XX #13

image

XX adalah novel metropop karya AR Arisandi. Lima tahun lalu saat segala buku masih sanggup dibaca cepat, XX termasuk novel lokal yang menyita perhatian setelah Cewephobia yang luar biasa lucu. Tanpa tahu ini tentang apa, XX mengalir cepat penuh tanya siapa, guna menebak identitas XX? Saya sendiri sempat terkecoh sampai di bagian petunjuk mereka melewatkan hari tidur bersama dalam keadaan terpaksa, nah itu clue paling besar yang bisa mengungkap identias yang coba disimpan bung AR.
“Aku tak sabar menunggu hari saat kita bisa menghabiskan pagi dengan melihat anak-anak kita tumbuh, dan menikmati senja dengan melihat matahari terbenam.” – XX
SMS yang ditujukan pada Liana tersebut mengacaukan tatanan rumah tangga, memberi banyak tanya, serta membuat persahabatan renggang. Jadi ini tentang mengungkap identitas pengirim SMS. Cerita dibuka dengan pengantar alasan kenapa anaknya terlahir dan tentang pilihan-pilihan hidup. Dari sudut pandang Donna, seorang ibu rumah tangga beranak satu bersuamikan seorang yang cool, Archie. Cerita yang disampaikan dengan runut dan tersamar, untuk dijadikan pelajaran kelak bahwa setiap pilihan hidup akan menentukan perjalanan hidup banyak orang. Dan kisah ditarik mundur jauh, saat reuni.
Mela, Putri, Liana dan Donna semasa kuliah tinggal dalam satu kos di Dago 7. Mereka menyebutnya D7, lalu muncul Doddy dan Akmal dua cowok yang berhasil merebut hati Mela dan Putri sehingga mereka mengubah nama kelompoknya menjadi D7++. Archie, suami Donna tak pernah mau bergabung, menyebutnya sebagai perkumpulan kaum hedonis. Reuni D7++ kali ini semua anggota datang. Putri dan Doddy, Mela dan Akmal, Liana yang sedang mengurus perceraian dan Donna. Acara yang seharusnya seru itu malah menjadi hambar, saat masa lalu disinggung. Lia yang memang paling cantik seperti menjadi primadona. Namun acara ngerumpi kembali bergairah saat Lia curhat masalah XX, sang pemuja rahasia.
“Kemarin malam aku mendapat SMS lagi dari XX untuk yang kesejuta kalinya. I miss you desperately…” Lia membuka kasus. Lalu cerita lama dikuak, tentang XX yang benar-benar terobsesi dengan kecantikan Lia. Tentang puja-pujinya. Setiap tahun di hari ulang tahunnya ada kiriman bunga dari XX, terutama di tiga tahun terakhir. Tentang tarian lingerine di kos Dago itu.
Donna berkata, “pemalu dan namanya terdiri dari dua kata. Kita mulai bisa mengidentifikasinya. Kira-kira siapa ya? Aku sangat ingin tahu.” Ini petunjuk pertama yang harusnya saya tandai. Sayangnya saya kurang jeli.
Dan seperti yang diduga Donna, acara reuni menjadi rusak gara-gara bahasan XX. Selanjutnya buku ini akan terus membahas dan memburu siapa XX yang tergila-gila sama Lia. Cerita lama dibuka, saling tuduh saling cemburu. Semua nama lelaki di sekitar Lia berpeluang jadi tersangka. Doddy yang cerewet, suka gombal dan selalu menggoda Lia bisa jadi ada di urutan pertama, namun XX sepertinya pemalu. Akmal yang pemalu bisa saja XX karena saat kuliah dia memacari Mela, (kemungkinan) seperti cowok lainnya hanya ingin dekat Lia. Namun Archie pun masuk pusaran XX, karena dirinya yang awalnya pendiam jadi begitu antusias bicara saat membahas Lia. Archie yang analisisnya jeli dan mencoba membantu menyelesaikan kasus XX bisa jadi malah tersangka utama. Banyak kan cerita detektif menangkap detektif? Semuanya mungkin.
Aku tidak percaya perkataan orang yang tidak mau menatap langsung lawan bicaranya, tapi terus mendesaknya berarti aku harus menjelaskan dirinya termasuk satu dari tiga tersangka kasus XX.
“Ayah melarangku pacaran, dan seperti kukatakan berkali-kali padamu, akmu pacar pertamaku.”  Ini bisa jadi petunjuk kedua yang harusnya kutandai. Sayangnya saya kurang jeli.
Dan semakin lembar menipis semakin dibuat penasaran. Misi AR membuat saya bertanya-tanya sukses. Saya sering melewatkan petunjuk penting. Karena kurasa segalanya NORMAL, sampai akhirnya para istri memegang suami masing-masing dan duuuuer! Betapa cerdas rahasia itu disimpan.
Well, secara keseluruhan novel ini seru, tak kalah seru dengan novel detektif yang membuka petunjuk demi petunjuk. Tanpa banyak ekspektasi, cerita sungguh enak diikuti. Jelas sekali ini ditulis dengan kehati-hatian dan riset (atau pengalaman pribadi?) yang mendalam. Terbit tahun 2007 saat SMS masih begitu dominan, belum ada WhatApps, BBM belum booming, facebook belum menjajah kita dan sebelum segala layanan pesan yang begitu banyak itu menyerbu. SMS jadi begitu kuat untuk menjadi teror puja-puji tanpa identitas. Atau kita (lelaki) malahan pernah menjadi seorang XX dalam bentuk lainnya? Sama saja, sikap lelaki saat dihadapkan perempuan cantik akan salah tingkah. Namun percayalah novel XX ini tak seperti yang kamu duga, karena memang identitas XX bisa siapa saja. Termasuk kaum hawa?
XX | oleh AR Arisandi | GM 401 07.040 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | setakan pertama, September 2007 | 216 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3204-4 | ISBN-13:m978-979-22-3204-2 | Untuk Imas Nani | Skor: 3.5/5
Karawang, 130615 – there she goes
#13 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku