The Railway Children #9

Featured image

Seri klasik adalah jaminan mutu. Setiap melihat novel dengan embel-embel ‘seri klasik’ biasanya ga perlu mikir dua kali untuk membelinya. Layaknya stempel pemenang nobel, rasanya tak akan mengecewakan. Anak-anak Kereta Api adalah buku incaran lama dan baru terwujud bulan lalu. Cerita tentang ketulusan, persahabatan, kesabaran dan ketabahan menghadapi perubahan yang luar biasa disajikan dengan indah. Di akhir membaca saya sampai terkagum-kagum, adakah sifat manusia legowo itu di diri anak-anak? Dituturkan dalam 14 bab, mengalir tanpa henti yang berarti saya membacanya dalam sehari saat liburan. Buku yang bagus adalah selalu memberi kita rasa tanya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, kisah kereta api ini memberikannya.

Cerita dibuka dengan kesedihan, dari puncak mereka turun. Ayah pergi dan tak tahu kapan kembali. Mereka pindah dari pusat kota dengan rumah bagus dan pelayan yang melayani menuju daerah pinggir kota dengan sawah mengelilinginya. Tinggal di dekat stasiun kereta kecil yang kadang singgah, kereta api ibaratnya adalah penghubung mereka dengan dunia luar. Hebatnya mereka tak berlarut sedih, mencoba menikmati dunia baru dan ini yang paling luar biasa: Selalu Berfikir Positif. Misteri kepergian ayah mereka disimpan rapat sampai akhir cerita, seperti yang ada dalam pikiran mereka bertiga, pembaca akan dibiarkan menebak-nebak ada  apa gerangan?

Mereka adalah tiga bersaudara: Roberta yang dipanggil Bobbie si sulung, Peter yang banyak akal dan Phyllis yang ceria. Ibu mereka yang menjadi tulang punggung keluarga selalu mencoba tampak senyum di depan. Setiap hari kerjanya di depan mesin tik, membuat cerita, puisi untuk dikirim ke meja redaksi. Penulis yang bertahan hidup. Puisi-puisi yang lucu.

Dia punya lokomotif kesayangan | Yang disayanginya sepenuh hati | Satu-satunya yang dinginkannya | Jangan-jangan rusak si Lokomotif | Suatu hari Kawan, nasibnya sial | Sial sungguh sial | Satu sekrupnya terlepas | Dan meledaklah ketel uapnya! | Dengan tampang muram | Dipungutnya si Lokomotif | Ditunjukkannya pada ibunya | Bu, bu bisakah ibu memberi ganti? | Wah, wah bagaimana ya? | Peter sepertinya tak peduli | Baginya, yang penting tetap si Lokomotif | Bukan Ayah, bukan Ibu, apalagi Adik atau Kakak | Kini tahulah aku apa sebabnya | Peter terserang salesma | Obatnya gampang, pie burung dara | Dilahapnya habis, tak tersisa | Ia membungkus diri dengan selimut | Lalu tidur, tidur dan tidur | Rupanya Peter ingin melupakan | Nasib sial yang ditanggungnya | Dan jika matanya agak merah | Pasti salesma menjadi alasan | Tapi jika ada pie burung dara | Pasti ia takkan menolak

Ayah sayang, umurku baru empat | Dan aku tak mau jadi tua | Paling asyik umur empat | Dua tambah dua atau satu tambah tiga | Aku pilih dua tambah dua | Ibu, Peter, Phil dan ayah | Yang ayah cintai satu dan tiga | Ibu, Peter, Phil dan Roberta

Awal kehadiran mereka di rumah dengan cerobong asap di desa rasanya berat, namun mereka mencoba berdamai dengan kenyataan. Adaptasi dengan cepat, berteman dengan orang-orang stasiun: Pak Perks sang portir, kepala stasiun, kakek misterius sampai seorang buron yang tersesat. Semua diceritakan dengan renyah nyaris tanpa cela.

Hari yang luar biasa. Hari yang penuh kenangan yang jarang sekali singgah dalam hidup kita, atau bahkan kebanyakan dari kita takkan mengalaminya. Banyak hal lain harus kupikirkan, selain hari ulang tahunku. Meskipun kita sendiri sudah punya banyak, bunga bagus juga sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata tidak mudah meminta kepada orang lain, meskipun itu bukan untuk diri kita sendiri. Orang-orang miskin biasanya punya harga diri tinggi, kalian harus tahu itu. Nah, saya kapok, saya takkan pernah berbuat baik lagi pada orang lain, seumur hidup. Tidak, takkan pernah lagi. Karena kalau laki-laki tak bisa menghargai dirinya sendiri, orang lain pun takkan menghargainya. Yang direncanakan haruslah sama dengan yang dimaksud, begitu seharusnya. Tapi susah benar jadi anak baik-baik, ketika kita justru telah berusaha sebaik-baiknya. Rok dalam flanel ternyata banyak gunanya, seharusnya orang membuat patung penemunya untuk menghormati dan memperingatinya. Kalau kita berbuat dan bersikap baik terus-menerus, suatu saat tiba-tiba muncul keinginan untuk berbuat iseng— bahkan berbuat jahat. Seorang lelaki sejati harus mampu mengerjakan sesuatu yang berguna tanpa merasa takut. Makin lembut dan perasa hati seorang wanita makin tegar dan tabah dia melakukan apa yang dipikirnya harus dilakukan. Dan terakhir, kurasa setiap orang mau berkawan dengan kita jika kita bersikap bersahabat.

Saya akan mendoakan Anda dua kali sehari, seumur hidup saya kalau saja Anda bersedia – bersedia membantu kami. Akhirnya alangkah asyiknya kalau kita semua hidup seperti di dalam buku-buku cerita, dan ibu yang mengarangnya. Tapi kalau Tuhan yang jadi sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya— yang terbaik bagi kita semua.

Ada anak baru di kelas | Parr namanya | Parr suka membual | Membuat orang jadi kesal | “ayahku pemburu beruang, ibuku bisa menghitung bintang” | Parr, Parr jangan membual | Tukang bual nasibnya sial | Parr sebenarnya pengecut | Parr sebenarnya penakut | Lututnya goyah dan gemetar  | Bila disuruh naik perahu layar | Bodoh, konyol, tapi sombong | Itulah Parr si tukang bohong | Jika digoda langsung menangis | Meski sebenarnya ia cukup manis | Wigsby Minor berkata arif | Parr seperi umumnya anak baru | Tidak mudah menyesuaikan diri | Dengan lingkungan yang serbabaru

The Railway Children | oleh Edith Nesbit | penerjemah Widya Kirana | GM 402-01-10.0034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Juni 1990 | 312 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-5257-6 | Skor: 5/5

Karawang, 090615 – so little time

#9 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

9 thoughts on “The Railway Children #9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s