. Dulu gurunya mengira, namanya belum selesai jadi diminta menanyakan kepada orang tua nama lengkap. Apakah Amelia, Amelia Malik kali. Tapi ternyata hanya AMEL. Titik. Nama yang menurut Amel kurang hoki. Buktinya sudah berbulan-bulan menyandang gelar SE masih saja nganggur, sehingga setiap ngumpul sama teman-teman Amel jadi rendah diri. Ada yang pamer HP bagus, pamer PAD, pamer kesibukan kerja, pamer cowok kerennya. Amel Cuma haha hihi bete. Hobinya mendekam di kamar.

Lama menganggur membuatnya stress. Pekerjaan pertama itu akhirnya datang juga, sebagai badut Kiddie’s Fun. Walau shock juga dengan job desk yang diberi, Amel mencoba pengalaman baru ini. Apalagi gajinya lumayan. Dari pada tiap hari ke warnet, cek email, kirim lamaran, muter sana-sini ga dapat juga setidaknya kini dia ga jobless. Namun sayang, Amel yang emang ga suka keriuhan anak kecil di hari pertama kerja langsung dipecat. Rekor mengenaskan. Dari situ dia belajar untuk lebih teliti mengirim lamaran, ga asal send-send-send. Setelah badut, Amel berkesempatan jadi bintang iklan. Maksudnya figuran dalam iklan minumam. Lumayan, tapi yang namanya figuran ya gitulah. Syuting melelahkan, teriak-teriak geje, diguyur, di-make-up sampai dirinya sakit karena ratusan kali take. Saat iklannya tayang, Amel kecewa dirinya tak kelihatan. Huhu… seakan nasib sial selalau menghampirinya.

Sampai kapan Amel menganggur? Temukan jawabnya di novel yang seru ini. Kalimatnya ringan, tanpa banyak istilah asing yang njelimet. Bahasa keseharian kita. Mulai dari kekesalan pembulatan harga naik taksi, beli DVD bajakan, ke mal hanya melihat-lihat karena ga punya duit, ngumpul sama teman yang rame, sampai serunya cari kerja dari yang normal lewat email sampai spam yang ekstrim. Sungguh Kita Banget. Karena saya pernah mengalamai masa-masa itu, jadinya apa yang dirasa Amel kita jadi bisa resapi.

Satu lagi keunikan buku ini, tiap lembarnya ada aja banyolan yang fresh yang anehnya tak terpikirkan. Bahasanya gaul, top lah si Adeyulia ini. Pinter nyusun kata-kata yang menghipnotis pembaca untuk terus terpaku. Salah satunya adegan Amel menyeret sandal, “sret sret sret…” diomeli mamanya. “Dug dug dug…” loncat-loncat, diomeli juga. Serba salah. Serba aneh. Penasaran sama Amel nih, karakter nyeleneh. Endingnya juga pas, saat Amel sepertinya bahagia, teman akrab-nya memberi kabar yang lebih wah seakan-akan pencapaian Amel hanya selintas lewat. Haha… Keren!

Jo(m)bless | oleh Adeyulia | Penerbit Puspa Swara | Cetakan I, Jakarta, 2005 | E05/569/X/05 | 164 hlm; 20 cm | ISBN 979-3833-90-4 | Skor: 4/5

Karawang, 220615 – Menanti Ant-Man

#21 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Of Mice And Men #20

Featured image
Akhirnya kesampaian juga. Salah satu buku yang paling saya buru itu akhirnya di rak saya tahun lalu. Saya beli online dari teman di Klaten, buku klasik dari Amerika ini selesai baca dalam semalam. Kisahnya sederhana, namun tak sesederhana kelihatannya. Kekuatan buku ini ada tiga, pemilihan diksi yang tepat sehingga kisah digulirkan dengan runut, dua karakter yang berlawanan yang disajikan dengan indah, dan ending yang berani. Poin ketiga adalah poin terpenting yang membuat Amerika bahkan melarang novel ini dibacakan untuk anak-anak. Poin utama yang membuat keseluruhan isi jadi mencengangkan. Saya tak membaca bocoran apapun dari forum diskusi buku dan film, jadi feel mengejutkan itu benar-benar terasa banget. Beruntung sekali kan. Makanya karena saya merasa beruntung tak kena bocoran, setiap saya menulis review inti cerita tak kan pernah saya beberkan.
Kisahnya abadi. Dua orang beda karakter dipersatukan oleh Steinbeck. Dengan cerdas kisah langsung ditaruh di tengah konflik. Lennie adalah lelaki berbadan besar, namun mempunyai sifat kekanak-kanakan. Pelupa, dungu, polos, yang ada di pikirannya adalah hewan ternak yang akan dipeliharanya. Kelinci-kelinci masa depan. Di sakunya ada tikus mati yang selalu dibelainya. Sementara George adalah lelaki kurus yang membantu Lennie keluar dari masalah satu ke masalah yang lain. Otaknya encer, dirinya selalu melindungi Lennie dan selalu menasehatinya untuk selalu pasif dan berkata, “aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa…”
Mereka baru saja melarikan diri dari masalah yang dibuat Lennie. Sampai di sebuah sungai yang airnya mengalir tenang. Sunga Salinas yang menjadi titik utama awal dan akhir cerita ini, kelak akan jadi saksi bisu sebuah twist. Mereka dalam perjalanan menuju peternakan di Soledad, tempat kerja baru. “tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya kau yang juga selalu menjagamu, yah itu sebabnya. Kita akan mendapatkan uang, memiliki sebuah rumah kecil, beberapa area tanah, seekor sapi, beberapa ekor ayam, dan hidup dari tanah yang subur itu. Dan punya kelinci-kelinci…”
Belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya, George berwasiat kalau nantinya di peternakan Lennie bermasalah lagi. Dirinya diminta untuk sembunyi di semak-semak sungai ini dan menantinya datang menjemput. Dan saat esok menjelang, mereka sudah bekerja di rumah peternakan. Bersama pekerja lain, awalnya Lennie tak banyak membuat masalah. Namun karena dirinya yang gugup, tak bisa menjawab apapun saat ditanya, orang-orang mulai curiga, ada yang tak beres. Termasuk anak juragan, Curley yang katanya jago tinju di atas ring. Curley yang bertubuh kecil merasa kesal karena Lennie yang tubuhnya besar hanya plonga-plongo saat ditanya. Inilah awal mula segala masalah. Lennie memang sumber masalah, dan kali ini masalah yang dibuatnya sungguh besar. Akankah George berhasil lagi menyelamatkan Lennie? Dua pengelana yang tak punya apa-apa selain diri mereka dan impian-impian kelinci itu akankah digerus kenyataan? Bagaimana akhir petualangan mereka, akankah mereka berpisah? John Steinbeck dengan brilian membuat cerita sederhana ini menjadi luar biasa memikat.
“Untuk apa berandai-andai, tidak ada yang boleh berandai-andai George terluka” (halaman 156)
“Aku suka membelai-belai sesuatu yang manis, tetapi tidak jika aku bisa mendapatkan yang lebih baik.” (halaman 193)
Curley dan Carlson menatap kepergian mereka. Lalu Carlson berkata, “sekarang kau pikir apa yang terjadi pada kedua orang itu?” (halaman 233)
Of Mice And Men | by John Steinbeck | copyright 1937, renewed 1965 | Penerjemah Isma B Koesalamwardi | Penerbit Ufuk Press | cetakan I: Desember 2009 | ISBN 978-602-8224-72-7 | skor: 4.5/5
Karawang, 210615 – Sponge out of water
#20 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Japanese Guy & Me #19

image

Apa yang bisa diharapkan dari cerita remaja zaman sekarang? Cerita yang kuat? Konflik berat? Kejutan seru? Pesan moral? Nope! Kalau ekspektasi Anda seperti itu, susah mendapatkannya. Ya, ada. Beberapa buku memang ada yang memberikannya. Namun mayoritas klise. Cerita yang beredar tak kan jauh dari mimpi-mimpi kosong seorang putri yang mengaharapkan kedatangan pangeran tampan. Untuk itulah saya tak muluk-muluk saat membaca Lelaki Jepang dan Aku. Satu lagi buku teman se-kos dulu saya review. Jemy meninggalkan buku-buku roman remaja bertumpuk di rak saya, dan saya membacanya saat stok bacaan sudah kosong. Dilahap delapan tahun lalu saat masih kuliah, buku itu memberikan titik klise yang mengerikan. Entah apa yang dibenak Jemy dan pembeli lain saat memutuskan membawa pulang bacaan ringan ini. Saya sering melihat Jemy melempar buku-buku jelek ke tempat sampah saat selesai membacanya. Buku ini mungkin salah satunya, ‘untungnya’ saya cegah. Kita mengeluarkan uang untuk membawanya keluar dari toko buku. Sayang sekali kalau sia-sia. Kalau buku ini tidak di-genre kita, bisa jadi orang lain bisa melihatnya dari sisi yang berbeda. Setidaknya itulah pemikiran saya sehingga sampai saat ini buku aneh ini masih ada di rak.
The Japanese Guy & Me bercerita tentang dua orang beda kasta berkenalan lewat chatting. Pemuda tampan nan rupawan dari negeri Sakura, seorang anak dari konglomerat Perusahaan otomotif terbesar sedang galau. Dirinya muak dengan keseharian keluarga yang formal. Kyo, adalah gambaran pemuda yang ada di sinetron kita. Tampan, kaya, baik hati dan tidak sombong. Sementara itu di pihak perempuan adalah seorang pelajar yang juga sedang galau. Maya, baru saja mendengar pacarnya Dior selingkung dengan Clarisa, cewek populer dari SMU sebelah. Setelah mengklarifikasinya, mereka putus. Menangis bombai menjadi jomblo, Maya berujar: “Seandainya suatu hari nanti, aku bisa bertemu dengan cowok keren, baik hati, pintar, dan juga kaya. Aku pasti akan pamerkan kepada Dior kalau aku bisa punya pacar yang lebih keren sampai dia benar-benar panas. Tapi apa aku bisa mendapatkannya?” khas remaja kita di sinetron-kan? Maya adalah gambaran putri yang mendamba pengeran dengan berpangku tangan dan mempercantik diri, seolah hidup ini kisah dongeng.
Dan sim salabim abrakadabra! Setelah dua bab perkenalan dua karakter, bab tiga adalah mantra yang menyatukan mereka. Melalui chat! Mereka berkenalan. Hebatnya lagi, sang pangeran dari Jepang ini bisa bahasa Indonesia. Mungkin kesambet Ken Arok sehingga jadi jadi multitasking. Mereka langsung klik lho. Amazing, fantastis, bombastis, luar biasa. Lupakan logika. Buang jauh nalar Anda. Maya cerita baru putus, Kyo bilang dia sedang BT. Setelah beberapa kali chat akhirnya Pangeran itu nyamperin juga ke Indonesia. Mereka kopi darat. Dan Ta da! Maya jatuh hati. Gayung bersambut. Dunia rasanya jadi milik mereka berdua.
Namun tunggu dulu, konflik baru digulirkan. Kyo terbukti bohong, ada duri dalam hubungan mereka. Ternyata Kyo sudah tunangan. Hal yang meremukkan Maya, akankah mereka bisa bersatu ataukah bubar jalan? Duh pertanyaan klise banget. Ini kan cerita untuk mereka berdua jadi ya, sederhana sekali kesimpulannya. Melalui kejadian-kejadian yang serba kebetulan. Eh sebenarnya bukan kebetulan juga, kan udah di-skenario-kan happy ending, sehingga ya sudahlah. Untuk kali ini saya setuju sama Jemy, ini buku yang Enggak banget. Setelah membaca buku ini, sinetron Ganteng-Ganteng Serigala laksana sebuah film nominasi Golden Globe.
The Japanese Guy & Me | oleh Camarillo Maxwell | Penerbit Puspa Swara | Cetakan I, Jakarta 2006 | vi + 144 hlm; 19 cm | E 37/628/V/06 | ISBN 979 24 4851 9 | Skor: 1/5
Karawang, 200615 – Boyhood day
#19 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Fight Club #18

Featured image

“Jika aku bisa terjaga di tempat yang berbeda, pada waktu yang berbeda, dapatkah aku menjadi orang yang berbeda?”

Entahlah. Sungguh beruntung sekali saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku diskon di bazar pesta buku Solo 2009. Buku yang entahlah saya tak tahu harus memulai dari mana. Fight Club jelas salah satu novel terbaik sepanjang masa. Beruntung juga saat membacanya saya ‘agak lupa’ film Fincher yang pernah kutonton di televisi sehingga saat twist diungkap saya masih mendapatkan feel yang sempurna. Kisah nyeleneh, buku unik, dan kata-kata yang disajikan penuh inspirasi. Salut!

Tokoh aku dalam kisah ini mengalami insomnia. Insomnia hanyalah gejala untuk sesuatu yang lebih besar. Segalanya tampak jauh, Salinan dari Salinan dari Salinan. Insomnia membuatmu berjarak dari segalanya, kau tak bisa menyentuh apa pun dan taka da yang bisa menyentuhmu. Inilah kebebasan, kehilangan segalanya adalah kebebasan. Sampai akhirnya dia tertidur di pesawat, tidur nyenyak yang bahkan bayi-pun tak sepulas itu. Dia terjaga di Air Harbor International. Di sinilah segalanya dimulai, saat dirinya ‘bertemu’ Tyler Durden. Sesaat adalah yang terbaik yang dapat kau harapkan dari sebuah kesempurnaan. Jika kau banyak bepergian kau belajar mengepak hal yang sama untuk setiap perjalanan. Enam kemeja putih. Dua celana panjang. Perlengkapan minuman untuk bertahan hidup. Jam alarm untuk bepergian. Pencukur elektrik nirklabel. Sikat gigi. Enam pasang pakaian dalam. Enam pasang kaus kaki hitam.

Orang-orang yang pernah kukenal sering duduk di kamar mandi sambil membaca bacaan porno, sekarang mereka duduk di kamar mandi membaca katalog IKEA. Banyak abak muda tak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Kebosanan itulah yang membuatnya ikut Klub Petarung. Aturan pertama ikut Fight club adalah jangan bicara tentang fight club. Setelah ikut klub petarung, menonton football di televise bagaikan menonton film porno padahal ksu bisa melakukan seks yang hebat.

“Kau tahu, kondom adalah sepatu emas generasi kita. Kau memakainya ketika kau bertemu orang asing. Kau berdansa semalaman, lalu kau membuangny. Kondomnya maksudku, bukan orang asingnya.” (halaman 83)

“Karena semua yang nyata kini hanya tinggal cerita, dan semua setelahnya hanya tinggal cerita.” (halaman 94).

Dia selalu menyiramkan air ke kloset untuk menutupi suara-suara yang mungkin ia hasilkan di kamar mandi. Memperoleh perhatian Tuhan karena berbuat jahat lebih baik daripada tidak memperoleh perhatian sama sekali. Mungkin karena kebencian Tuhan lebih baik daripada ketidakpedulianNya.

Ketika aku dapat pekerjaan dan berusia dua puluh lima tahun, melalui sambungan interlokal, aku bekata, sekarang apa? Ayahku tidak tahu, jadi ia berkata, menikahlah. Menikahlah sebelum seks jadi membosankan, atau kau tak akan pernah menikah.

Ending  Klub Petarung menyajikan nihilitas. Sekali lagi tema sesuatu yang kosong mempesonaku. Disajikan dengan mempesona, tiap lembarnya begitu memikat, saya sampai tak bisa lepas dan penasaran terus. Buku dicetak sederhana lebih besar dari buku saku lebih kecil dari standar buku. Tanpa banyak kata-kata pujian, buku ini lebih layak dipuja seperti Tyler dipuja pengikutnya sebagai legenda. Setelah sampai di puncak, akankah kita masih bisa mencapai tempat yang lebih tinggi lagi?

“Hai, apa saja yang terjadi? Ceritakan padaku hingga hal-hal terkecil…”

Fight Club #18 | by Chuck Palahniuk | copyright 1996 | Penerjemah Budi Warsita | ISBN: 979-3684-39-9 | 06 07 08 09 10 5 4 3 2 1 | Penerbit Jalasutra  | untuk Carol Meader yang ter;ibat dengan seluruh kebiasan burukku | Skor: 5/5

Karawang, 190615 – Bunga Rose di Taman

#18 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

My Secret Identity #17

Featured image

Menyembunyikan identitas penulis (di cerita ini) ternyata seru. Galereen Hith adalah nama pena penulis buku The West Cowboy Story. Dalam kisah ini kita tak diminta menebak siapa Hith, karena sudah dijelaskan terlebih dahulu, yaitu seorang gadis remaja Gladist Swing namun cerita bertutur tentang usahanya menyembunyikan identitas.

Identitas Rahasiaku, dengan nama samaran Galereen Hith, Gladist menyembunyikan jati dirinya. Adegan pembuka dia sudah berbohong tidak masuk sekolah karena akan menghadiri pesta buku di kota New York. Orang tuanya melindungi dengan bilang sakit cacar air. Dari kota Dulhing Bay yang kecil Gladist mengguncang dunia pustaka remaja. Bukunya sukses berat, seantero Amerika membicarakannya, hhhmmm…. remaja aja sih buktinya penulis Fighting to Heaven, Harry Buntion hanya tahu sekilas. Berteman dengan Tysha sejak SD mereka saling membantu, saling support dari gangguan Darcy dan Meian yang jahil, murid paling kaya dan populer. Kebiasaan buruk Glad selain berbohong adalah menabrak seseorang saat panik atau tergesa. Salah satu korban ‘tabrak’ tersebut adalah Leon Copp, cowok paling keren (di mata Glad) yang nantinya mengisi konflik seru cerita ini. Saat orang-orang di sekolahnya ramai membicarakan sang koboi, berapa lama lagi Glad berhasil menyembunyikan identitasnya?

“Kau pasti mengira aku ini Galereen Hith kan? Oh Glad jangan seperti itu lagi, aku bukan Galereen Hith, karena aku tak mengatakan sejujurnya padamu.” (halaman 194) – seseorang mengatakan pada Glad dia bukan Hith

“Ternyata apabila dia menyukai sebuah buku, dia akan mati-matian ingin menemui pengarangnya. Pantas dia pura-pura menuntutmu agar kau keluar dari persembunyian. Dan tahu tidak apa yang dia lakukan setelah berhasil menemui pengarang buku kesayangannya? Dia menggunting sepotong baju mereka untuk dikumpulkan. Dan masih ada lagi, menggunting kuku mereka, mengambil barang mereka, bahkan sampah mereka juga dikumpulkan. Ternyata di dunia ini memang ada maniak seperti itu. Untung saja dia tidak tahu siapa Galereen Hith”. (halaman 222).

Ada 3 kelebihan buku lokal ini sehingga saya berani kasih skor tinggi, walaupun Ardina juga ga se-lokal yang kita kira karena dia lahir di negeri seberang:

  1. Pembaca dibuat penasaran kejadian demi kejadian. Saya selalu bilang, buku yang berhasil adalah bisa membuat pembaca dipaksa terpaku terus sampai akhir. Setiap lembarnya memberi mantra lengket, sesuatu yang tak biasa untuk sebuah buku remaja Nasional dengan setting International.
  2. Bab demi bab selalu memberi karakter penting baru, bukan sekedar karakter tempelan. Karakter baru tersebut akan memicu konflik yang memaksa karakter penting lain memutuskan sikap.
  3. Kejutan. Saya suka kejutan yang gereget. Gladist adalah orang yang bikin gereget, saat identitasnya nyaris terbongkar. Malah teman anehnya tertuduh. Semua diceritakan dengan seru. Dan kita tahu kebohongan Glad, tak bosan-bosannya Glad menabrak.

Dengan setting Amerika, novel ini berkreasi dengan tutur kata yang renyah. Tak menyangka aja, saya masih bisa menikmati novel remaja di tahun 2006. Sebenarnya ini buku punya Jemy, teman se-kos yang juga suka buku. Karena stok bacaan habis saya iseng membacanya, eh ternyata bagus. Sempat juga buku hilang saat dipinjam seseorang di tempat kuliah, namun saya tuntun untuk ganti baru. Dan saat Jemy meninggalkan kos untuk bekerja ke Kalimantan, buku-bukunya ditinggal salah satunya ya ini. Cerita remaja dirangkai ceria dan tetep bagus? Why not? Ardina sudah memberi bukti.

My Secret Identity | oleh Ardina | Penerbit C publishing | distributor Mizan Media Utama | Cetakan pertama, November 2005 | vi + 328 hlm; 20,5 cm | ISBN 979-24-3903-X | Skor: 4/5

Karawang, 170615 – audit day one

#17 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku