Intensity #26

image

Buku pertama Dean Koontz yang saya baca. Sebuah buku yang sadis namun disusun dengan sangat rapi sehingga ketegangan terjaga sampai akhir. Suatu malam sebuah keluarga dihabisi oleh pembunuh. Satu-satunya yang luput dari bencana adalah Chyna Shepherd, sahabat dari putri korban. Masa kecilnya penuh persoalan, hingga ia telah belajar betapa keras aturan main untuk bertahan hidup. Memenuhi semua nafsu, bergelimang dalam sensasi, hidup tanpa ketakutan, halangan, ataupun batas, hidup dengan intensitas – itulah tujuan hidup sang pembunuh. Tak peduli apa pun akibat terhadap orang lain. Jalan hidup gadis itu dan si pembunuh bersilang serta bentrok selama 24 jam – durasi setting novel ini – merupakan pengalaman penuh intensitas bagi pembunuh dan mimpi buruk bagi sang gadis. Hanya satu yang akan bertahan hidup.
Luar biasa sesak. Itulah gambaran novel ini. Dengan setting waktu terbatas, setting tempat terbatas, kita dijejali aneka kejadian mengerikan tentang pembunuhan satu keluarga. Tak disangka sang pembunuh, Mr. Vess bahwa malam itu Laura sang putri mengajak temannya Chyna untuk menginap. Sehingga hitungan Vess meleset, dan dalam semalam kengerian kedalaman cerita disajikan. Penuh darah, penuh strategi adu cerdik sampai sebuah kejutan jati diri Mr. Vess dan masa lalu Chyna akhirnya terungkap, saya sesak menahan nafas. Ini jenis novel gore yang keji, yang biasanya tak saya suka. Namun ini pengecualian, Dean Koontz dengan piawai meramu kebiadaban pembantaian dengan kata-kata yang memikat sampai-sampai nyaris 500 halaman padat itu tak terasa menjemukan.
Karena sedari awal sudah dijelaskan, hanya satu yang bertahan hidup, Chyna atau Vess. Sepanjang halaman kita selalu menerka, duh siapa yang tumbang? Endingnya mengejutkan, tindakan nekat yang diambil kedua karakter sama gilanya. Aturan bertahan hidup yang keras membuatnya nekat atau menyerah pada kenyataan. Dan ini, keunggulan utama Intensity: kata-kata yang disajikan penuh daya pikat. Salut buat penerjemah yang ciamik memilih diksi. Banyak kutipan penting yang bisa diambil.
Hidup menyangkut cara menikmati hidup (halaman 19)
Kilatan petir menggores langit, membentuk garis-garis tajam yang menghujam ke bumi, dan sejenak menerangi semak-semak hingga Chyna dapat melihat semua rusa elan itu dengan lebih jelas… (halaman 196)
Bahkan ia kadang mengunyah beberapa aspirin tidak untuk menghilangkan rasa sakit kepala, tapi untuk menikmati rasa pahitnya yang tak tertandingi. Ketika terkena luka potong, ia tak pernah takut, karena menurutnya rasa sakit sangat mempesona dan ia menghayatinya seperti sebentuk kenikmatan, bahkan aroma darahnya sendiri membuat ia diliputi perasaan ingin tahu. (halaman 164-165)
Sayang, suatu hari aku tiba-tiba sadar bahwa Cina merupakan satu-satunya masyarakat yang adil di dunia dan kedengarannya indah. Tapi ia tak pernah ingat mengapa mengubah huruf i-nya menjadi y. (halaman 211)
Dan ketika jumlah pembunuhan yang dilakukan manusia tidak cukup banyak untuk membuat para wartawan sibuk, alamlah yang memberikan pemecahan dengan menciptakan angin puyuh, badai, gempa besar, atau serangan bakteri pemakan daging. (halaman 232)
Lalu Chyna berbaring dalam kegelapan, dengan resah mendengarkan tawa ceria ibunya, dan suara pria asing. Kaca yang pecah berderai. Sumpah serapah. Guntur dan angin. Pohon palem berderak-derak tertiup angin malam di Key West. Nada suara tawa itu berubah. Kini mengejek. Gelegar yang bukan guntur. Dan kecoak yang merayap di kaki dan punggungnya. Waktu-waktu lain. Tempat-tempat lain. Dalam alam mimpi yang melayang-layang, terbelit kenangan. (halaman 274)
Indraku sangat tajam, karena aku terbiasa menikmati sensasi. Bisa dibilang sensasi adalah agamaku. (halaman 295-296)
Bahkan jika Tuhan ternyata ada, apa dia tahu kau ada? (halaman 298)
Rasa sakit sama saja dengan kenikmatan, hanya berbeda. Kalau belajar menikmatinya, kau akan lebih bahagia dengan hidupmu (halaman 306).
Aku tak tahu berapa lama aku berdiam di bawah ranjang. Mungkin beberapa menit, mungkin sejam. Aku mendengar Woltz dan ibuku kembali di dapur, mengambil sebotol bir lagi, membuat campuran vodka dan limau, berbicara dan tertawa-tawa. Dan ada sesuatu dalam tawa ibuku – nada mengejek yang kotor.. aku tak yakin – tapi ada nada yang membuatku merasa dia sudah tahu aku sedang bersembunyi di bawah ranjang. Sdudah tahu tapi tetap meneruskan perbuatannya dengan Woltz ketika orang itu membuka kancing blus-nya (halaman 402)
Dan masih banyak kutipan ‘bagus’ lainnya penuh intensitas. Satu kutipan yang menarik adalah mantra, “Chyna Shepherd utuh dan hidup”. Berhasilkah mantra itu menyelamatkannya dari kejaran sang pembunuh?
Dean Koontz ini sakit jiwa bisa membuat cerita penuh intensitas!
Intensity | by Dean Koontz | copyright 1995 | Internsitas alih bahasa: Rina Buntaran | GM 402 99.433 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama Jakarta, 1999 | 498 hlm; 18 cm | ISBN 979-605-433-7 | Buku dipersembahan bagi Florence Koontz, ibuku. Telah lama pergi. Pembimbingku | Skor: 4,5/5
Karawang, 270615 – Copa Amerika day: Arg v Kol
#26 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

2 thoughts on “Intensity #26

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s