Beatrice And Virgil #2

Featured image

Dari orang yang memukau kita lewat Life Of Pi, saya belum baca bukunya sih namun sudah menonton film yang membuat Ang Lee menang Oscar best director. Novel ini saya beli saat nonton bareng Chelsea yang menang EPL 2014/2015 lawan Palace di KCP. Terselip antara 8 buku yang baru kubeli bulan Mei namun malah jadi buku paling cepat selesai – nomor 2 – dibaca. Kisahnya rumit namun disajikan dengan ceria, awalnya sampai di bagian Henry berkunjung ke orang aneh itulah konflik terjadi. Bayangkan saja setelah melewati 100 halamn baru mulai perselisihan dan dua tokoh utama muncul.
Beatrice and Virgil bercerita tentang seorang novelis Henry yang sukses, novel keduanya meledak di pasaran, best seller di mana-mana, menerima banyak penghargaan dan diundang di berbagai acara. Henry yang memakai nama samaran tetap low profil, privasinya terjaga. Memang beda sih ya penulis dengan selebritis. Jalan-jalan tak banyak yang mengenal, bersama istrinya Sarah, dirinya berpindah-pindah kota untuk berlibur sekaligus mencari ide buku ketiga. Tinggal di berbagai kota tanpa tahu berapa lama, sampai akhirnya istrinya hamil lagi. Betapa gembiranya Henry, akhirnya mereka memutuskan menetap lebih lama di London. Setelah draft buku ketiganya dicaci, dikritisi dan diragukan oleh penerbit, tukang jual buku dan editor, Henry menepi dari hiruk pikuk. Karya terbarunya disimpan lagi. Sebuah karya seni berhasil karena benar, bukan karena nyata. Tidak adakah bahaya dalam menyuguhkan Holocaust dengan cara yang selalu tergantung pada faktualitas? Tulisan tentang kekejaman Nazi buatan Hanry gagal terbit.
Dia menyibukkan diri menghabiskan waktu dengan berlatih teater, kursus piano, kursus bahasa dan membalas surat-surat pembaca. Henry memelihara anjing bernama Erasmus dan kucing bernama Mendelssohn. Dia tak bisa main musik, namun berpendapat bahwa satu-satunya bakat bawaan yang diperlukan untuk bermain musik dengan baik adalah kegembiraan. Semua surat dibalas, selain untuk menyenangkan pembaca Henry juga mencoba mengapresiasi mereka dengan memberi kritik dan saran bagi yang minta karyanya direspon. Wah penulis bersahaja dan biak sekali ini. Salut Henry. Namun dari kerendahan hatinya itulah masalah timbul. Pada suatu hari dia membaca sebuah draft naskah sandiwara dengan tokoh utama Beatrice sang keledai dan Virgil sang monyet. “Mereka yang membawa sebilah pisau dan sebutir pil tidak pernah takut pada kegelapan”. Cerita buang pir yang panjang dan berputar-putar. Namun dalam surat tersebut tak ada nama pengirim secara lengkap, hanya alamat dan memberi nama Henry. Sama dengan penerima. Setelah dibaca naskah sandiwara tersebut, Henry menulis balasan, seperi biasa. Namun saat menulisnya Henry bimbang, sang pengirim berusia berapa ya? Profesinya apa? Henry tak mengirimnya via pos karena ternyata alamatnya tak jauh dari tempatnya tinggal sekarang jadi dia berencana langsung datang. Rencana yang awalnya hanya 5 menit itu berubah seketika menjadi berhari-hari saat Henry tiba di tempat tinggal sang Taksidermis – bukan rumah tapi sebuah toko yang berisi hewan-hewan yang diawetkan. Baru dengat kata Taksidermis? Hhhmmm… saya juga. Taksidermis akan dipakai nama karakter yang dikunjungi Henry. Di toko tersebut berisi berbagai jenis hewan, dari harimau, zebra, kuda, cheetah, okapi sampai hewan-hewan kecil kumbang ada. “Semua binatang ini hidup, waktulah yang berhenti”. Dan sang Taksidermis lalu menjelaskan bahwa naskah dramanya belum selesai, Henry diminta membantu menyelesaikannya. Ternyata dua karakter di drama tersebut adalah nyata. Beatrice si keledai berbicara dengan lembut sedang Virgil si monyet mengungkapkan diri dengan semangat. Dua karakter berlawanan namun berkawan. Kedua hewan tersebut ada di toko, ada rekaman tape-nya. Saat diputar jelas saja hanya suara ringkikan binatang. Sang Taksidermis sendiri ternyata berusia tua, mungkin lebih tua dari orang tua Henry. Dari situ Henry merasa ada yang aneh dari orang ini. Seorang pendiam, anti sosial. Tokonya sepi, bisnis hewan yang diawetkan di zaman sekarang jelas kurang menjanjikan apalagi harganya gila, bisa saja seekornya seharga mobil Jaguar. Benar-benar orang aneh.
Dengan niat tulus, Henry membantu sang Taksidermis menyelesaikan naskah sandiwara ga lazim tersebut. Namun saat dirinya dibacakan bagian terhebat – menurut sang aneh – dari semua itu, Henry begidik. Ada kode yang disembunyikan:
“Raungan, kucing hitam, kata-kata dan sesekali kesenyapan, isyarat tangan, kemeja-kemeja dengan sebelah lengan hilang, doa, pidato baku pada awal setiap rapat parlemen, lagu, mangkuk makanan, kendaraan hias dalam pawai, sepatu porselen kenang-kenangan untuk rakyat, pelajaran tenis, kata benda umum tentang kebenaran sejati, satukatapanjang, daftar-daftar, keceriaan kosong yang diungkapkan menjelang ajal, perkataan saksi, riyual dan ziarah, aksi pengadilan dan penghormatan pribadi dan publik, ekspresi wajah, isyarat tangan kedua, ekspresi lisan, (sic) drama-drama, Jalan Nowolipki 68, permainan untuk Gustav, tato, benda yang dimaksudkan untuk satu tahun, aukitz”
Kejutan cerita disimpan sampai akhir oleh Yann Martel. Bukan cerita biasa, bukan fabel sembarangan. Endingnya sendiri disajikan dengan kata-kata permainan ‘penghiburan’ untuk Gustav yang seram. Permainan adalah salah satu cara merayakan kehidupan. Contoh empat permainannya:
Permainan nomor dua: Kau seorang tukang cukur. Kau bekerja di sebuah ruangan yang penuh orang. Kau mencukur mereka lalu mereka dibawa pergi dan dibunuh. Itulah pekerjaanmu sepanjang hari, setiap hari. Satu kelompok baru dibawa masuk. Kau mengenali istri dan adik perempuanmu seorang teman baik. Mereka juga mengenalimu, dengan kegembiraan di mata mereka. Kaliam berpelukan. Mereka bertanya padamu apa yang akan menimpa mereka. Apa yang kaukatakan kepada mereka?
Permainan nomor empat: seorang bersenjata menyuruhmu bernyanyi. Kau menyanyi. Dia menyuruhmu menari. Kau menari. Dia menyuruhmu berpura-pura kamu seekor babi. Kau berpura-pura kau seekor babi. Dia menyuruhmu menjilat sepatu botnya. Kau menjilat sepatu botnya. Lalu dia menyuruhmu “…..” dan kata itu kata asing yang tidak kau mengerti. Tindakkan apa yang kau lakukan?
Permainan nomor enam: kau sebentar lagi mai. Di sebelahmu ada seseorang yang tidak kaukenal. Dia menoleh kepadam. Dia mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tak kau pahami. Apa yang kau lakukan?
Permainan nomor sembilan: Kemudian ketika semua sudah berlalu, kau bertemu Tuhan. Apa yang kau katakan kepada Tuhan?
Beatrice and Virgil | Yann Martel copyright 2011 | Penerjemah: Meda Satria | Penerbit Ufuk Fiction | Cetakan pertama: Agustus 2012 | ISBN: 978-602-18636-1-9 | Skor:4/5
Karawang, 020615 – Waisak day
#2 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s