Chappie Is Alive! – Great Robot But Ludicrous Plot

Chappie: I don’t want to die. I want to live

Ninja: If you want to live Chappie, you must fight!

Dari awal saya sudah tak terlalu berharap sama film ini. Dengan pengalaman sang sutradara yang selalu menyinggung robot, Afsel, dan humanity paling apa yang ditampilkan Chappie ga jauh beda. Semalam tetap nonton hanya karena penasaran saja apakah typecast itu benar.

Film langsung dibuat seru sejak menit pertama. Kesan awal langsung membenarkan prasangka. Sebuah informasi yang disajikan ala berita malam metro tv menampilkan sebuah perusahaan pembuat robot menuai pujian setelah kesuksesannya bisa menggantikan polisi. Dari era yang tak jauh dari sekarang, tahun 2016 dengan setting Afrika Selatan (noh lo, sama kan) tugas polisi diambil alih oleh rakitan robot. Kejahatan menurun, mafia jalanan kalangkabut, penjara penuh, dan kehidupan (seakan) mencapai kedamaian. Muncullah sebuah mobil dengan 4 penjahat yang melaporkan kegagalan kepada atasannya. Hippo (Brandon Auret), marah atas kekacauan itu dan meminta tebusan 200 juta dalam 7 hari. Pasukan polisi beserta robot menggrebek pertemuan itu. Melalui pertempuran yang seru, Hippo kabur, Pitbul tewas, Robot nomor 22 rusak, dan kehidupan kembali normal namun tidak buat 3 orang ini: Amerika (Jose Pablo Cantillo), Yolandi (Yo-landi Visser) dan Ninja.

Mereka bertiga pening memutar otak guna membayar hutang 200 juta. Dalam markas mereka menyusun strategi, Yolandi mengusulkan mencari semacam remote robot, pengendalinya. Seperti tv pastinya robot tersebut ada remote control. Disepakati, mereka menculik Deon Wilson (Dev Patel) ilmuwan India untuk membuat robot gangster nomor satu. Deon yang baru saja menemukan sebuah chip yang memungkinkan robot bisa berfikir tak bisa berbuat banyak. Robot no 22 yang rencana awalnya mau dihancurkan bodinya, lalu dirakit lagi dan dimasukkannya chip tersebut. Di depan Ninja, Amerika dan Yoland robot tersebut hidup. Robot yang seperti bayi, perlu diajari dari hal-hal dasar. Robot yang diberi nama Chappie (voice by Sharlto Copley).

Dalam perusahaan terjadi persaingan, Deon yang sudah terbukti berhasil dengan segala puja-pujinya dengan programmer robot lain Vincent (Hugh Jackman) yang selalu gagal dalam presentasi. Kecewa, dia berupaya menjegalnya. Diikuti segala gerak-geriknya, kecurigaannya ada pada no 22 yang hilang. Betapa terkejutnya dia ketika melihat no 22 ternyata jadi robot pintar, andai beneran ada Chappie jelas penemuan hebat abad ini. Disusunnya strategi untuk merebutnya.

Kini berarti ada banyak pihak yang memperebutkan Chappie, Vincent, Yolandi yang dipanggil Mom, Ninja yang dipanggil Dad, sang creator sendiri Deon. Belum lagi Hippo yang kemudian masuk pusaran selain menagih hutang dia juga berminat pada Chappie. Perebutan dengan kepentingan masing-masing tersebut meruncing saat Chappie yang baterainya menyatu dengan chasis tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kepada siapa Chappie berakhir? Mampukan kedamaian yang diidam-idamkan terwujud?

Well, selama 2 jaman nafas kalian akan penuh sesak tanpa jeda. Seakan berkejaran dengan waktu, eksekusi Chappie padat sekali. Yang sudah menonton District 9 dan Elysium pasti sudah akrab dengan pola cerita. Endingnya juga persis, tentang pengakuan bahwa ‘saya’ adalah bagian dari kalian. Aktor sebesar Weaver juga sayang sekali tak diberi aksi lebih wah. Hugh Jackman udah oke, Dev Patel sip, Suara Sharlto juga pas. Penampilan cast tak terlalu jadi masalah. Yang bermasalah adalah ceritanya jadi saat helm transfer terpasang saya tak terkejut lagi, justru saya kecewa atas pilihan cerita Blomkamp kenapa ga lebih berani lagi merubah ‘jalan aman’ yang selalu ditampilkannya. Jadinya bukan wah tapi lhooo apa yang baru kalau gitu? Takut keluar dari pakem, walaupun yah tetap saja Chappie secara keseluruhan renyah untuk dinikmati. Kalau dulu saya berharap akan ada lanjutan District 9 kini saya tak berharap lagi. Chappie cukup memberitahukanku bahwa Blomkamp emang tak berani membuat terobosan.

Chappie | Directed by: Neill Blomkamp | Screenplay: Neill Blomkamp, Terri Tatchell | Cast: Hugh Jackman, Sharlto Copley, Dev Patel, Sigourney Weaver | Skor: 3/5

Karawang, 190515

Iklan

Black Hat: Extremely Disapointing Mann

Elias: This isn’t about money. This isn’t about politics. I can target anyone, anything, anywhere.

Gila, ini gila! Sutradaranya adalah Michael Mann, aktornya Chris Hersworth. Filmnya berantakan ga ketulungan. Sulit diterima akal sehat, seorang Mann membuat film seburuk ini. Nonton bareng si May, dia juga complain ada film tak jelas seperti ini. Dia mencoba melihat sisi positifnya ada setting Jakarta dengan muncul sekali Bahasa Indonesia. Sisanya meh!

Film dibuka dengan meyakinkan. Ini adalah film hacker/cracker jadi tampak megah saat ditampilkan detail jaringan dengan menyelami jalur-jalur komunikasi dalam computer. Rumit dan berkedip. Setelah beberapa menit yang berputar-putar dalam jaringan, efeknya adalah ledakan. Pemerintah kelabakan, ada sabotase server dalam komputer mereka. Lalu muncullah, Nick Hartaway (Chris Hemsworth) dalam penjara. Ceritanya Nick adalah tahanan karena menyalahgunakan keahlian membobol jaringan untuk kepentingan pribadi. Pemerintah membutuhkan bakatnya, sehingga dia pun dipanggil agar membantu memecahkan kode-kode binary. Tawaran diterima, Nick minta imbalannya adalah potong masa kurungan. Lalu dimulailah petualangan black hat!

Bersama Chen Lien (Wei Tang) bahu membahu membongkar sindikat jaringan cracker dari Chicago, Los Angeles, Beijing, Hongkong sampai Jakarta! Yup, setting film merembet sampai ibu kota kita. Beberapa terdengar orang berdialog menggunakan Bahasa Indonesia. Saat adegan penyelundupan melalui jalur laut, terdengar seseorang berteriak — hhmmm… lupa — , bilang bahwa ini sudah semuanya. Yang mendeteksi kalimat itu justru istri saya, dia heran. Saya yang udah ngantuk berat karena plot yang lambat mencoba rewind, oh benar ternyata pertarungan sampai di Jakarta. Sayangnya itu satu-satunya daya pikatnya. Sisanya tak masuk akal, kaku, tembak-tembakan yang buruk, plot hole dimana-mana dan boring.

Entah apa yang ada dalam benak Mann, film ini buruk sekali. Salah satu yang terjelexx tahun ini. Padahal Mann adalah orang yang mempesona kita dalam Heat yang legendaris itu. Sebelum menonton saya sudah dikasih peringatan, ini film ga jelas. Karena saya selalu harus nonton dulu baru komentar maka ya saya buktikan dan ternyata benar. Mengecewakan sekali. Maaf Mann saya harus bilang ini film sampah. Black hat, sang ahli komputer diperankan Chris memalukan para hacker yang biasanya terlihat cool jadi terlihat idiot. Duh!

Black Hat | Directed by: Michael Mann | Screenplay: Morgan Davis Foelh | Cast: Chris Hersworth, Leehom Wang, Wei Tang, Viola Davis | Skor: 1/5

Karawang, 180515