Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck #27

image

Hamka. Siapa yang tak kenal Hamka? Dunia pustaka akan mengenangnya sebagai salah satu penulis besar yang kita miliki. Dicetak pertama kali saat Indonesia belum merdeka, Hamka jelas seorang jenius bisa membuat kisah romantis dengan budaya Timur yang kental di masa Ejaan belum Disempurnakan. Filmnya sukses besar, sukses membuatku menitikan air mata, seindah kata-kata yang tercetak di buku. Tak seperti ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ yang mengerikan dalam beradaptasi, Tenggelamnya memberi porsi drama yang pas dan pemilihan cast yang cerdas. Buku ke 27 yang ku-review ini bisa jadi adalah salah satu buku lokal terbaik yang pernah kubaca.
Dituturkan dalam 28 bab termasuk penutup, Tenggelamnya berkisah tentang dua anak manusia beda kasta yang saling mencinta. Zainudin adalah orang terbuang. Pulang kampung di tempat kelahiran orang tuanya namun merasa asing. Belajar ngaji dan coba mambaur namun tetap saja dianggap asing. “Berhentilah menangis Mamak, jangan sampai tangis Mamak meragukan saya menempuh lautan yang begitu luas. Ingatlah bahwa maksudku amat besar”.
“Saya orang tua, Udin, hatiku tak dapat kutahan. Apakah derma seorang perempuan selain tangis? Apalagi kerap kali hati mamak berkata, agaknya kita tak akan bertemu lagi. Cobalah lihat punggungku yang telah bungkuk. Mamak takut, keluarga di Padang tak sudi menyambutmu dengan baik.” (halaman 19)
Benar pula, di Padang Udin disambut dingin. “Oh…, rupanya si Amin ada juga meninggalkan anak di Mengkasar.” Pantang surut, Udin tetap pada niatan awal untuk belajar. Dan berkenalanlah dia dengan bunga desa Batipuh, Hayati. Dalam adegan romantis, saat hujan. Ketika berteduh, Udin menawarkan bantuan memberi pinjam payung kepada Hayati (bersama temannya) untuk pulang dulu. Dari situ timbullah benih cinta, cinta mati! Besoknya saat mengembalikan payung, mulailah mereka bertukar surat, bermula surat biasa bertukar kabar, puja-puji sampai akhirnya menjadi surat cinta.
Surat-suratnya sudah banyak dikutip remaja-remaja masa kini. Dan memang bagus, saya ambil satu deh: “… dalam khayalku dan dalam kegelapgulitaan malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatan satu bintang, bintang dari pengharapan untuk menunjukkan jalan. Bintang itu… ialah: kau sendiri, Hayati!” Ternyata surat itu dibuat dengan jiwa, bukan dengan tangan.
Berjalannya waktu, cinta mereka makin menggila. Sampai di sebuah dangau, di tepi bandar air yang akan mengaliri sawah, terucap keluar janji suci yang membuat merinding mendengarnya, “Hayati.. kau kembalikan jiwaku! Kau izinkan aku hidup. Ulurkanlah tanganmu, mari kita berjanji bahwa hidupku tergantung kepada hidupmu, dan hidupmu bergantung kepada hidupku. Yang menceraikan hati kita, meskipun badan tak bertemu, ialah bilanya bercerai dengan badan.” Dan petang itu, suara adzan dari surau meng-Amin-inya. “hayya alal falaah…” Maka selama hidupnya, kematianlah yang akan menceraikan perjanjiannya itu.
Konflik akhirnya muncul juga. Sialan ini konflik, kejam sekali. Makin sadis makin sukses membuat pembaca bergemuruh. Udin dan Hayati udah siap se-hidup semati, saling cinta, saling terima, saling sumpah. Namun adat desa mengharuskan Udin terusir ke Padang Panjang. Bukan itu saja, saat Hayati berkunjung ke sana, segalanya berubah. Hayati ‘dipaksa’ menikah dengan saudaranya Khadijah: Aziz. Betapa remuk-redam hati Udin. Langit runtuh, dunia koma. Saya menangis, sumpah! Saya menangis, menghujat Hayati, mengutuk pilihannya, menyumpah serapah takdir Udin yang begitu mengerikan. Laki-laki mana yang bisa bertahan, ditusuk separah ini?
Saat kamu terpuruk yang paling dalam, jalan keluar terbaik adalah muhasabah lalu meninggalkan masa lalu itu. Saya pernah sih, terluka cinta obatnya memang harus berlari menjauhi kenangan. Apa yang dilakukan Udin sangat tepat, merantau! Meninggalkan Padang dengan kegetiran dan hati remuk bubuk. Udin, bersama temannya Muluk meniti jalan baru di tanah Jawa. Ke Jakarta, kota sejuta harapan. Disusunnya kepingan asa itu menjadi pengarang. Oiya, keterpurukan Udin, Hayati menikah sampai akhirnya merantau dituturkan dengan sangaaaat panjang. Hamka benar-benar tega menguras air mata Laki. Sementara napak sukses menjadi penulis dibuat singkat, seolah sukses itu hanya sejengkal 5 cm di depan mata. Udin menjawab segala perih dengan karya. Singkat cerita, dia jadi orang termasyur. Jadi penulis ternama.
Konflik baru digulirkan. Benar-benar jahanam ini konflik. Sudah dituliskan Hayati dan Aziz terdampar di Surabaya untuk urusan pekerjaan. Dan Udin ini sudah pindah tugas ke Timur Jawa. Mereka bertemu, mereka terkejut. Suasana dingin, namun kepala panas. Satu terpuruk, satu sukses besar. Sampai di titik terendah, muncullah kapal Van Der Wijck yang mengantar karakter penting dipaksa kembali ke Sumatra. Namun seperti yang tertera di judul, kapal keparat itu tenggelam. Akhirnya berhasilkah cinta mereka disatukan kembali?
Dua buku Hamka yang ada di rak saya sukses membuatku ‘geram’. Konfliknya gila, keren banget. Keduanya bersampul biru, keduanya layak dikenang untuk 100 sampai 1000 tahun yang akan datang. Hamka adalah legenda.
Saya belum membaca Magdalena yang katanya mirip dengan Tenggelamnya, bisa jadi penilaianku bisa berubah setelah melahapnya atau bisa juga tak terpengaruh. Yang pasti buku ini masuk daftar novel terbaik sepanjang masa saya. Kita tak tahu, 100 tahun lagi siapa penulis yang akan dikenang kerena kualitas ceritanya istimewa, saat generasi kita saat ini sudah tiada. Bisa jadi itu salah satu-salah-dua-salah-tiga dari kalian yang membaca review ini. Yang pasti, percayalah itu bukan Tere-Liye!
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck | oleh Hamka | Penerbit Bulan Bintang | cetakan ke-32, Rabi’ul Akhir 1433 H / Maret 2012 | 236 hlm; 21 cm | ISBN 979-418-055-6 | Skor: 5/5
Karawang, 280615 – begadang sampai sahur
#27 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku
Note: ada kata jahanam dan keparat dalam review ini karena pengaruh novel the Catcher in the Rye karya JD Salinger yang masuk buku terbaik sepanjang masa oleh Time yang saat ini saya baca. Catat teman-teman, untuk menjadi legenda 100 tahun lagi, tulislah buku romantis seperti Tenggelamnya atau buku anak bukan buat anak-anak Alice in Wonderland atau buku kontroversi Da Vinci Code, atau buku sihir pemuda naik sapu Harry Potter atau buku jahanam ala Holden ini. Terserah, tentukan genre-mu!

Iklan

9 thoughts on “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck #27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s