The Catcher In The Rye #30

Featured image

‘Mengapa buku ini disukai para pembunuh?’ adalah kalimat yang ada di back-cover. Entah apa maksud sesungguhnya, biasanya sampul belakang isinya sinopsis cerita yang akan dijual, namun di novel bersampul putih ini hanya berisi satu kalimat yang membuat penasaran. Inilah catatan ke 30 dari 30 review buku yang saya sajikan di bulan Juni 2015 ini. Tak terasa, 30 buku rasanya sangat kecil, ratusan masih ngantri. Dan kebetulan buku ke 30 ini baru saja saya baca, fresh from the oven! Bukunya cetakan ketiga bulan Juni dibacanya bulan Juni 2015. Cepat betul. Sungguh!

Apa yang bisa saya sampaikan tentang Holden Vitamin Coulfield? Kalian harus membaca sendiri untuk menyelami isi kepala si orang aneh ini. Cerita dibuka dengan sedih, si Holden ini dikeluarkan dari sekolah untuk ketiga kalinya. Untuk orang normal, tentunya itu nasib malang, namun bagi Holden itu biasa saja. Kisah digulirkan tanpa bab, hanya dipecah per Angka. Tanpa daftar isi, tanpa pengantar. Membuktikan bahwa JD Salinger memang tak mau pusing-pusing aturan baku. Sepanjang nyaris 300 halaman kita akan mengikuti perjalanan Holden menjelang Natal di hari Rabu. Dari sudut pandang orang pertama, kita akan dijejali Ke-AKU-an-ku. Menganggap semua orang di kota sinting, kecuali dirinya. Stress betul. Sungguh.

Di sekolah Spencer Holden menganggap, “semakin mahal uang bayaran satu sekolah semakin penuh pula sekolah itu dengan maling – serius aku tidak bercanda.” Ini jelas hanya pemikiran Holden yang memandang sinis dunia. Memang seakan Holden ini pembawa petaka. Tim anggar Spencer gagal bertanding karena peralatannya ketinggalan. Dari 5 mata pelajaran, Holden hanya lulus satu di Bahasa Inggris. Sisanya busuk, dia juga ga niat remidi. Seenak udele dewe. Sebelum pergi dari sekolah terkutuk itu, Holden ingin pamit ke guru Sejarahnya yang sudah tua. Lalu bermasalah dengan teman sekamarnya. Pergi dengan luka. Selanjutnya dari malam Minggu sampai menjelang Natal itu dia menggelandang dari satu hotel ke klab malam, ke gedung broadway untuk nge-date dengan Sally, ke kedai roti, ke stasiun, ke kebun binatang, ke museum, ke mana saja termasuk pulang untuk menemui si bungsu Phoebe.

Buku aneh betul ini ya. Sungguh. Menakutkan sekaligus mencengangkan. Segala luka berdarah dan sebagainya membuat aku kelihatan jantan. Semua orang tolol benci dipanggil tolol. Holden baru enam belas tahun, coba pesan minuman keras. – aku mengucapkan pesananku secepat-cepatnya, karena kalau kita terbata-bata dan salah-salah kata, mereka langsung berfikir bahwa kita masih di bawah dua puluh satu tahun.

Kisahnya sendiri tak tuntas, apa yang terjadi berikutnya masih tanda tanya. Holden ini tipikal orang yang suka complain, suka ngeluh, suka marah (dalam kepala) namun ternyata pecundang sejati. Satu lagi, dia cinta anak kecil. Allie adiknya yang sudah meninggal selalu diagung-agungkan sebagi satu-satunya orang normal. Lalu cintanya pada si Phoebe sungguh besar. Adegan saat dia menangis ketika menerima uang itu salah satu adegan paling menyentuh sepanjang hari. Walaupun begitu tetap saja Holden iki hanya lantang di kepala. Seperti pas adegan dia ingin keluar dari kamar lalu turun dari lift ketemu sang penjaga lalu menembaki sampai mampus. Cih, hanya angan kosong seorang pecundang. Ada lagi bagian yang bikin kesal, saat dia tanya kemana perginya bebek-bebek di kolam taman saat danau membeku. Dimana ikannya kalau air di sana menjadi es. Itu bagian yang bikin gregetan. Setuju sekali sama supir taksinya. Holden memang perlu dilabrak.

Novel ini menawarkan nihilitas. Lagi-lagi nihilitas yang berkualitas. Catat teman-teman ya, sebuah novel kosong tanpa menggurui ternyata banyak yang bagus. Intinya disajikan dengan renyah sehingga pembaca dipaksa terpaku melahap terus. The Catcher sendiri saya baca sehari kelar, menabrak jam malam saat liburan akhir pekan. Namun saat selesai saya masih bertanya juga, kenapa buku ini disukai pembunuh? Apa karena isi kepala Holden yang melalangbuana ga jelas itu? Apa karena rebel with a cause nya? Ngajak berfikir out of the box? Entahlah.

Satu lagi catatan menarik, editor novel terjemahan ini adalah bung Yusi Avianto Pareanom, orang yang menelurkan kumpulan cerpen yang unik yang beberapa bulan lalu kubaca. Setelah kuamati gaya bahasanya mirip JD Salinger. Edan betul. Sungguh!

The Catcher In The Rye | by J.D Salinger | copyright 1945, 1946, 1951 renewed 1973, 1974, 1979 | Penerbit Banana | alih Bahasa Gita Widya Laksmini | Cetakan ke 3, Juni 2015 | 14 x 21 cm, iv + 296 hlm | ISBN 979-99986-0-3 | Skor: 5/5

Karawang, 300615 – SIM day

#30 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

A Game Of Thrones: Perebutan Takhta #29

image

“Atas nama Raja Robert dan dewa-dewa yang kalian sembah, aku meminta kalian menangkap lelaki ini dan membantuku mengembalikannya ke Winterfell untuk menunggu hukuman raja”
Sampai dengan akhir bulan Juni, dialog tersebut adalah yang terbaik dari semua buku yang saya baca tahun 2015. Sepertinya sederhana, namun dibalik itu semua. Segalanya (mulai) menjadi kacau. Karena setelahnya, tertulis, ‘Catelyn tak tahu mana yang lebih memuaskan: bunyi puluhan pedang yang dihunus bersamaan atau ekspresi di wajah Tyrion Lannister’.
Saya menerima novel tebal ini pada hari Jumat, 13 Maret 2015 saat pulang kerja. Terkejut, novelnya datang lebih cepat dari yang saya kira. Targetnya seminggu setelah terima akan saya review, namun sayang aktualnya tak sesuai. Sabtu – Minggu lembur, persiapan audit, pulang malam, lalu closing payroll membuatku sedikit susah mengatur jadwal baca. Semua buku saya singkirkan dulu, Jungle Book, 1984, The Screwtape Letters sampai The Sound and the Fury. Semua saya sisihkan demi buku ini. Saat akhirnya saya selesai baca saya malah sakit kemudian buku ini terletak begitu saja di rak. Satu hal yang pasti, kecepatan baca saya sudah ga seperti saat lajang. Sekarang saya tiap hari pastinya disibukkan Hermione yang kini sudah berumur 10 bulan. Saya hanya menikmati kesendirian dengan buku saat dia terlelap dan itu pastinya di tengah malam sampai subuh. Saat anak-istri sudah tidau dan tengah malam saya sendirian dengan buku adalah waktu yang sangat berharga. Dengan segala persiapan untuk mendapatkan kepuasan maksimal dalam membaca ‘GoT’ saya rasa setimpal yang saya dapat. Sebelumnya perlu diketahui, saya menutup segala informasi GoT dari segala sumber agar tak ada bocoran yang hinggap di kepala, ini sungguh sangat menyiksa. Saya hanya tahu GoT sukses besar di HBO. Dengan kesabaran tingkat tinggi, akhirnya penasaran itu terbayar sudah dengan terjemahan ini. Yah, walau tentu saja belum lunas karena bersambung. Berikut review saya:
A Game of Thrones (GoT): A Song of Ice and Fire #1, Perebutan Takhta. Cerita diambil dari sudut pandang beberapa karakter. Cerita dibuka dengan sebuah prolog, sebuah pengejaran Garda Malam terhadap orang-orang wilding. Tragedi terjadi, pengejaran gagal dan berujung petaka. Petaka yang disimpan sampai akhir cerita buku #1 ini. Karena setelahnya kita akan fokus pada konflik antar klan. Ada 5 klan utama yang memainkan peran:
1. Klan Baratheon, simbol: Rusa jantan, latar: emas. Semboyan: “Yang kami miliki adalah amarah”
2. Klan Stark, simbol: direwolf, latar: putis es. Semboyan: “Musim dingin akan datang”
3. Klan Lannister, simbol: singa emas, latar: merah tua. Semboyan: “Dengar Raunganku”
4. Klan Tully, simbol: ikan trout melompat, latar: perak. Semboyan: “Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi”
5. Klan Targaryen, simbol: naga kepala tiga, latar: hitam. semboyan: “api dan darah”
Buku pertama ini menggunakan simbol kepala direwolf yang terpenggal. Dengan warna latar merah menyala dan tulisan putih khas salju. Bukan gambar sembarangan. Entah kalian memihak siapa, ‘Perebutan Takhta’ kurasa lebih condong ke klan Stark. Memberi daya kejut yang luar biasa di akhir yang pilu. Buku dimulai dengan sudut pandang Bran Stark, bersama saudara-saudaranya diajak melihat hukuman mati. “Kalau hendak mencabut nyawa orang, kita memiliki kewajiban moral untuk menatap matanya dan mendengar kata-kata terakhirnya. Dan kalau kita tak sanggup, barangkali orang itu tak pantas mati.” Sepulang dari eksekusi, mereka menemukan sukumpulan anak direwolf yang terlantar di dekat jembatan. Hewan yang awalnya dikira mitos tersebut diambil dan dipelihara oleh masing-masing anak Stark.
Lalu cerita fokus ke keluarga Stark. Eddard sang ayah adalah karakter berwibawa yang memimpin klan dengan bijak. Catelyn adalah istri yang selalu menyeimbangkan kebijakan klan. Anak-anak Stark: Bran yang pemberani yang hobi manjat. Jon Snow si anak haram. Robb si sulung yang mulai diajarkan berperang, Arya yang juga pemberani dan the lady Sansa. Semuanya memberikan kontribusi cerita yang pas. Saat sepertinya ini adalah keluarga yang sempurna, tragedi dimulai.
Raja Robert meminta Ned ke selatan untuk menjadi Tangan Kanan raja. Tentu saja Ed menolak ajakan teman lama tersebut, namun karena ini perintah raja mau ga mau Ed harus berangkat. Sebelum berangkat nasib sial menghampiri, Bran yang tak pernah jatuh dari hobi manjatnya malah ‘jatuh’. Kita tahu sebab jatuhnya karena saat kejadian diceritakan dari sudut pandang Bran. Namun siapa yang mendorong-nya disimpan rapat sampai pertengahan. Sebagai ibu, Catelyn larut dalam duka yang mendalam. Setelah Ed berangkat ke selatan, Jon bergabung dengan Garda Malam ke benteng utara, klan Stark dipimpin Robb yang masih sangat muda.
Keseruan dimulai. Raja Robert pamit. Takhta goyah. Seluruh klan berlomba merebutnya. Kepada siapa jabatan tertinggi tersebut dipegang tak akan kalian temukan. Karena buku setebal nyaris seribu ini hanya permulaan. Bayangkan, tulisan kecil-kecil, tebal ini hanya permulaan kisah. Hebat sekali Sir George RR Martin ini. Salah satu penulis besar abad ini!
“aku berani bersumpah, menduduki takhta ternyata seribu kali lebih berat daripada merebutnya” – Raja Robert. (halaman 40)
“kematian adalah akhir dari segalanya, sementara kehidupan penuh dengan kemungkinan”  – Tyrion Lannister (halaman 90)
“kebanyakan orang lebih suka menyangkal kebenaran yang menyakitkan daripada menghadapinya” – Tyrion Lannister. (halaman 129)
“Kenapa kau ingin menunggang kuda tua yang bau sampai badanmu sakit dan bersimbah keringat, padahal kau bisa duduk santai beralas bantal-bantal bulu dan makan kue bersama Ratu” – Sansa Stark (halaman 148)
“Perkataanmu melukaiku. Aku pribadi sejak dulu menganggap keluarga Star menjemukan, tapi Cat sepertinya sudah terpikat padamu, untuk alasan yang tak dapat kupahami. Aku akan mencoba menjagamu tetap hidup demi dia. Tugas yang konyol, terus terang saja, tapi aku tak pernah menolak permintaan istrimu. – Littlefinger (halaman 214)
“Rakyat bedoa untuk hujan, anak-anak yang sehat dan musim panas yang tak pernah berakhir. Mereka tidak peduli jika para bangsawan sibuk berebut takhta, selama mereka dibiarkan hidup tenang” – Ser Jorah (halaman 252)
“Cerita bisa menunggu tuan muda, kapan pun kau kembali kepada mereka, mereka selalu ada di sana. Tamu tak sesabar itu, dan kerap kali mereka membawa cerita mereka sendiri.” – Nan Tua (halaman 262)
“Kau belum juga paham, Lord Eddard. Tidak mempercayaiku adalah hal yang paling bijaksana yang kau lakukan sejak turun dari kuda” – Littlefinger (halaman 280)
“Para septon berkhotbah tentang tujuh neraka. Mereka tahu apa? Hanya orang yang pernah terbakar yang tahu seperti apa rasanya neraka” – Gregor (halaman 331)
“Mereka bilang keindahan malam memudar saat fajar, dan pikiran kala mabuk sering kali terlupakan ketika pagi datang.” – Ser Barristan (halaman 335)
“Semua lorong mengarah ke suatu tempat. Jika ada jalan masuk pasti ada jalan keluar. Rasa takut mengiris lebih dalam ketimbang pedang” – Arya stark (halaman 377)
Dan setelah kau mengetahuinya, lalu apa? Beberapa rahasia lebih aman jika tetap tersembunyi. Beberapa rahasia terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan dengan orang-orang yang kau cintai dan kau percaya – Ned Stark (halamana 394)
“Kebodohan dan keputusasaan sering kali sulit dibedakan” – Maester Luwin (halaman 453)
“Sebagian orang buta huruf meremehkan tulisan, sebagian lagi punya keyakinan takhayul terhadap kata yang tertulis seakan-akan itu semacam sihir” – Mord (halaman 464)
“Semakin tua kebutuhan tidurku semakin sedikit, dan aku sudah sangat tua. Aku sering melewatkan setengah malam bersama hantu-hantu, mengenang masa 50 tahun yang lalu seakan-akan baru terjadi kemarin.” – Maester Aemon (halaman 501)
“saat memainkan perebutan takhta pilihannya adalah menang atau mati, tak bisa setengah-setengah.” Cersei (halaman 545)
Dia berpura-pura sedang mengejar kucing hanya saja dia kucingnya sekarang. Dan jika tertangkap mereka akn membunuhnya. – Arya Stark (halaman 600)
Saat tidur dia bermimpi: mimpi gelap dan meresahkan tentang darah dan janji yang tak ditepati. Saat terjaga tak ada yang dapat dilakukannya selain berfikir. Dan pikirannya saat terjaga lebih mengerikan dibanding mimpi buruk. – Eddard stark (halamn 705)
Lelaki ini membawakun ke bawah bintang-bintang dan memberi nyawa pada anak di dalam tubuhku. Aku tak akan emninggalkannya.” – Dany (halaman 801)
“Hodor!” – Hodor (Amazing Tale all of time)
A Game of Thrones: Perebutan Takhta | by George RR Martin | copyright 1996 | Penerbit Fantasious | penerjemah Barokah Ruziati | cetakan pertama, Maret 2015 | XVI + 948 hlm; 13×20,5 cm | ISBN 978-602-0900-29-2 | yang satu ini untuk Melinda | Skor: 5/5
Karawang, 300615 – bukber NICI di KB
#29 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Good Earth #28

image

Jika ada buku yang yang membuatku menyesal karena gagal beli satu seri penuh, mungkin inilah bukunya. Di tahun 2008 saat di Lippo Cikarang sedang ada diskon, ada trilogi Wang karya Pearl S Buck. Saya coba dulu seri pertama ternyata keren betul, lalu saya cari lagi di sana sudah tak ada. Tujuh tahun berselang saya belum dapat melahap ‘Wang si Macan’ dan ‘Runtuhnya Dinasti Wang’.
Saat membicarakan trilogi Wang hal pertama yang terbesit tentu saja kutipan terkenal dari Cina: ‘Generasi pertama membangun, generasi kedua di puncak dan generasi ketiga meruntuhkan’. Review ke 28 ini tentang keluarga Wang Lung yang membangun dinasti. Dari seorang kere menjadi seorang konglomerat. Dituturkan dengan runut dan enak sekali, detailnya sungguh mengagumkan. Cerita ditulis bagus, seolah-olah Pearl S. Buck mendongeng langsung kepada kita.
Kisah dibuka dengan perkawinan yang ala kadarnya seorang pemuda kere Wang Lung. Berdiskusi di awal musim semi dengan ayahnya tentang calon istrinya yang akan diambil dari budak keluarga kaya. “Jangan budak yang terlalu muda, dan terutama sekali, jangan yang cantik. Dan apa yang bisa kita perbuat dengan perempuan cantik? Kita mesti dapat perempuan yang mau mengatur rumah, dapat memberi keturunan dan mau bekerja di sawah, dan apa perempuan cantik mau berbuat seperti itu? Ia Cuma memikirkan pakaian bagus dan merawat mukanya saja! Tidak, tidak boleh ada perempuan cantik di rumah ini. Kita petani. Lagi pula, mana ada budak cantik yang masih perawan di rumah orang kaya seperti itu? Lebih baik menikahlah dengan perempuan jelek yang masih perawan daripada dengan perempuan cantik yang sudah tidak perawan lagi.”
Doa sang ayah terkabul. Wang Lung mendapatkan budak yang pandai memasak, berbadan kekar, siap melakukan perintah, siap membantu di sawah dan O-lan wanita tersebut memang kurang cantik. Di kuil dihadapan Dewa Ladang mereka menikah dengan sangat sederhana. Dari situlah Dinasti Wang dimulai. Berikutnya adalah kisah tentang kerja keras, kerja cerdas dan hidup prihatin penuh perjuangan. Anak pertama lahir, dan jadi penyemangat mereka. Seorang laki-laki yang dirayakan dengan suka cita. Disusul anak-anak yang lain. Poin penting dalam perjalanan menuju sukses mereka adalah berhasil membeli tanah milik keluarga Hwang yang menghasilkan tanaman yang berkualitas. Dari zaman baheula sampai modern, bisnis tanah dan properti sungguh sangat menjanjikan.
Selama separuh awal buku ini, kisah sukses Wang dari jelata menjadi orang kaya baru disajikan dengan logika yang pas. Memang tak ada yang mustahil, kurasa apa yang dilakukan keluarga Wang ini bukan angan-angan kosong. Dan orang kaya biasanya aneh-aneh kan. Wang mulai berlagak juga. Salah dua karakter menyebalkan dalam buku ini adalah Lotus dan Cuckoo. Duh pengen tak tendang. Wang makin kaya makin begaya. Separuh akhirnya adalah foya-foya bagaimana menggunakan uang dengan lebih bijak. Namun memang Wang tak bijak amat. Lupa daratan.
Dalam tiga puluh empat bab yang sangat panjang itu kita disuguhi metamorfosa seorang Wang. coba buka halaman awal dan akhir, sungguh njomplang sekali. Ending-nya sungguh hebat. “Tenanglah ayah, yakinlah. Tanah ini tak akan dijual.” Namun di atas kepala orang tua itu keduanya bertukar pandang dan tersenyum.
Catatan menarik dari kisah Wang adalah, jangan ngoyo mencari materi seolah-olah duit adalah segalanya. Jangan diperbudak dengan materi. Oh hal semacam ini tentunya sudah kalian pahami dengan teori seru Mario Teguh Golden Way ya. Maksud saya, bahwa materi tak dibawa mati. Bahwa 80% kerja keras kita cari duit toh akan dinikmati generasi selanjutnya. Anak-cucu kita sejatinya diberi bekal akhlak mulia ketimbang setumpuk uang. Ayo ngaji mumpung Ramadan!
The Good Earth | by Pearl S. Buck | copyright 1932, renewed 1959 | Bumi Yang Subur | alih bahasa Irina M Susetyo | GM 402 08.054 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan kelima: Oktober 2008 | 512 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-4105-1 | ISBN-13: 978-979-22-4105-1 | Skor: 5/5
Karawang, 290615 – all hail Holden Vitamin Coulfield
#28 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck #27

image

Hamka. Siapa yang tak kenal Hamka? Dunia pustaka akan mengenangnya sebagai salah satu penulis besar yang kita miliki. Dicetak pertama kali saat Indonesia belum merdeka, Hamka jelas seorang jenius bisa membuat kisah romantis dengan budaya Timur yang kental di masa Ejaan belum Disempurnakan. Filmnya sukses besar, sukses membuatku menitikan air mata, seindah kata-kata yang tercetak di buku. Tak seperti ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ yang mengerikan dalam beradaptasi, Tenggelamnya memberi porsi drama yang pas dan pemilihan cast yang cerdas. Buku ke 27 yang ku-review ini bisa jadi adalah salah satu buku lokal terbaik yang pernah kubaca.
Dituturkan dalam 28 bab termasuk penutup, Tenggelamnya berkisah tentang dua anak manusia beda kasta yang saling mencinta. Zainudin adalah orang terbuang. Pulang kampung di tempat kelahiran orang tuanya namun merasa asing. Belajar ngaji dan coba mambaur namun tetap saja dianggap asing. “Berhentilah menangis Mamak, jangan sampai tangis Mamak meragukan saya menempuh lautan yang begitu luas. Ingatlah bahwa maksudku amat besar”.
“Saya orang tua, Udin, hatiku tak dapat kutahan. Apakah derma seorang perempuan selain tangis? Apalagi kerap kali hati mamak berkata, agaknya kita tak akan bertemu lagi. Cobalah lihat punggungku yang telah bungkuk. Mamak takut, keluarga di Padang tak sudi menyambutmu dengan baik.” (halaman 19)
Benar pula, di Padang Udin disambut dingin. “Oh…, rupanya si Amin ada juga meninggalkan anak di Mengkasar.” Pantang surut, Udin tetap pada niatan awal untuk belajar. Dan berkenalanlah dia dengan bunga desa Batipuh, Hayati. Dalam adegan romantis, saat hujan. Ketika berteduh, Udin menawarkan bantuan memberi pinjam payung kepada Hayati (bersama temannya) untuk pulang dulu. Dari situ timbullah benih cinta, cinta mati! Besoknya saat mengembalikan payung, mulailah mereka bertukar surat, bermula surat biasa bertukar kabar, puja-puji sampai akhirnya menjadi surat cinta.
Surat-suratnya sudah banyak dikutip remaja-remaja masa kini. Dan memang bagus, saya ambil satu deh: “… dalam khayalku dan dalam kegelapgulitaan malam, tersimbahlah awan, cerahlah langit dan kelihatan satu bintang, bintang dari pengharapan untuk menunjukkan jalan. Bintang itu… ialah: kau sendiri, Hayati!” Ternyata surat itu dibuat dengan jiwa, bukan dengan tangan.
Berjalannya waktu, cinta mereka makin menggila. Sampai di sebuah dangau, di tepi bandar air yang akan mengaliri sawah, terucap keluar janji suci yang membuat merinding mendengarnya, “Hayati.. kau kembalikan jiwaku! Kau izinkan aku hidup. Ulurkanlah tanganmu, mari kita berjanji bahwa hidupku tergantung kepada hidupmu, dan hidupmu bergantung kepada hidupku. Yang menceraikan hati kita, meskipun badan tak bertemu, ialah bilanya bercerai dengan badan.” Dan petang itu, suara adzan dari surau meng-Amin-inya. “hayya alal falaah…” Maka selama hidupnya, kematianlah yang akan menceraikan perjanjiannya itu.
Konflik akhirnya muncul juga. Sialan ini konflik, kejam sekali. Makin sadis makin sukses membuat pembaca bergemuruh. Udin dan Hayati udah siap se-hidup semati, saling cinta, saling terima, saling sumpah. Namun adat desa mengharuskan Udin terusir ke Padang Panjang. Bukan itu saja, saat Hayati berkunjung ke sana, segalanya berubah. Hayati ‘dipaksa’ menikah dengan saudaranya Khadijah: Aziz. Betapa remuk-redam hati Udin. Langit runtuh, dunia koma. Saya menangis, sumpah! Saya menangis, menghujat Hayati, mengutuk pilihannya, menyumpah serapah takdir Udin yang begitu mengerikan. Laki-laki mana yang bisa bertahan, ditusuk separah ini?
Saat kamu terpuruk yang paling dalam, jalan keluar terbaik adalah muhasabah lalu meninggalkan masa lalu itu. Saya pernah sih, terluka cinta obatnya memang harus berlari menjauhi kenangan. Apa yang dilakukan Udin sangat tepat, merantau! Meninggalkan Padang dengan kegetiran dan hati remuk bubuk. Udin, bersama temannya Muluk meniti jalan baru di tanah Jawa. Ke Jakarta, kota sejuta harapan. Disusunnya kepingan asa itu menjadi pengarang. Oiya, keterpurukan Udin, Hayati menikah sampai akhirnya merantau dituturkan dengan sangaaaat panjang. Hamka benar-benar tega menguras air mata Laki. Sementara napak sukses menjadi penulis dibuat singkat, seolah sukses itu hanya sejengkal 5 cm di depan mata. Udin menjawab segala perih dengan karya. Singkat cerita, dia jadi orang termasyur. Jadi penulis ternama.
Konflik baru digulirkan. Benar-benar jahanam ini konflik. Sudah dituliskan Hayati dan Aziz terdampar di Surabaya untuk urusan pekerjaan. Dan Udin ini sudah pindah tugas ke Timur Jawa. Mereka bertemu, mereka terkejut. Suasana dingin, namun kepala panas. Satu terpuruk, satu sukses besar. Sampai di titik terendah, muncullah kapal Van Der Wijck yang mengantar karakter penting dipaksa kembali ke Sumatra. Namun seperti yang tertera di judul, kapal keparat itu tenggelam. Akhirnya berhasilkah cinta mereka disatukan kembali?
Dua buku Hamka yang ada di rak saya sukses membuatku ‘geram’. Konfliknya gila, keren banget. Keduanya bersampul biru, keduanya layak dikenang untuk 100 sampai 1000 tahun yang akan datang. Hamka adalah legenda.
Saya belum membaca Magdalena yang katanya mirip dengan Tenggelamnya, bisa jadi penilaianku bisa berubah setelah melahapnya atau bisa juga tak terpengaruh. Yang pasti buku ini masuk daftar novel terbaik sepanjang masa saya. Kita tak tahu, 100 tahun lagi siapa penulis yang akan dikenang kerena kualitas ceritanya istimewa, saat generasi kita saat ini sudah tiada. Bisa jadi itu salah satu-salah-dua-salah-tiga dari kalian yang membaca review ini. Yang pasti, percayalah itu bukan Tere-Liye!
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck | oleh Hamka | Penerbit Bulan Bintang | cetakan ke-32, Rabi’ul Akhir 1433 H / Maret 2012 | 236 hlm; 21 cm | ISBN 979-418-055-6 | Skor: 5/5
Karawang, 280615 – begadang sampai sahur
#27 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku
Note: ada kata jahanam dan keparat dalam review ini karena pengaruh novel the Catcher in the Rye karya JD Salinger yang masuk buku terbaik sepanjang masa oleh Time yang saat ini saya baca. Catat teman-teman, untuk menjadi legenda 100 tahun lagi, tulislah buku romantis seperti Tenggelamnya atau buku anak bukan buat anak-anak Alice in Wonderland atau buku kontroversi Da Vinci Code, atau buku sihir pemuda naik sapu Harry Potter atau buku jahanam ala Holden ini. Terserah, tentukan genre-mu!

Intensity #26

image

Buku pertama Dean Koontz yang saya baca. Sebuah buku yang sadis namun disusun dengan sangat rapi sehingga ketegangan terjaga sampai akhir. Suatu malam sebuah keluarga dihabisi oleh pembunuh. Satu-satunya yang luput dari bencana adalah Chyna Shepherd, sahabat dari putri korban. Masa kecilnya penuh persoalan, hingga ia telah belajar betapa keras aturan main untuk bertahan hidup. Memenuhi semua nafsu, bergelimang dalam sensasi, hidup tanpa ketakutan, halangan, ataupun batas, hidup dengan intensitas – itulah tujuan hidup sang pembunuh. Tak peduli apa pun akibat terhadap orang lain. Jalan hidup gadis itu dan si pembunuh bersilang serta bentrok selama 24 jam – durasi setting novel ini – merupakan pengalaman penuh intensitas bagi pembunuh dan mimpi buruk bagi sang gadis. Hanya satu yang akan bertahan hidup.
Luar biasa sesak. Itulah gambaran novel ini. Dengan setting waktu terbatas, setting tempat terbatas, kita dijejali aneka kejadian mengerikan tentang pembunuhan satu keluarga. Tak disangka sang pembunuh, Mr. Vess bahwa malam itu Laura sang putri mengajak temannya Chyna untuk menginap. Sehingga hitungan Vess meleset, dan dalam semalam kengerian kedalaman cerita disajikan. Penuh darah, penuh strategi adu cerdik sampai sebuah kejutan jati diri Mr. Vess dan masa lalu Chyna akhirnya terungkap, saya sesak menahan nafas. Ini jenis novel gore yang keji, yang biasanya tak saya suka. Namun ini pengecualian, Dean Koontz dengan piawai meramu kebiadaban pembantaian dengan kata-kata yang memikat sampai-sampai nyaris 500 halaman padat itu tak terasa menjemukan.
Karena sedari awal sudah dijelaskan, hanya satu yang bertahan hidup, Chyna atau Vess. Sepanjang halaman kita selalu menerka, duh siapa yang tumbang? Endingnya mengejutkan, tindakan nekat yang diambil kedua karakter sama gilanya. Aturan bertahan hidup yang keras membuatnya nekat atau menyerah pada kenyataan. Dan ini, keunggulan utama Intensity: kata-kata yang disajikan penuh daya pikat. Salut buat penerjemah yang ciamik memilih diksi. Banyak kutipan penting yang bisa diambil.
Hidup menyangkut cara menikmati hidup (halaman 19)
Kilatan petir menggores langit, membentuk garis-garis tajam yang menghujam ke bumi, dan sejenak menerangi semak-semak hingga Chyna dapat melihat semua rusa elan itu dengan lebih jelas… (halaman 196)
Bahkan ia kadang mengunyah beberapa aspirin tidak untuk menghilangkan rasa sakit kepala, tapi untuk menikmati rasa pahitnya yang tak tertandingi. Ketika terkena luka potong, ia tak pernah takut, karena menurutnya rasa sakit sangat mempesona dan ia menghayatinya seperti sebentuk kenikmatan, bahkan aroma darahnya sendiri membuat ia diliputi perasaan ingin tahu. (halaman 164-165)
Sayang, suatu hari aku tiba-tiba sadar bahwa Cina merupakan satu-satunya masyarakat yang adil di dunia dan kedengarannya indah. Tapi ia tak pernah ingat mengapa mengubah huruf i-nya menjadi y. (halaman 211)
Dan ketika jumlah pembunuhan yang dilakukan manusia tidak cukup banyak untuk membuat para wartawan sibuk, alamlah yang memberikan pemecahan dengan menciptakan angin puyuh, badai, gempa besar, atau serangan bakteri pemakan daging. (halaman 232)
Lalu Chyna berbaring dalam kegelapan, dengan resah mendengarkan tawa ceria ibunya, dan suara pria asing. Kaca yang pecah berderai. Sumpah serapah. Guntur dan angin. Pohon palem berderak-derak tertiup angin malam di Key West. Nada suara tawa itu berubah. Kini mengejek. Gelegar yang bukan guntur. Dan kecoak yang merayap di kaki dan punggungnya. Waktu-waktu lain. Tempat-tempat lain. Dalam alam mimpi yang melayang-layang, terbelit kenangan. (halaman 274)
Indraku sangat tajam, karena aku terbiasa menikmati sensasi. Bisa dibilang sensasi adalah agamaku. (halaman 295-296)
Bahkan jika Tuhan ternyata ada, apa dia tahu kau ada? (halaman 298)
Rasa sakit sama saja dengan kenikmatan, hanya berbeda. Kalau belajar menikmatinya, kau akan lebih bahagia dengan hidupmu (halaman 306).
Aku tak tahu berapa lama aku berdiam di bawah ranjang. Mungkin beberapa menit, mungkin sejam. Aku mendengar Woltz dan ibuku kembali di dapur, mengambil sebotol bir lagi, membuat campuran vodka dan limau, berbicara dan tertawa-tawa. Dan ada sesuatu dalam tawa ibuku – nada mengejek yang kotor.. aku tak yakin – tapi ada nada yang membuatku merasa dia sudah tahu aku sedang bersembunyi di bawah ranjang. Sdudah tahu tapi tetap meneruskan perbuatannya dengan Woltz ketika orang itu membuka kancing blus-nya (halaman 402)
Dan masih banyak kutipan ‘bagus’ lainnya penuh intensitas. Satu kutipan yang menarik adalah mantra, “Chyna Shepherd utuh dan hidup”. Berhasilkah mantra itu menyelamatkannya dari kejaran sang pembunuh?
Dean Koontz ini sakit jiwa bisa membuat cerita penuh intensitas!
Intensity | by Dean Koontz | copyright 1995 | Internsitas alih bahasa: Rina Buntaran | GM 402 99.433 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama Jakarta, 1999 | 498 hlm; 18 cm | ISBN 979-605-433-7 | Buku dipersembahan bagi Florence Koontz, ibuku. Telah lama pergi. Pembimbingku | Skor: 4,5/5
Karawang, 270615 – Copa Amerika day: Arg v Kol
#26 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Divortiare #25

Novel kedua Ika yang saya baca setelah ‘A Very Yuppy Wedding’.  Ada penurunan kualitas dari yang pertama. Kalau yang pertama kelemahan ada di judul, karena ya memang akan jadi pernikahan bahagia, yang kedua ini kelemahan utama ada di cerita. Pertengahan sampai akhir kurasa kurang greget. Ketebak dan sepertinya Ika kurang berani mengambil resiko ‘Bad Ending’. Dibaca 6 tahun lalu saat jomblo dan jobless, tertanda di sampulnya: Sunday – 310808 @ MLC Book Store: Kawan datang dan berlalu. Saat lagu-lagu Sherina Munaf masih sering berkumandang di kos Ruanglain_31. Ditinggalkan kenangan…

Diceritakan Alexandra telah bercerai dengan Beno Wicaksono. Alex ini workaholic, wanita karir sebagai seorang banker, sedang Beno adalah dokter bedah jantung. Pernikahan mereka hanya seumur jagung. Hanya keegoisan Alex dan kecuekan Beno-lah penyebab utama mereka pisah. Beno is a fool for letting me go? Padahal kalau dilihat dari segi kecocokan, ekomoni (yang biasanya menjadi kendala utama) dan cinta mereka tak ada masalah. Sungguh skenario yang kurang bagus, konflik yang disajikan jelas kurang menarik. Walau sudah cerai mereka masih sering kontak, karena Beno telah menyelamatkan ibu Alex, keadaan mereka berdua membaik. Dalam kisah ini kita disajikan dari sudut pandang Alex yang berusaha melupakan mantan suami. Lika-liku wanita karir yang benar-benar mencoba mandiri.

Dalam perjalanannya, Alex yang gagal move on namun akhirnya mendapat kenalan cowok keren bernama Denny. Pria tajir dan mapan ini mencintai janda Alex, mengajaknya melangkah lebih jauh. Sementara hubungannya dengan mantan suami mulai membaik. Pilihan kini ada di Alex, rujuk apa memulai kehidupan baru dengan Denny ke New York? Kisah klise, toh mau pilih siapapun Alex dapat pria mapan. Kecuali pilihannya seorang penganggur atau tampang pas-pasan baru pening. Jelas sekali Divortiare bukan novel di genre saya.

Aku ingat dulu Ryan pernah bilang, “Nadine pakai daster tetaplah Nadine. Kate Beckinsale pakai sarung tetaplah KateBeckinsale. Omas pakai Victoria’s secret juga ga berubah jadi Heidi Klum, kan? (halaman 88)

“Alexandra, I hate to sound like cheesy romantic novels, just because he hurt you, doesn’t mean it’s gonna happen again when you open your heart again to the next gu, right?” (halaman 79)

It was a good day in our marriage, salah satu hari baik dari sekian ratus hari yang penuh dengan pertengkaran. We laughed, we talked, we kissed, and then we fought again. (halaman 147)

Masih mending A very yang lebih mengena konfliknya. Sebagai anak kos – dulunya – novel-novel Ika tak cocok dilahap saat kantong kosong nunggu gajian, dia jelas kelas atas sedang saya jelata yang jangankan memikirkan fashion, besok bisa makan di Warteg tanpa hutang saja sudah Alhamdulillah. Fakta lho, dulu pas kos saya pernah bon makan saking kere-nya. Bandingkan dengan novel Jombless yang beberapa hari lalu saya review, jauh banget. Bagian positif Divortiare adalah kisahnya ditulis dengan baik sehingga masih enak diikuti, lalu kutipan dari luar yang menambah wawasan dan English-nya enak dinukil. Sisanya lupakan! – or tattooed on your mind!

Divortiare | oleh Ika Natassa | GM 401 08.016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Juni 2008 | 288 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3846-8 | ISBN-13: 978-979-22-3846-4 | Skor: 2.5/5

Karawang, 260615 – Gajian day

#25 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Fahrenheit 451 #24

Featured image

Pertama kali dengar novel ini saat baca novel Inkheart. Di tiap bab-nya ada nukilan dari buku-buku yang berpengaruh dan ada kaitannya dengan cerita. Kutipan yang diambil adalah saat Faber ketemu Montag dan berujar, “apakah kau tahu bahwa buku-buku ini berbau biji pala atau beberapa rempah-rempahdari negeri asing? Aku suka mencium baunya ketika aku masih kecil.” Sejak saat itulah Farenheit masuk daftar buru. Syukurlah dua bulan lalu masuk rak, dan ini adalah novel yang baruuuu saja selesai baca. Semalam sesaat sebelum Taraweh saya merampungkan bagian wawancara Ray.

Fahrenheit 451 | a shorter version of “Fahrenheit 451” appeared in Galaxy Science Fiction, under the title “The Fireman” | copyright 1950 by World Edition, Inc | copyright renewd 1987 by Ray Bradbury | copyright 1953 by Ray Radbury | Copyright renewed 1981 | Coda copyright 1979 | Alih bahasa: Cecilia Ros | 188131028 | Penerbit PT Elex Media  Komputindo | ISBN 978-602-02-1320-0 | Dengan penuh rasa syukur, teruntuk Don Congdon | Skor: 4,5/5

Karawang, 250615 – begadang jangan begadang

#24 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

My Best Friend Forever #23

image

Ketika mendengar kata best friend forever (BFF) hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah persahabatan Spongebob dan Patrick. Dalam sebuah seri, Spongebob berangkat kerja ke Krasty Krab, ketemu Patrick di jalan dan ditanya, “apa yang kamu lakukan saat aku bekerja?”, Patrick dengan polos menjawab, “menunggumu pulang….”
Buku ke 23 yang akan saya review ga ada sangkut paut-nya dengan serial di dasar laut tersebut. Adalah novel ke-2 Sherina Salsabila, buku keluaran Paci (Penulis Anak Cerdas Indonesia). Saya menjadi first reader di awal tahun 2013. Sempat berjanji pada Sher akan membuat ulasannya, namun saat itu saya lagi down sehingga rencana me-review-nya nyaris terlupa. Kemarin saat membuka-buka rak, saya teringat lagi. Saat ini beberapa kali masih kontak dengan Sher yang kini memasuki bangku SMU. Betapa waktu berjalan cepat.
Di cover pembuka ada tulisan pink “To: Om Budi & Bunda Mey, semoga senang membaca karyaku 🙂 – Sherina”. Sebuah tanda tangan tertanggal 10 Februari 2013, sabaris kalimat yang sejatinya memberi semangat kepadaku, bukan sebaliknya. Di kata pengantar nama saya juga kembali disebut, kini dalam cetakan: “… juga buat Om Lazione Budiyanto yang suatu hari nanti ingin punya akan perempuan kecil seperti aku, yang selalu memberi motivasi terbaik untukku.” Sejujurnya Sher, bukan saya yang memberi motivasi ke kamu, tapi saya-lah yang kamu beri motivasi yang saat itu kami dalam posisi terpuruk. Dan kini dua tahun lebih berselang, putri keduaku bernama Hermione, kelak mudah-mudahan doa itu terkabul, bisa secantik dan secerdas Sher. Ke depannya Sher, kalau boleh minta tolong ‘selipkan kalimat penyemangat buat Hermione – Sherina Kecilku’ di buku terbarumu.
Kisah dimulai langsung tanpa daftar isi, namun tiap bab-nya ada judul. Di pembuka Sepucuk Surat Untuk Fatia. Pagi yang mendung, Fatia mendapat surat tanpa nama pengirim di amplop. Segera dibuka dan dibacanya, ternyata dari Kenzia sahabatnya yang kini di Belanda. Menanyakan kabar dan kesibukan. Dari sepucuk surat itulah cerita ini akan digulirkan, ditarik mundur. Kenangan-kenangan semasa mereka bersama di sekolah Cendrawasih.
Tokoh utama Fatia, panggilannya Fat – duh gemuk dong – orangnya supel dan (sepertinya) yang paling cerdas. Kedua Kenzia, anak orang kaya. Anak tunggal, ayahnya kerja di bank swasta ibunya lawyer, liburan kemarin dia ke Bali. Ketiga Shania, anak baru pindahan dari Sumatra. Dirinya terpaksa pindah sekolah gara-gara orang tuanya mendapat tugas di ibu kota. Keempat, Misca teman sebangku Shania. Mereka berempat mendapat julukan ‘4 Sekawan’. Kisah novel ini menceritakan hiruk-pikuk mereka di SMP Cendrawasih. Begitulah hari-hari indah di sekolah. Masa paling indah bersama teman-teman terbaik. Ada audisi penulis, ada kegiatan Osis, ada kegiatan baksi sosial dan seterusnya.
Konflik itu muncul juga, saat pemilihan ketua Osis ada yang pingsan. Kenzia tak sadarkan diri, segera dibawa ke ruang UKS – ada yang masih ingat kepanjangannya apa? – mulai saat itu Kenzia sering sakit. Teman-temannya ikut sedih. Namun ternyata ada yang tak beres, saat Fatia secara tak sengaja membaca buku bersampul hitam sebuah fakta menarik terbongkar. Fatia yang terkejut menceritakan pada kak Farah, kakaknya yang kini kuliah. Fakta apakah gerangan? Akankah persahabatan mereka tetap utuh saat satu demi satu kenyataan buruk menghampiri. Sisi negatif tiap karakter terkuak, dan Sherina dengan sukses bisa membuat pembaca tetap terpaku sampai halaman terakhir.
Secara keseluruhan, masa itu udah lewat. Saya membacanya dari sisi seorang anak sekolah dengan segala keceriaan mereka. Hebat ya anak zaman sekarang, SD-SMP udah punya karya. Saya dulu saat seusia Sher, yang ada dalam benak ketika pulang sekolah hanya mengejar layang-layang putus, memancing di sungai, berburu burung di sawah, atau sekedar main kelereng di halaman belakang rumah. Apalagi Sher udah bisa bikin plot yang baik, konflik yang bagus, menyimpan kejutan dan eksekusi ending yang pas. Di usia 12 tahun sudah bisa membuat cerita tentang histrionic personality disorder. Ckckck… seusia itu tahuku malah brambang goreng. Sampai saat ini saya belum bertanya lagi ke Sher udah berapa buku yang ditulis. Namun novel keduanya ini termasuk sukses menghantarkan saya menikmati lembar-demi-lembar mengarungi dunia anak. Saya yakin dalam 5 atau 10 tahun lagi, nama Sherina Salsabila akan tercetak di sampul buku yang dibicarakan banyak orang karena ceritanya yang istimewa. Or is it just me?
My Best Friend Forever | oleh Sherina Salsabila | Penerbit Zettu | PACI: Penulis Anak Cerdas Indonesia | Cetakan I, 2013, 14×21 cm: 120 halaman | ISBN: 978-602-7735-45-3 | Skor: 3/5
Karawang, 230615 – Midnight midweek
#23 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Five People You Meet In Heaven #22

Featured image

Ini adalah novel Mitch Albom pertama yang saya baca, sekitar empat tahun yang lalu saat mencari kado ulang tahun Winda, ponakan saya yang berusia lima tahun. Mampir sebentar di bagian buku dan menemukan novel yang katanya mirip dengan Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Karena saya juga sudah baca karya Tere Liye tersebut. Jelas sekali benang merah-nya sama, ini terinspirasi atau menjiplak?

Lima Orang Yang Kamu Temui Di Surga, kisah diceritakan setelah kematian, lebih tepatnya sesaat setelah sekarat. Anehnya dalam Bahasa Indonesia malah diterjemahkan menjadi Meniti Bianglala, jauh dari arti judul aslinya. Kisah tentang Eddie yang dibuka dengan menit-menit menuju ajal. Kisah yang bermula dari akhir, istilah death is the only beginning.. disajikan dengan khidmat. Eddie lelaki tua, meninggal di tempat kerja Ruby Pier, taman hiburan di tepi samudra besar yang kelabu. Eddie adalah maintenance, tugasnya ‘memelihara’ wahana hiburan agar bisa tetap aman. Sapaannya ‘Eddie Maintenance’, hari itu adalah ulang tahunnya yang ke 83. Terlalu tua untuk seorang pekerja, seminggu sebelum kematiannya dia di-diagnosa dokter, sakit ruam saraf. Dan kematiannya dihitung mundur, takdir-lah yang menghantar wahana Freddy’s Free Fall macet, dan kata ‘mundur..’ menjadi penutup kehidupan di dunia ini.

Kemudian kisah ditarik ke belakang, sama seperti Rembulan, kisahnya mundur lalu menelusuri perjalan hidup. Eddie lalu dihantar ke dunia ‘antara’ dan menemui lima orang yang terkait masa lalunya. Kalau Rembulan berkisah tentang Ray yang menuntut jawab tentang hidup, di sini Eddie diberi jawaban yang semasa hidupnya adalah misteri. Orang pertama yang ditemuinya adalah orang ‘asing’ baginya. Manusia biru yang tak dikenal, jadi kenapa harus menemuinya? Ternyata Albom menarik benang keterkaitan. Orang biru tersebut meninggal karena ‘ulah’ Eddie. Joseph Corvelzchik kisahnya dituturkan sepintas, “jadi kau mengeri sekarang? Mengapa kita ada di sini? Ini bukan surgamu, ini surgaku”. Pelajara pertama, “Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.”

Berikutnya Eddie bertemu dengan Kapten Michael. Atasannya saat pergi berperang ke Filipina. Eddie bertanya-tanya ada kaitannya apa dengan sang kapten? Sebuah misteri yang tak Eddie tahu saat hidup dikuak, kenyataan yang menyakitkan tersebut membuat Eddie marah besar. Namun dibaliknya ada pelajaran penting, “aku bayangkan seperti Alkitab, seperti yang terjadi pada Adam dan Hawa. Malam pertama Adam di bumi ketika dia berbaring untuk tidur. Dia berfikir, dia tidak pernah tahu apakah ‘tidur’ itu? Matanya terpejam dan dia mengira dia meninggalkan dunia. Tapi ternyata tidak, dia bangun keesokan harinya di depannya terbentang dunia baru yang masih murni menunggunya. Tapi dia memiliki yang lain, dia memiliki hari kemarin.” Sesuatu yang tak ditemuinya di surga.

“Pengorbanan,” kata Kapten. “Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah atas pengorbanan yang kau berikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kau korbankan” (halaman 97).

Orang ketiga, keempat dan kelima dituturkan dengan lebih menyentuh. Apalagi pas bagian istrinya, itu sungguh mengharukan. Kata-kata, “per l’amaro e il dolce” – “untuk kepahitan dan kemanisan” menjadi perjalanan yang romantis. Sampai masalah dengan ayahnya ditelusuri, “Kau menemui kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.”

Ending-nya sendiri terasa manis, saling kait kehidupan disampaikan di epilog dengan pas. Bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan berikutnya. Dan kehidupan berikutnya itu mempengaruhi kehidupan berikutnya lagi. Dan bahwa dunia ini penuh kisah-kisah kehidupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

Oiya satu lagi yang membuat Meniti Bianglala sama dengan Rembulan adalah tokoh utamanya tak memiliki keturunan. Jadi apakah ini sebuah kebetulan?

The Five People You Meet In Heaven | by Mitch Albom | copyright 2003 | alih Bahasa Andang H Sutopo | Meniti Bianglala | G 402 01 11 0044 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam: Desember 2012 | 208 hlm; 20 cm | ISBN: 978-979-22-7002-0 | Skor: 4/5

Karawang, 230615 – Audit lancar

#22 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Jo(m)bless #21

Featured image

Buku ketiga Jemy, buku kedua dari penerbit Puspa Swara yang ku review. Dibaca Sembilan tahun lalu beberapa hari setelah Valentino Rossi terjatuh di lap ke enam di perlombaan terakhir 2006. Buku yang diluar-duga sungguh menghibur, menghibur diri dari kegagalan Rossi juara. Novel chicklit / teenlit memang harus seperti ini. Seru dan kocak.

Jombless adalah gabungan kata dari jomblo dan jobless, disusun dengan Bahasa gaul yang tak disangka-sangka bisa renyah. Ceritanya tentang seorang cewek yang tak punya pacar, tak punya kerjaan walau sudah wisuda 9 bulan. Kalimat pembukanya langsung dibuat terpingkal-pingkal: “Cari kerja itu susah. Maaf, gua ralat. Cari kerja itu susaaaaaaaaaaahhhhhhhh banget! Hmm.. kayaknya ini juga salah. Cari kerja itu sebenarnya gampang sih. Di koran edisi Sabtu dan Minggu itu biasanya penuh sama iklan lowongan kerja. Di internet juga ada banyak situs pencari kerja. Yang susah itu ‘mendapatkan’ pekerjaan”. Haha… ada benernya, dulu saya juga pernah jombless jadi yah setuju sekali.

Amel. Namanya singkat padat, dan kurang menjual. Dulu gurunya mengira, namanya belum selesai jadi diminta menanyakan kepada orang tua nama lengkap. Apakah Amelia, Amelia Malik kali. Tapi ternyata hanya AMEL. Titik. Nama yang menurut Amel kurang hoki. Buktinya sudah berbulan-bulan menyandang gelar SE masih saja nganggur, sehingga setiap ngumpul sama teman-teman Amel jadi rendah diri. Ada yang pamer HP bagus, pamer PAD, pamer kesibukan kerja, pamer cowok kerennya. Amel Cuma haha hihi bete. Hobinya mendekam di kamar.

Lama menganggur membuatnya stress. Pekerjaan pertama itu akhirnya datang juga, sebagai badut Kiddie’s Fun. Walau shock juga dengan job desk yang diberi, Amel mencoba pengalaman baru ini. Apalagi gajinya lumayan. Dari pada tiap hari ke warnet, cek email, kirim lamaran, muter sana-sini ga dapat juga setidaknya kini dia ga jobless. Namun sayang, Amel yang emang ga suka keriuhan anak kecil di hari pertama kerja langsung dipecat. Rekor mengenaskan. Dari situ dia belajar untuk lebih teliti mengirim lamaran, ga asal send-send-send. Setelah badut, Amel berkesempatan jadi bintang iklan. Maksudnya figuran dalam iklan minumam. Lumayan, tapi yang namanya figuran ya gitulah. Syuting melelahkan, teriak-teriak geje, diguyur, di-make-up sampai dirinya sakit karena ratusan kali take. Saat iklannya tayang, Amel kecewa dirinya tak kelihatan. Huhu… seakan nasib sial selalau menghampirinya.

Sampai kapan Amel menganggur? Temukan jawabnya di novel yang seru ini. Kalimatnya ringan, tanpa banyak istilah asing yang njelimet. Bahasa keseharian kita. Mulai dari kekesalan pembulatan harga naik taksi, beli DVD bajakan, ke mal hanya melihat-lihat karena ga punya duit, ngumpul sama teman yang rame, sampai serunya cari kerja dari yang normal lewat email sampai spam yang ekstrim. Sungguh Kita Banget. Karena saya pernah mengalamai masa-masa itu, jadinya apa yang dirasa Amel kita jadi bisa resapi.

Satu lagi keunikan buku ini, tiap lembarnya ada aja banyolan yang fresh yang anehnya tak terpikirkan. Bahasanya gaul, top lah si Adeyulia ini. Pinter nyusun kata-kata yang menghipnotis pembaca untuk terus terpaku. Salah satunya adegan Amel menyeret sandal, “sret sret sret…” diomeli mamanya. “Dug dug dug…” loncat-loncat, diomeli juga. Serba salah. Serba aneh. Penasaran sama Amel nih, karakter nyeleneh. Endingnya juga pas, saat Amel sepertinya bahagia, teman akrab-nya memberi kabar yang lebih wah seakan-akan pencapaian Amel hanya selintas lewat. Haha… Keren!

Jo(m)bless | oleh Adeyulia | Penerbit Puspa Swara | Cetakan I, Jakarta, 2005 | E05/569/X/05 | 164 hlm; 20 cm | ISBN 979-3833-90-4 | Skor: 4/5

Karawang, 220615 – Menanti Ant-Man

#21 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku